
"Hita, masih jauh?" Hansa Daya memelankan laju kuda.
"Tidak, Kakang. Di ujung jalan ini, ada gerbang desa saya kok." Loka Hita tersenyum.
Hansa Daya balas tersenyum.
"Ya, begitulah kalau sudah jadian. Orang lain tak dianggap lagi..." Suara khas Janu memecah keadaan.
"Janu!" Hansa Daya melirik pelayannya. Sedangkan Loka Hita tersenyum malu.
Mereka sedang menuju rumah Nyai Alisha. Arya Wira dan Panglima Mahanta mengusulkan agar mereka ke sana. Mencari tahu lebih banyak tentang Pendekar Mahabala dan Gayatri. Juga Ki Sayap Hitam. Sedangkan Giri Wasa dan Pitaloka diminta menjaga Nala Pura.
Memasuki desa, banyak yang menyapa Loka Hita. Ini kali pertama Hansa Daya datang ke desa tempat Nyai Alisha tinggal. Membuat beberapa orang menanyai Loka Hita tentang pemuda yang bersamanya.
Mereka berhenti di sebuah rumah dekat sungai. Dua pohon kelapa kembar menghiasi sudut halaman. Rumah Loka Hita. Beberapa orang segera menyambut, tak lupa menyapa dengan ramah.
"Ibunda berada di mana?"
"Di rumah tetangga, Nini. Mungkin akan pulang sebentar lagi."
"Saya sudah pulang," sebuah suara lembut menyahut. "Putriku Hita, kamu kembali, Nak.."
"Ibunda!" Loka Hita bergegas memeluk perempuan bertopeng yang memanggilnya.
"Ayo, masuk. Ajak temanmu, siapa dia?"
"Kakang Hansa, Ibunda,"
"Kakang?" Nyai Alisha melihat Hansa Daya, "Oh... Putri Ibunda semakin dewasa rupanya."
Loka Hita mengulum senyum. Pipinya merah merona. "Ya sudah, ayo masuk, Nak."
Hansa Daya dan Janu mengikuti langkah Nyai Alisha. Masuk ke rumah yang tak begitu luas. Namun juga tidak sempit. Beberapa bunga merekah di pot sudut ruang tamu dan beranda. Membuat segar suasana rumah.
"Bagaimana lukamu, Hita? Ibunda belum lega karena hanya mendapat kabar dari suratmu. Ibunda ingin mendengar darimu langsung."
"Hita sudah sembuh seperti sedia kala, Ibunda. Semua berkat mustika daun langit yang diberikan Kakang Hansa."
Bergulirlah cerita tentang penyusup dan pertarungan. Penawar sihir. Kisah dari Selir Arum dan kejadian di pertapaan.
"Maafkan Ibunda," sahut Nyai Alisha, "dugaan kalian semua benar. Ibunda adalah putri kedua pendekar tersebut."
...\=\=\=\=\=\=\=~\=\=\=\=\=\=\=\=...
Pendekar Mahabala. Pendekar berpedang yang sudah lama malang melintang di dunia persilatan. Berasal dari daerah timur, jauh dari Nala Pura. Berkelana tanpa kawan.
Pendekar Gayatri. Pendekar tangan kosong yang hanya mempelajari sedikit ilmu pedang. Berasal dari barat, sangat jauh dari Nala Pura. Berkelana bersama sang adik, pendekar berpedang.
__ADS_1
Dari barat dan timur. Bertemu di dekat Nala Pura. Pertemuan tak sengaja di sebuah kedai. Berlanjut menjadi kawan dalam berkelana. Tak begitu dikenal oleh dunia persilatan karena ketiganya tak ambil banyak bagian dalam panggung pertempuran. Memilih menyerang para perompak, penyamun, penculik, dan bromocorah lainnya.
Hingga sang adik meninggal. Gugur saat melawan pimpinan penyamun yang ternyata seorang pendekar sihir. Ki Sayap Hitam.
"Berjanjilah untuk belajar ilmu pedang, Yunda. Ilmumu harus lebih tinggi dari pembunuhku. Berjanjilah!"
Permintaan terakhir dari sang adik dikabulkan. Gayatri belajar ilmu pedang pada Mahabala yang telah menjadi suaminya. Bersama, mereka menciptakan dua jurus pedang yang akan melegenda. Jurus pedang sepuluh cahaya. Dan jurus pedang tiga tingkat. Meski bernama jurus, keduanya bukan satu jurus. Melainkan kumpulan dan rangkaian berbagai jurus pedang.
Semenjak dua jurus itu lahir, Mahabala dan Gayatri lebih sering berhadapan dengan pendekar-pendekar aliran hitam berilmu tinggi. Dan selalu keluar sebagai pemenang. Padepokan-padepokan putih pun menjadi kawan dan teman. Nama mereka kian harum di jagad persilatan. Petualangan mereka sempat berhenti sebentar saat Gayatri mengandung dan melahirkan buah hati pertama mereka. Seorang putri cantik dan cerdas. Tentu saja, sangat berbakat dalam ilmu kanuragan.
"Alisha! Gerakanmu kurang cepat!" Mahabala meneriaki putrinya yang sudah hampir remaja.
"Baik, Romo!" Gadis ayu dengan rambut dikepang mengangguk.
"Sudahlah, Kanda. Matahari semakin meninggi," Gayatri muncul dari dalam pondok sederhana. "Alisha, cuci kaki dan tanganmu, kita makan dulu!"
"Baik, Biyung!" Alisha segera berlari ke sungai dekat pondok. -Karena inilah, Nyai Alisha memilih tinggal di pondok dekat sungai saat dewasa.
"Dinda, Alisha harus menyempurnakan jurus sepuluh cahaya." Mahabala mendekat.
"Sudahlah, Kanda. Masih ada esok hari. Biarkan Alisha memiliki kesempatan bermain. Dia masih muda." Gayatri meletakkan kepala di atas pundak suaminya.
Sayang, mereka tak menyadari, Alisha takkan bertemu lagi dengan mereka dalam waktu dekat.
"Kanda, kabar tentang Ki Sayap Hitam semakin merajalela. Dia sudah menguasai dua padepokan besar dan membumi hanguskan lima padepokan kecil lainnya. Apakah kita masih akan tetap diam?"
"Kanda juga bingung, Dinda. Kanda masih ingin menikmati hidup yang tentram bersama putri kita. Kampung kecil ini memberikan kita kenyamanan."
"Kita berdo'a pada Sang Kuasa, Dinda. Semoga ada yang bisa menghentikan penyihir itu selain kita."
Gayatri menghela nafas pelan.
"Romo! Biyung!" Alisha berlari kecil menuju kedua orang tuanya. Wajahnya tampak bahagia.
"Kenapa masih di luar?"
"Menunggumu, Alisha. Ayo, masuk."
Alisha mengangguk. Mereka menyantap menu sederhana di dalam pondok. Gayatri memang pandai memasak. Kepandaian yang juga diajarkan pada Alisha, putri tunggalnya. Selepas makan, kabar mengejutkan disampaikan Alisha.
"Romo, Biyung, apakah mengenal Ki Sayap Hitam?"
Mahabala dan Gayatri menoleh serempak.
"Kenapa bertanya seperti itu, Alisha?"
"Tadi, saat saya mencuci kaki di sungai, ada seorang laki-laki datang menemui saya. Dia mengaku bernama Ki Sayap Hitam..."
__ADS_1
"Kamu tidak apa-apa?" tukas Gayatri, tangannya segera merengkuh pundak Alisha.
"Tidak apa-apa, Biyung. Biyung mengenalnya?"
Gayatri dan Mahabala saling memandang. Bingung hendak menyampaikan apa.
"Tadi, Ki Sayap Hitam menyampaikan bahwa sangat senang bisa bertemu saya. Dia rindu Romo dan Biyung."
Kenyataan bahwa Ki Sayap Hitam masih mengincar mereka. Bahkan juga Alisha muda, membuat pilihan begitu mudah ditebak.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=~\=\=\=\=\=\=...
"Dua hari kemudian, Romo dan Biyung bertarung dengan Ki Sayap Hitam. Ibunda dan seorang teman Romo menjadi saksi kekalahan Ki Sayap Hitam. Dia terluka sangat parah dan jatuh ke jurang. Ibunda tak menyangka, dia masih bisa hidup. Padahal, saat itu Romo dan Biyung menggabungkan dua jurus pedang legenda itu."
Nyai Alisha menghembuskan nafas masygul.
"Mengapa Kakek dan Nenek tidak mencari jasad Ki Sayap Hitam?"
"Entahlah, Putriku. Romo dan Biyung memang mengejarnya ke jurang. Tapi, tak mengatakan apa pun saat kembali. Bahkan, mereka menitipkan Ibunda pada teman Romo dan pergi. Pergi, tanpa bisa Ibunda ketahui ke mana atau pun mengapa. Semua menjadi misteri."
Wajah Nyai Alisha menjadi keruh. Mengingat kenangan saat kedua orang tuanya pergi begitu saja. Tanpa mengatakan alasan. Tanpa memberitahu tujuan. Meninggalkan putri tunggal mereka pada seorang teman.
"Romo dan Biyung tak pernah kembali, Putriku. Teman Romo pun tak mengetahui ke mana atau di mana mereka. Sejak saat itu, Ibunda selalu menganggap teman Romo-lah ayahanda Ibunda. Dan itu pula yang diketahui mendiang ayahandamu."
Loka Hita, Hansa Daya, dan Janu hanya terdiam. Menyimak kisah Nyai Alisha dengan seksama.
"Maafkan Hita, Ibunda. Semua kenangan pahit harus Ibunda ingat kembali."
Nyai Alisha tersenyum lembut. "Itu bukan kesalahan, Hita. Ada kalanya seseorang harus mengingat masa lalu untuk menentukan langkah selanjutnya. Masa lalu takkan pernah terpisah dari kehidupan seseorang. Nah, sekarang, kalian beristirahat dahulu. Ibunda akan menyiapkan perbekalan kalian."
"Nyai sudah tahu, kami harus ke mana?" Janu menyelutuk
"Sudah, Janu. Sekarang, istirahatlah. Kamu tidak capek?"
"Hehe, capek, Nyai." Janu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Janu! Ayo!" Hansa Daya menarik tangan Janu.
Nyai Alisha dan Loka Hita tertawa geli.
Esok, mereka bertiga harus pergi. Mencari keberadaan Ki Sayap Hitam dan mengumpulkan informasi tentangnya. Musuh lama Nala Pura kembali. Juga musuh Nyai Alisha dan dua buah hatinya. Arya Wira dan Loka Hita sedang membuka tabir pertama jati diri mereka. Dan perjalanan Legenda Rama Parvati memasuki kancah peperangan. Pedang kembar mereka harus menebas keangkara murkaan. Dan dua jurus pedang legenda telah kembali. Mengagetkan kembali jagad persilatan.
\=\=\=\=\=~~~~\=\=\=\=\=
Jangan lupa dukung selalu dengan like dan komen
Vote juga ya kalau mampu :)
__ADS_1
Mampir juga di novel saya yang lain
My Love My Heart