
Banyak kejutan dalam hidup. Banyak benang kehidupan seseorang yang sangat berkaitan dengan diri kita.
Suasana arena pertarungan cukup sunyi. Pitaloka dan Merpati Hitam menatap tajam ke arah Chandra Maitra. Pemuda belia yang baru saja menggagalkan pelarian mereka. Arya Wira dan Loka Hita saling memandang, mencoba mencari jawaban.
"Adik Arya Wira? Aku tak pernah mendengar tentangmu!" Pitaloka melambaikan tangan.
"Memang, Raka Arya Wira tak pernah membicarakan tentangku di padepokan Sedayu. Kami sudah berpisah dalam waktu lama."
"Apapun itu, kamu telah berani sekali mencampuri urusan kami. Lebih baik segera minta maaf pada kami atau..."
"Atau apa, Nona?"
"Kurang ajar!" umpat Pitaloka dan segera menyerang Chandra Maitra.
Tongkat Pitaloka mengenai udara kosong. Chandra Maitra menghindar dengan mudah. Cepat sekali pertarungan terjadi. Tangan Chandra Maitra bisa meladeni permainan Pitaloka dengan luwes. Tak hanya pertarungan fisik, Pitaloka mulai mengalirkan tenaga dalam ke tongkat.
Duaarrrr
Pertemuan dua tenaga dalam mengakibatkan ledakan yang cukup besar. Pitaloka terjajar ke belakang beberapa tombak. Sedangkan Chandra Maitra masih berdiri tegak.
"Menyerahlah, Nona. Saya tak mengerti apa yang ada dalam pikiran Nona. Nona bekerja sama dengan pendekar aliran hitam demi membunuh ipar sendiri?" tampaknya, Chandra Maitra masih berusaha bernegosiasi.
"Ipar?! Jelas Arya Wira bukan lagi kakakku!" Pitaloka mendengus marah.
Pandangannya berpindah ke tiga pendekar yang masih bertarung. Alur pertarungan bisa ditebak, tiga pendekar itu sudah kewalahan menghadapi musuh masing-masing.
"Huh! Dasar! Tidakkah kalian penasaran tentang kawanku? Orang yang membantu dan menjadi sekutuku tapi sedang berpura-pura berada di pihak kalian?!"
"Apa maksudmu, Dhiajeng?" Arya Wira mencoba bertanya kembali.
Pitaloka tertawa terbahak-bahak, "Kau benar-benar mudah ditipu, Arya Wira! Tentu saja, bukan hanya aku yang menginginkan kematian istrimu! Dan di antara orang-orang yang berada di sekitarmu, ada musuh! Jadi, lebih baik berhati-hati!"
"Apapun itu, lebih baik kau menyerah, Pitaloka!" seru Loka Hita yang berhasil membuat lawannya jatuh dan terluka parah.
"Aku tidak pernah terlahir untuk menyerah, Loka Hita."
Di ujung kalimat Pitaloka, Ki Grenda melempar sebotol racun lain. Botol itu langsung meledak saat Merpati Hitam menghantamnya dengan tenaga dalam. Tak ada yang sempat memperhatikan mereka.
Chandra Maitra dan Arya Wira membentuk pusaran angin dengan tenaga dalam. Mencoba menghilangkan asap racun yang kian menyebar. Asap memang bisa dihilangkan, tapi rupanya racun tak hanya ada di asap. Setelah asap pergi, racun yang tak bewarna tapi berbau memenuhi udara. Arya Wira dan Chandra Maitra harus membentuk angin yang lebih kuat.
Kesempatan emas. Pitaloka dan Merpati Hitam segera menyambar Ki Grenda dan pergi secepatnya. Saat melompat, Merpati Hitam sempat melemparkan jarum beracun ke arah tiga anak buahnya.
"Ah! Mereka mati!" seru Angga Perak setelah memeriksa tiga pendekar rendahan yang membantu Pitaloka.
"Mereka sengaja dibunuh agar tidak bisa membocorkan rahasia," sahut Loka Hita.
"Benar-benar licik," tambah Chandra Maitra.
Ucapan Chandra Maitra menyadarkan Arya Wira dan Loka Hita akan keberadaannya. Juga pengakuannya sebagai seorang adik.
"Muridku Prabu Arya Wira, biarkan kami yang mengurusi mayat-mayat ini. Kau dan Loka Hita sepertinya harus menyambut adik kalian terlebih dahulu." Nyi Sannaha segera memberi usul sebelum Arya Wira dan Loka Hita berkata sesuatu.
"Apakah tidak masalah?" Loka Hita tetap bertanya.
__ADS_1
"Tentu tidak, Tuan Putri," Panglima Mahanta menjawab, "mereka bukan masalah besar."
"Baiklah. Setelah selesai, segera kalian kembali ke istana. Aku dan Dinda Hita akan menyusul setelah menyelesaikan sedikit urusan."
Arya Wira pergi, diikuti Loka Hita dan Chandra Maitra. Di tempat yang cukup jauh dari istana, di luar kawasan kota raja. Di antara rimbun pohon yang menghalangi cahaya mentari. Ketiganya masih diam, enggan memulai percakapan.
"Siapa sebenarnya dirimu, kisanak?" Arya Wira akhirnya memulai pembicaraan.
"Saya Chandra Maitra, Raka..."
"Kenapa kamu memanggilnya Raka?" potong Loka Hita, "kenapa kamu mengaku sebagai adik kami?!"
Chandra Maitra menghela nafas. Bukannya menjawab dengan kata-kata, Chandra Maitra memilih memasang kuda-kuda yang kokoh. Kedua matanya terpejam sebentar, lalu kembali membuka. Menatap tajam ke arah depan.
Tangannya bergerak pelan, mengalirkan tenaga dalam ke seluruh sendi dan tulang tubuhnya. Kedua telapak tangan bersatu di depan dada kanan. Kaki kanan bergerak lembut ke belakang. Dalam satu tarikan nafas, kedua tangan dan kaki bergerak cepat. Aliran tenaga dalam yang terkontrol menambah keindahan gerakan.
Perlahan, semburat sinar lembut memancar dari kedua telapak tangan. Terus merambat ke atas, hingga ke siku. Sinar bewarna jingga kemerahan, seperti warna langit sore hari. Saat Chandra Maitra menghentakkan kaki kanan, semburat cahaya yang sama memancar lembut dari bawah kaki. Terus meluas, lalu meninggi. Membentuk formasi bunga teratai yang rumit tapi indah. Sinar yang mempesona, tapi sangat mematikan.
"Ajian tiga belas daya," desis Arya Wira dan Loka Hita bersamaan. Mereka mengenali ajian yang digunakan Chandra Maitra, tingkat tinggi dari ajian milik ayahanda mereka.
"Tahukah Raka Wira dan Yunda Hita," Chandra Maitra menoleh. Ajian tiga belas daya membuatnya semakin berwibawa. "Ajian ini memiliki satu kesamaan dengan jurus pedang tiga tingkat dan jurus pedang sepuluh cahaya. Yaitu, hanya bisa dikuasai dengan sempurna oleh pemilik darah yang sama, keturunan pemilik jurus. Ajian tiga belas daya hanya bisa dikuasai oleh keturunan Ayahanda, mendiang Prabu Garuda Rama."
"Aku tahu itu, tapi, bagaimana bisa? Ayahanda hanya memiliki tiga anak, kami dan Dhiajeng Kartika Dewi," sanggah Loka Hita.
"Tidak, Yunda Ratri Parvati. Ada satu orang lagi, diriku. Chandra Maitra! Izinkan aku menjelaskan semua, mengapa semua ini bisa terjadi."
"Tentu saja kau harus menjelaskannya!" jawab Loka Hita dengan kesal. "Tapi, hentikan ajianmu! Kau ingin mengundang para pendekar kemari dengan aura ajian itu?!"
Chandra Maitra segera memusatkan pikiran. Tangannya bergerak dengan cepat, menarik semua tenaga dalam yang dia keluarkan. Cahaya jingga kemerahan menyusut perlahan, lantas menghilang.
"Aku putra mendiang Prabu Garuda Rama dari istrinya yang bernama Kemala,"
...\=\=\=\=\=\=\=~~~\=\=\=\=\=\=\=...
Garuda Rama memang memiliki beberapa istri. Tiga diantaranya adalah Erina Maheswari atau Alisha, Cempaka, dan Arum. Saat menjadi seorang prabu di Nala Pura, berkunjung ke desa-desa kecil dalam balutan penyamaran menjadi kebiasaannya. Kadang bersama Caraka, Erina Maheswari, Arum, atau kadang sendirian.
Di sebuah kunjungan saat bersama Caraka, dirinya bertemu sekelompok saudagar yang baru saja dirampok. Sebagai seorang prabu dan pendekar aliran putih, mereka memutuskan untuk membantu. Membawa yang terluka ke tabib di desa terdekat. Menyewa sebuah penginapan untuk anggota yang lain. Serta mengirim pesan kepada anggota keluarga yang tak ikut.
Di antara rombongan, ada anak perempuan tunggal pemimpin rombongan. Dia masih seorang gadis. Cantik dan sangat pandai dalam bidang sastra dan tata krama, tapi tak memiliki ilmu kanuragan. Karena sering membantu tabib yang merawat ayahnya yang juga terluka, dia sering bertemu dengan Garuda Rama. Berkenalan sebagai penolong dan yang ditolong, Garuda Rama memakai nama masa kecilnya, Satya. Sedangkan gadis itu bernama Kemala.
Tak ada apapun di antara mereka. Hanya sebagai kawan. Apalagi, Garuda Rama mengatakan dirinya sudah menikah dengan perempuan bernama Ayu Gantari. Namun, semua berubah saat kondisi ayah Kemala semakin parah. Racun yang menyebar tak bisa diobati oleh tabib dan lainnya. Dalam kondisi sedemikian rupa, ayah Kemala meminta Garuda Rama agar menjadi pelindung anaknya dengan menikahinya.
Baik Garuda Rama maupun Kemala, sama-sama menolak dengan lembut. Garuda Rama bahkan mengatakan bahwa dirinya sudah beristri lebih dari satu. Kemala mengatakan bahwa dirinya hanya menganggap Garuda Rama sebagai penolong. Ayah Kemala rupanya seorang yang keras kepala. Tetap saja meminta mereka menikah.
"Setidaknya, biarkan ayahmu ini meninggal dengan tenang, Kemala," desak sang ayah.
"Ayah, apakah Ayah ingin Kemala menjadi istri seorang pendekar seperti Tuan Satya? Apalagi, Tuan Satya sudah menikah, Ayah," Kemala mengusap lengan ayahandanya.
"Salam, Paman," sapa Garuda Rama yang baru saja tiba di ruangan.
"Salam, Nak Satya. Kemarilah,"
"Maaf, Paman, saya mengajak seseorang kemari. Bolehkah dia ikut masuk?"
__ADS_1
"Silahkan!"
Garuda Rama memberi isyarat pada seseorang yang berada di belakangnya. Saat dia masuk, Kemala terkejut. Seorang pendekar wanita berparas ayu dengan pedang di punggung.
"Paman, ini istri saya. Ayu Gantari."
Ucapan Garuda Rama menambah kekagetan Kemala. Dirinya segera tersenyum untuk menutupi kekagetan.
"Salam, Paman. Salam, Nini."
"Salam, Puan." Kemala berdiri untuk menyambut Ayu Gantari.
Setelah saling menyapa, mereka terlibat percakapan hangat. Ayu Gantari dan Kemala bisa segera akrab. Meski ada Ayu Gantari, ayah Kemala tetap mendesak pernikahan putrinya. Hingga tiba-tiba, nafasnya tersengal.
"Ayah!" Kemala segera memeluk ayahnya.
Garuda Rama dan Ayu Gantari mencoba membantu dengan mengalirkan hawa murni. Hanya saja, ajal dan kematian tak akan bisa disembuhkan. Waktu yang telah ditentukan tak akan bisa maju atau mundur. Tak ada yang bisa menolak atau menahan.
"Satya, Paman mohon..." Masih dengan nafas tersengal, "nikahi Kemala. Ayu Gantari, tolong izinkan mereka untuk bersatu." Menarik nafas panjang
"Aku tidak melakukannya karena... meng..ingin..kk..kan keburukan,"
"Ayah, jangan memaksakan diri. Kondisi Ayah sangat lemah," Kemala berusaha mengucapkan kata-kata meski air mata tak henti mengalir.
"Satya... Ayu Gantari... Putriku Kemala," sang ayah terbatuk lagi, "akan ada yang menginginkan darah perawan Kemala. Dan dia salah satu pendekar aliran sihir. Darah perawan yang dimiliki Kemala memang istimewa, bisa meningkatkan kekuatan sihirnya."
"Kumohon, nikahilah Kemala untuk menjaga agar keburukan tidak semakin menyebar di dunia ini. Kemala adalah..."
Ayu Gantari menghela nafas berat lalu memotong, "Paman, saya sudah mengetahui semua. Saya kemari untuk mengizinkan Kanda Satya menikahi Nini Kemala."
"Terima kasih, Puan..."
Di ujung senja. Tepat saat matahari sempurna terbenam. Saat rombongan dari keluarga Kemala tiba di gerbang Nala Pura. Saat itulah, nyawa kepala rombongan saudagar pergi. Kemala sempurna kehilangan orang tuanya.
Ayu Gantari mengirim pesan pada Caraka agar datang dengan seorang petapa dan Selir Arum. Setelah pemakaman sang ayah dengan sangat sederhana, Kemala mendengarkan penjelasan dari Ayu Gantari.
"Aku bisa mengenali dirimu, Kemala. Lagi pula, Guruku juga sudah menceritakan tentangmu. Aku memang tak mengerti pasti, mengapa darahmu sangat istimewa. Yang aku tahu, hanya pendekar yang bisa mendapatkan manfaat dari darah itu. Karena itulah, ayahmu sangat ingin dirimu dinikahi oleh Kanda Satya."
"Tapi, bagaimana mungkin aku menikah dengannya?"
"Nona Kemala," Ayu Gantari menggenggam jemari Kemala, "ini bukan tentang pernikahan saja. Tapi ini untuk menyelamatkan dirimu. Juga mencegah kerusuhan besar."
Setelah berdebat cukup panjang, keputusan diambil. Malam itu pula, Garuda Rama menikahi Kemala. Dalam waktu dua malam berikutnya, dia ceritakan semua tentang dirinya. Bahwa dia-lah prabu Nala Pura. Bahwa Ayu Gantari adalah Ratu Erina Maheswari. Semua rahasia terbongkar.
Kemala bukanlah sosok yang menginginkan kerajaan atau kedudukan. Dengan memaksa, dirinya meminta agar bisa kembali ke tempat asalnya. Agar kedudukannya sebagai seorang selir tak diketahui oleh rakyat maupun orang lain. Hanya empat orang yang mengetahui. Ayu Gantari, Selir Arum, Caraka, dan Garuda Rama sendiri.
...\=\=\=\=\=\=\=~~~\=\=\=\=\=\=\=...
"Ibunda pulang, kembali ke tempat asal kami yang begitu jauh. Itulah awal perpisahan kami. Sekaligus akhir pertemuan mendiang Ayahanda dengan Ibunda," Chandra Maitra mendesah panjang.
"Mengapa Ayahanda ataupun Ibunda kami tak memberi tahu tentang adanya dirimu?" Loka Hita mendesak.
Chandra Maitra tersenyum tipis, "Karena mereka juga tak mengetahui."
__ADS_1
"Maksudmu?"