
Hutan-hutan perawan di kawasan timur dan timur laut adalah tujuan Loka Hita. Itu petunjuk dari Nyai Alisha. Seseorang berilmu sihir seperti Ki Sayap Hitam sangat menyukai daerah yang belum dijamah manusia. Daerah paling dekat dengan istana Nala Pura adalah daerah hutan perawan dan sebuah padang di balik pegunungan kapur di bagian selatan kerajaan. Nyai Alisha memilih hutan perawan karena di sanalah terdapat banyak sumber daya untuk kemajuan ilmu sihir.
Loka Hita menghentikan kudanya. Gerakannya diikuti Hansa Daya dan Janu.
"Ada apa, Hita?"
"Sepertinya, ada yang mengawasi kita, Kakang."
Hansa Daya dan Loka Hita mempertajam indra mereka. Benar, sebuah aura mendekat. Jauh di belakangnya, beberapa aura mengikuti. Aura terdekat sangat dikenali Loka Hita. Itu aura milik seseorang yang pernah melukainya. Mungkinkah, Ki Sayap Hitam sudah mendekat?!
"Hup!"
Loka Hita dan Hansa Daya melompat bersama. Menghindari serangan tenaga dalam yang mendekat. Tepat saat Loka Hita dan Hansa Daya mendarat di tanah, seekor burung hitam terbang menukik.
Kwakkk
Hansa Daya segera melepas pukulan tenaga dalam, sayangnya bisa dihindari. Sesaat kemudian, cahaya abu-abu menyelimuti burung hitam. Bersamaan dengan cahaya abu-abu yang menghilang, sesosok laki-laki muncul. Lelaki berjubah hitam, bertopeng hitam, dengan sebuah pedang hitam di tangan. Merpati Hitam yang dianggap Loka Hita dan Hansa Daya sebagai Ki Sayap Hitam.
Pertarungan tak bisa dihindari. Hansa Daya menyerang Merpati Hitam. Jurus pedang dari padepokan Sedayu cukup mengimbangi serangan lawan. Sayangnya, hanya sebentar hingga pedang hitam mampu mematahkan pedang Hansa Daya.
Melihat kekasihnya tak lagi berpedang, Loka Hita masuk ke arena pertarungan. Menggantikan Hansa Daya dalam meladeni Merpati Hitam. Jurus legenda kembali menjadi menjadi pilihan Loka Hita. Jurus pedang tiga tingkat. Kini, Loka Hita menggunakan bagian kedua.
Gerakan yang membentengi Loka Hita. Tak lagi berpadu dengan pukulan dan tendangan dalam membuat pertahanan. Hanya menggunakan gerakan pedang yang cepat, nyaris tak terlihat. Memang tak bertahan dengan tendangan dan pukulan. Karena dua gerakan itu untuk menyerang dengan tiba-tiba. Merpati Hitam cukup keteteran meladeni permainan Loka Hita.
"Benarkah dia Ki Sayap Hitam?! Kenapa kesulitan mengimbangi bagian kedua jurus ini?! Bukankah dia pernah menghadapi gabungan dua jurus Kakek dan Nenek?!"
Keraguan mulai hinggap di hati Loka Hita. Meski gerakan pedangnya tak terganggu. Pertarungan ini seharusnya segera diselesaikan. Itulah yang dipikirkan Loka Hita.
Segera, putri Nyai Alisha mengganti permainan pedangnya. Jurus sepuluh cahaya, bagian keempat. Jurus yang sama yang digunakan saat meladeni Panglima Mahanta dulu. Gerakan pedang yang semakin sulit dibaca. Penuh tipuan. Berpadu dengan penggunaan tenaga dalam yang mengalir di bilah pedang. Terkadang, pukulan tenaga dalam-pun melayang dari Loka Hita.
Hansa Daya memasang kuda-kuda saat merasakan banyak aura mendekat. Aura-aura yang tak dikenal. Beberapa pendekar datang. Berhenti di sekitar arena pertarungan Loka Hita dan Merpati Hitam.
Plashhhh
Brakkkk
Satu pukulan tenaga dalam berhasil menghantam wajah Merpati Hitam. Membuatnya terpelanting ke belakang. Hampir mengenai salah satu pendekar yang datang. Topengnya pecah. Menampilkan wajah seorang pemuda. Bukan seorang lelaki tua.
"Jurus sepuluh cahaya...."
Gumaman beberapa pendekar terdengar jelas di telinga Loka Hita.
"Siapa kamu, gadis muda?" Salah satu pendekar menatap lekat Loka Hita.
Loka Hita dan Hansa Daya saling memandang. Janu yang menjaga tiga kuda juga memilih diam. Nyalinya ciut melihat jumlah pendekar yang banyak.
"Dia pasti keturunan Pendekar Mahabala. Hanya keturunannya yang bisa menguasai jurus legenda itu." Pendekar lain menjawab.
"Bukan urusan kalian!" Sambil berseru, Loka Hita melompat ke arah Merpati Hitam yang terluka. Pedangnya terhunus
Tringggg
Bilah pedang Loka Hita berpadu dengan pedang hitam milik Merpati Hitam. Dua cahaya bertemu. Hitam dan hijau lembut. Sihir dan mustika Daun Langit beradu.
"Akh...."
Merpati Hitam terlempar jauh. Membentur berbagai pohon. Lantas, jatuh ke tanah. Loka Hita menatap sekitar
"Apa yang kalian inginkan? Kematian? Luka dalam?!"
"Kami hanya ingin mengetahui siapa dirimu," seorang pendekar wanita bertongkat menjawab ramah.
"Kalian akan mendapatkannya bila bisa mengalahkanku." Loka Hita mengayunkan pedang dengan aliran tenaga dalam. Aliran tenaga dalamnya mengenai beberapa pendekar. Membuat mereka terjajar ke belakang beberapa langkah. Tenaga dalam yang luar biasa.
__ADS_1
"Lebih baik kalian urusi jasad lelaki itu!" dengus Loka Hita.
"Ternyata, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Dulu Pendekar Mahabala dan Pendekar Gayatri mengalahkan Ki Sayap Hitam. Kini, keturunan mereka mengalahkan murid Ki Sayap Hitam," salah satu pendekar berkomentar.
Loka Hita tak menggubris. Memilih berjalan ke arah Janu. Lantas menaiki kudanya. Hansa Daya mengikuti.
"Aku tak memiliki urusan dengan kalian."
"Dasar sombong!" Pendekar wanita bertongkat memutar tongkatnya.
"Jangan!" pendekar di sampingnya melambaikan tangannya. "Dia menguasai jurus sepuluh legenda dan memiliki mustika. Jangan buat masalah. Apalagi kita berada di dalam hutan perawan seperti ini. Pasti banyak pendekar sihir di sekitar sini."
Rombongan Loka Hita menggebah kuda. Meninggalkan para pendekar. Setelah cukup jauh, Loka Hita mengalihkan laju kudanya. Menuju ke luar hutan.
"Lho, kita mau ke mana, Nini?" Janu berteriak.
"Kita akan mencari kampung terdekat. Mencari informasi tentang murid Ki Sayap Hitam yang mereka bicarakan."
"Ooo.. kirain mau mampir di warung makan, Ni.."
"Husstttt!! Janu!" Hansa Daya mendengus keras.
Loka Hita hanya tersenyum. Setidaknya, kepolosan Janu bisa menghiburnya. Meski kadang membuat masalah.
Hansa Daya menghentikan kudanya di sebuah persimpangan jalan tengah kampung. Kampung ini sangat sepi. Hampir tak ada orang yang lewat.
"Sepertinya ada yang tak beres," Hansa Daya menoleh ke arah Loka Hita.
"Benar, Kakang. Lihat!"
Loka Hita menunjuk ke satu arah. Tampak seorang lelaki tua yang berjalan tertatih. Melihat tiga orang berkuda, dia mempercepat langkah. Tentu saja Hansa Daya dan Loka Hita mengejarnya. Setelah didesak, lelaki tua itu mau menceritakan semua.
Desa Seribu sedang dilanda ketakutan. Wabah aneh menyerang mereka. Banyak penduduk yang menjadi korban. Awalnya mereka muntah-muntah, lantas demam dan merasakan sakit di perut dan tenggorokan. Kadang mereka kesulitan bernafas. Semua berakhir dengan kematian. Sudah beberapa tabib mencoba mengobati, tapi mereka malah terserang penyakit yang sama.
"Boleh saya menemui mereka? Saya juga seorang tabib," tawar Hansa Daya.
"Saya takut Tuan tertular."
"Tenang, Kek. Tak perlu takut. Saya yakin, Teman saya bisa membantu."
"Baiklah, mari, Tuan."
Kakek Wal membawa mereka ke sebuah rumah yang cukup luas. Beberapa pelayan menyambut mereka dan menawarkan minuman. Hansa Daya dan Loka Hita sama-sama menolak dengan halus. Mereka lebih memilih untuk segera melihat kondisi dua cucu Kakek Wal. Janu yang sebenarnya ingin minum, harus mengubur keinginannya saat Loka Hita dan Hansa Daya melirik tajam ke arahnya.
Dua gadis terbaring di atas ranjang kamar masing-masing. Tubuh mereka kurus dan demam tinggi. Wajah mereka sangat pucat. Tak ada lagi sinar harapan di mata. Hansa Daya segera menjalankan tugasnya.
"Hita, saya butuh bantuanmu. Alirkan sedikit hawa murnimu padanya, saya akan memeriksa lebih teliti."
Loka Hita menjalankan permintaan Hansa Daya. Saat hawa murni nya menyentuh beberapa bagian tubuh, cucu Kakek Wal berkeringat deras.
"Cukup, Hita."
"Kakang sudah mengetahui penyakit mereka?"
Hansa Daya mengangguk. Dia memilih keluar dari kamar untuk menyampaikan semua.
"Apakah Nona pernah memakan sesuatu yang asing sebelum sakit, Kek?"
Kakek Wal menggeleng, "Tidak, Tuan. Mereka hanya memakan makanan yang disediakan pelayan."
"Para pelayan makan juga?"
Kakek Wal menggeleng lagi, "Tidak, Tuan. Mereka biasanya menyiapkan makanan sendiri untuk mereka."
__ADS_1
"Saya ingin memeriksa minum mereka, Kek."
Kakek Wal membawa mereka ke dapur. Ada beberapa gentong air. Dua pelayan sedang menuangkan air ke dua gentong yang berbeda.
"Mengapa dibedakan, Kek?"
"Itu berasal.dari dua tempat berbeda. Satu dari sebuah sendang tak jauh dari desa. Satunya lagi dari sungai yang agak masuk ke hutan."
Hansa Daya memeriksa kedua airnya. Lantas menyuruh salah satu pelayan agar mengantarnya ke dua sumber air.
"Janu, sementara saya dan Hita pergi ke sumber air, kamu cari kelapa muda yang segar. Minta beberapa orang untuk membantu. Jangan sampai dua cucu Kakek Wal meminum air selain air kelapa muda."
"Baik, Tuan." Janu segera melangkah dengan semangat. Dia selalu bersemangat saat membantu tuannya. Tiga pelayan mengikutinya.
Sendang yang dimaksud sangat sepi saat Hansa Daya datang. Hanya ada dua orang yang sedang mengambil air. Meski penasaran dengan dua orang asing, mereka mempersilahkan Hansa Daya memeriksa air. Setelah dari sendang, sungai dekat hutan menjadi tujuan berikutnya. Kali ini, sungai tampak lumayan ramai. Ada sekitar dua puluh-an orang yang mengambil air. Mereka tak suka saat Hansa Daya berniat akan memeriksa air sungai.
"Mengganggu saja!" umpat seorang perempuan.
"Siapa mereka? Orang asing!" imbuh seorang lelaki.
"Kurang kerjaan!" sahut yang lain.
"Mereka tamu Tuan kami. Bila kalian keberatan, saya akan melaporkan pada Tuan," tegas pelayan Kakek Wal.
"Huh! Kalau bukan karena Kakek Wal, tak sudi aku melihat dua orang asing di sini."
Hansa Daya hanya tersenyum, lantas memeriksa air. Membisikkan sesuatu pada Loka Hita.
"Maaf, Tuan-Tuan, mengapa kalian memilih mengambil air di sini? Bukankah ini lebih jauh dari desa?!"
"Mau apa kamu bertanya?!" bentak salah satu perempuan.
"Ini saran tabib, Nini." salah satu pemuda akhirnya mau menjawab ramah.
"Saran tabib?" Hansa Daya dan Loka Hita saling memandang.
"Benar, Nini. Tabib pertama yang berusaha menolong kami menyarankan agar kami minum dari sumber air yang lebih jernih. Juga lebih dekat dengan kawasan yang belum dijamah manusia," papar pemuda lain.
"Kita lihat ke hulu! Kita buktikan sesuatu!" perintah Loka Hita.
"Kenapa diam? Ikuti saja tamu Tuan Wal. Dia seorang tabib!" si pelayan menatap para penduduk yang masih diam.
"Iya! Saya yakin, Nini itu tak berbohong." ucapan itu disahuti anggukan para pemuda dan kaum lelaki.
Loka Hita hanya menghela nafas kesal. Selalu saja, kecantikan wanita bisa membuat seseorang menjadi penurut. Untunglah Hansa Daya tak marah mendapati beberapa lelaki menatap genit pada Loka Hita.
Bersama, mereka menuju hulu. Hansa Daya menghentikan langkah saat tiba di bagian sungai yang lebih tinggi dari sebelumnya. Lantas memeriksa air di sana dan di bagian yang lebih rendah.
"Masalahnya ada di sini, Hita," Hansa Daya menunjuk perbatasan dua bagian sungai.
Loka Hita ikut memeriksa air. Lantas memasukkan tangannya ke dalam air yang jernih. Mengambil sesuatu di dalamnya. Sebuah tanaman berbunga kecil.
"Ini asal penyakit di desa kalian." Hansa Daya mengambil tanaman itu dari tangan Loka Hita.
"Ini tanaman beracun. Cara mengeluarkan racunnya adalah dengan merendam bunganya di dalam air. Lihatlah, tanaman ini terbenam dalam air sungai. Tentu racunnya keluar dan meracuni air sungai yang kalian minum. Saya yakin, air ini juga yang kalian suguhkan pada tabib dan keluarga yang sakit. Benar?!"
Para penduduk mengangguk. Mereka baru menyadari, bahwa upaya pengobatan mereka malah membuat keadaan semakin parah. Ini juga yang membunuh para tabib.
"Beberapa dari kita harus kembali ke desa sekarang. Buang semua air yang berasal dari sungai ini. Yang lain, bersama saya, mencabut seluruh tumbuhan beracun dari dasar sungai. Sedangkan sisanya, bersama Loka Hita, mencari kelapa muda. Airnya bisa menjadi penawar pertama racun bunga ini. Nanti, saya juga akan membuat ramuan untuk mempercepat penyembuhan." Hansa Daya membagikan tugas.
Kali ini, seluruh penduduk segera menuruti kata-kata Hansa Daya. Tak ada yang membantah lagi. Entah dari mana, kepercayaan itu datang dengan tiba-tiba.
Sedangkan itu, jauh dari Desa Seribu, racun juga menjadi sebuah petaka. Loka Hita sedang berusaha menghilangkan racun. Sedangkan di sana, racun memasuki orang yang dekat dengannya. Ah, begitu banyak kebetulan di mata manusia. Tapi, sejujurnya, semua sudah digariskan oleh Sang Kuasa.
__ADS_1