Legenda Pendekar Rama Parvati

Legenda Pendekar Rama Parvati
Last


__ADS_3

Siapa sebenarnya kawan dan lawan? Apakah tiap yang membenci adalah lawan? Dan yang mencintai adalah kawan? Apakah tiap yang sependapat harus didukung dan yang berselisih harus dihapus? Terlalu banyak abu-abu dalam dunia dan kehidupan. Atau, terlalu rabun kah mata ini?



Di pelataran istana, Angga Perak sudah menunggu. Saat Arya Wira dan Chandra Maitra tiba, dia segera memberi tahukan hal yang terjadi di istana.



"Maaf, Rayi Prabu. Giri Wasa dan Hansa Daya berada di ruang pengobatan. Mereka baru saja kehilangan kesadaran."


"Apa yang terjadi pada mereka?"


"Maaf, Rayi Prabu. Saat ini, Tabib Cipta sedang memeriksa mereka."



Belum juga mereka masuk, seorang prajurit datang membawa kabar. Selir Arum datang bersama dua muridnya. Mereka sudah memasuki gerbang istana. Arya Wira memerintahkan agar prajurit mengantarkan mereka menuju wisma tamu. Dirinya akan menemui mereka setelah melihat kondisi Giri Wasa dan Hansa Daya.



"Ada apa, ini? Mengapa Ibunda Arum datang tanpa memberi kabar dahulu?" Dalam benak Arya Wira, pertanyaan itu muncul. "Apakah ada hal yang tak bisa diberitahukan melalui surat?"



Di depan ruang pengobatan, seluruh orang sedang menunggu. Janu, Panglima Mahanta, Agni Hijau, Maruta, Nyi Sannaha, Ki Braja Nanda, dan Paman Jaka. Semua berwajah khawatir, terutama Janu. Mungkin, karena Hansa Daya adalah tuannya. Atau mungkin, karena Giri Wasa dan Hansa Daya baru saja berkelana dengannya.



"Apa yang telah terjadi?" tanya Arya Wira langsung.


"Sesuai perintah Gusti Prabu," Panglima Mahanta mulai menjawab, "kami kembali ke istana setelah menyelesaikan urusan dengan tiga mayat pendekar. Saat mendekati istana, Tuan Giri Wasa dan Hansa Daya merasakan pandangan mereka berputar dan hawa menjadi sangat dingin. Belum sempat kami memeriksa dan melakukan apapun, mereka sudah jatuh tak sadarkan diri. Kami tak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada mereka. Tak ada luka dalam yang mereka alami. Badan mereka sangat cepat berubah-ubah. Kadang begitu dingin, tapi bisa berubah menjadi sangat panas dalam sekejap. Sehingga, kami memutuskan untuk memanggil Tabib Cipta."


"Racun?!" desis Loka Hita beberapa saat setelah mendengar penjelasan Panglima Mahanta.


"Maaf, Putri." Agni Hijau memberikan hormat. "Kami tak mendapati racun apa pun di tubuh mereka. Juga tak kami dapati sihir di tubuh mereka. Atau mungkin, kami kurang baik saat memeriksa karena bukan tabib."



Sunyi. Ruangan menjadi sunyi setelah ucapan Agni Hijau. Masing-masing memikirkan berbagai kemungkinan yang menimpa kedua murid Sedayu itu.



"Rayi Chandra, apa yang kau pinta pikirkan?" Arya Wira menoleh pada adiknya.


"Hanya mencoba mencari tahu apa yang bisa menimpa seorang tabib hebat dan penuh pengalaman seperti Tuan Hansa Daya."


"Tabib hebat dan berpengalaman?!" Arya Wira memicingkan mata. Ada yang tidak beres dengan kenyataan itu. Namun, hati dan akalnya belum juga menemukan kejanggalan di sana.



"Siapa?" Ucapan Loka Hita membuyarkan keadaan. Membuat semua mata memandangnya dengan penasaran.


"Ah, ya! Kau benar, Dinda Loka Hita!" seru Arya Wira beberapa saat kemudian.



Netra kedua saudara kandung saling menatap. Berbicara melalui pandangan dan hati. Mereka saling memahami maksud lawan bicara. Namun, selain mereka hanya saling melirik karena bingung.



"Siapa yang membuat mereka seperti ini?" Loka Hita akhirnya menjelaskan maksudnya. "Kakang Hansa adalah tabib yang memiliki banyak pengalaman. Sejak dulu dia suka menjelajah banyak tempat dan mempelajari banyak hal. Raka Wasa adalah pendekar yang sudah sering berkelana. Pasti ada seseorang yang membuat mereka menjadi seperti ini."



Kriettt

__ADS_1


Pintu ruangan terbuka beberapa saat kemudian. Tabib Cipta dan dua pelayan istana keluar. Pemeriksaan pada Hansa Daya dan Giri Wasa berakhir.



"Tabib?!"


"Hormat saya, Gusti Prabu. Puteri." Tabib Cipta memberikan hormatnya pada Arya Wira. "Tuan Hansa Daya dan Tuan Giri Wasa sudah saya berikan ramuan obat. Ada sesuatu yang menyerang tubuh dan tenaga mereka, juga menghalangi aliran tenaga dalam dan hawa murni."


"Sesuatu yang menyerang?" Arya Wira mengulangi kata-kata Tabib Cipta.


"Seperti racun, Gusti Prabu. Tapi, saya tak yakin apakah itu memang racun atau sesuatu yang lain."


"Kenapa tak yakin, Tabib?" tanya Loka Hita.


"Karena saya tak pernah mengenali racun ini. Jika memang racun, itu adalah racun yang sangat asing dan baru."



"Apakah saya boleh menemui Tuan Hansa?" tukas Janu tiba-tiba.


Tabib Cipta menarik nafas, "Bukan maksud saya melarang. Namun, kondisi mereka masih terlalu lemah. Saya khawatir semua bisa memburuk, atau mungkin berpindah pada orang lain."



"Apakah mereka belum sadar?" Arya Wira kembali bertanya.


"Sudah, Gusti Prabu. Tapi saya meminta mereka agar beristirahat dan tidak menggunakan tenaga dalam terlebih dahulu."



Sepoi angin menerpa hingga ke dalam ruangan melalui jendela. Matahari sudah mulai meninggalkan titik tengah peredaran. Udara tak sepanas sebelumnya.



"Maksudmu?" Loka Hita menoleh ke arah adik yang baru saja ditemuinya.



"Mereka merasakan pandangan yang berputar, lalu udara menjadi sangat dingin sebelum akhirnya kehilangan kesadaran. Tubuh mereka sangat cepat berubah. Panas dan dingin. Tubuh dan tenaga fisik seperti diserang oleh sesuatu. Tenaga dalam dan hawa murni yang terhalang." Chandra Maitra menoleh pada Tabib Cipta. "Katakan padaku, apakah bibir dan kulit ujung jemari memucat?"


"Benar, Tuan...."


"Dia adik kami, Chandra Maitra," tukas Arya Wira.


"Benar, Pangeran Chandra Maitra."


"Apakah darah sempat mengalir dari hidung selama beberapa saat?"


"Benar sekali, Pangeran."


"Kau benar-benar mengetahui apa yang terjadi pada mereka, Rayi?"


"Iya, Yunda. Dugaan Tabib memang benar. Mereka terkena racun. Tentu saja racun itu tak dikenali di sini karena berasal dari pulau kecil di tengah Samudera Timur. Racun yang digunakan oleh penduduk asli pulau tersebut untuk membunuh Falew, sejenis hewan raksasa yang hidup di lautan sana. Hanya dengan racun itulah, Falew bisa ditangkap. Cukup lima tetes racun untuk membunuh seorang pendekar besar. Racun yang menyerang tenaga dalam dan tenaga kasar seseorang." jelas Chandra Maitra.


"Samudera Timur? Itu tempat yang amat jauh, Rayi." Loka Hita menggelengkan kepala.


"Benar, Yunda. Itulah yang membuat aku bingung dan penasaran, bagaimana mungkin racun itu bisa ada di Nala Pura? Selain tempatnya yang jauh, bahan untuk membuatnya juga sangat langka dan sulit dicari."


"Lalu, bagaimana?" Loka Hita mendecak pelan.


"Raka Prabu, Yunda, Tabib, izinkan saya melihat kondisi mereka."


"Apakah itu tidak berbahaya, Pangeran?" Tabib Cipta masih lumayan ragu.


"Tenang saja, Tabib. Hanya orang yang meminumnya yang menerima efeknya. Orang yang di dekatnya tak akan terpengaruh." Chandra Maitra tersenyum lembut. "Kalian bisa ikut denganku," lanjutnya.

__ADS_1


"Baiklah, tapi aku harus menemui Bibi Arum terlebih dahulu. Beliau baru saja datang kemari."


"Kami akan menemui Kakang Hansa dan Raka Wasa bersama Kakang saja," jawab Loka Hita. "Lagi pula, sekarang mungkin lebih baik mereka beristirahat dahulu."



Arya Wira mengangguk dan menyetujui ucapan Loka Hita. Bersama Angga Perak, Arya Wira menemui Selir Arum. Sementara Loka Hita mengajak yang lain untuk berbincang di teras bangunan, sambil memperkenalkan Chandra Maitra pada yang lain.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=~~~\=\=\=\=\=\=\=\=\=



Selir Arum tersenyum saat Arya Wira dan Angga Perak memasuki ruangan tempatnya menunggu. Saling bertanya kabar dan berbasa basi sebentar. Arya Wira menceritakan perihal kedatangan Pitaloka ke istana dan pertarungan dengannya. Juga keberadaan Ki Grenda dan yang Merpati Hitam bersamanya. Tepatnya, berada di kubunya.



"Apa yang dikhawatirkan telah terjadi, Nanda Prabu. Pitaloka memang terlibat dalam pembunuhan dengan mendiang Nanda Nirmala."


"Benar, Bibi. Apakah ada hal yang ingin Bibi sampaikan?"


"Sebelum semuanya, apakah sesuatu terjadi di istana? Aku merasakan ada yang janggal dengan udara di istana."


"Benar, Bibi." Arya Wira menghela nafas pelan. "Beberapa saat yang lalu, Hansa Daya dan Giri Wasa tak sadarkan diri. Setelah diperiksa, kemungkinan besar mereka diracuni saat dalam perjalanan menuju istana."


"Giri Wasa dan Hansa Daya?"


"Benar, Bibi. Apakah ada yang tidak beres?"


Selir Arum hanya menggeleng, urung menceritakan percakapan Pitaloka dengan seseorang di malam yang hari. Nama Giri Wasa akan menarik perhatian Arya Wira. Ada hal yang lebih penting untuk diselesaikan.



"Oh ya, Bibi. Apa yang membuat Bibi harus kemari langsung? Kenapa tidak mengirimkan kabar saja?"


"Aku hanya khawatir Pitaloka telah berbuat sesuatu di sini. Aku terlalu khawatir dengan rencananya. Oh ya, bisa kau jelaskan bagaimana mungkin seorang tabib seperti Hansa Daya terkena racun?"



"Saya tak mengetahui pasti bagaimana semua ini terjadi. Hanya saja, mereka tiba-tiba kehilangan kesadaran saat akan kembali ke istana. Raka Patih Angga Perak akan menjelaskan, Bibi."


"Kami kembali ke istana setelah mengurus korban pertarungan kami dengan Pitaloka. Sementara Rayi Prabu dan Putri Loka Hita menyelesaikan urusan dengan Pangeran Chandra Maitra. Saat mendekati istana, Tuan Hansa Daya dan Tuan Giri Wasa kehilangan kesadaran. Karena tak mengetahui apa yang terjadi, kami menyerahkan urusan ini pada Tabib Cipta." Angga Perak menjelaskan dengan singkat tapi menyeluruh.


"Tabib Cipta tak yakin dengan apa yang menyerang mereka, Gusti Selir. Namun, Pangeran Chandra Maitra mengetahui bahwa racun lah penyebab semua itu. Racun yang berasal dari pulau di Samudera Timur," lanjut Angga Perak.



"Pangeran Chandra Maitra? Racun dari pulau di Samudera Timur?" Selir Arum mengernyitkan dahi.



Arya Wira terpaksa menjelaskan ulang penjelasan Chandra Maitra dan siapa sebenarnya dirinya. Tentu saja, hanya mengatakannya sebagai adik seayah yang telah lama berpisah.



"Lalu, apa yang mereka lakukan sekarang? Maksudku, Nanda Putri Loka Hita dan yang lain."


"Mereka akan memeriksa lagi Hansa Daya dan Raka Giri Wasa bersama Bibi."


"Baiklah, mari kita periksa keadaan mereka. Aku khawatir, penawarnya juga sangat sulit didapat dan dicari."



Hari itu, petualangan penuh kelindang masa lalu, pengetahuan baru, dan musuh baru telah siap dimulai. Tentu, juga dengan para kawan baru.


Mohon maaf, Karena berbagai hal dan alasan, cerita ini saya tamatkan. Untuk kabar lebih lanjut, lihat komen.

__ADS_1


__ADS_2