
"Dinda Ratri, perhatikan gerakan Kakang" bocah lelaki yang baru menginjak remaja itu pun mencabut pedang tajam nya yang pendek.
"Baik, Kakang Rama" gadis kecil di depannya mengangguk. Membuat rambut hitam nan lebatnya bergoyang indah.
Permainan pedang pendek Rama sangat indah. Cepat dan tak diduga. Dengan banyak gerakan tipuan. Permainan itu semakin mempesona dengan gerakan tubuh Rama yang serasi. Pedang itu seakan memiliki nyawa sendiri. Bergerak dengan kesadaran sendiri. Gerakan itu terhenti dengan mulus. Pedang teracung sempurna ke depan. Berkilat menawan karena memantulkan cahaya mentari pagi.
"Hebat!!! Kakang luar biasa!!!" Gadis kecil, Ratri, tertawa bahagia. Matanya mengerjap, menambah imut wajahnya.
"Kau juga akan menguasainya, Ratri." Suara dari belakang Ratri terdengar lembut.
Ratri menoleh. Seorang wanita berambut hitam legam tersenyum lembut pada mereka. Mata teduhnya menyapu lembut dua bocah yang paling dicintainya.
"Ibunda!" Serentak, Rama dan Ratri berhambur pada nya. Memeluk erat tubuh wanita tercinta mereka.
"Sudahlah, ayo duduk," ajaknya, "ada yang ingin Ibunda sampaikan."
Dua anaknya menurut. Mereka duduk di atas rerumput hutan. Sang Ibunda tersenyum lembut, lantas ikut duduk. Tapi tak langsung berbicara. Dia mengedarkan pandangan. Menatap tiap sisi hutan.
Sudah beberapa tahun dia hidup di hutan perawan ini. Bersama dua malaikat kecilnya. Rama Wangi si sulung dan Ratri Parvati si bungsu. Hidup bergantung pada alam liar. Tinggal di gua-gua. Menelusuri tiap jengkal permukaan hutan yang belum pernah dijamah manusia. Hingga hafal tiap depanya.
Kehidupan yang damai. Membuat dua anak tercintanya tumbuh kuat dan sayang alam. Kehidupan yang sederhana tapi indah. Tak seperti dua kehidupannya terdahulu.
__ADS_1
Dia kembali menatap putra dan putrinya. Ah, mereka masih setia menunggu dirinya. Tak memintanya segera menyampaikan. Anak-anak yang sabar.
"Rama Wangi putraku," ditatapnya bocah lelaki bertubuh kekar dan tampan meski kulitnya agak hitam karena terpapar mentari tiap hari. Putra sulungnya menganguk takzim
"Ratri Parvati putriku," ditolehnya gadis kecil cantik dan imut. Kulitnya tetap saja cerah meski mentari tak absen menerpanya. Putri bungsunya menganguk hormat.
"Ibunda memutuskan untuk keluar hutan minggu depan. Kita akan tinggal di sebuah padepokan dekat sini. Padepokan yang dulu sangat Ibunda kenal." Wanita itu menarik nafas panjang, "dan kali ini, kita harus mengganti nama. Merubah identitas kita. Nama kalian setelah ini adalah Arya Wira dan Loka Hita. Berarti lelaki terhormat berjiwa ksatria dan perempuan pembawa kemakmuran bagi dunia. Kalian berkenan?"
Rama dan Ratri mengangguk serentak. Mereka tak kan pernah keberatan dengan keputusan Ibunda mereka.
"Dan Ibunda akan memakai nama kecil Ibunda, Alisha (yang dilindungi)"
Rama dan Ratri terkesiap. Itu harta karun terindah!
Dua pedang kembar indah dengan kualitas logam terbaik. Menawan dengan gagang dari kayu berkualitas tinggi berukiran sayap burung perkasa dan dedaunan. Elok dengan ukiran geometri rumit di tengah bilah logam. Meski sedikit, ukiran itu membuat pedang begitu elok.
"Itu pedang buatan kakek nenek kalian. Meski menggunakan pedang itu, kalian tetap akan tak dikenal sebagai Rama Wangi dan Ratri Parvati." Sang Ibunda menarik nafas, "kalian tetap bisa menngunakan jurus pedang tiga tingkat. Jurus itu milik nenek kalian, Ratri pasti bisa menguasainya dengan sempurna.
Kalian juga tetap bisa menggunakan jurus pedang sepuluh cahayamilik kakek kalian. Rama pasti sangat berbakat dengan jurus tersebut."
Sang Ibunda menatap langit. Kicau burung terdengar merdu di antara pepohon hutan. Lenguh binatang sesekali mengisi udara.
__ADS_1
"Tapi, jangan pernah menggunakan ajian tiga belas gaya. Itu akan membongkar jati diri kalian." Sang Ibunda menatap mata dua buah hatinya bergantian, "Berjanjilah pada Ibunda"
Rama dan Ratri menatap lembut wajah sang ibunda, lalu menganguk pasti.
"Jangan gunakan ajian itu kecuali kebaikan dunia dan nyawa kalian menjadi taruhannya. Bunuh siapa pun yang mengetahui siapa kalian sebenarnya kecuali..." Sang ibunda menghela nafas pendek, "Kecuali dia bisa menanggung bebannya. Jika jati diri kalian terbongkar, kalian harus bisa menutupinya lagi."
"Kalian berjanji?!" Tekan sang ibunda
Rama dan Ratri menganguk takzim
"Kami berjanji. Alam dan Sang Kuasa menjadi saksi!!!" Lantang mereka.
\=\=\=\=\=\=\=
Begitulah, lagenda pendekar bersaudara ini dimulai. Lagenda Rama Parvati. Dua bersaudara yang kini mengganti nama mereka. Arya Wira dan Loka Hita.
Ada banyak hal yang belum terungkap. Baik masa lalu mereka. Maupun masa lalu orang tua mereka.
Ada banyak hal yang harus mereka hadapi. Entah dunia pendekar. Dunia politik, kerajaan. Dan tentu saja, dunia cinta.
Semoga, mereka bisa menyelesaikan legenda ini dengan baik. Dan semoga, ada banyak manusia yang mengambil hikmah dari legenda mereka....
__ADS_1