
Rombongan Arya Wira sampai di tempat sayembara menjelang siang. Sayembara telah dimulai sejak tadi. Mereka terlambat karena harus Arya Wira dan Loka Hita berlatih ilmu pedang terlebih dahulu. Sudah beberapa hari mereka tak melatih diri.
Peserta semakin sedikit, tapi tak ada yang berhasil mengalahkan dua jagoan Nala Pura. Padahal, energi panglima kerajaan dan Pangeran Angga Perak telah berkurang banyak.
Dewi Nirmala berkali-kali mendesah. Beberapa pemuda tampan yang sempat menarik perhatiannya ternyata tak satu-pun yang menang. Dia khawatir, orang yang menang adalah pendekar tua berilmu tinggi. Prabu Caraka dan Ratu tak kalah resah. Bagaimana bila yang menang adalah pendekar golongan hitam yang sakti tanpa ilmu sihir.
"Ayo!" Suara Pangeran Angga Perak terdengar lantang, "siapa lagi yang akan mengikuti sayembara ini?! Atau haruskah ditunda hingga ada yang berani?!"
Peserta hanya tersisa segelintir. Mereka semua tampak tak berani maju. Tadi pagi, seorang guru dari padepokan besar berhasil dikalahkan oleh panglima kerajaan. *Bagaimana lah dengan mereka*.
"Kakang akan maju, Dinda. Doakan Kakang," Arya Wira tersenyum pada adiknya.
"Majulah, Kakang. Banggakan nama Padepokan Sedayu," Loka Hita mengangguk
Lepas dari angukan Loka Hita, Arya Wira mendekati salah satu prajurit yang menjaga area pertarungan. Arya Wira mengungkapkan maksudnya, mengikuti sayembara. Tak lupa, dia katakan bahwa dirinya berasal dari Padepokan Sedayu.
"Ampun, Tuan Panglima," prajurit itu mendekat dan menghaturkan sembah. "Seorang pemuda ingin mengikuti sayembara ini," lapornya.
Panglima menoleh pada Prabu Caraka sambil memberikan hormatnya. Prabu Caraka memberi isyarat untuk memperbolehkan. Panglima kembali menatap prajurit tersebut,
"Biarkan dia masuk ke arena," perintahnya.
Arya Wira melompati tali temali pembatas. Lompatan biasa, Arya Wira tak menggunakan peringan tubuh. Menimbulkan banyak pertanyaan.
Arya Wira memberikan hormat sebagai seorang pendekar. Bukan sebagai rakyat jelata tanpa ilmu, atau sebagai pangeran. Tak lupa, senyuman ramah dia suguhkan. Senyuman yang mampu membuat Dewi Nirmala menahan nafas.
"Tampan dan berwibawa sekali pemuda ini. Siapa dia?" Batinnya bertanya kagum.
"Siapa dirimu, Nak?" Tanya panglima kerajaan.
"Saya Arya Wira, murid padepokan Sedayu yang berada di lereng Gunung Selatan, Tuan," jawab Arya Wira penuh wibawa.
"Baiklah, kita mulai saja perlombaan ini," panglima memberi isyarat untuk melepas *Sang Avri*.
Dan, seluruh manusia terpesona!
*Sang Avri* langsung terbang saat perawatnya melepas pegangan. Segera terbang ke arah Arya Wira tanpa dikomando oleh si perawat. Burung indah itu tak hinggap di dahan kayu yang tersedia di depan Arya Wira -*seperti sebelum-sebelumnya*. Dia malah terbang mengitari Arya Wira dengan berkicau merdu. Kicau bagai senandung indah. Seakan seluruh alam sekitar ikut bersenandung. Kicauan paling merdu yang pernah didengar sang perawat.
Burung itu terus saja terbang mengitari Arya Wira. Hingga Arya Wira menjulurkan lengan kiri nya. *Sang Avri* berhenti, hinggap di lengan Arya Wira. Kicauannya tak berhenti. Arya Wira melipat lengannya, memperpendek jarak. Tangan kanan Arya Wira membelai lembut kepala burung ajaib itu. *Sang Avri* tampak begitu menikmati belaian Arya Wira. Kicauannya terhenti saat Arya Wira mencium kepalanya. Ekor indahnya melambai indah.
"Siapa pemuda itu? Mengapa *Sang Avri* sangat nyaman dengannya?" Bisik-bisik menyebar. Di antara penonton. Di antara peserta. Bahkan di atas panggung para punggawa. Prabu Caraka menatap Arya Wira, garis wajah pemuda itu sangat familiar. Tapi, siapa?!
Semua kembali dibuat kaget saat si perawat memanggil kembali *Sang Avri*. Burung istimewa itu tak juga terbang dari lengan Arya Wira. Tetap hinggap di sana meski Arya Wira tak membelainya.
Arya Wira menarik nafas. Dengan senyuman, dia mengulurkan lengan kirinya. Lantas menggoyangnya pelan. *Sang Avri* berkicau sebentar, lantas terbang mengitari Arya Wira beberapa kali. Barulah, terbang kembali pada si perawat.
"Baiklah, Nak. Siapa yang akan kau lawan dahulu?" Panglima menatap Arya Wira setelah *Sang Avri* kembali
"Saya hanya mengikuti kehendak Tuan Panglima dan Pangeran Angga Perak," jawab Arya Wira hormat.
__ADS_1
"Izinkan saya melawannya terlebih dahulu, Paman," tukas Pangeran Angga Perak sebelum panglima mengatakan sesuatu.
"Daulat, Pangeran," panglima mundur
Pangeran Angga Perak masuk ke arena. Dia sudah sangat penasaran dengan pemuda di depan nya.
"Kita duel tangan kosong, Arya Wira," Pangeran meletakkan pedang nya.
"Daulat, Pangeran," Arya Wira ikut meletakkan pedang dari punggungnya.
Penonton semakin riuh. Ini yang ditunggu-tunggu. Pertarungan. Setelah melihat respon Sang Avri, para penonton dan peserta lain -yang telah kalah, semakin penasaran. Apakah pemuda ini juga seorang pendekar hebat?!
Pangeran meluncur cepat. Dia memilih menyerang terlebih dahulu. Jurus nya penuh kekuatan. Terfokus pada sendi-sendi jemari tangannya yang mengepal. Pangeran memilih jurus tangan yang didominasi pukulan. Tendangan hanya dia layangkan beberapa kali.
Sementara Arya Wira menggunakan jurus dari padepokan Sedayu, jurus pukulan seribu angin. Jurus penuh kecepatan dan lentur. Tendangan sering dilayangkan untuk membuat jarak.
Sayang, pertempuran itu hanya sebentar. Tak butuh waktu lama, Arya Wira berhasil mendaratkan pukulan di leher Pangeran. Membuat Pangeran terjajar ke belakang beberapa langkah. Dalam waktu sebentar, tendangan Arya Wira menyusul. Telak mengenai lutut Pangeran yang belum sempurna berdiri.
Pangeran roboh ke tanah. Tanpa lama, Arya Wira melayangkan satu pukulan lagi. Kali ini bukan ke tubuh Pangeran, tapi ke tanah di samping kepala Pangeran.
Seluruh punggawa berdecak kaget. Pangeran Angga Perak menelan ludah. Pias sudah wajahnya. Panglima menahan nafas. Dewi Nirmala tersenyum tipis.
Lihatlah, lubang akibat pukulan Arya Wira. Sangat dalam. Juga lumayan luas.
Padahal, semua tahu, Arya Wira tidak memakai seluruh tenaganya.
Arya Wira mengulurkan tangannya.
"Kau sangat hebat, Pendekar," puji Pangeran Angga Perak jujur.
"Hanya keberuntungan, Pangeran," Arya Wira merendah.
"Nah, sekarang, lawanlah Paman Mahanta," Pangeran Angga menepuk pundak Arya yang menunduk hormat. "*Semoga berhasil*!" Entah mengapa, Pangeran merasa perlu berucap seperti itu.
Setelah Pangeran keluar dari arena, Panglima Mahanta masuk. Di layangkannya senyuman pada Arya Wira.
"Aku sangat mengenal jurus pukulan seribu angin dari padepokanmu, Nak. Tapi, sepertinya kau memberi sedikit campuran pada jurus itu," Panglima Mahanta berbasa-basi
"Anda benar, Panglima. Hanya sedikit campuran dari jurus lain," Arya Wira menganguk hormat.
Panglima Mahanta menarik pedang nya, "Mari duel dengan pedang, anak muda."
Itulah sebenarnya kunci kemenangan Panglima Mahanta dan Pangeran Angga Perak. Bila si peserta menang dengan jurus tangan kosong di awal, maka dia harus dilawan dengan senjata di babak berikutnya. Pun, sebaliknya.
Arya Wira mengambil pedangnya. Sarung pedang kembali disampirkan di punggungnya. Sedangkan pedang berkualitas tinggi tergenggam erat si tangan kanan nya.
"Pedang yang sangat indah. Siapa sebenarnya pemuda ini?" Benak Panglima Mahanta bertanya-tanya
"Majulah, Nak! Dan jangan sungkan!"
Arya Wira menganguk, lantas menyerang Panglima. Jurus pedang bayang angin. Jurus dari Empu Dipta. Dan Arya Wira telah menguasai jurus langka itu dengan sempurna.
__ADS_1
Pertarungan kali ini berlangsung lebih lama dari sebelumnya. Apalagi, Panglima Mahanta memang pendekar bersenjata. Dia sangat ahli dalam berpedang.
Di salah satu kesempatan, Panglima berhasil melayangkan pukulan ke dada Arya Wira. Membuat Arya Wira terjajar ke belakang. Panglima Mahanta berniat menyusulkan sabetan ke arah kaki Arya Wira.
Arya Wira lebih dari siap untuk menerima serangan. Dia lebih dahulu menyabetkan pedang ke arah kepala Panglima meski tubuhnya belum sempurna berdiri.
**Tringggg**!!!!
Bunyi pertemuan dua pedang memekakkan telinga. Panglima memilih menahan serangan Arya Wira dan membatalkan serangannya.
Duel kembali berlangsung. Dalam kesempatan berikutnya, Arya Wira berhasil memukul pangkal lengan Panglima. Dalam gerakan cepat, Arya Wira memukulkan punggung pedangnya ke pergelangan tangan Panglima. Pedang Panglima terjatuh.
Gerakan Panglima saat menyambar pedang yang jatuh, terhenti. Logam dingin dari pedang Arya Wira telah menempel di lehernya.
Gemuruh suara bersahut-sahutan.
Para penonton refleks bertepuk tangan.
Para punggawa terpana.
Peserta lain menahan nafas.
Panglima kalah!
Arya Wira menang! Dia memenangkan sayembara. Dengan berhentinya gerakan panglima dan menempelnya pedang Arya Wira di leher Panglima, sayembara berakhir. Prabu Caraka menghela nafas. Sementara Dewi Nirmala tersenyum malu dari balik kain penutup wajahnya.
"Selamat, Nak!" Seru Prabu Caraka dari atas panggung.
Seluruh rakyat menatap raja mereka.
"Dengan ini, kau berhak mendapat hadiah! Kau berhak menikahi putriku, Dewi Nirmala." Prabu Carak menatap lembut putrinya yang menunduk. Lalu beralih pada putranya.
"Dan kedudukanku sebagai putra mahkota menjadi milikmu, pendekar Arya Wira," Pangeran Angga Perak tersenyum bahagia.
*Saat itulah*. Saat Pangeran dan Prabu turun ke arena. Saat semua mata tertuju pada Arya Wira. Saat itulah, Loka Hita melangkah dari kerumunan penonton. Tanpa diketahui siapa pun. Tanpa disadari Paman Jaka.
Perlahan, menuntun kudanya menjauhi lokasi sayembara. Menjauh, meninggalkan kakaknya. Loka Hita memutuskan untuk pergi.
Tak lupa, dia telah meninggalkan pesan. Sehelai daun yang dia gores dengan duri. Diletakkan di bawah pelana kuda kakaknya.
"Maafkan aku, Kakang...." Loka Hita menggebah kudanya agar berlari lebih cepat.
"Maafkan Hita, Kakang Wira. Hita tak bisa menyaksikan semuanya. Hita tak kuat melihat *orang-orang itu*..."
"Heaaaa....." Loka Hita menghentikan kudanya. Memandang ke tempat di dekat jalan. Tempat yang dia kunjungi bersama Arya Wira beberapa hari lalu. Makam *ayah* mereka.
"Maafkan ananda, Ayah. Maafkan *Ratri* yang lemah ini. Semoga suatu saat nanti, Ratri bisa kembali ke sini. Menjenguk Ayah. Juga menyelesaikan tugas dari Ayah. *Ratri* pamit, Ayah. *Ratri* janji, *Ratri* akan kembali...."
Bersamaan dengan setetes air mata yang turun, Loka Hita kembali menarik kekang kudanya. Melanjutkan perjalanannya. Entah ke mana dia akan pergi. Entah....
Loka Hita semakin menjauh dari makam ayahnya yang bernama kecil *Satya*. Tapi lebih dikenal sebagai Garuda Rama.
Tepatnya, **Maharaja Gusti Prabu Garuda Rama**.....
\=\=\=\=\=\=\=
✓Terima kasih saya untuk yang mendukung saya:
•@mahesa adi kusma
✓jangan lupa vote dan like ya
✓komentar nya sangat saya nanti. Apalagi, kritik dan saran.
__ADS_1
Sampai jumpa. Saya tetap usahakan up tiap hari.