Legenda Pendekar Rama Parvati

Legenda Pendekar Rama Parvati
Kembali ke Istana


__ADS_3

Istana Nala Pura...


Mentari menyinari lembut pucuk bangunan istana. Kicau merdu Sang Avri memeriahkan pagi setelah lama tak berada di lingkungan istana. Semilir angin membelai dedaunan yang hijau. Kesejukan pagi terpecah oleh suara pertarungan di salah sebuah sudut. Tepatnya, depan kompleks agung (kompleks tempat tinggal prabu).


Tiga penyusup datang dan diketahui para penjaga sebelum mereka melewati dinding kompleks. Seluruh tubuh mereka dibalut jubah hitam bertudung. Wajah tertutup sempurna topeng kulit. Dua penyusup bersenjatakan tongkat, sedangkan satu orang bersenjatakan pedang.


Dua pendekar kerajaan bersama satu nayaka melawan satu penyusup. Satu nayaka dengan dua pimpinan pasukan penjaga khusus menahan satu penyusup lain. Sedangkan dua pendekar, dan seorang pimpinan pasukan penjaga melawan satu penyusup yang tersisa. Seorang nayaka, komandan pasukan Mata Elang (pasukan khusus penjaga keluarga kerajaan), dan beberapa pendekar kerajaan bersiaga di sekeliling area pertarungan. Di belakang mereka, sebaris pasukan menghunus senjata masing-masing. Di atas dinding kompleks dan tempat yang tersembunyi, para pemanah dan penombak ulung sudah bersiap.


Meski hanya bertiga, para penyusup mampu menguasai pertarungan. Kekuatan mereka tak bisa diremehkan sama sekali. Gerakan pedang dan tongkat mereka sangat luwes dan cepat. Mematahkan setiap serangan sekaligus memberikan serangan balik yang kuat. Padahal, tak ada tenaga dalam yang mereka alirkan di senjata. Itu murni jurus pedang dan tongkat yang rumit.


"Hentikan!" Suara yang didasari tenaga dalam itu mampu menghentikan pertarungan.


"Siapa kalian?" Pemilik suara masuk ke dalam area pertarungan. Matanya menatap tajam ketiga penyusup. Dia lah Panglima Mahanta, panglima nomor satu kerajaan Nala Pura. Di belakangnya ada dua pendekar sepuh yang tersohor, Agni Hijau dan Maruta.


"Akan kuberitahu bila kamu bisa membuka topengku," salah satu penyusup bertongkat tertawa. Tanpa lagi menunggu jawaban, tongkatnya sudah mengarah ke dada Mahanta.


"Dasar penyusup! Sudah ditanyai baik-baik malah memilih bertarung. Hiyaaaaattt" Agni Hijau segera menyerang penyusup berpedang. Perbuatannya segera diikuti Maruta, penyusup yang tersisa menjadi lawannya.


Gerakan penyusup bertongkat sangat cepat dan rumit. Mengimbangi dua pemimpin padepokan. Sementara pedang penyusup yang lain, seakan memiliki nyawa sendiri. Meliuk dan berputar dengan begitu luwes dan cepat.


"Apa sebenarnya maksud kalian?! Kamu hanya bermain-main denganku!" Panglima Mahanta melompat ke belakang. Dia memang merasakan kejanggalan pada serangan musuhnya. Serangan tanpa tujuan menyakiti atau membalas, hanya menahan dan menangkis. "Sepertinya aku mengenali jurusmu!"


"Wah! Wah! Wah! Rupanya kau sangat jeli, Paman Panglima. Paman sangat hebat!" Lawan Panglima Mahanta tersenyum di balik topengnya.


"Tunggu!" Sebuah teriakan membahana. Menghentikan pertarungan dua penyusup lainnya.


"Cukup!" Sosok yang berteriak akhirnya sampai di dalam arena. Rupanya, Angga Perak yang menghentikan semua pertarungan. Di belakangnya, tiga pria berjalan mengikuti. Mereka adalah Giri Wasa, Hansa Daya, dan Janu.


"Siapa sebenarnya kalian ini?" Angga Perak menatap ketiga penyusup dengan bergantian. Tatapannya terhenti di salah satu penyusup bertongkat, lawan Maruta.


"Aku sepertinya mengenalimu." Ucapan Maha patih membuat semua orang saling memandang.


"Hei!" Giri Wasa yang berada di belakang Angga Perak berseru, lantas tersenyum lebar. Di sampingnya, Hansa Daya ikut tersenyum lebar setelah pandangannya terhenti pada lawan Panglima Mahanta.


"Hormat saya, Rayi Prabu." Angga Perak menghaturkan hormatnya.


"Salam, Hita." Bersamaan dengan ucapan Angga Perak, Giri Wasa dan Hansa Daya juga menyapa.


Ucapan ketiga orang mengagetkan semua orang. Panglima Mahanta menajamkan pandangannya, lantas segera berlutut di tanah.


"Mohon maafkan saya, Gusti Prabu, Tuan Putri. Saya tak bisa mengenali Anda berdua."


Kedua penyusup bertongkat melepas topeng dan tudung jubah. Tampaklah dua raut wajah yang sangat dikenali. Semua orang segera menjatuhkan lutut. Para pemanah dan penombak ikut meluncur turun dan meletakkan senjata.


"Guru tak membuka topeng?" Loka Hita menoleh pada penyusup berpedang.


"Maaf, Hita," topeng ketiga juga terbuka. Menampakkan wajah seorang perempuan tua yang terkekeh pelan. "Sudah lama sekali aku tidak menggunakan pedang."


"Maaf telah membuat keributan di sini. Akan ada yang menjelaskan," Arya Wira menoleh pada Loka Hita.

__ADS_1


"Saya hanya ingin melihat ketangkasan para prajurit penjaga istana, terutama pasukan Mata Elang. Ternyata ucapan Kakang Wira benar, mereka prajurit hebat. Kemampuan yang luar biasa untuk seorang prajurit penjaga istana."


Ucapan Loka Hita melukiskan senyum bangga di wajah tiap pasukan. Mereka belum bisa melupakan dua kegagalan mereka sebelumnya. Kegagalan yang mengakibatkan Loka Hita terluka dan Dewi Nirmala meninggal.


"Sekarang kalian bisa kembali ke pos."


Belum selesai mengundurkan diri, para prajurit kembali bersiaga. Ada aura yang mendekat. Aura yang kuat hingga para prajurit bisa merasakannya.


"Tenang saja! Dia temanku!" Nyi Sannaha menenangkan para prajurit.


"Ya sudah, kalian kembali ke pos!" titah Arya Wira.


Tak lama, sekelabat cahaya putih memasuki kawasan istana. Berhenti tepat di depan Nyi Sannaha, dan sosok itu pun menjadi jelas. Perempuan berbusana putih dengan busur keemasan, Putih.


"Salam," sapanya ramah.


"Salam, Putih." Nyi Sannaha, Arya Wira, dan Loka Hita menjawab serempak.


"Orang yang kalian cari ada di dalam dinding istana ini. Orang lain yang kalian curigai akan kemari dan menemuinya."


Selesai berucap, Putih memejamkan mata. Sepasang sayap putih keemasan mengembang di belakang punggung. Sayap yang terlihat begitu nyata, seperti sayap rajawali raksasa. Sepasang sayap mengepak, membawa tubuh Putih ke angkasa. Lantas, pergi dengan kecepatan tinggi tanpa mengucapkan apa pun lagi.


Kedatangan dan perkataan Putih meninggalkan rasa penasaran dan bingung di benak banyak orang. Arya Wira segera mengajak mereka masuk ke dalam kompleks. Lebih baik, perbincangan tidak dilakukan di luar ruangan.


Di dalam ruangan, semua bertukar cerita. Juga saling menjelaskan banyak hal. Agni Hijau dan Maruta sudah menyelesaikan hukuman para murid mereka. Perampok di daerah mereka sudah ditumpas. Sekarang, dua padepokan itu dipimpin oleh murid kepercayaan keduanya. Sebenarnya, mereka datang ke kota raja untuk menziarahi makam mendiang Prabu Garuda Rama. Tak disangka, di sana mereka bertemu Panglima Mahanta dan diajak ke istana.


Arya Wira dan Loka Hita sudah belajar kepada Nyi Sannaha dan Ki Braja Nanda selama beberapa minggu. Dua hari yang lalu, mereka bertemu untuk bersama-sama kembali ke istana. Nyi Sannaha memilih menemani mereka.


Angga Perak sedang berkeliling untuk mengontrol keadaan kota raja saat tiga murid Sedayu sampai di gerbang kota. Mereka berjumpa di pasar dan bersama-sama menuju istana. Mendengar bahwa Arya Wira akan datang, Angga Perak menyudahi kontrol saat itu juga. Baru saja sampai di gerbang terluar istana, mereka mendapat kabar dari prajurit tentang tiga penyusup.


Saat akan membahas tentang Putih, seorang prajurit masuk dan melaporkan kedatangan Paman Jaka dan seorang kakek. Mereka berdua sudah menunggu di depan kompleks agung. Arya Wira mengizinkan mereka untuk masuk, dia tahu siapa yang bersama Paman Jaka.


"Salam, Guru. Selamat datang di istana Nala Pura," Arya Wira bangkit dari duduk.


"Hormat saya, Gusti Prabu," Paman Jaka memberikan hormatnya.


"Salam, Muridku. Semoga kesejahteraan bagi kita semua." Lelaki tua di belakang Paman Jaka juga memberikan hormatnya.


"Ki Braja Nanda?" Agni Hijau dan Maruta berkata serempak.


"Hehehehe...." Ki Braja Nanda tertawa, "Ternyata kalian masih bisa mengenali aki-aki ini."


"Sebuah kehormatan bagi kami bisa bertemu seorang pendekar hebat seperti Anda." Maruta dan Agni Hijau sudah sepuh dan sangat mengetahui kisah Ki Braja Nanda yang dikenal sebagai Pendekar Edan.


"Kalian mengenali nenek-nenek itu?" Dengan tongkatnya, Ki Braja Nanda menunjuk Nyi Sannaha. Tangan Nyi Sannaha segera menepis tongkat yang menunjuk wajahnya.


"Maaf, Ki. Kami terlalu bodoh untuk mengenalinya." Maruta menjawab dengan hormat.


"Hahahaha. Rupanya aku lebih dikenal daripada dirimu," Ki Braja Nanda tertawa senang.

__ADS_1


"Tentu saja seperti itu! Mana ada yang tak kenal pendekar edan seperti dirimu!" Nyi Sannaha menggerakkan tangan kirinya. Selarik cahaya hijau keluar dari telapak tangannya dan melaju cepat ke dada Ki Braja Nanda.


"Waduh! Nenek peyot!" Ki Braja Nanda mengibaskan tangan kirinya.


Cahaya hijau tadi berbelok, menerjang cepat sebuah guci indah di ruangan. Menghancurkannya hingga menjadi debu yang beterbangan, tak hanya memecahkan. Semua orang, selain Loka Hita dan Arya Wira, berdecak kagum dan kaget.


"Aduh!" suara Janu merubah suasana, "Kakek dan Nenek ini, mbok yo hati-hati tho! Untung cuma guci yang kena, bukan kepala orang."


"Salahkan saja pendekar edan itu!" gerutu Nyi Sannaha.


"Hahahaha! Kamu ngambek, Sannaha?! Kamu ini seperti anak kecil saja!" Ki Braja Nanda malah bergurau lagi.


"Sannaha?" Maruta dan Agni Hijau saling memandang. Juga Panglima Mahanta dan Angga Perak.


"Lihatlah, mereka saja tak mengenalimu!"


"Sudah, Kek, Nek." Loka Hita menahan tangan Nyi Sannaha yang akan mencabut pedang. "Bukannya kami tak mengenal Nenek. Tentu saja kami mengenal seorang petapa yang bernama Nyi Sannaha. Namun, bukankah untuk bertemu Nenek adalah hal yang sangat sulit? Lebih sulit dari pada bertemu Kakek?!"


"Kamu benar, Cucuku. Hehehehe," Nyi Sannaha terkekeh.


"Aman-aman. Bisa hancur semua benda di sini kalau mereka berdua ngamuk." Janu mengelus dada.


Arya Wira dan Loka Hita menghela nafas pelan, ucapan Janu memang benar. Dua guru mereka bisa menghancurkan apa saja bila bertarung meski hanya sebagai gurauan. Setelah keadaan menjadi lebih tenang, semua orang kembali duduk dan membahas informasi dari Putih.


"Ampun, Gusti Prabu. Siapa dua orang yang dimaksud oleh perempuan tadi?" Panglima Mahanta memberanikan diri bertanya pada Arya Wira.


"Orang yang saya cari adalah Ki Grenda, ahli racun yang saya yakini sangat berkaitan dengan meninggalnya Dinda Nirmala. Dan orang yang saya curigai adalah salah satu dari anggota penghuni istana."


"Jadi, Rayi Prabu sudah mendapatkan kejelasan tentang kecurigaan itu?" Angga Perak tersenyum. Ada kelegaan menyadari ternyata adik iparnya tak benar-benar yakin bahwa meninggalnya Dewi Nirmala oleh Ki Sayap Hitam.


"Sebentar," Arya Wira menoleh ke arah jendela ruangan. "Ada pesan dari seseorang," dia melangkah ke arah jendela.


"Dari Bibi Selir Arum," ucapnya setelah membaca pesan.


"Salam dan kesejahteraan bagi kita semua. Gusti Prabu, penyerangan terjadi lagi malam ini. Mereka dikejar, tapi yang mengejar tak kembali."


Angga Perak dan Arya Wira saling memandang. Belum sempat mereka mengucapkan sesuatu, sepotong batang bambu kecil terlempar dari jendela. Dengan sigap, Arya Wira menangkap bambu itu dan membaca pesan yang tertulis dengan keras.


"Dia kemari. Menemui Ki Grenda yang disembunyikan di dalam istana. Di wisma tamu."


"Wisma tamu," Loka Hita bergumam pelan, mengingat nama yang tinggal di sana. "Tidak mungkin dia pelakunya, Kakang!" Loka Hita bangkit. Dia tahu siapa yang dimaksud.


"Tenang, Dinda Hita. Lebih baik kita segera menangkap basah mereka. Ayo!" Arya Wira bergegas keluar dari ruangan. Diikuti semua orang.


"Siapa sih yang dimaksud, Tuan?" Janu menoleh pada Hansa Daya dan Giri Wasa.


"Entahlah, Janu." Giri Wasa dan Hansa Daya menjawab serempak sementara kaki tetap melangkah.


"Pitaloka..." desis Loka Hita. Membuat tiga murid Sedayu berhenti serentak.

__ADS_1


Pitaloka?!


__ADS_2