Legenda Pendekar Rama Parvati

Legenda Pendekar Rama Parvati
Chandra Maitra


__ADS_3

...Ketika sebuah rahasia terbongkar, selalu ada dua pilihan. Menolak atau menerima. Keduanya tak akan mengubah kenyataan. Tapi keduanya bisa mengubah sisi hati....


"Saat kembali dari Nala Pura, Ibunda ternyata telah mengandungku. Mendiang ayahanda tak pernah mengetahui hal ini." Chandra Maitra tersenyum pada dua kakak seayahnya.


...\=\=\=\=\=\=\=\=πππππ\=\=\=\=\=\=\=...


Nala Pura, belasan tahun lalu...


Malam belum sempurna pergi. Pagi dan mentari belum datang. Semburat kegelapan masih menghias langit. Di bawahnya, suara kicau satu-dua burung terdengar lirih. Embun membasahi daun, ranting, dan buah. Beberapa binatang malam telah kembali ke sarang.


"Kau yakin akan pergi, Dhiajeng Kemala? Ini baru malam ketiga setelah pernikahanmu."


"Tentu, Yunda Ratu Erina."


"Sudah kukatakan, jangan panggil aku Ratu Erina. Panggil saja Ayu, seperti Dhiajeng Arum memanggilku."


"Maaf, Yunda Ayu." Kemala menarik nafas panjang. "Bagaimana pun, saya harus pulang ke tempat asal. Saya masih bisa menerima Kanda Satya sebagai pendekar. Tapi, menerima Kanda sebagai seorang prabu di kerajaan besar..."


Sunyi. Tanpa kata-kata, mereka berdua bisa faham. Dan terkadang, dalam dunia ini, banyak hal yang bisa difahami tanpa kata. Tanpa ucapan. Cukup dalam diam.


"Selain itu, saya tak yakin dengan istri-istri Kanda yang lain. Maafkan saya, Yunda. Saya tak bermaksud menjelekkan para selir kerajaan ini."


"Kau benar, Dhiajeng. Tak semua selir seperti Dhiajeng Arum. Menghormati, mengalah, tapi tetap tegas. Ada banyak kecemburuan, persaingan, kekecewaan, bahkan makar dan kelicikan di balik gelar dan kedudukan sebagai istri prabu."


Keduanya kembali diam. Suara kicau semakin bertambah. Semburat fajar mulai terlihat di langit timur. Kemala sangat menghormati Ayu Gantari. Selain karena kedudukan sebagai pemaisuri kerajaan, kakak madunya adalah seorang pendekar yang baik. Setidaknya, itulah yang dirasakan hati selama dua hari saling mengenal. Kata mendiang sang ayah dulu, Kemala memiliki kemampuan istimewa yang sangat langka. Mengenali kebaikan, yang ditujukan padanya, dari hati seseorang.


"Dhiajeng Kemala." Panggilan Ayu Gantari memecah kesunyian awal fajar. "Aku memiliki sedikit rahasia untukmu. Bisakah kau menjaganya untukku?"


"Sebuah kehormatan bagi saya, Yunda."


Ayu Gantari memejamkan mata sejenak. Menambah keyakinan dan menguatkan diri. "Ini rahasia besarku. Bahkan, Kanda Satya tak mengetahuinya. Berjanjilah untuk menjaganya sekuat tenagamu."


"Saya berjanji akan menjaga rahasia itu, Yunda. Sang Penguasa dan semesta alam yang menjadi saksi saya atas janji ini."


"Jati diriku tak seperti yang diketahui oleh orang lain selama ini. Aku bukan putri pendekar Gading.Nama masa kecilku adalah Alisha. Putri tunggal pendekar Mahabala dan pendekar Gayatri, dua pendekar yang sudah lama menghilang. Aku pewaris tunggal jurus pedang sepuluh cahaya dan jurus pedang tiga tingkat. Pewaris berikutnya adalah dua anak kecilku, Rama Wangi dan Ratri Parvati. Hanya mereka yang bisa menguasai dua jurus itu dengan sempurna."


Kemala menatap Ayu Gantari tanpa berkedip. Tak pernah menyangka jika ada rahasia sebesar itu di antara suami dan istri. "Kenapa Yunda mengatakan semua ini pada saya? Bukankah Kanda Satya yang seharusnya mengetahuinya?"


Ayu Gantari tersenyum getir, "Dhiajeng, aku juga tak mengerti kenapa harus mengatakan semua ini padamu. Aku hanya menuruti kata hati kecilku. Hatiku yakin sekali bahwa kelak, rahasia ini akan berguna bagi kita. Entah apalah itu, aku pun tak tahu."


"Ada banyak hal yang dirasakan hati kecil kita. Tapi tak bisa diketahui oleh akal kita. Ayah sering mengatakan hal itu pada saya sejak kecil."


"Terima kasih, Dhiajeng Kemala."


"Ini semua kehormatan bagi saya, Yunda."


Sinar matahari pagi mulai muncul di ujung timur. Menyapa bumi Nala Pura dan seluruh penghuninya. Membuat warna kemerahan indah di langit. Suara kicau burung semakin riuh. Beberapa di antaranya telah terbang di angkasa, mencari jatah rejeki masing-masing.


"Melihat warna merah di langit mengingatkanku pada satu hal, Dhiajeng. Warna itu sangat mirip dengan warna langit saat senja." Ayu Gantari menghela nafas panjang. "Warna dari ajian tiga belas daya milik Kanda Satya."

__ADS_1


"Pasti indah sekali, Yunda." Kemala ikut memandang langit yang bewarna kemerahan.


"Sangat indah. Tapi juga sangat mematikan. Hanya keturunan Kanda yang bisa menguasai. Termasuk putra putrimu kelak, Dhiajeng."


"Saya tak pernah menginginkan putra putri saya menjadi pendekar, Yunda. Biarlah mereka menjalani hidup dengan tentram."


"Kehidupan sebagai pendekar memang dikenal sangat keras. Pertarungan dan pembunuhan. Tapi, Dhiajeng, ketentraman selalu ada di dalam kehidupan ini, selagi hati selalu mengingat Sang Pencipta."


"Maafkan saya, Yunda Ayu." Kemala menunduk. Dia lupa bahwa Ayu Gantari seorang pendekar.


"Tak apa, Dhiajeng. Tapi memang demikian hidup ini. Meski hanya menjadi petani biasa, selalu ada ujian dalam hidup. Ketentraman tak akan dia dapatkan bila hati melupakan Sang Kuasa. Bila hati tetap ditutupi oleh keserakahan dan kejahatan."


"Terima kasih, Yunda. Saya selama ini belajar sastra dan tata krama, tapi malah melupakan hal sepenting itu."


"Manusia sering lupa, Dhiajeng. Maka diperlukan teman baik yang bisa mengingatkan." Ayu Gantari menepuk pundak Kemala. "Aku ingin memberimu sesuatu sebelum kita berpisah."


"Yunda terlalu repot."


"Itu bukan hal yang merepotkan, Dhiajeng. Terimalah ini." Ayu Gantari mengeluarkan sebuah kotak kecil dari ruang kesadarannya. "Aku baru saja membuatnya kemarin. Bukalah."


"Terima kasih banyak, Yunda." Kemala membuka kotak berukiran bunga teratai dari Ayu Gantari. Sebuah hiasan rambut dari emas yang indah. Kalung perak bertahtakan batu bewarna biru laut. Dan beberapa daun yang bertuliskan sesuatu.


"Itu ajian tiga belas daya. Aku menuliskannya dengan mengingat saat latihan Kanda. Suatu saat, mungkin kau membutuhkannya. Kalau pun tidak, anggap saja sebagai hadiah seorang pendekar."


"Mungkin saya tidak menginginkan putra-putri saya menjadi seorang pendekar, Yunda. Namun, entah apa yang akan menjadi taqdir mereka."


"Kalau memang ada yang ingin menjadi pendekar, dengan senang hati akan aku latih, Dhiajeng."


Matahari mulai terbit. Cahaya kemerahan menghilang perlahan. Embun di pucuk dedaunan dan ranting mulai menguap. Kemala dan Ayu Gantari masih berbincang, cukup jauh dari pondok tempat Kemala tinggal dengan Satya dua hari terakhir. Kesibukan sedang berlangsung di pondok tersebut. Beberapa anggota keluarga Kemala dan rombongan sudah datang untuk menjemput pulang. Juga untuk mengetahui makam yang telah meninggal.


Setelah persiapan selesai, mereka memulai perjalanan pulang. Daerah yang jauh menjadi sebab Satya tak bisa mengantar mereka. Perjalanan yang melewati daerah musuh Nala Pura menjadi sebab Satya tak bisa melibatkan pasukan kerajaan. Meski tanpa diketahui siapa pun, prajurit bayang Satya telah diperintahkan untuk mengawal mereka dari jauh. Ayu Gantari juga memerintahkan prajurit bayangnya melakukan hal yang sama. Sebelum pulang, Kemala sudah memberitahu bahwa Satya adalah suaminya. Namun menyembunyikan sosok sebenarnya sang suami. Itu terlalu berbahaya.


Setelah dua minggu melalui perjalanan, rombongan telah melampui dua pertiga jarak. Masih ada waktu seminggu yang harus mereka lalui. Rombongan memutuskan untuk singgah di sebuah bukit dekat perkampungan. Di sanalah, terjadi penyerangan yang mengakibatkan banyak korban. Tepatnya, pembantaian seluruh anggota rombongan di saat matahari terbenam.


Prajurit bayang Satya dan Ayu Gantari tewas saat berusaha menolong Kemala. Sebelum tewas, mereka sempat mengirim pesan melalui hewan masing-masing. Kelelawar dan rubah yang sangat terlatih. Begitu pesan disampaikan, Satya, Ayu Gantari, dan Arum, yang diajak Ayu Gantari, segera ke sana. Menggunakan peringan tubuh untuk menuju tempat mereka menambatkan kuda di luar kota raja. Lalu memacu kuda terbaik mereka dengan sekuat-kuatnya. Setelah sehari semalam memacu kuda tanpa henti satu detik pun, mereka memutuskan untuk menggunakan peringan tubuh. Tak peduli lapar, haus, maupun lelah. Dua hari satu malam kemudian, mereka tiba di tempat kejadian.


Terlambat! Tak ada aura kehidupan di sana. Hanya tersisa bekas pertempuran. Setelah bertanya pada penduduk kampung terdekat, barulah mendapat kabar. Seluruh korban sudah diurus oleh penduduk kampung yang lewat saat akan pergi ke hutan. Mereka diantar oleh penduduk ke pemakaman mereka.


"Tak ada jasad yang utuh, Tuan, Puan. Mereka dibantai dengan begitu kejam. Kami terpaksa memakamkan di satu tempat yang sama." Itu penjelasan tetua desa saat tiba di makam.


"Tak ada yang selamat. Satu orang pun. Seluruh harta mereka masih ada, berarti bukan perampok yang menyerang," lanjutnya.


"Boleh kami lihat harta benda mereka? Kami hanya ingin memeriksanya." Satya meminta pada tetua desa.


"Bukankah lebih baik kalian beristirahat dahulu? Sepertinya, kalian sangat kelelahan."


"Kami akan beristirahat setelah melihat harta mereka. Setidaknya, itu bisa menenangkan kami."


Mereka dibawa ke balai desa. Di salah satu ruangan berpenjaga, harta-harta itu ditempatkan. Ayu Gantari langsung mengenali kalung dan hiasan rambut yang dihadiahkan pada Kemala. Tanpa lama, dia segera memeriksa dua benda tadi.

__ADS_1


"Kanda," desisnya pelan. Ada kesedihan mendalam di matanya. "Ini hadiah dari Dinda pada Dhiajeng Kemala. Ada darah di sini."


Satya ikut memperhatikan lebih jeli ke arah telunjuk Ayu Gantari. Memang ada semburat merah di sana.


"Darah Dhiajeng Kemala," desis Ayu Gantari lirih. Dia baru saja memeriksa aura yang tersisa di sana. "Ada aura kuat lain yang tersisa. Aura hitam..."


Tak ada kejelasan lain. Hanya itu. Kemala telah hilang. Sebentar sekali dia hadir dalam hidup Satya. Di akhir hari, ketiganya kembali ke Nala Pura. Sudah beberapa hari urusan diserahkan pada Caraka.


Selalu ada kejadian dalam kehidupan yang tak bisa ditebak. Sebenarnya, Kemala tak meninggal. Dia selamat. Di detik terakhir, seseorang berhasil menyelamatkannya. Membawanya pergi dari musuh yang mengincar.


...\=\=\=\=\=\=\=πππ\=\=\=\=\=\=\=...


"Selama ini, Ibunda tinggal bersama Paman Guru. Saat diobati oleh beliau, barulah kehamilan Ibunda diketahui. Meski sudah sembuh, Ibunda tak bisa meninggalkan tempat itu karena sedang mengandungku. Saat aku telah cukup umur untuk bisa diajak pergi ke Nala Pura, pemerintahan telah berubah. Prabu Caraka telah menggantikan Ayahanda yang telah meninggal." Chandra Maitra menarik nafas panjang. "Ibunda memutuskan kembali ke tempat Paman Guru. Karena mendapat kabar hilangnya Ibunda Ayu Gantari, Ibunda memerintahkanku untuk berlatih ilmu bela diri di bawah bimbingan Paman Guru. Dengan bantuan beliau, aku bisa menguasai ajian tiga belas daya."


"Lalu, bagaimana kamu tahu kami ada di sini?" Loka Hita belum puas dengan cerita Chandra Maitra.


"Beberapa waktu lalu, kabar Raka dan Yunda tersebar luas. Dua bersaudara pemilik dua jurus pedang lagenda. Dua bersaudara keturunan pendekar Mahabala dan pendekar Gayatri. Aku segera pergi untuk mencari tahu lebih banyak tentang hal itu. Dan, disinilah kita sekarang, Raka. Yunda."


"Bagus! Kamu tidak mengatakan telah menemukan kami sebelum ini, heh?!" Loka Hita mengibaskan tangannya.


"Yunda menyadari keberadaanku?"


"Tentu saja! Bagaimana kamu bisa mengenali kami dengan tiba-tiba?"


"Aku mendapat kabar, prabu Nala Pura dan adiknya-lah keturunan dua pendekar hebat itu. Aku terus menunggu waktu untuk bertemu kalian selama ini."


"Bagus! Kamu memang hebat dalam mengintai, meski itu membuatku mengira kamu salah satu kelompok Ki Sayap Hitam. Aku hampir saja membunuhmu!"


"Maaf, Yunda."


"Sudahlah, Dinda Hita. Kenapa marah? Tidakkah kamu menyambut adik kita?" Arya Wira akhirnya ikut bicara.


"Menyambut? Baiklah, kemarilah!" Loka Hita tersenyum pada adiknya.


Chandra Maitra mendekat. Arya Wira menyambut dengan pelukan, meski sebentar. Dengan lembut, ditepuknya pundak si adik seayah.


"Selamat datang, Adikku."


"Terima kasih, Raka."


Chandra Maitra mendekat ke arah Loka Hita. Tak seperti Arya Wira, Loka Hita malah menyerang adiknya. Pukulan dan tendangan yang keras. Sempat menghindar dua kali, sebelum pukulan keras mendarat mulus di pundak kanan Chandra Maitra. Membuatnya jatuh terduduk dengan wajah penasaran.


"Lemah!" komentar Loka Hita sambil mengibaskan tangannya. Lalu, berjalan menjauh dan pergi ke arah istana.


"Sebaiknya Rayi harus berhati-hati dengan kakakmu itu. Dia sangat kuat." Arya Wira mengulurkan tangannya.


"Baik, Raka. Sepertinya aku harus berlatih lebih keras untuk menghadapinya."


"Sudahlah, mari kembali ke istana. Ada urusan yang harus kita selesaikan."

__ADS_1


Di istana, Angga Perak sudah menunggu. Saat Arya Wira dan Chandra Maitra tiba, dia segera memberi tahukan hal yang terjadi di istana.


__ADS_2