Legenda Pendekar Rama Parvati

Legenda Pendekar Rama Parvati
Prasangka dan Dugaan


__ADS_3

"Ayahanda... Ratri rindu, Ratri benci semua ini...." Loka Hita menatap aliran sungai di depannya.



Setetes air mata turun. Loka Hita segera mengusapnya. Tidak! Dia tidak boleh menangis! Ayahnya selalu bilang, dia perempuan kuat.



*Vayu* mengibaskan sayapnya. Burung berbulu coklat bersih itu setia menemani tuannya. Burung pengantar pesan hadiah Pendekar Suling, salah satu pendekar yang ditemui Loka Hita saat dia turun gunung pertama kali. Sejak saat itu, Vayu selalu menemani Loka Hita.



Loka Hita menghela nafas. Teringat masa kecilnya. Sebagai putri pertama kerajaan Nala Pura....


\=\=\=\=\=\=\=\=


***Istana Kerajaan Nala Pura, belasan tahun silam***....



Malam kelam. Gemintang tak nampak di angkasa. Tak indah dipandang. Namun, tetap saja ada yang berlama-lama memandangnya. Lelaki bertubuh kekar dengan kulit gelap. Keresahan menghias wajahnya.



Dia-lah orang nomor satu kerajaan Nala Pura. Prabu Garuda Rama.



"Lalu, mana yang kita percayai?" Desahnya.



"Maaf, Gusti Prabu. Saya akan mengirim telik sandi sekali lagi," jawab seseorang di belakangnya.



Prabu Garuda Rama membalikkan tubuhnya. Dia tak yakin dengan usul maha patihnya.



"Waktu terlalu sedikit, Adik Caraka. Terlalu mepet," pelan sekali bicara Prabu Garuda Rama.



Benar-benar genting urusan kali ini.


Beberapa bulan yang lalu, tercium bau pemberontakan. Beberapa telik sandi yang disebar di kerajaan tetangga melapor. Ada permintaan bantuan untuk menggulingkan Prabu Garuda Rama. Kabar semakin jelas saat utusan empat kerajaan sahabat datang. Mengabari bahwa raja-raja mereka, sahabat-sahabat Prabu Garuda Rama, baru saja menerima utusan-utusan yang menawarkan perjanjian. Membantu beberapa pihak kerajaan Nala Pura untuk menggulingkan Sang Prabu, dengan imbalan beberapa daerah. Meski menolak mereka tak bisa melacak siapa yang mengirim tawaran.



Penyelidikan segera dimulai.


Saat kabar semakin jelas. Pemberontak mengirim surat ancaman pada Sang Prabu. Turun tahta atau penyerangan dilaksanakan.



Namun sayangnya, kabar berbeda dibawa oleh dua telik sandi. Telik sandi (mata-mata) utusan Prabu Garuda Rama mengabarkan, gerakan para pemberontak terpusat di kota raja. Sedangkan telik sandi utusan Maha patih Caraka mengabarkan, titik pusat pemberontakan berada di Desa Lodya. Desa di bagian timur laut Kerajaan. Desa yang menjadi pusat ahli senjata dan pandai besi kerajaan. Juga tempat beberapa padepokan berdiri.



"*Adik* sudah memeriksa laporan telik sandi melalui para adipati dan tumenggung?" Prabu Garuda Rama kembali memecah kesunyian.



"Sudah, Gusti. Mereka melaporkan, bahwa jumlah pendatang semakin bertambah. Dari laporan Adipati dan para Demang, beberapa padepokan menolak membicarakan pemberontakan. Ada pula yang menolak menerima utusan dari istana, Gusti Prabu," jelas Maha patih Caraka



Prabu Garuda Rama menghela nafas berat. Sebelumnya, telik sandi Maha Patih Caraka mengatakan ada banyak kelompok melakukan latihan bela diri di hutan-hutan sekitar desa. Juga, pesanan senjata-senjata berkualitas tinggi yang semakin menggila. Ditambah, ada kemungkinan beberapa padepokan terlibat. Semua semakin nyata dengan laporan Adipati dan para Demang.



"Semua semakin rumit, Adik. Kita belum mengetahui pasti pusat pemberontakan. Tak ada yang mengetahui persembunyian Patih Sanca," Prabu Garuda Rama kembali menatap langit.



Memang, salah satu pimpinan pemberontakan sudah diketahui. Patih Sanca, salah satu Patih yang dilantik di masa pemerintahan ayah Prabu Garuda Rama.



"Lalu, apa yang harus kami lakukan, Gusti?"



"Itu akan kita pikirkan nanti, Adik. Sekarang, kita pikirkan orang-orang yang menuju ke istana ini,"



Ucapan Prabu Garuda Rama mengagetkan Maha patih Caraka. Penyerang? Maha patih Caraka segera menggunakan tenaga dalam untuk melacak sekitar. Benar, ada sekitar delapan orang yang sudah melewati gerbang luar istana.



"Kita harus cepat, Adik. Mereka menuju kawasan keputren!"



Di ujung kalimatnya, Prabu Garuda Rama sudah melenting dengan peringan tubuh. Maha patih Caraka segera menyusul di belakang.

__ADS_1



Tak dipungkiri, raja Nala Pura memang memiliki kanuragan tinggi. Beliau memang telah belajar pada guru-guru besar padepokan. Saat muda, Garuda Rama juga belajar pada petapa dan beberapa empu. Apalagi, pemaisurinya seorang pendekar berilmu tinggi.



Sesuai dugaan Prabu Garuda Rama, keputren diserang. Saat Sang Prabu dan Maha patih tiba, telah pecah perkelahian di halaman dalam keputren. Dan jumlah penyerang tak hanya delapan. Mereka belasan, atau bahkan melebihi dua puluh.



Perhatian Prabu Garuda Rama dan Maha patih Carak tertuju pada beberapa titik.



Di sana, pertarungan yang melibatkan tenaga dalam. Seorang *wanita* berambut hitam, digelung kecil di atas dan sisanya dibiarkan terurai, melawan dua penyerang bertopeng. Tak jauh darinya, seorang *bocah lelaki* melawan satu penyerang. Pertarungan mereka juga melibatkan tenaga dalam.



Sang Prabu segera meluncur ke arah sang wanita. Membantunya melawan dua penyerang. Sedangkan Maha patih mengambil alih pertarungan si bocah.



Sedangkan penyerang-penyerang yang lain, dilawan oleh prajurit keputren.



Tak butuh lama, lima penyerang tewas. Empat penyerang biasa dan lawan duel si wanita. Meski demikian, para penyerang tak juga melemah. Bahkan, bertambah jumlahnya.



**Duarrrrrrr**!!!!


**Brakkkk**!!!!


**Akhhhhhhh**!!!!



Ledakan dahsyat menghentikan pertempuran. Disusul suara benda-benda jatuh dan teriakan kesakitan beberapa manusia. Semua menoleh ke asal suara.



Dari salah satu bangunan keputren, tiga manusia terlempar dengan raungan kesakitan. Disusul datangnya orang yang melukai mereka. Melihat orang yang baru saja datang, para penyerang menelan ludah. Lihat saja mereka!!



Mereka bukan prajurit atau pun pendekar. Mereka hanya dua gadis kecil dengan belati di kedua tangan. Gadis-gadis kecil yang seharusnya takut dan menangis. Tapi, lihatlah... Mereka menatap tajam para penyerang. Dagu mereka terangkat, dengan seringai di bibir. Tak ada semburat ketakutan di wajah mereka.



Saat seluruh mata tertuju pada mereka, salah satu penyerang menaburkan bubuk di udara. Disusul penyerang yang lain.




"Kalian tidak apa-apa?" Prabu Garuda Rama berjalan ke arah dua gadis.



"Kami baik-baik saja, Ayahanda Prabu," serempak, dua gadis menjawab.



"Benar, Kanda Prabu. Kami tak terluka sedikit pun," tambah seorang wanita yang keluar dari bangunan. Disusul empat wanita lain.



"Mereka gadis yang kuat, Kanda." Imbuh *si wanita* yang bertarung tadi.



"Benar, Yunda Erina," sahut wanita yang baru saja keluar.



Prabu Garuda Rama tersenyum menatap dua gadis di depannya. Mereka putri kandungnya. Ratri Parvati, putrinya dari Pemaisuri Erina Maheswari. Dan Kartika Dewi, putrinya dari Selir Cempaka.



"Semua karena latihan dari Ibunda Ratu," Kartika Cempaka merendah.



Pemaisuri Erina Maheswari hanya tertawa lirih sambil menyarungkan pedangnya. Dialah wanita yang bertarung tadi. Sedangkan lima wanita yang baru saja keluar adalah para selir Prabu.



"Ayahanda Prabu, lihat!" *Si bocah lelaki* menukas pembicaraan.



Tangannya menggenggam sebuah belati kecil. Benda yang jatuh karena pukulannya saat para penyerang mundur. Prabu Garuda Rama dan Maha patih Caraka saling menatap setelah memeriksa belati itu.



Di gagang belati, terukir sebuah lambang. Itu lambang salah satu padepokan besar di sekitar Desa Lodya.

__ADS_1



"Maaf, Gusti Prabu," ucap Maha patih memulai, "izinkan saya segera memberangkatkan pasukan ke Desa Lodya."



Prabu Garuda Rama masih diam. Dia tak bisa gegabah. Tapi, waktunya sangat mepet. Ditatapnya Maha patih Caraka. Orang yang dianggap sebagai adiknya, mengangguk pasti. Prabu Garuda Rama akhirnya mengangguk.



"Tapi, Ayahanda Prabu, Paman Caraka," potong *si bocah lelaki*, "kita tidak bisa gegabah. Ini bisa jadi jebakan."



"Maaf, Pangeran Rama Wangi, ini adalah bukti kuat. Waktu kita tak lama," sanggah Maha patih Caraka.



"Iya, Pangeran," salah satu selir menyahut, "Maha patih Caraka benar."



Pemaisuri melirik tajam selir tersebut. Membuat si selir menunduk. Dia telah berbuat salah, menyela pembicaraan Sang Prabu.



"Sudahlah, Putraku. Maha patih sudah mengatakan yang benar," Prabu Garuda Rama membelai lembut kepala si bocah, "kau masih harus belajar banyak hal tentang strategi perang."



"Pergilah, Adik Caraka!" Perintah Prabu Garuda Rama.



Setelah Maha patih Caraka pergi, juga prajurit-prajurit lain, Prabu Garuda Rama berjalan ke arah Pemaisuri.



"Ada apa, Pemaisuri? Tampaknya, ada hal yang ingin kau sampaikan."



Pemaisuri menarik nafas, "Iya, Kanda Prabu. Mari, kita bicara di taman."



Prabu Garuda Rama mengangguk, "kalian istirahatlah dulu. Ini sudah larut malam. Juga kau, Rama Wangi."



"Baik, Kanda Prabu," seluruh selir menjawab.


"Baik, Ayahanda Prabu," Tiga putra-putrinya menyahut serentak.



Prabu Garuda Rama dan Pemaisuri Erina Maheswari duduk di salah satu dangau di taman keputren.



"Kanda *Satya*, apakah Kanda sudah yakin dengan langkah Kanda?"



"Apakah ada yang salah, Dinda *Ayu*?"



Mereka saling memanggil dengan dua nama itu bila tengah berdua.



"Ucapan Rama Wangi benar, Kanda. Kemungkinan besar ini adalah jebakan," Pemaisuri menatap langit yang mendung, "Dinda sudah melihat-lihat seluruh pelosok kota raja seminggu ini. Ada banyak pendekar dari aliran hitam dan netral yang menginap di kota raja serta pinggiran kota raja."



"Bukankah mereka tak lain para pendekar yang singgah? Dinda *Ayu* sudah mengetahui, kerajaan ini menjadi tempat persinggahan para saudagar, pendekar, dan pengelana."



"Dinda sangat hafal ciri pendekar yang singgah dan yang memang bermaksud ke suatu daerah, Kanda,"



"Tapi, belati tadi benar-benar bertanda..."



Kata-kata Prabu Garuda Rama terpotong oleh kicauan burung yang tak asing. *Sang Avri*. Kicauan yang menandakan ada sihir di dekatnya. Prabu Garuda Rama dan Pemaisuri Erina Maheswari segera pergi ke asal suara. Menunda percakapan itu. *Dan sayangnya, Prabu Garuda Rama sama sekali tak memiliki waktu untuk membahasnya lagi*. *Waktunya tersita untuk penyerangan ke Desa Lodya*.



Padahal, ucapan Pemaisuri Erina Maheswari adalah kenyataan. Kekhawatiran Pangeran Rama Wangi adalah kebenaran. *Maka, mendung kelam kerajaan Nala Pura bermula*....


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Jangan lupa dukung saya selalu.

__ADS_1


Vote, Like, dan komen. Juga share :)


__ADS_2