Legenda Pendekar Rama Parvati

Legenda Pendekar Rama Parvati
Pendekar Edan


__ADS_3

"Nyi Sannaha?! Benarkah?" Arya Wira menatap sosok perempuan di depannya.


Nyi Sannaha adalah sosok pendekar yang sangat tersohor. Salah satu dari pendekar yang pernah menguasai jagad persilatan bertahun tahun silam. Sudah lama sekali sosok itu tak pernah muncul. Meninggalkan dunia persilatan, membuat berbagai kabar beredar tentangnya.


Mungkinkah di depannya adalah Nyi Sannaha palsu?! Rasanya itu sangat sulit terjadi. Karena, setiap orang yang berpura-pura menjadi Nyi Sannaha akan berhadapan langsung dengannya. Dia tak pernah membiarkan siapa pun memakai namanya.


Nyi Sannaha melambaikan tangan, "Aku hanya ada perlu denganmu, tidak dengan Jaka."


"Eh? Lalu, saya harus gimana, Nek?!"


"Kamu tetap di sini. Aku akan membawa majikanmu sebentar. Tenang saja, akan aku kembalikan nanti." Tanpa menunggu jawaban apa pun, Nyi Sannaha sudah menarik tangan Arya Wira. Pergi dan bersembunyi di kedalaman hutan.


"Rama Wangi, ada hal yang harus kamu selesaikan!"


"Rama Wangi?! Bagaimana bisa Nyi..."


"Tentu aku tahu, Rama Wangi!" Nyi Sannaha melambaikan tangan lagi. "Putih saja sudah tahu, apalagi aku. Rama Wangi, angin yang berhembus membawa berbagai kabar. Air bercerita banyak hal. Namun, hanya segelintir orang yang bisa mengerti. Apalagi bercakap dengan mereka."


"Aku tahu banyak hal, Rama Wangi. Nama Nandana sebenarnya adalah nama masa kecilmu, bukan?! Sedangkan Arya Wira adalah nama dari ibumu setelah lari dari kehidupan istana. Hanya saja, takdir Sang Penguasa selalu menang. Tak kan pernah kalah. Kamu memang ditakdirkan untuk menjadi raja di Nala Pura."


Rama Wangi [Arya Wira] menghela nafas. Dia pernah mendengar nama Nyi Sannaha. Hanya saja, dia tak pernah menyangka sosok itu masih ada hingga sekarang.


"Lalu, apa yang harus saya lakukan? Hal apa yang harus saya selesaikan, Nyi?"


"Sayangnya, itu bukan kewajibanku. Sahabatku yang akan memberitahu dan menjelaskan semua. Akan kubawa dirimu padanya."


Belum selesai ucapannya, Nyi Sannaha sudah menarik Rama Wangi. Mereka kembali berlari dengan peringan tubuh yang sangat tinggi. Mata seorang pendekar-pun hanya akan melihat sekelebat cahaya. Apalagi mata orang biasa.


"Nyi! Bagaimana dengan Paman Jaka?!"


"Aduh! Aku lupa! Dasar orang tua!" Nyi Sannaha berhenti mendadak. Membuat Rama Wangi tersungkur ke tanah. "Aduh! Maaf, Nak! Nenek tua ini lupa kalau kamu bersamaku. Sudahlah, aku akan mengurus Jaka dulu!"


Rama Wangi hanya mengusap wajahnya yang sakit karena menghantam tanah. Duduk di bawah pohon di depannya pun menjadi pilihan untuk menunggu nenek-nenek yang membawanya.


"Yunda! Itu Gusti Prabu?" Sebuah suara terdengar.


"Mana ada! Beliau sedang pergi dari istana!" jawab suara lain.


"Lalu itu?"


Rama Wangi yang merasa penasaran pun menoleh. Wajahnya memucat karena kaget. Rupanya, Nyi Sannaha berhenti tanpa melihat-lihat. Dia berhenti dan meninggalkan Rama Wangi di kawasan istana Nala Pura. Lebih kacau, di kawasan pemandian keputren!


Rama Wangi segera membalikkan wajah. Di belakangnya, para putri sedang bermain-main di pinggir kolam ~untung tidak sedang mandi. Mereka semua putri-putri Istana, ada beberapa putri Caraka. Alias, adik-adik iparnya! Celaka, ada dua selir Caraka dan Pemaisuri (alias mertua Arya Wira!)


"Dasar!! Nyi Sannaha!! Mereka pasti melihatku terjatuh tadi!" gerutu Rama Wangi sambil mengusap wajah. Matanya melirik ke belakang.


"Nanda Prabu? Nandakah itu?" suara Pemaisuri terdengar, agak dekat.


"Ibunda!!" desis Rama Wangi. Ekor matanya bisa melihat, Pemaisuri yang mendekat dan diikuti yang lain.


Saat itulah, tiba-tiba saja seorang perempuan tua muncul di samping Rama Wangi. Meraih tangannya dan kembali melompat, pergi dengan ilmu peringan tubuh yang tinggi. Mengagetkan semua orang di dekat kolam keputren. Meninggalkan pertanyaan yang berdengung, benarkah sosok tadi adalah manusia?!


Setelah lumayan lama, Nyi Sannaha berhenti ~lagi-lagi, mendadak. Rama Wangi tersungkur lagi. Perjalanan ini benar-benar luar biasa untuknya. Setelah bangkit, Rama Wangi melihat sekitarnya.

__ADS_1


Ini bagian dalam hutan lebat yang cukup jauh dari desa. Di depan Rama, berdiri sebuah rumah kayu sederhana. Ada tumpukan kayu bakar di salah satu sisi samping rumah. Terdengar ringkik kuda dari arah belakang rumah.


"Ki! Kaluarlah! Aku datang dengan seseorang yang sudah kau tunggu-tunggu!!" Nyi Sannaha berteriak dari depan rumah.


"Iya! Sebentar!" Sebuah teriakan menjawab dari dalam rumah.


Tak lama, seorang lelaki tua keluar. Rama Wangi terbelalak melihat sosok itu. Rambut putih yang panjang dan sangat gimbal, dibiarkan terurai. Ikat kepala yang agak miring. Baju yang kehilangan warna putih aslinya. Tongkat di genggaman meski tidak bungkuk. Berjalan dengan memainkan tangan dan kepala yang bergerak-gerak.


"Hehehehe," dia terkekeh melihat siapa yang datang. "Rupanya kau, Sannaha. Kenapa kau bawa bocah laki-laki ke sini? Aku inginnya perempuan muda yang masih cantik."


"Dasar Aki-Aki! Kau tetap menyebalkan!" Nyi Sannaha mendengus kesal.


"Kau cemburu, San..."


Belum selesai ucapan si aki, Nyi Sannaha sudah menyerang. Mereka bertarung di depan Rama Wangi. Meski bermain-main, jurus mereka sangat berbahaya. Kecepatan yang luar biasa dengan tenaga dalam yang besar. Rama Wangi harus beberapa kali menghindari tenaga dalam yang "nyasar" ke arahnya.


"Sudah! Kita sudahi saja!" dengus Nyi Sannaha. Dia kembali menuju Rama Wangi.


"Hehehe," si aki terkekeh lagi, "kau takut kalah di depan bocah ini, Sannaha?"


Nyi Sannaha hanya mendecak kesal, tak menanggapi ucapan si aki. Sementara si aki tertawa lagi, tawa yang tak dimengerti oleh Rama Wangi.


"Rama, dia adalah sahabatku, Ki Bajra Nanda. Lebih dikenal dengan nama pendekar edan dari tanah selatan."


Pendekar edan, nama yang cocok dengan gerak tubuhnya. Apalagi, sekarang dia duduk sambil memainkan tongkat.


"Ki Bajra, kutitipkan dia padamu."


"Sudahlah! Aku akan pulang dulu. Lelah aku menghadapimu." Nyi Sannaha langsung melompat dan pergi.


Ki Bajra Nanda hanya terkekeh sendiri. Matanya menatap Rama Wangi, mengukur banyak hal. Kemudian berdiri dan masuk ke rumah. Dengan isyarat tangan, dia menyuruh Rama Wangi ikut masuk.


"Rama Wangi, duduklah. Aku ingin berbincang dulu sebentar denganmu." Ki Bajra Nanda menunjuk sampingnya.


Rama Wangi menurut, duduk di tempat yang diminta Ki Bajra Nanda. Tak lupa memberikan hormatnya sebagai seorang pendekar.


"Rama, apa kau pernah mendengar kisah pendekar edan dari tanah selatan ini?"


Rama Wangi mengangguk, "Pernah, Ki. Namun, saya sering mendengar dari para guru saya."


"Empu Dipta dari padepokan Sedayu?"


"Iya, Ki. Juga dari pendekar senior dan para petapa."


Pendekar edan dari tanah selatan. Nama yang dikenal luas oleh dunia persilatan di masa lampau. Digambarkan sebagai seorang pendekar berkemampuan tinggi tapi sering tertawa sendiri dan mengoceh tanpa bisa difahami. Pakaian dan penampilannya memang sama seperti orang-orang tidak waras. Karena itulah, dia disebut pendekar edan.


Pertama kali namanya dikenal adalah di kawasan Bukit Seribu Kumbang yang berada di kawasan Selatan. Tak ada yang mengetahui pasti asal dan jati dirinya. Hanya saja, memang ada yang pernah menyaksikan dia bersama Nyi Sannaha yang terkenal.


"Kalau bukan karena Nyi Sannaha yang membawamu, aku tak akan pernah memiliki murid." Ki Braja Nanda menghembuskan nafas kasar.


"Maaf, Ki. Jadi, apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang harus saya lakukan?"


Ki Braja Nanda tersenyum, "Nyi Sannaha ingin aku melatihmu. Katanya, ilmu dan kemampuanmu berada di bawah adikmu sendiri. Benarkah itu?"

__ADS_1


Rama Wangi mengangguk. Dia mengakui bahwa dia memang tak sekuat Ratri Parvati.


"Aku diberi tahu banyak hal tentangmu dari Nyi Sannaha. Kau putra dari Alisha, yang berarti kau adalah cucu Mahabala dan Gayatri. Pewaris dua jurus pedang yang melegenda. Sekaligus putra Garuda Rama yang memiliki ajian tiga belas daya."


"Semua informasi itu benar, Ki."


"Jangan panggil aku Ki Braja lagi! Panggil saja Kakek. Sudah lama sekali aku ingin memiliki cucu."


"Baik, Kek."


"Ya sudah, sekarang istirahatlah. Tengah malam nanti, kau akan memulai latihan."


"Boleh saya bertanya, Kek?"


Ki Braja Nanda mengangguk sambil tersenyum. Saat berbincang dengan Rama Wangi di dalam rumah, tak ada lagi sosok "edan" itu lagi. Yang ada adalah sosok kakek yang ramah dan murah senyum.


"Ada apa sebenarnya? Mengapa Nyi Sannaha membawa saya pada Kakek?"


Ki Braja Nanda menatap atap rumah. "Nanti malam akan aku ceritakan semua. Termasuk urusan yang harus kamu selesaikan secepatnya. Sekarang, beristirahatlah! Aku akan mencari bahan untuk makan malam nanti."


Rama Wangi hanya bisa menurut. Banyak hal yang harus dia ketahui. Tentang maksud Nyi Sannaha, Paman Jaka, Pitaloka, dan urusan istana. Tapi, tak ada pilihan lain kecuali menuruti ucapan Ki Braja Nanda.


...\=\=\=\=\=\=~~~\=\=\=\=\=\=...


Matahari setengah terbenam di ujung cakrawala. Membuat langit bewarna keemasan yang indah dan menawan. Seorang perempuan berdiri di atas dahan pohon, memandang lekat matahari. Dia adalah Selir Arum, ibu tiri Rama Wangi dan Ratri Parvati.


"Ada apa sebenarnya dengan Pitaloka? Mengapa Nanda Prabu mengirimnya kemari?" batinnya bertanya-tanya.


Sudah beberapa hari Pitaloka tinggal di pondoknya. Angga Perak yang meminta Pitaloka agar menjaga dirinya dan dua muridnya. Angga Perak mengatakan, ada kemungkinan musuh Nala Pura mengincar dirinya, pemilik sah tahta Nala Pura.


Setelah itu, sudah ada tiga kali penyerbuan ke pondoknya. Semua berhasil dikalahkan oleh Pitaloka meski tak ada yang bisa tertangkap. Padahal, selama ini tak pernah ada yang menyerang pondok tempatnya tinggal.


Meski Angga Perak mengatakan dirinya-lah yang meminta Pitaloka menjaga, hati Selir Arum tak percaya. Dia sangat mengenal pribadi Angga Perak. Hal ini pasti dilakukan Angga Perak atas perintah seseorang. Setelah mencari tahu, dirinya tahu bahwa Arya Wira-lah yang memerintah Angga Perak. Ada banyak hal yang tersembunyi.


Seekor burung datang dan hinggap di ranting samping Selir Arum. Burung pengirim pesan.


"Bibi Arum, saya titipkan Pitaloka. Tolong jaga dan selidiki tentang dirinya. Saya mendapat kabar dan firasat, dia berhubungan dengan meninggalnya Dinda Nirmala. Bibi tenang saja, semua orang yang menyerang pondok Bibi adalah orang-orang saya. Terima kasih, Bibi."


"Nanda Prabu," desis Selir Arum pelan. Jadi, inilah sebab keberadaan Pitaloka di sini? Di pondok tempatnya tinggal?!


Mentari sempurna tenggelam. Selir Arum menghela nafas berat. Saatnya kembali ke pondok. Namun, sebelum Selir Arum turun, matanya menangkap gerakan cepat di tempat agak jauh darinya. Ada seseorang yang melalui hutan, dan menuju ke arah... Pondoknya!


Selir Arum langsung melompat. Mengikuti bayangan tadi dengan tetap menjaga jarak dan menekan auranya agar tak diketahui. Kakinya mendarat di atas tanah, di balik semak dan pepohonan yang rapat. Aura bayangan tadi sudah berhenti, cukup jauh di depan. Dengan menekan auranya hingga tak diketahui, Selir Arum mendekat.


Sesosok pemuda bertopeng berdiri di bawah pohon. Sebuah pedang tersampir di pinggangnya. Selir Arum merasa pernah bertemu dengan aura ini. Tak lama, sebuah aura lain mendekat. Dada Selir Arum berdegup sangat kencang, dia sangat mengenali aura ini.


"Kau tiba juga," ucap bayangan pertama sesaat setelah kedatangan seseorang. Dia perempuan dengan senjata berupa tongkat berujung kapak kecil. Wajahnya tertutup kain bewarna gelap.


"Cepatlah!" bentak perempuan yang baru saja tiba. Suara itu! Selir Arum menelan ludah. Mungkinkah?


"Kau bawa kabar apa?" si perempuan membuka kain penutup wajahnya.


"Pitaloka?!" batin Selir Arum kaget.

__ADS_1


__ADS_2