Legenda Pendekar Rama Parvati

Legenda Pendekar Rama Parvati
Racun2


__ADS_3

Mendung seakan enggan pergi dari langit Nala Pura. Berganti, kesedihan itu datang. Lepas usainya kesedihan yang sebelumnya. Kebahagiaan hilang perlahan. Namun, bukankah memang demikian kisah di setiap manusia? Kesedihan dan kebahagiaan akan silih berganti. Tiada yang abadi.


Arya Wira mengusap wajah. Menatap kembali empat orang di hadapannya. Memastikan kabar yang hinggap di telinga. Empat orang di hadapannya menunduk hormat. Hembusan nafas terdengar kasar.


Empat orang saling memandang. Angga Perak, Panglima Mahanta, Tabib Cipta, dan seorang tabib lain.


"Siapa yang berani melakukannya?!" Arya Wira bertanya


Semua diam. Tak ada yang bisa menjawab. Perkara ini memang besar.


"Tabib! Larang siapa pun untuk masuk ke kamar kecuali bersamaku! Jangan sampai ada sesuatu pun yang masuk tanpa pemeriksaan! Ini titahku!"


"Daulat, Gusti Prabu!" kedua tabib segera pergi setelah menghaturkan hormat.


"Paman Mahanta! Kita harus melakukan pemeriksaan pada seluruh penghuni istana. Paman bisa melaksanakannya tanpa mengundang keributan?"


"Saya usahakan, Gusti Prabu." Panglima Mahanta juga undur diri.


"Raka Angga," Arya Wira kembali duduk, "Apakah kita juga harus memeriksa seluruh anggota kerajaan? Saya khawatir, target utama adalah saya, bukan Dinda Nirmala."


Angga Perak menarik nafas, "Kita harus adil, Rayi. Mereka harus diperiksa. Namun, ada baiknya kita memeriksa tanpa mengundang kecurigaan mereka."


"Kita akan memeriksa dengan bantuan para telik sandi istana."


"Baik, Rayi." Angga Perak meninggalkan ruangan.


Arya Wira mengusap wajah kembali, begitu berat ujiannya kali ini. Dilangkahkannya kaki keluar dari ruangan. Saatnya kembali melihat kondisi istrinya.


Dewi Nirmala sakit! Sudah dua hari dia terbaring lemah di kamar. Awalnya, tabib hanya menyangka semua karena kehamilan sang ratu. Namun kemarin, Tabib Cipta ikut memeriksa dan mendapati hal yang tak terduga. Dewi Nirmala terkena racun!


Pertanyaan terbesar, bagaimana mungkin racun bisa masuk ke tubuhnya? Adakah yang sengaja meracuninya? Siapa? Kenapa?


Maka pagi itu, Arya Wira bergegas mengumpulkan empat orang penting. Angga Perak dan Panglima Mahanta yang sangat dipercaya. Tabib Cipta dan tabib yang pertama kali memeriksa sang ratu.


Seekor burung melintasi langit. Bersamaan dengan kicau Sang Avri.


"Giri Wasa, Dhiajeng Pitaloka!" Arya Wira tersenyum mendapati keduanya di depan kamar Dewi Nirmala, "Kalian ingin menjenguk istriku?"


"Benar, Gusti Prabu. Namun tabib melarang kami masuk." Giri Wasa menghaturkan hormatnya.


"Itu memang titah saya. Agar Dinda Nirmala bisa beristirahat lebih tenang."


"Mari, masuklah." Arya Wira melangkahkan kaki.


Giri Wasa dan Pitaloka mengikuti. Kali ini, dua penjaga di depan kamar membiarkan keduanya masuk.


Dewi Nirmala yang sedang duduk menyambut ketiganya dengan senyuman. Tabib Cipta sedang meramu obat di dekat ranjang. Ditemani dua pelayannya dan tabib yang tadi ikut menemui Sang Prabu.


"Bagaimana keadaanmu, Dinda?"


"Saya lebih baik, Kanda. Tak perlu risau, ada Tabib Cipta yang akan merawat Dinda."


Hingga kini, Dewi Nirmala tak mengetahui bajwa dirinya terkena racun.


Setelah memastikan beberapa hal, Arya Wira pamit pada istrinya. Tugas seorang raja sudah menanti. Giri Wasa dan Pitaloka ikut keluar. Tak lupa, Arya Wira mengingatkan Tabib Cipta agar tak ada yang menganggu Dewi Nirmala.


"Salam, Ananda Prabu," seseorang menyapa tepat saat Arya Wira keluar dari kamar.


"Salam, Bibi Arum. Semoga kesejahteraan bagi kita semua." Arya Wira mengatupkan kedua tangan di depan dada.

__ADS_1


"Salam, Gusti Selir Arum," Giri Wasa dan Pitaloka memberikan hormat seorang pendekar.


"Bagaimana keadaan Nanda Ratu?"


"Dinda sedang bersama Tabib Cipta, Bibi. Silahkan masuk, Bibi."


"Saya boleh masuk, Nanda Prabu?"


"Maaf, Bibi. Pasti Bibi telah dicegah untuk masuk," Arya Wira tersenyum, "Silahkan, Bibi. Bibi boleh kapan pun menjenguk Dinda Nirmala. Bibi bisa sampaikan hal ini pada Tabib Cipta."


Selir Arum tersenyum. Arya Wira memang benar, dirinya memang dicegah masuk ke kamar Dewi Nirmala. Sekarang, izin Sang Prabu telah didapat.


"Saya pamit, Nanda Prabu," Selir Arum mengangguk hormat.


Arya Wira melanjutkan langkahnya setelah Selir Arum masuk ke kamar. Sementara Giri Wasa dan Pitaloka ditugaskan menjaga kamar Sang Ratu. Arya Wira mempercayai dua saudara angkatnya.


Namun, bukankah pernah dikatakan; kemalangan tak pernah peduli pada siapa dia hadir. Kekuatan manusia takkan bisa mengalahkan kuasa Sang Pencipta.


Saat itu, Selir Arum sedang bercanda dengan Dewi Nirmala. Giri Wasa dan Pitaloka tengah bercerita tentang masa lalu. Membicarakan Arya Wira dan Loka Hita. Tabib Cipta sedang membereskan beberapa bahan ramuan. Dua pelayannya sedang membersihkan cawan yang baru saja dipakai Dewi Nirmala. Saat itulah, sesuatu terjadi di tempat Sang Avri.


Sang Avri memang tak pernah diletakkan dalam sangkar. Dia bisa hinggap di mana pun dia ingin. Tak pernah mengganggu para penghuni istana. Saat itu, Sang Avri tiba-tiba terbang dan berkicau riuh. Mengagetkan si perawat yang sedang membelainya.


Sang Avri terbang cepat. Menuju kamar Dewi Nirmala. Masuk melalui pintu. Mengagetkan Giri Wasa dan Pitaloka. Insting pendekar segera membuat mereka segera bergerak cepat. Masuk ke kamar tanpa bisa dicegah dua prajurit penjaga pintu.


Seluruh orang yang berada di kamar terdiam saat Sang Avri masuk. Selir Arum berdiri dengan mata menatap tajam sekitar.


"Ada apa?" Dewi Nirmala cemas. Wajahnya kian memucat. Dia sangat mengenali Sang Avri.


"Entahlah, Nanda Ratu. Sepertinya akan ada sesuatu yang datang. Nanda Ratu tenang saja, kami akan melindungi." Selir Arum membelai lembut jemari Dewi Nirmala.


"Gusti Selir benar, kami akan melindungi Gusti Ratu dengan nyawa kami sendiri." timpal Giri Wasa.


Kwakkkkk


Suara khas mengagetkan seisi ruangan. Tabib Cipta dan dua pelayannya menghunus kerisnya. Selir Arum memeluk tubuh Dewi Nirmala. Dua prajurit jaga mengeratkan pegangan pada tombak. Giri Wasa dan Pitaloka segera menarik pedang dari wrangka. Meski Pitaloka bukanlah pendekar berpedang, pedang tetaplah bagian penting dari kehidupan seorang pendekar. Apalagi, Padepokan Sedayu juga mengajarkan ilmu pedang pada murid-muridnya.


Kwakkkkk


Dari pintu kamar, seekor burung bewarna hitam masuk. Sang Avri menyerangnya. Sayangnya, seekor burung hitam lain ikut masuk. Tanpa cahaya abu-abu, burung kedua berubah menjadi manusia.


Manusia berjubah hitam dengan topeng abu-abu yang hanya menutup mata. Jenggot dan rambut putihnya menunjukkan usia yang tak lagi muda. Sebuah tombak tergenggam di tangan kanan. Sebilah pedang bewarna hitam pekat tersampir di pinggang. Tawanya melengking, memenuhi udara.


Pertarungan tak bisa dielakkan. Di atas, burung hitam bertarung dengan Sang Avri. Kilatan-kilatan cahaya memancar di sela pertarungan keduanya. Di bawah, lelaki hitam melawan permainan pedang Giri Wasa dan Pitaloka dengan tombaknya. Sesekali, dia mampu melayangkan pukulan tenaga dalam ke arah Tabib Cipta dan Selir Arum.


Di atas ruangan, Sang Avri mampu mendesak musuhnya. Sang Avri memang bukan burung biasa. Dia seperti jelmaan seorang pendekar.


Sedangkan di bawah, Giri Wasa dan Pitaloka keteteran mengimbangi lelaki tua. Bahkan meski Tabib Cipta ikut membantu. Jangan tanya dua prajurit dan dua pelayan. Mereka telah terkapar dengan luka yang parah. Salah satu pelayan tabib bahkan telah meregang nyawa. Membuat Dewi Nirmala menjerit histeris dalam pelukan Selir Arum.


Senyuman sinis terulas di bibir lelaki tua. Tenaga dalam mulai mengalir di tombaknya. Membuat Giri Wasa dan Pitaloka semakin terdesak dan segera ikut mengalirkan tenaga dalam ke pedang mereka. Selir Arum semakin mendekap erat Dewi Nirmala. Dia ingin membawa Sang Ratu pergi, tapi selalu digagalkan oleh lelaki tua.


Plashhhh


Dalam sebuah kesempatan, pukulan tenaga dalam mengenai telak dada Tabib Cipta. Membuatnya jatuh dengan luka dalam yang lumayan parah.


Suara riuh terdengar sayup dari luar bangunan. Para prajurit dan pendekar kerajaan sudah mendekat.


"Sial! Aku harus segera menyelesaikan tugasku!" umpat lelaki tua dalam hati.


Gerakannya semakin cepat. Aliran tenaga dalamnya semakin kuat. Tenaga Giri Wasa dan Pitaloka sudah terkuras habis membuat mereka semakin terdesak. Tanpa sadar, mereka menciptakan celah di dalam kombinasi serangan.

__ADS_1


Plashhh


Bruakkkk


Giri Wasa dan Pitaloka terpelanting ke belakang. Menembus pintu kamar. Dengan luka yang tak remeh. Lelaki tua segera mengejar mereka. Selir Arum bangkit, hendak mengejar musuhnya.


Bersamaan dengan kedatangan empat Nayaka dan lima pendekar kerajaan.


Sayang, tak ada yang menyangka lelaki tua hanya menipu. Dalam gerakan cepat, dia melancarkan pukulan tenaga dalam yang kuat ke arah Dewi Nirmala. Dan dalam gerakan susulan yang tiba-tiba, serangan tenaga dalam mengarah pada sembilan orang yang datang.


"Akhhhhh"


"Gusti Selir!!!"


Bukan. Bukan Dewi Nirmala yang terluka. Tapi Selir Arum. Dirinya sempat berbalik dan melindungi Dewi Nirmala dengan tameng tenaga dalam. Sayang, tenaganya kalah kuat. Tubuhnya terbanting ke lantai. Dewi Nirmala selamat.


"Jangan lari!!"


Seluruh orang yang datang berseru sambil menyerang dengan tenaga dalam. Lelaki tua melompat, menyambar burung hitam. Tanpa didahului oleh cahaya abu-abu, lelaki tua berubah menjadi burung. Terbang, meninggalkan tempat.


"Gusti Selir!" Dewi Nirmala memaksakan tubuhnya untuk turun. Menggapai tubuh Selir Arum yang terbaring.


... \=\=\=\=\=\=\=~~~~\=\=\=\=\=...


Loka Hita melepas pukulan ke sebuah batang pohon yang telah tumbang. Meluapkan amarah dan kekesalan. Janu datang dengan tergopoh-gopoh. Diikuti seorang perempuan.


"Ada apa, Ni? Kenapa Nini marah-marah?!"


"Janu, di mana Kakang Hansa?!"


"Tuan ada di dalam rumah Kakek, Ni."


"Bilang ke Kakang, kita harus segera pulang ke Nala Pura! Jangan ditunda lagi!"


"Tapi, Ni..."


"Janu!" tegas Loka Hita sambil melotot, "Jangan membantah! Cepat bilang ke Kakang! Berikan ini pada Kakang!" Loka Hita menyerahkan segulung lontar.


"Baik, Nini." Janu bergegas berlari. Jangan buat Nini marah kalau tidak ingin tubuh memar.


"Nini," perempuan yang bersama Janu memanggil lembut Loka Hita. Dia salah satu cucu Kakek Wal yang sudah sembuh.


Loka Hita menoleh.


"Izinkan saya ikut Tuan dan Nini. Jadi pelayan pun tak apa, Ni.."


"Apa?!" Loka Hita melotot kesal, "Jangan kira aku tak tahu! Mana ada perempuan yang rela kekasihnya berdekatan dengan perempuan lain yang menyukainya?! Aku tahu, kamu suka kekasihku. Benar, Kemuning?!"


Kemuning menunduk


"Jangan harap aku akan membiarkan kamu mendekati Kakang Hansa! Jangan berusaha merebut apa yang aku punya, Kemuning! Kamu akan kalah dariku!"


"Tapi, Tuan Hansa sudah menganggap saya sebagai adik..."


"Adik?! Hanya adik! Jangan mencari masalah denganku, Kemuning!"


Loka Hita melangkahkan kaki dengan kesal. Tak lupa, dilepasnya sebuah pukulan tenaga dalam ke sebuah batu. Membuatnya pecah dan hancur.


Loka Hita belum mengetahui, tak hanya Kemuning yang merasakan cemburu iti. Ada orang lain. Ada perempuan lain.

__ADS_1


__ADS_2