
{{Masih Belasan Tahun Silam}}
Matahari bersinar terang. Memanggang kerajaan Nala Pura. Juga memanggang halaman dan sudut istana. Menguarkan bau amis yang menyengat. Membakar tubuh-tubuh penuh luka.
Istana kerajaan tak lagi indah. Tak lagi menguarkan bau harum bebunga dari pekarangan. Tak lagi ramai oleh para prajurit dan dayang. Istana tak lagi damai, meski selama ini pun selalu ada perselisihan di dalamnya.
"Cepat!!!" Bentakan keras dan membahana memenuhi kesunyian istana.
"Aku tak mau tahu!!! Cari raja busuk itu sampai dapat! Hidup atau mati! Juga keluarganya yang selamat! Cari sampai dapat!!" Lelaki bertubuh kekar menggertakkan giginya. Menampakkan kemarahan tiada berperi.
"Awas kau, Garuda Rama!! Aku akan membunuhmu!!! Juga kau, wanita busuk! Kau akan kunikmati sebelum mati!!!" Desisnya penuh kebencian.
Dia kembali memasuki ruangan istana. Menuju singgasana agung. Dengan jumawa, didudukinya singgasana megah itu. Lantas tertawa terbahak-bahak penuh kemenangan.
Rencananya berhasil.
Istana ini sudah dia duduki. Istana, simbol pemerintahan kerajaan Nala Pura.
"Tuan, bagaimana dengan rombongan Maha patih Caraka?" Seorang lelaki berwajah buruk mendekat.
"Sanca!" Seru lelaki yang dipanggil tuan, "kau masih menyebutnya maha patih?! Kaulah Maha patih kerajaan ini. Kau, Sanca!!!" Lantas, tertawa lagi.
"Tenang saja, mereka takkan mencapai kota raja. Aku sudah mengirim orang-orang hebatku untuk membantai mereka di perjalanan. Lagi pula, akan butuh waktu lama bagi mereka untuk kemari. Desa Lodya sangat jauh, Sanca." Lelaki itu menyeringai penuh kepuasan.
"Sekarang, kita harus mengukuhkan kemenangan kita. Sebar pemberitahuan, kerajaan Nala Pura kini dipimpin olehku!" Ucapnya penuh ambisi.
"Daulat, Tuan."
"Panggil aku Prabu, Gobl**!" Makinya
"Daulat, Gusti Prabu." Lelaki bernama Sanca itu pun undur diri.
Di luar, wajahnya berubah masam. Orang itu masih suka mengumpat dan memaki, bahkan pada kawannya. Tapi, Sanca tetap merasa berhutang padanya. Berkat nya, dia bisa merebut posisi Maha patih.
Orang itulah yang menjadi pusat pimpinan pemberontakan. Dialah yang mengatur semua. Mengirim banyak orang ke desa Lodya. Memesan berbagai senjata dari sana. Membayar banyak perampok dan murid-murid padepokan sihir ke hutan-hutan sekitar desa Lodya. Mereka-lah yang berlatih di sana, mereka lah yang dilaporkan telik sandi Maha patih Caraka.
Dia juga menyusupkan mata-mata ke berbagai padepokan. Menyakinkan bahwa salah satu anggota keluarga kerajaan ingin melengserkan Prabu Garuda Rama. Tentu saja, padepokan-padepokan beraliran putih itu menolak para utusan dari istana. Meski mengatas namakan Sang Prabu. Dan mereka menolak membicarakan segala yang berkaitan dengan pemberontakan.
Puncaknya, dialah yang mengirim beberapa orang untuk menyerang keputren. Dengan menyamar sebagai murid-murid padepokan sekitar desa Lodya. Membuat Maha patih Caraka masuk dalam jebakan.
Saat Maha patih Caraka dan pasukannya hampir tiba di gerbang desa Lodya, pasukannya menyerang istana. Dia sudah menghimpun banyak kekuatan. Prajurit yang bisa dibeli dengan uang. Prajurit yang benci Sang Prabu karena membedakan gaji antara prajurit biasa dan pendekar kerajaan. Adipati, Demang, dan pejabat yang korup. Juga pendekar-pendekar aliran netral dan sihir (disebut juga pendekar aliran hitam). Pendekar-pendekar itu sudah berada di kota raja beberapa waktu terakhir.
Istana sangat mudah dikuasai. Sebagian besar prajurit keamanan istana adalah pembelot. Sebagian besar pendekar kerajaan tengah pergi bersama Maha patih Caraka. Maka, keamanan istana tersisa para prajurit khusus keluarga kerajaan dan segelintir pendekar.
Sayangnya, Prabu Garuda Rama berhasil melarikan diri bersama Pemaisuri, dua selir, dan ketiga anaknya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sedangkan itu, di pinggir sebuah desa kecil dekat hutan. Desa yang lumayan jauh dari kota raja. Desa yang dihuni hanya segelintir orang. Di pinggir desa itu, satu rombongan kecil berteduh di bawah pohon. Mengatur nafas, membuang penat dan lelah.
__ADS_1
Itulah rombongan Prabu Garuda Rama.
Prabu Garuda Rama sudah terluka parah. Meski hebat dan berilmu tinggi, sangat sulit baginya untuk menang. Sang Prabu diserang dengan keroyokan oleh pendekar-pendekar tinggi aliran hitam. Juga diserang dengan bubuk-bubuk beracun.
"Kanda Prabu, bertahanlah..." Pemaisuri mencoba mengobati beberapa luka dalam suaminya.
Kondisi Pemaisuri sendiri tak begitu baik. Tubuhnya terluka, meski tidak luka dalam. Tenaganya terkuras. Dialah yang membawa Sang Prabu, salah satu selir, dan beberapa prajurit. Melarikan diri sambil membawa beberapa orang dengan tenaga dalam, membuat tenaganya terkuras.
"Maafkan Kanda..." Sang Prabu berucap lemah.
"Kanda tidak perlu meminta maaf. Ini sudah suratan taqdir, Kanda,"
"Seharusnya, Kanda mendengarkan nasehat Dinda Ayu..." Sang Prabu memuntahkan darah hitam.
"Kanda Prabu," seru Pemaisuri dan dua selir bersamaan.
"Ayahanda!" Tiga permata Nala Pura ikut berseru.
"Tak apa, Dinda..." Sang Prabu menatap lemah tiga istrinya yang selamat. Tiga selirnya yang lain gugur dalam pertempuran.
"Dinda, lar...ri dan selamat...kan putra-putri Nala... Pu... Pura. Biarka...n...Kanda disss....sini. Kanda tak bbb...bisa melanjutkan langkah lagi. Luka ini terlalu paa...arah...." Meski tersendat, Sang Prabu berhasil menyelesaikan ucapannya.
Ketiga istrinya menggeleng tegas. Mereka tak mungkin meninggalkan suami mereka. Apalagi, dalam keadaan terluka parah.
"Maaf, Gusti..." Sela salah satu pendekar kerajaan yang selamat. Dia yang berhasil menyelamatkan satu selir meski dirinya harus terluka parah.
"Saya sangat mengenal daerah ini. Di desa terdekat, ada tabib yang sangat tersohor. Kita bisa meminta bantuan darinya, Gusti," usulnya
"Tidak, Tuan Putri. Dia tabib yang sangat bisa menyimpan rahasia. Lagi pula, kami sempat saling mengenal."
"Bagaimana bila pasukan pemberontak menyisir hingga ke tempat ini?" Kali ini, Putri Ratri Parvati yang bertanya.
"Kami akan segera membawa Gusti Prabu bersembunyi di hutan, Tuan Putri," salah satu prajurit menjawab.
Dia dan beberapa prajurit selamat karena dibawa oleh tiga putra-putri Sang Prabu. Meski ketiganya tengah mengalami luka.
"Mahanta," suara lemah Sang Prabu memecah suasana.
Semua orang menatap Sang Prabu, menanti titah dan ucapannya.
"Kita pergi ke tabib tersebut. Kalian semua juga harus diobati. Ini titahku"
Titah seorang prabu hanya bisa dikoreksi oleh orang-orang tertentu. Maka, mereka melaksanakannya. Mahanta sendiri yang masuk ke desa dan memanggil tabib tersebut.
Manusia hanya berupaya. Bahkan seorang prabu dan pendekar kuat pun takkan bisa merubah titah Sang Kuasa. Manusia memiliki banyak alasan di balik keputusannya. Maka, pun Sang Kuasa. Dan seringnya, manusia tak mampu memahami alasan Sang Kuasa karena kedangkalan ilmunya.
Meski telah diobati, Putri Kartika Dewi wafat. Bersamaan dengan salah satu selir. Disusul oleh orang yang paling berpengaruh dalam rombongan tersebut. Sang Maharaja Gusti Prabu Garuda Rama.
"Kenapa Gusti Ratu belum juga pulang?!" Mahanta mondar-mandir di halaman gubuk tempat mereka tinggal selama ini.
__ADS_1
"Pendekar Mahanta, Yunda Erina belum kembali?" Selir Arum muncul dari gubuk. Dialah selir yang sembuh.
Mahanta menggeleng lemah. Tadi pagi, Pangeran Rama Wangi dan Putri Ratri Parvati pergi mencari beberapa dedaunan obat untuk Sang Prabu. Beberapa saat kemudian, saat matahari mulai meninggi, Sang Prabu telah pergi. Selamanya. Setelah beberapa saat bersedih, Sang Pemaisuri memutuskan untuk menyusul dua buah hatinya. Namun hingga petang, mereka belum juga kembali.
"Sebaiknya, kita urus jenazah Kanda Prabu, Pendekar. Tak baik beliau dibiarkan. Saya yakin, Yunda Erina takkan marah," putus Selir Arum.
"Kita kuburkan dekat Putri dan Gusti Selir?" Mahanta tetap bertanya meski tahu jawabannya.
Gelap telah sempurna saat penguburan jenazah Sang Prabu selesai. Penduduk desa membantu meski mereka tak mengetahui pasti orang yang mereka kubur. Yang diketahui penduduk desa, mereka adalah rombongan saudagar yang terluka parah setelah dirampok. Hanya itu. Wajah Sang Prabu dan keluarga memang terlihat beda setelah pertempuran besar di istana.
Dan Pemaisuri Erina Maheswari beserta putra-putrinya tak pernah kembali. Hilang, entah ke mana....
Tiga bulan kemudian, kabar gembira tiba di desa. Pemberontak berhasil dikalahkan oleh Mahapatih Caraka. Ya! Mahapatih Caraka berhasil menguasai istana dan membunuh dua pimpinan besar pemberontak, setelah berhasil kembali ke kota raja. Setelah seluruh pemberontak ditumpas, Maha patih Caraka memperintahkan seluruh pasukan dan pendekar kerajaan untuk mencari jejak Sang Prabu dan keluarga kerajaan yang selamat.
Pendekar Mahanta mengirim surat ke istana melalui burung penyampai pesan. Surat singkat. Hanya memberi tahu tempat, tanpa menjelaskan keadaan. Tanpa menunggu lama, rombongan besar dari istana pergi ke desa yang dimaksud.
Kekagetan menyelimuti hati setiap orang setelah itu. Selir Arum dan pendekar Mahanta yang kaget karena dua peristiwa itu terjadi bersamaan. Di hari meninggalnya Sang Prabu, istana berhasil dikuasai Maha patih Caraka. Di saat matahari mulai meninggi. Sangat bertepatan dengan waktu wafatnya Sang Prabu. Penduduk desa yang kaget, orang yang mereka kuburkan adalah keluarga kerajaan. Bahkan, Sang Prabu sendiri. Dan tentu saja, rombongan Maha patih Caraka sangat kaget. Sang Prabu telah wafat, juga seorang selir dan Putri Kartika Dewi. Sementara Pemaisuri sekaligus Ratu, Erina Maheswari, hilang bersama pewaris sah tahta Nala Pura. Hanya Selir Arum yang selamat.
"Maafkan saya, Gusti Prabu..." Maha patih Caraka hanya mampu mengucapkan kata-kata itu di depan pusara Sang Prabu.
Seluruh rombongannya pun hanya mampu diam. Mematung. Penyesalan yang begitu mendalam. Tak mampu melindungi Sang Prabu saat diserang. Mereka bahkan berada sangat jauh dari istana. Begitu jauh, hanya untuk mendapat jebakan.
Jangan tanya penyesalan di hati Maha patih Caraka. Kata tak mampu menggambarkannya. Ucapan tak bisa melukiskannya.
Hari itu harusnya Nala Pura berbahagia, pemberontak telah kalah. Namun, Sang Kuasa menentukan segala. Nala Pura harus bersedih....
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Ayahanda..." Loka Hita mendesah pelan.
Dia takkan lupa hari itu. Saat dia hendak pulang bersama kakaknya. Saat hampir tiba di gubuk, Ibunda datang. Tanpa penjelasan, Ibunda langsung meminta mereka mengikutinya. Dan kemudian, mereka pergi. Memulai hidup baru.
"Ayahanda, kini Paman Caraka yang menjadi raja. Paman Mahanta menjadi panglima. Ibunda Arum memilih menjadi petapa..."
"Ayahanda, Kakang Rama kembali. Dia menjadi putra mahkota Nala Pura. Sedangkan Kakang Angga Perak menjadi calon Maha patih. Akankah semua itu terulang??!!"
"Tolong!!!!"
Sebuah teriakan memutus lamunan Loka Hita. Suara itu dari salah satu sisi hutan tempatnya berada. Suara yang pernah dia dengar...
Loka Hita segera mengambil pedangnya. Itu suara....
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Terima kasih banyak untuk yang mendukung saya, utamanya:
✓Mahesa Adi Kusma
✓Robi Putra Khambali
__ADS_1
Jangan lupa vote, komen, dan like ya^_^