
Semburat fajar menyapu lembut sudut sudut Nala Pura. Mengantar kesejukan. Membuka hari baru. Kicau merdu burung menghias awal pagi. Tetes embun masih menggantung di ujung dedaun taman istana.
Arya Wira berada di sana. Sejak kemarin, ada hal yang mengganggu pikirannya. Apa lagi kalau bukan tentang Ki Sayap Hitam. Lelaki tua itu adalah pimpinan pemberontak di masa ayahnya. Dia pula yang telah membunuh ayahandanya. Kini, Ki Sayap Hitam kembali. Apakah dia mengincar Nala Pura kembali? Penyerbuan atau pemberontakan? Dulu, Patih Sanca-lah musuh dalam selimut bagi Nala Pura. Adakah orang dalam yang terlibat dengan semua ini?
Atau, bukan Nala Pura yang diincar. Melainkan dirinya dan Loka Hita. Keturunan dua musuh yang pernah mengalahkannya, Pendekar Mahabala dam Pendekar Gayatri. Bagaimana bisa Ki Sayap Hitam menemukannya?
Memikirkan Ki Sayap Hitam selalu berakhir pada pertanyaan tentang Nyai Alisha, ibundanya. Mengapa dua jurus pedang itu diperkenankan untuk digunakan olehnya dan sang adik? Izin itu seolah membiarkan dua putra-putrinya diketahui sebagai keturunan dua pendekar pedang yang telah lama hilang. Juga sekaligus memberi tahu, Nyai Alisha menyembunyikan fakta itu selama menjadi ratu di istana Nala Pura. Lalu bagaimana dengan Prabu Garuda Rama?! Apakah Nyai Alisha juga menyembunyikan jati diri dari suaminya?
Pikiran Arya Wira terputus saat melihat Caraka di sisi lain taman. Segera, diayunkannya kaki menuju ke sana. Mungkin, pikirannya akan lebih tenang bila berbincang dengan sang ayahanda.
"Salam, Ayahanda."
"Salam dan hormat saya, Ananda Prabu." Caraka menangkupkan tangan di depan dada. Meski dia adalah ayah, namun orang yang di depannya adalah Sang Prabu.
Setelah saling menyapa, keduanya masuk dalam obrolan hangat. Tentang desa di ujung utara kerajaan yang baru saja kehilangan pemimpinnya. Hama di desa-desa bagian barat, dekat danau besar. Perampok yang sudah menyusut dengan drastis. Para pendekar yang semakin banyak singgah di Nala Pura. Undangan dari kerajaan tetangga, upacara pernikahan sang putra mahkota.
"Mereka telah hadir dalam pernikahan saya. Seharusnya, saya datang ke sana. Namun, saya belum mengunjungi desa desa yang terserang hama." Arya Wira mendesah.
"Hubungan dengan rakyat dan negara tetangga sama-sama penting. Saya yakin, Ananda Prabu bisa memutuskan dengan baik."
"Terima kasih, Ayahanda."
"Undangan itu mengingatkan saya pada besan saya. Di mana makam ayahanda Ananda Prabu?"
"Maaf, Ayahanda. Makam beliau ada di kerajaan Nala Pura. Namun, sesuai keinginan Ibunda, biarlah makam itu hanya kami yang mengetahuinya."
Caraka mengangguk. "Siapa nama beliau?"
"Satya, Ayahanda."
"Satya?! Nama yang sama dengan nama mendiang Gusti Prabu Garuda Rama saat masih muda."
"Benarkah?" Arya Wira berusaha terlihat kaget. Tentu saja, Arya Wira sudah mengetahuinya.
Caraka mengangguk, "Benar, Ananda Prabu. Saya selalu suka mengingat masa muda beliau. Terutama saat berkelana dengan saya dan bertemu Ratu Erina Maheswari. Saat itu, beliau masih bernama Satya, sedangkan Gusti Ratu masih bernama Ayu Gantari."
Kisah masa lalu kembali berdentang. Tentu saja, Arya Wira mendengarkan dengan seksama. Selama ini, Nyai Alisha hanya mengatakan bahwa mereka bertemu di padepokan tempatnya tinggal. Hanya sebatas itu.
...\=\=\=\=\=\=\=~\=\=\=\=\=\=\=\=...
Satya, pangeran mahkota sekaligus anak tunggal sang pemaisuri, sangat suka berkelana. Menjelajah satu tempat ke tempat yang lain. Sering meninggalkan istana, bahkan kerajaan, dalam waktu yang lama. Bertemu dengan para empu dan pendekar. Tumbuh menjadi pangeran dengan ilmu kanuragan yang tinggi. Meski tetap mempelajari ilmu tata negara dan ilmu-ilmu wajib seorang pangeran.
__ADS_1
Dalam suatu kesempatan, dirinya menolong lelaki yang hampir tewas oleh perampok. Tak hanya menolong, Satya menitipkannya di sebuah padepokan yang dipercayainya. Hubungan keduanya menjadi semakin dekat karena Satya sering berkunjung. Karena tak memiliki seorang pun adik laki-laki; selir ayahnya hanya melahirkan empat adik perempuan, Satya menganggapnya sebagai adik.
Hubungan itu semakin erat lantaran ayah Satya merestui. Beliau memberikan nama baru bagi adik Satya, Caraka. Tak hanya nama baru, Caraka juga diberi pelajaran ilmu tata negara dan diizinkan tinggal di dalam istana. Sejak saat itu, di mana pun ada Satya, di sanalah Caraka berdiri.
Suatu kesempatan, keduanya memutuskan berkelana ke seberang danau. Mengunjungi berbagai tempat. Dalam perjalanan, mereka di serang sekelompok orang. Meski mempunyai ilmu kanuragan, kedua nya terdesak. Luka demi luka menganga di tubuh keduanya. Meski tak sedikit lawan yang juga terluka.
"Akh....." jerit Caraka.
Caraka terlempar. Tubuhnya mengenai pohon dan terjatuh tak sadarkan diri. Lukanya sudah sangat parah.
"Adik!!!"
Satya masih bisa bertahan walau tubuhnya juga penuh luka. Pedang di tangannya sudah bergetar.
Saat genting itulah, pertolongan tiba. Seekor burung yang elok datang dan mematuk penyerang terdekat dari Satya. Satya terduduk. Tubuhnya sudah terlampau lelah.
Tepat saat Satya terduduk, terdengar ringkik kuda. Seorang pendekar wanita datang. Melompat dari kuda dan menyerang lawan-lawan Satya dengan penuh keberanian. Gerakan pedangnya sangat indah dan mematikan. Dengan bantuan si burung cantik, si pendekar wanita keluar sebagai seorang pemenang.
"Kisanak," wanita tersebut mendekati Satya.
Satya tersenyum, "Terima kasih." Ucapan terakhir sebelum Satya sadarkan diri.
Saat mata terbuka, Satya mendapati dirinya berada di sebuah pondok. Beberapa ramuan obat ada di atas meja tak jauh dari ranjangnya. Tubuhnya sudah tak begitu sakit. Tenaganya sudah mulai terkumpul.
"Pangeran sudah sadar?"
Suara dari pintu menenangkan Satya. Caraka masuk dengan membawa secawan ramuan obat.
"Adik? Bagaimana keadaanmu."
"Baik, Pangeran. Paman Gading dan Nini Ayu sudah mengobati saya."
Satya mengernyitkan dahi. Paman Gading? Nini Ayu? Caraka yang memahami kebingungan kakak angkatnya, menjelaskan. Paman Gading adalah salah satu tetua padepokan tempat mereka dirawat. Sedangkan Ayu adalah Ayu Gantari, putri Paman Gading. Sekaligus pendekar yang menolong keduanya.
"Padepokan?!" Satya mendesah pelan. Benar, terdengar sayup suara latihan kanuragan dari luar.
"Di mana mereka, Adik?"
"Mereka di depan pondok ini, Pangeran."
Ayu Gantari sedang membelai seekor burung menawan saat Satya dan Caraka keluar. Di dekatnya, seorang pria duduk mengawasi. Paman Gading. Senyuman lega mengembang di wajah Paman Gading saat melihat kedua tamunya keluar.
__ADS_1
"Terima kasih banyak, Tuan. Nini."
"Sudah kewajiban kami, Pangeran."
Tentu saja Paman Gading dan Ayu Gantari mengetahui tentang Satya. Caraka, yang sudah siuman terlebih dahulu, sudah menjelaskan.
"Saya sendiri tidak mengetahui kalau bukan karena Avri," Ayu Gantari mencium kepala burung di lengannya.
Seolah memahami, si burung berkicau pelan. Begitu merdu.
Itulah awal pertemuan Satya dan Ayu Gantari. Benih-benih sudah ada saat Satya menatap wajah Ayu Gantari dengan seksama. Benih yang sama yang tumbuh di hati Ayu Gantari. Bahkan, sejak dirinya menolong Satya.
...\=\=\=\=\=\=~~~~\=\=\=\=\=\=...
"Tiga sasi kemudian, Gusti Prabu Garuda Rama melamar Gusti Ratu. Saat itu mereka masih menggunakan nama Satya dan Ayu Gantari. Nama mereka berganti saat mereka menduduki tahta. Menggunakan nama Garuda Rama dan Erina Maheswari." Caraka menyelesaikan kisahnya.
Arya Wira mendengarkan dengan seksama. "Jadi, mendiang Gusti Ratu Erina adalah istri pertama?"
Caraka menggeleng, "Sebelumnya, Gusti Prabu Garuda Rama sudah dijodohkan dengan Dewi Cempaka, putri salah satu adipati di Nala Pura. Meski bukan yang pertama dan tidak mewarisi darah bangsawan, Ratu Erina dinobatkan sebagai pemaisuri."
Arya Wira teringat seseorang, "Maaf, Ayahanda. Bagaimana dengan Selir Arum?"
"Beliau adik satu perguruan Ratu Erina. Ratu Erina sendiri yang meminta Gusti Prabu Garuda Rama agar menikahi beliau. Bahkan menjadikan hal itu syarat agar Ratu Erina mau menerima posisi pemaisuri."
"Saya baru mengetahui, Sang Avri adalah burung milik Ratu Erina." Hal ini, Arya Wira memang tak berbohong. Sejak kecil, yang diketahuinya bahwa Sang Avri milik istana Nala Pura.
"Benar, Ananda Prabu. Burung istimewa itu dibawa Gusti Ratu ke dalam istana. Menjadi kebanggaan istana ini."
Percakapan selesai saat matahari mulai meninggi. Arya Wira harus kembali ke istana. Beberapa tugas sudah menanti.
Jauh di sana, Loka Hita sudah mulai meninggalkan desa. Mengemban tugas dari Nala Pura dan ibundanya. Sebelum berangkat, Loka Hita mengirim Vayu. Membawa kabar dan kisah dari sang ibunda. Kisah yang menjawab beberapa pertanyaan dalam benak Arya Wira.
Sedangkan di dalam istana, kecemburuan masih ada. Cemburu yang akan menjebak Arya Wira dan Loka Hita dalam situasi sulit. Namun, itu memang bagian dalam legenda yang harus diselesaikan oleh Rama Parvati.
\=\=\=\=\=\=\=~~~~\=\=\=\=\=\=
Terima kasih untuk semua yang telah mendukung saya
Dukung selalu yaa dengan like dan vote -bila mampu
Kritik dan saran juga penilaian sangat saya nantikan di kolom komentar
__ADS_1
Mampir di novel saya yang lain
My Love My Heart