
Maaf karena telat up. Untuk itu, saya buat part yang cukup panjang. Mencapai 1900-an kata. Tanpa pendahuluan ini.
Jangan pernah menilai seseorang hanya karena penampilan luar. Meski penampilan luar tetaplah memberi andil dalam penilaian.
Nyi Sannaha tak seperti yang dibayangkan Loka Hita. Seorang perempuan bertubuh tinggi, dengan wibawa seorang pendekar tingkat tinggi. Nyatanya, dia malah seperti pengemis atau mungkin, gelandangan.
Perempuan tua dengan seluruh rambut sudah memutih. Punggung yang membungkuk dan sebatang tongkat di genggaman. Kulit yang lumayan hitam dengan keriput yang tampak jelas. Pakaian yang ala kadarnya dengan beberapa tambalan.
Tempat tinggalnya berupa gua luas dengan bagian mulut di dasar telaga. Gua tersembunyi oleh tanaman dasar telaga dan benteng tenaga dalam yang sangat kuat.
"Hehehehe. Rupanya tamuku sudah datang," sambutnya setelah Putih menyapa.
"Terima kasih telah menerima kami, Nyi," Putih kembali menghormat.
Nyi Sannaha terkekeh pelan. Memamerkan gigi yang sudah mulai tanggal. "Jangan terlalu formal, Putih. Panggil saja Nenek. Ayo masuk! Aku sudah lelah berdiri di sini."
"Apakah saya harus ikut, Nek?"
Nyi Sannaha terkekeh lagi, lantas menggeleng. "Cukup gadis ayu ini saja. Kau pasti sudah ditunggu banyak orang."
Putih memberikan hormat sebelum berbalik dan pergi.
"Nah, Putri Ratri, ayo!"
Ratri Parvati [Loka Hita] hanya menurut. Dia yakin, dibalik penampilan Nyi Sannaha yang sangat jauh dari kesan pendekar, kekuatan besar berada.
Setelah berjalan dengan bantuan peringan tubuh, mereka tiba di bagian dalam gua. Sebuah ruangan luas, dengan beberapa lubang di atas. Dari lubang-lubang itulah, cahaya mentari menerangi gua, tanpa ada setetes air telaga yang masuk. Di dinding gua, beberapa batu berkilauan tertanam. Batu-batu itu menyerap cahaya mentari saat siang dan memancarkan cahaya indah saat malam. Benar-benar lebih terang dan indah dari sekedar obor atau api.
Nyi Sannaha mempersilahkan Ratri Parvati untuk duduk di atas sebuah batu datar di tengah ruangan. Lalu berjalan pelan ke bawah salah satu lubang. Menggerakkan tangan dengan cepat, dan berbalik lagi ke arah Ratri Parvati.
"Kau benar-benar berbakat dalam ilmu kanuragan, Nak. Sama seperti kakek dan nenekmu. Hanya saja, hatimu masih terlalu gelap untuk bisa menjadi pendekar sejati.
Berbanding terbalik dengan kakakmu, Rama Wangi. Hatinya jauh lebih bersih. Tapi kemampuan kanuragannya masih terlalu dangkal untuk berbanding dengan kakek dan nenek kalian."
Ratri hanya diam, mendengarkan dengan seksama ucapan Nyi Sannaha. Entah mengapa, tiap kata petapa itu diliputi pesona yang tak bisa digambarkan. Membuat pendengarnya mau menyimak, tanpa menyela.
"Aku tahu, kau mencari Ki Sayap Hitam. Kau ingin menghabisi lelaki tua yang jahat itu. Tapi Ratri, kenapa tak kau tanyakan hatimu, untuk apa kau membunuhnya?! Dendam? Kebencian? Kesombongan? Atau apa?"
Ratri menunduk. Nyi Sannaha benar, dia hanya menuruti emosi dan perasaan. Dia bahkan belum tahu alasan utamanya untuk membunuh Ki Sayap Hitam.
"Ratri, tugasmu sekarang bukanlah membunuh Ki Sayap Hitam lagi. Ada tugas yang lebih penting."
Ratri mengangkat pandangan. Menatap Nyi Sannaha dengan penasaran. Tugas lain?!
"Bantu Rama Wangi untuk mencari musuh yang bersembunyi di istana Nala Pura. Masalah Ki Sayap Hitam," Nyi Sannaha menghela nafas panjang, "aku yakin ada saatnya tersendiri bagi kalian untuk melawannya."
"Mengapa Nyi bisa mengetahui tentang saya?" Ratri Parvati tak bisa menahan penasaran lagi.
Nyi Sannaha terkekeh, sepertinya dia lebih suka tertawa dari pada tersenyum. "Angin mengirim kabar. Air menceritakan banyak hal. Namun tak semua orang bisa mendengarkan, Nak."
Selanjutnya, Ratri Parvati mendapatkan banyak pembelajaran dan informasi dari Nyi Sannaha. Nyi Sannaha rupanya salah satu dari guru Pendekar Mahabala dan Pendekat Gayatri. Bahkan, salah satu guru mendiang Prabu Garuda Rahma adalah muridnya juga. Umurnya sudah melebihi angka seratus tahun. Sudah terlalu banyak kejadian yang dia alami.
Saat itu juga, Nyi Sannaha memerintahkan Ratri Parvati untuk bersemedi di gua. Dan hanya akan menyelesaikan atas perintah darinya. Ratri Parvati menurut dengan segenap kepatuhan. Dia ingin membersihkan hatinya. Setelah putri Nala Pura tersebut larut dalam semedi, Nyi Sannaha pergi meninggalkan gua. Ada beberapa orang yang harus dia temui.
Ini saatnya untuk kembali masuk ke dunia persilatan. Ada janji yang harus ditunaikan.
...\=\=\=\=\=\=~~~\=\=\=\=\=\=...
Di tempat lain, Arya Wira dan Laras berhenti di sebuah jalan yang bercabang. Mereka akan berpisah, melanjutkan perjalanan masing-masing.
"Terima kasih, Nandana. Pengembaraan kali ini sangat menyenangkan."
"Tak perlu berterima kasih, Laras. Jaga dirimu baik-baik!"
"Tentu, Nandana. Semoga kita akan bertemu lagi." Laras menggebah kuda, mengambil jalan sebelah kiri.
"Ayo, Paman Jaka!" Arya Wira juga menggebah kudanya, mengambil jalan sebelah kanan.
__ADS_1
Arya Wira baru saja mendapatkan kabar dari Angga Perak, salah satu kadipaten di ujung utara baru saja diserang perampok.
"Kita harus segera ke sana. Pasukan bantuan dari daerah terdekat tak bisa mengalahkan seluruh perampok. Mereka hanya bisa mengurangi jumlah korban dan kerugian. Padahal, mereka hanya gerombolan perampok biasa."
Dua kuda melaju cepat, Arya Wira sudah sering melewati jalan yang dia lalui saat masih menjadi murid di padepokan Sedayu. Ada jalan pintas, tapi harus melewati hutan lebat dan dua padepokan beraliran netral sebelum kadipaten. Hutan bukan masalah besar. Masalah yang lebih besar adalah, bila dua padepokan memilih membantu para perampok. Kecemasan Arya Wira bukannya tak beralasan. Sebab, sangat aneh sebuah gerombolan perampok biasa sulit ditaklukkan oleh pasukan kerajaan yang dibantu para pendekar. Kecuali, ada kelompok lain dengan kekuatan besar yang membantu.
Di perjalanan, Arya Wira menyempatkan diri untuk melatih jurus tiga tingkat. Juga ajian tiga belas daya. Juga memaksimalkan jurus-jurus dari Sedayu. Tak lupa untuk selalu memantau Pitaloka (dengan bantuan prajurit bayang). Dan juga keadaan istana (dengan bantuan Paman Jalak dan Bibi Selasih).
Seperti kecemasan Arya Wira. Dua padepokan ternyata tunduk pada perampok. Kedua pimpinan memihak pada kelompok pengacau itu. Murid-murid dua padepokan sudah menghadang di jalan utama menuju desa.
"Segera serahkan harta kalian bila ingin selamat!"
Arya Wira tertawa, "Bukankah kalian berasal dari padepokan yang netral? Sejak kapan padepokan merampok para pengembara?!"
"Itu bukan urusan kalian!"
"Sudah kuduga, kalian bekerja sama dengan perampok yang sedang merajalela."
Murid-murid padepokan saling memandang. Tanpa berpikir banyak, mereka menyerang Arya Wira. Paman Jaka sudah menyingkir dari area sejak tadi.
Pertarungan tak dapat dielakkan, meski bisa diduga akhirnya. Murid-murid padepokan harus menerima rasa sakit karena jatuh menghantam tanah. Juga harus menderita luka sabetan pedang musuh mereka. Tentu saja, Arya Wira menang telak. Tak ada satu pun pukulan dari musuh-musuhnya yang mengenai tubuhnya.
"Paman Jaka, ayo!" Arya Wira segera melompat, kembali ke atas kuda. Dan langsung melaju.
Arya Wira memilih memutari dua padepokan. Dia tak ingin waktunya terbuang karena berhadapan dengan mereka sebelum mencapai desa. Di gerbang desa, pertarungan sudah terjadi. Kelompok perampok -dengan bantuan dua padepokan, menyerang prajurit dan tiga pendekar kerajaan -dengan bantuan beberapa rakyat.
Wuusssshhhh
Arya Wira segera melompat sambil memukulkan dengan tenaga dalam ke tanah. Tanah bergoncang, membuat kedua kubu lompat ke belakang. Semua perhatian tertoleh pada Arya Wira yang masih di udara.
Sreekk
Kaki Arya Wira menapak di depan rakyatnya. Matanya menatap tajam para penyerang. Pedang tergenggam erat di tangan kanan.
"Kukira, padepokan netral lebih memiliki martabat tinggi. Ternyata, mereka tak lebih dari kawanan perampok yang lapar."
"Hanya seseorang yang benci melihat penindasan. Lebih baik kalian menyerah dan bertobat dari pada melayang."
"Cuih!" salah satu tetua padepokan meludah, "Enak saja! Kau yang menyerah, kau masih bocah kemarin sore!"
Arya Wira tersenyum sinis, "Itu lebih baik dari pada kalian yang sudah bau tanah!"
"Bocah sia**n!!" Setelah menggumpat, tetinggi padepokan menyerang dengan bersenjatakan tombak panjang.
Tringgggg
Tombak dan pedang yang teraliri tenaga dalam, saling membentur di udara. Tangan kiri Arya Wira segera melepaskan pukulan ke arah kepala lawan. Lawan bisa menghindar, tapi membuat pegangan tombak agak melemah. Kesempatan digunakan dengan baik oleh Arya Wira untuk menebaskan pedang.
Pertarungan kini hanya terjadi antara dua orang. Arya Wira dan tetua padepokan. Semua orang memilih menjauh dari area, menghindari tenaga dalam yang mungkin salah sasaran.
Jurus pedang sepuluh cahaya. Bagian ketiga. Pedang Arya Wira bergerak lincah penuh kekuatan. Kadang mengincar beberapa titik fatal. Sesaat kemudian serangan pedangnya menipu. Gerakan pedang yang mengalir bagai air, tapi kokoh dan tergenggam erat di tangan bagai gunung.
Lawannya sangat keteteran melayani gerakan Arya Wira. Sudah berkali-kali sabetan pedang tak bisa dia hindari. Beberapa kali pukulan tenaga dalam mendarat di tubuhnya. Sementara serangannya sama sekali tak ada yang mengenai Arya Wira. Meski sekedar membuat goresan luka.
Crashhhh
Sabetan ini tak bisa lagi dihindari. Pedang Arya Wira sukses menggoreskan luka di lengan kanan dan kiri. Membuat tombak tak bisa digenggam kuat lagi.
"Guru!"
Beberapa murid bergegas menyongsong. Arya Wira memilih diam dan membiarkan para murid membantu guru mereka.
"Serang!!" Seru salah satu murid padepokan.
Lima murid yang terbakar api kemarahan segera maju. Arya Wira hanya tersenyum sambil mengeratkan genggaman pedang. Namun, belum sempat para murid mencapai Arya Wira, sebuah pusaran angin menghempaskan mereka.
"Dasar tidak tahu batasan diri! Malah ingin cari mati saja!" Seseorang menggerutu dari kejauhan.
__ADS_1
Seluruh perhatian tertuju pada orang yang mendekat. Seorang perempuan dengan topeng kulit jelek yang menutupi wajahnya. Berjalan dengan tongkat kayu berukiran indah. Baju merahnya berkibar terkena angin.
"Kalian tidak tahu diri!" sungutnya lagi. "Kalian tidak tahu siapa lawan kalian, hah?!"
"Aku tahu," jawab seseorang yang baru saja tiba. Lelaki tua berjubah khas seorang tetua padepokan. Di belakangnya, seorang lelaki tua mengikuti. Juga dalam balutan jubah seorang tetua padepokan. Hanya saja, corak kedua jubah menggambarkan dua padepokan yang berbeda.
"Hormat kami, Gusti Prabu," keduanya memberikan hormat meski masih cukup jauh dari Arya Wira.
"Prabu?!" sontak, semua orang saling menatap, kaget dan bingung.
"Maafkan kami yang telah lalai menjaga para murid sehingga membantu perampok," salah satu lelaki tua menjelaskan.
"Kami sudah pergi sejak empat sasi yang lalu untuk mencari sumber daya. Kami tak menyangka, murid kami mengkhianati kami dan negeri sendiri."
Arya Wira tersenyum dan mengangguk, "Saya kira Tuan berdua telah beralih haluan. Salam saya, Tuan Agni Hijau dan Tuan Maruta."
"Kami tak berubah, Gusti Prabu. Murid-murid kami yang berkhianat, Gusti Prabu. Kami pasti akan menghukum mereka." Agni Hijau menghaturkan hormat lagi.
"Hukuman apa yang akan kalian berikan?"
Agni Hijau dan Maruta saling memandang. Maruta yang memilih untuk menjawab, "Mereka akan membereskan para perampok ini. Mohon persetujuan Gusti Prabu."
"Baiklah, saya setujui. Namun, biarkan beberapa orang yang saya percayai akan membantu sekaligus menjadi saksi."
"Daulat, Gusti Prabu."
Mendengar hal itu, para perampok yang ada di tempat segera berlari. Maruta dan Agni Hijau segera membentak para murid, memerintahkan mereka untuk mengejar.
"Hormat kami, Gusti Prabu. Maafkan kami yang tak bisa mengenali Gusti Prabu." salah satu pimpinan prajurit segera bersimpuh. Diikuti para rakyat dan prajurit. Tiga pendekar kerajaan ikut memberikan hormat.
"Di mana yang lain?"
"Mereka di balai desa, Gusti Prabu. Empat pendekar dan Demang menjaga mereka dan akan membantu bila sewaktu-waktu harus melarikan diri."
"Adipati? Dia tidak ikut membantu di sini?"
"Kami sudah mengirim kabar pada Tuan Adipati, tapi beliau belum kemari, Gusti Prabu."
"Dia sedang membantu desa lain yang juga diserang perampok," jawab perempuan bertopeng.
Arya Wira menoleh, wajahnya cukup menggambarkan rasa penasaran.
"Ada urusan yang harus Prabu lakukan. Prabu bisa memeriksa para rakyat terlebih dahulu. Saya tunggu Prabu di dekat hutan."
Di ujung kalimat, perempuan bertopeng sudah melenting. Pergi dengan peringan tubuh yang sangat tinggi. Meninggalkan semua orang dengan satu pertanyaan yang sama:siapa dia?!
"Nini?!" Arya Wira memanggil perempuan yang bersandar di dahan pohon. Dia sudah selesai memeriksa rakyat dan mengirim kabar pada Angga Perak. Dan kini, sedang berada di pinggir hutan yang diminta. Sudah beberapa saat dia mencari perempuan bertopeng tadi.
"Kau membuatku lelah menunggu, Nandana!"
"Nandana?!" Arya Wira mengernyitkan dahi.
Perempuan bertopeng melompat dari dahan, lalu tertawa. "Itu nama yang kau perkenalkan dengan Laras, bukan?!"
"Siapa Nini sebenarnya?!"
"Nini?! Aduh, aku lupa untuk melepas topeng ini!" dengusnya. Tangannya bergerak lincah, membuat pusaran angin yang membungkus diri. Saat pusaran angin mereda, Arya Wira dan Paman Jaka melotot tak percaya.
Di sana, tak ada lagi perempuan bertopeng dengan baju merah. Yang ada, perempuan bungkuk dengan pakaian ala kadarnya dan bertambal seperti pengemis. Keriput di wajah dan rambut yang seluruhnya memutih cukup menyatakan bahwa dia tak lagi muda.
"Hehehe" dia terkekeh pelan, "kaget ya?! Aku memang sudah tua. Tadi hanya iseng saja."
"Siapa Nyi sebenarnya?"
"Orang biasa memanggilku Nyi Sannaha. Padahal, nama asliku seperti ibumu."
"Nyi Sannaha?! Benarkah?"
__ADS_1