
...Setiap hal memiliki tempat terbaiknya. Setiap kedudukan manusia memiliki tugas dan beban tersendiri. Begitu bodohnya manusia saat meremehkan seseorang lantaran tak satu kedudukan dengannya. Oi, bahkan kedudukan itu pun dibuat manusia atas dasar kesombongan mereka....
Matahari sudah terbenam saat Arya Wira kembali ke penginapan. Laras dan Paman Jaka segera menyambutnya. Setelah membebaskan Paman Jaka dari anak sang Adipati, Arya Wira memang tak langsung kembali. Ada beberapa hal yang harus dia selesaikan bersama Adipati. Terutama hukuman untuk si tuan muda pengacau.
"Syukurlah kau kembali. Hampir saja aku menyusulmu!" ucap Laras senang.
"Apakah Paman Jaka tak mengatakan bahwa aku baik-baik saja?"
"Sudah. Tapi aku tetap tak bisa tenang sampai kau datang. Kenapa tak kau izinkan agar aku ikut?!"
"Karena aku tak ingin tanganmu kotor, Laras. Lagi pula, masalah ini tak butuh banyak tenaga."
"Lalu, kenapa kau lama sekali?! Aku hampir saja menyusulmu tadi!"
"Aku ingin berkeliling sebentar. Lagi pula, tadi aku bertemu dengan Adipati."
"Adipati? Ayah lelaki sombong itu?!"
Arya Wira mengangguk. "Kau tahu, beliau sedang bersama Sang Prabu. Sang Prabu sendiri yang membereskan urusan lelaki yang menggodamu."
"Prabu kerajaan ini," Laras bangkit ke arah jendela. "Aku sering mendengarnya. Namanya Arya Wira, menjadi prabu karena memenangkan sayembara yang diadakan Prabu Caraka sendiri. Tapi yang kutahu, istri beliau, Dewi Nirmala, telah meninggal dunia."
Arya Wira mengangguk, "Kau tahu banyak hal tentangnya."
"Huh!" Laras menghembuskan nafas keras. "Kabar seperti itu sangat mudah didengar. Oh ya, kudengar dia punya ilmu yang lumayan tinggi."
"Kudengar seperti itu. Tapi aku sendiri tak yakin semua itu benar. Bisa jadi hanya kabar yang dilebih-lebihkan." Arya Wira hanya mengangkat bahu. "Sudah malam, Laras. Istirahatlah!"
"Baiklah. Aku akan beristirahat. Kuharap, besok kita sudah pergi dari kota ini."
Arya Wira mengangguk. Setelah Laras masuk ke kamar, Arya Wira menutup pintu kamar. Tepat setelah pintu tertutup, Arya Wira mengibaskan tangan. Gelombang tenaga dalam yang tak terlalu kuat meluncur ke luar jendela.
Kwakkk
Lirih, tapi telinga Arya mampu mendengarnya. Segera, kakinya melompat, mengejar suara kepakan sayap.
"Sial!" umpatnya kesal. Burung itu telah pergi, tak bisa dikejar lagi. Hilang di tengah kegelapan malam.
"Keluarlah!" ucapnya dengan tenang.
"Salam dan hormat saya, Gusti Prabu Rama Wangi."
"Ada kabar dari istana?"
"Sang Avri pernah pergi dari istana dalam waktu yang cukup lama. Lalu kembali lagi selama sehari. Di malam hari tersebut, dia kembali pergi."
"Bukankah memang sudah menjadi hak baginya untuk pergi dan pulang kapan pun ia menginginkannya?"
"Benar, Gusti Prabu. Hanya saja, tadi siang saya melihatnya terbang di langit kota ini."
Arya Wira hanya mengangguk samar. "Ada kabar yang lain?"
"Pitaloka, Gusti Prabu. Dia pergi dari istana beberapa saat sebelum hilangnya Ki Gendra. Lalu baru saja kembali hari ini. Saat matahari sudah tergelincir ke barat."
"Pergi? Ke mana?"
"Saya belum mengetahuinya, Gusti Prabu. Satu hal yang bisa saya pastikan tentang kepergiannya. Pitaloka pergi tanpa perintah dari Maha patih Angga Perak maupun Panglima Mahanta. Bahkan, tanpa izin mereka."
Arya Wira memilih diam dan memandang langit. Sulit baginya untuk menyakini, Pitaloka berhubungan dengan kematian Dewi Nirmala. Namun, sulit pula untuk mendustakan prajurit bayangnya.
"Awasi Pitaloka. Juga orang-orang istana yang kemungkinan berhubungan dengan Ki Gendra. Aku akan mengirimnya ke tempat yang tepat. Kamu mengerti?"
__ADS_1
"Daulat, Gusti Prabu."
"Tapi tugas utamamu bukan itu," potong Arya Wira, menjadikan prajurit bayangnya keheranan. "Tugas utamamu adalah kembali dengan selamat padaku. Aku yakin, akan ada yang berusaha mencelakaimu. Jadi, apa pun yang terjadi, kembalilah padaku dengan selamat."
"Daulat, Gusti Prabu."
Pitaloka?! Ada apa lagi ini?! Mengapa harus menyeret nama adik angkatnya?? Bagaimana pula dengan Giri Wasa?! Arya Wira mendecak kesal. Terlalu banyak teka-teki di sekitarnya.
Seekor burung hantu terbang di atas. Melewati Arya Wira yang masih diam. Melihat si burung hantu, Arya Wira teringat burung yang dikejarnya. Ke mana burung itu?! Burung yang telah dilatih menjadi mata-mata, menguping pembicaraan antara dirinya dan Laras.
Setelah beberapa saat mencari, Arya Wira memutuskan untuk kembali. Tentu saja lewat jendela kamarnya. Di dahan pohon yang agak jauh dari penginapan, Arya Wira berhenti. Sekelabat bayangan keluar dari jendela kamar Laras.
"Laras?! Hendak ke mana di malam selarut ini?!"
Sebelum mengikuti, Arya Wira menekan auranya agar tak diketahui Laras. Laras berhenti di atas batu pinggir sungai. Dan memasang kuda-kuda dengan sebilah tongkat di tangan kanan.
"Rupanya hanya berlatih. Lebih baik aku kembali saja. Sepertinya dia tak ingin latihannya diketahui orang lain." Arya Wira tersenyum simpul. Lantas beranjak pulang.
Beberapa saat kemudian, Laras menghentikan gerakannya. Menatap langit malam, lantas melambaikan tangannya. Seseorang datang dari balik rerimbun pohon.
"Maaf, kamu harus menunggu terlebih dahulu. Ada seseorang yang mengikutiku." Laras menatap arah datangnya Arya Wira tadi.
"Sendika dawuh, Nimas."
"Kamu membawa kabar apalagi?!"
Laras menyimak kabar dari orang kepercayaannya. Kabar dari tempat yang sangat jauh. Setelah selesai menyimak, Laras memilih duduk di batu. Menimang semua kabar untuk mengambil keputusan.
"Bila sudah ada kesempatan, aku akan segera kembali. Sekarang, kembalilah. Susun rencana terbaik untuk membuang duri dalam daging itu. Kamu mengerti?!"
"Sendika dawuh, Nimas."
Selepas anggukan Laras, orang tersebut pergi dalam sekejap. Laras sendiri memilih berdiri di atas batu. Mungkin, sekarang waktu yang baik untuk berlatih.
...\=\=\=\=\=\=~~~\=\=\=\=\=\=...
Loka Hita menatap rembulan di langit dari halaman belakang wisma tamu. Pikirannya tak bisa tenang. Sudah beberapa hari ini dia dan ketiga kawannya menjadi tamu di kerajaan Parang Jaya. Bukan tamu sebenarnya, tapi kelompok penolong kerajaan ini.
Sejak Kobra Hitam tewas, kelompok Ular Hitam yang tersisa tidak menyusut atau pun menyerah. Bahkan mereka melakukan pembalasan dengan menyerang beberapa wilayah penting kerajaan. Termasuk kota raja.
Vayu belum tiba. Sepertinya, tempat keberadaan Arya Wira cukup jauh. Beberapa waktu lalu dia mendapat pesan dari Pitaloka, Arya Wira sedang berkelana. Entah atas alasan apa, Pitaloka juga tak mengetahui.
"Ampun, Putri Loka Hita," seorang dayang datang menghaturkan hormatnya.
Atas tawaran Agni Putih dan Panglima setelah tewasnya Kobra Hitam, Loka Hita bertemu keluarga kerajaan. Sang Prabu ternyata mengenali Loka Hita. Beliau pernah berkunjung ke Nala Pura saat Loka Hita berada di sana. Sejak itu, dirinya kembali dihormati selayaknya keluarga prabu dari kerajaan tetangga.
"Ada apa?"
"Putri Kinasih meminta izin untuk bertemu."
"Silahkan."
Kinasih, putri bungsu Prabu kerajaan ini. Sekaligus perempuan yang sering menemani Loka Hita selama berada di dalam istana dan menganggapnya sebagai kakak.
"Salam, Yunda Putri Loka Hita."
"Salam, Dhiajeng Putri Kinasih. Kemarilah."
Kinasih mendekat, dirinya membawa sebuah bambu kecil. Setelah dekat dengan Loka Hita, bambu itu diserahkan.
"Apa ini, Dhiajeng?"
__ADS_1
"Saya tahu, Yunda mencari seseorang yang bernama Ki Sayap Hitam. Saya memang tak mengetahui di mana orang tersebut. Tapi saya mengetahui seseorang yang bisa membantu Yinda. Dia bernama Nyi Sannaha."
"Nyi Sannaha? Bukankah dia adalah petapa yang sangat sulit ditemui?"
Kinasih mengangguk, "Tapi saya pernah mendapat hadiah darinya. Sebuah kesempatan untuk memanggil dan bertemu. Saya rasa, Yunda lebih berhak atas hadiah tersebut."
"Bambu ini menjadi kunci untuk bertemu dengan Nyi Sannaha?"
Kinasih mengangguk lagi. "Yunda pergilah ke arah barat. Cari sebuah gua yang dikelilingi tanaman bambu dan berkabut tebal. Tiup bambu ini di dekat tanaman bambu, dan Yunda bisa menunggu sebentar. Nyi Sannaha akan datang."
"Lalu Dhiajeng? Bukankah ini hadiah darinya untukmu?"
Kinasih menggeleng, "Saya rasa, Yunda pasti lebih membutuhkannya dari saya sendiri. Nyi Sannaha sangat mengetahui seluk beluk dunia persilatan dan mengetahui banyak hal. Saya yakin, dia pasti bisa membantu."
Loka Hita menerima hadiah dari Kinasih. Meski ada syarat lainnya yang harus dipenuhi. Dia hanya boleh datang seorang diri. Tanpa ditemani yang lain, bahkan oleh hewan peliharaan sendiri.
Esok hari, saat petang menjelang, Loka Hita pergi ke arah barat. Mencari orang yang dikabarkan oleh Kinasih. Sesaat sebelum pergi, tak lupa dikembalikannya bambu pemberian Kinasih. Bambu itu diletakkan di atas ranjang milik Kinasih, beserta sebuab pesan. Dirinya memang tak membutuhkan hal itu lagi. Ada petunjuk yang telah didapatkannya.
"Ratri Parvati! Kau lama sekali!" seru seseorang saat Loka Hita memasuki hutan di daerah barat kerajaan.
"Kau yang terlalu cepat!" balas Loka Hita. "Aku datang tepat waktu!"
"Terserah! Ayo, ikuti aku!"
Loka Hita segera melompat. Mengikuti perempuan di depannya. Dengan peringan tubuh yang sangat tinggi, gerakan mereka memang sangat cepat. Nyaris tak terlihat. Mata orang biasa mungkin hanya melihat sekelebat dua cahaya putih.
"Hei! Mengapa berhenti di sini! Kau ingin bermain-main, Putih?!" Dirinya menatap sekitar. Pinggir hutan. Tak jauh dari tempat mereka, ada telaga jernih yang sangat ramai oleh manusia.
Putih tertawa lirih. Dia lah yang akan menunjukkan jalan pada Loka Hita. "Mendekatlah!"
Suara itu sama seperti dulu. Saat memerintahkan Loka Hita agar memenggal kepala Kobra Hitam. Suara penuh pesona yang tak bisa ditolak. Loka Hita mendekat.
"Lihatlah telaga itu. Di sana lah, Nyi Sannaha bertempat tinggal. Aku akan membawamu ke sana. Bersiaplah!"
Di ujung kalimat, Putih menggenggam tangan Loka Hita. Putih kembali menggunakan peringan tubuh, sedangkan Loka Hita menutup mata. Gerakan Putih terlampau cepat, jauh di atas kemampuan Loka Hita.
Tiba di pinggir telaga, Putih melompat. Saat terjun menuju air telaga, tangan Putih -yang tak memegang tangan Loka Hita, bergerak cepat. Membentuk segel tangan yang rumit. Setelah segel terbentuk, tenaga dalam mendorongnya ke telaga. Sesaat sebelum tubuh Putih dan Loka Hita menyentuh permukaan air.
Tak ada suara. Air tetap tenang saat dua tubuh wanita membelahnya. Bagai menembus udara.
...\=\=\=\=\=\=~~~\=\=\=\=\=\=...
Dua ekor kuda berhenti di depan pondok sederhana. Dua pengendaranya turun. Disambut dua perempuan muda sedang berada di luar pondok.
"Selamat datang, Gusti Maha patih, Nini."
Salah satu pengendara kuda, Angga Perak, mengangguk sambil menuntun kudanya.
"Apakah Petapa Arum ada di pondok?"
"Iya, Gusti Maha patih. Saya akan mengabari Guru," salah satu murid Selir Arum bergegas masuk ke pondok.
"Pitaloka, ayo!" Angga Perak melambai pada Pitaloka yang masih diam setelah mengikat kudanya.
"Eh, iya, Gusti Maha patih."
Setelah menyelesaikan urusan, Angga Perak meninggalkan pondok Selir Arum. Meski dengan sejuta pertanyaan di benak. Ini semua perintah Arya Wira.
Ya! Arya Wira telah mengirim pesan yang berisi perintah agar Pitaloka dibawa ke pondok Selir Arum. Menjaga beliau dari ancaman musuh Nala Pura. Hanya saja, Arya Wira melarang Angga Perak menyebut ini semua atas perintah dirinya. Juga melarang menyebarkan perintah ini dari semua orang.
"Rayi Prabu memang tak melepaskan tanggung jawab. Pasti ada hal penting yang tak aku ketahui," desis Angga Perak pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Meski berkelana, Arya Wira memang tak melepaskan semua tanggung jawabnya. Selalu mengirim kabar dan pesan berisi perintah dan saran pada Angga Perak dan Panglima Mahanta. Membuat Mereka yakin, ada mata-mata Sang Prabu yang membantu.
Hanya saja, perintah kali ini sangat aneh...