Legenda Pendekar Rama Parvati

Legenda Pendekar Rama Parvati
Penawar Sihir


__ADS_3

Kabar gembira telah datang di istana Nala Pura. Pagi itu, saat cahaya matahari pertama menyentuh pucuk dedaunan di halaman istana, mata Loka Hita mengerjap. Kesadaran telah datang. Sontak, dayang yang sedang bertugas menjaga Loka Hita segera berlari keluar.


"Kang! Cepat panggil Tabib Cipta!" serunya pada prajurit yang berjaga, "Tuan Putri sudah siuman!"


"Baik!" salah satu prajurit segera berlari.


"Saya juga akan melapor pada Yang Mulia Gusti Prabu." prajurit lain juga segera bergegas menuju tempat tinggal Arya Wira.


Loka Hita menatap sekitarnya. Dia segera mengenali tempatnya berada, masih di dalam istana. Saat mencoba bangkit, tubuhnya merasakan sakit yang luar biasa. Disertai rasa dingin yang menyelimuti tubuhnya. Dadanya terasa begitu sesak.


"Tuan Putri!" seseorang segera mendekat dan mencegah Loka Hita yang tetap memaksa ingin bangkit,


"Tubuh Tuan Putri masih sangat lemah. Lebih baik Tuan Putri beristirahat dahulu."


Loka Hita kembali merebahkan tubuhnya. Dia mengenali orang yang berada di hadapannya. Itu Tabib Cipta, tabib yang dulu mengobati keluarganya saat pemberontakan terjadi. Tabib Cipta segera memeriksa Loka Hita.


"Bagaimana keadaan Dinda Hita?" Arya Wira segera melontarkan pertanyaan saat Tabib Cipta keluar dari kamar.


"Ampun, Gusti Prabu," Tabib Cipta menghormat, "kondisi Putri lebih baik, tapi belum sembuh. Tubuh Putri Loka Hita masih sangat lemah. Ampun, Gusti Prabu," Tabib Cipta terdiam.


"Ada apa, Tabib? Tak perlu bimbang, beri tahukan saja semuanya," Arya Wira mengetahui kebimbangan di wajah Tabib Cipta.


"Maaf, Gusti Prabu. Sepertinya, Putri Loka Hita tak hanya terluka fisik. Ada sihir di dalam tubuh Putri."


"Sihir?!"


"Maaf, Gusti Prabu. Hamba juga tidak memiliki penawar untuk menyembuhkan sihir yang berada di tubuh Putri," Tabib Cipta semakin menunduk.


Arya Wira mendesah, "Beri tahu saya cara menyembuhkan Dinda Hita, Tabib. Saya akan berusaha mendapatkannya. Beri tahu semuanya, Tabib!"


Jawaban Tabib Cipta membuat Arya Wira menghela nafas. Terlalu berat. Arya Wira memutuskan untuk memberi tahu Angga Perak dan Panglima Mahanta sesegera mungkin. Sekarang, lebih baik menemui Loka Hita.


"Kakang Wira," Loka Hita menyambut kakaknya dengan senyuman.


Arya Wira duduk di tepi ranjang, "Apa yang kau rasakan, Dinda?"


"Hanya lemas, Kakang. Jangan risau. Kakang, apakah tabib yang mengobati saya adalah Tabib Cipta?"


Arya Wira mengangguk, "Tapi sepertinya dia tidak mengenali kita, Dinda. Hanya saja, Selir Arum..." Arya Wira menceritakan kunjungan Selir Arum.


"Ibunda Arum adalah selir yang paling dekat dengan Ibunda. Saya yakin, Ibunda Arum tak merasa asing dengan wajah kita, Kakang,"

__ADS_1


Arya Wira hanya mendesah pelan.


"Bagaimana dengan burung jadi-jadian itu, Kakang?"


"Kami tak sempat mengejarnya, Dinda. Kami hanya fokus pada Dinda yang jatuh. Hingga kini, Kakang tak menemukan satu pun petunjuk tentangnya."


Belum selesai Arya Wira menjawab, seorang emban masuk dan memberi tahu bahwa Panglima Mahanta dan Angga Perak datang. Mereka menunggu di luar. Tentu saja, Arya Wira mengizinkan mereka masuk


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=~~~\=\=\=\=\=\=\=\=...


Cukup jauh dari istana kerajaan, empat murid padepokan Sedayu berada. Mereka baru saja menyelesaikan makan di sebuah kedai. Wajah mereka tak segembira sebelum masuk ke kedai. Ah, dari dulu, kedai makan selalu jadi tempat berkumpulnya banyak kabar. Apalagi, kedai di tengah pasar seperti yang mereka singgahi.


"Apakah informasi itu benar?" Pitaloka membuka pembicaraan setelah keluar dari pasar


"Entahlah. Di kedai, terlalu banyak informasi yang berkumpul. Ada yang salah, dan ada yang benar," jawab Hansa Daya. Kabar itu terlalu mengagetkan.


"Iya, Pitaloka. Lagi pula, bagaimana bisa kabar istana menyebar dengan begitu mudah?! Kecuali, ada orang dalam istana yang membocorkan," timpal Giri Wasa.


"Saya khawatir berita itu benar," Pitaloka mengingat kabar yang beredar di kedai. Adik Sang Prabu terluka saat bertarung dengan penyusup.


"Kalau pun benar, sepertinya Loka Hita tidak terluka parah. Ilmu kanuragan dan tenaga dalamnya lumayan tinggi. Apalagi, di istana ada Arya Wira," sanggah Giri Wasa.


"Mendingan, kita segera ke istana, Tuan, Nini. Nanti semuanya jadi jelas," Janu ikut bersuara.


Gerbang istana menyambut mereka tak lama kemudian. Awalnya, mereka ditolak para prajurit dan dicurigai sebagai musuh kerajaan. Mereka juga tidak memiliki tanda pengenal sama sekali. Untungnya, Paman Jaka datang dan menyakinkan para prajurit bahwa mereka memang teman Prabu Arya Wira. Paman Jaka langsung membawa mereka ke sebuah bangunan di dalam kompleks istana.


"Terima kasih, Paman. Karena Paman, kami diperbolehkan masuk," ucap Giri Wasa setelah menyerahkan kuda pada pelayan.


"Itu sudah kewajiban saya, Den. Aden dan Nini tunggu di sini dahulu, saya akan memberitahu Prabu Arya Wira terlebih dahulu," Pama Jaka meninggalkan mereka di depan bangunan tempat Loka Hita dirawat.


"Dhiajeng Pitaloka! Giri Wasa!" Arya Wira keluar sambil diikuti tiga pria. Paman Jaka, Panglima Mahanta, dan Angga Perak.


"Hormat kami, Gusti Prabu," tamu Arya Wira segera memberikan hormat sebagai pendekar. Kecuali Janu, dia memberikan hormat sebagai rakyat biasa.


Arya Wira tersenyum, pandangannya terhenti pada Hansa Daya, "Sepertinya, kita pernah bertemu. Benar, Kisanak?"


"Benar, Gusti Prabu. Saya Hansa Daya, orang yang Gusti Prabu tolong saat di sebuah kedai."


"Ah...iya! Tabib Hansa!" senyuman Arya Wira semakin sumringah, "Kalau kisanak?" Arya Wira menoleh pada Janu.


"Saya Janu, Gusti Prabu. Pelayan Tuan Hansa Daya,"

__ADS_1


Arya Wira mengangguk-angguk, "Ah iya, silahkan masuk. Kamu juga, Janu. Masuklah. Dinda Hita pasti senang bertemu kalian."


Ucapan Arya Wira benar adanya. Loka Hita sangat gembira bertemu mereka. Sedangkan mereka sangat terkejut melihat kondisi Loka Hita. Meski tidak berpengaruh pada kemampuan olah kanuragan, luka dan rasa sakit melemahkan fisik.


"Apakah tidak ada obat yang membuat Yunda bisa segera sembuh?" tanya Pitaloka sambil tetap menggenggam tangan Loka Hita.


"Bila yang Dhiajeng maksud adalah ramuan obat, tabib istana tak memilikinya, Dhiajeng." Arya Wira menjawab lirih.


"Memang, adakah obat selain ramuan, Kakang?" Loka Hita mengernyitkan dahi bingung.


Arya Wira menarik nafas panjang, "Iya, Dinda Hita. Karena Dinda tak hanya terluka fisik, tetapi ada sihir yang masuk ke tubuh Dinda."


Penjelasan Arya Wira membuat Loka Hita hanya bisa terdiam. Sihir?! Dia terkena sihir?!


"Maaf, Gusti Prabu, tapi adakah penawar untuk sihir tersebut?" Giri Wasa mencoba bertanya.


Arya Wira menoleh pada Panglima Mahanta dan Angga Perak. Meminta mereka untuk menjawab pertanyaan Giri Wasa.


"Ada, tapi begitu sulit kami lakukan," Angga Perak menghela nafas, "Tabib mengatakan, penawarnya adalah air rebusan tulang Sang Avri."


Kesenyapan menghampiri ruangan setelah mendengar ucapan Angga Perak. Terutama Loka Hita, dia baru mengetahui harga kesembuhannya. Semua orang sudah mengetahui betapa istimewa burung tersebut.


"Tidakkah ada penawar lain, Kakang?! Paman Panglima?! Tuan Maha patih?!" Loka Hita bertanya lemah


"Ada, Putri. Sebuah mustika yang terkenal tapi sangat sulit ditemukan. Tapi kami tak mengetahui di mana keberadaannya. Bahkan, Paman sendiri sudah mengetahui, pemilik penawar sudah meninggal beberapa waktu yang lalu," jelas Panglima Mahanta


"Apa, Paman?!" desak Loka Hita. Dia tak ingin mengorbankan Sang Avri.


"Mustika Daun Langit, Putri..."


"Mustika Daun Langit?!" ulang Loka Hita, Hansa Daya, dan Janu bersamaan.


Janu menoleh pada tuannya. Loka Hita saling berpandangan dengan Hansa Daya. Mereka tersenyum......


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=~~~~~\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Jangan lupa like, komen, dan vote agar saya semakin semangat....


Mampir juga di novel saya yang lain:


✓My love My Heart

__ADS_1


ditunggu yaaa


__ADS_2