
Sinar matahari pertama menerpa pucuk dedaunan. Menyinari lembut embun di ujung daun. Menemani kicau merdu burung dari hutan. Membersamai dua manusia di tepi hutan.
Pemuda tanggung berwajah tampan dan berbadan kekar. Meski kulitnya tak bewarna cerah. Cenderung coklat gelap. Garis wajahnya sangat tegas. Mata hitam pekatnya sangat menawan. Alis mata yang indah, meski ada sedikit luka di ujung alis kiri. Sangat pendek dan samar. Tapi menyimpan seribu kenangan.
Dia tengah memperhatikan gadis tak jauh darinya. Gadis di awal masa remaja berwajah ayu dan berbadan tegap. Kulitnya cerah seakan jarang tersiram mentari. Kecantikannya semakin elok dengan mata hitamnya. Sama seperti pemuda tadi, dia pun memiliki bekas luka. Bekas luka di dahi kanan atas. Tersembunyi di balik rambut hitam legamnya.
Ya, merekalah Rama Wangi alias Arya Wira. Dan Ratri Parvati alias Loka Hita
Inilah kebiasaan mereka, berlatih sejenak di pinggiran hutan sambil menunggu matahari terbit. Dua pedang kembar selalu setia menemani latihan mereka.
"Sudah cukup, Dinda Hita!" Teriak Arya Wira.
Loka Hita segera menutup latihannya, lantas mendekati kakaknya. Ikut duduk di batang pohon tumbang.
"Jurus sepuluh cahaya sudah kau kuasai seutuhnya. Gerakanmu kini semakin mantap. Untuk pertama kali, gerakanmu tak terbalik lagi," komentar Arya Wira tanpa menatap adiknya.
"Terima kasih untuk bantuan Kakang," ucap Loka Hita tulus. Kakaknya memang lebih menguasai jurus tersebut.
"Hmmm" Arya Wira hanya bergumam pelan. Tapi seulas senyum penuh kemenangan terukir,
"Dinda ternyata harus Kakang bantu," ejeknya lirih.
__ADS_1
Loka Hita melotot sebal, "Enak saja!!! Kakang jangan lupa, gerakan jurus tiga tingkat milik Kakang belum sempurna! Jurus ketiga masih sering lupa!" Balas Loka Hita diikuti senyum sombong.
"Oh, ya?! Kakang tidak lupa, hanya belum hafal" elak Arya Wira
Seekor burung terbang di atas kepala mereka.
"Sudahlah, ayo kembali ke padepokan. Kita tak mau membuat Empu Dipta menunggu, bukan?!" Arya Wira membelokkan pembicaraan
Loka Hita hanya mengangguk, lalu bangkit. Arya Wira mengikuti. Tak lama, mereka berkejaran di sisi sungai yang menuju tujuan mereka. Dengan sedikit peringan tubuh, mereka menikmati permainan ini.
Arya Wira dan Loka Hita sudah tumbuh besar. Beberapa tahun terakhir, mereka tinggal di padepokan Sedayu. Padepokan yang berada tak jauh dari puncak gunung. Dipimpin oleh Empu Dipta, pendekar yang memilih mendidik generasi muda di ketinggian gunung.
Nyai Alisha tinggal di desa tetangga padepokan. Sesekali, ia menjenguk dua putranya. Dan sesekali yang lain, mereka datang menjenguknya di sebuah pondok sederhana.
Itu alasan sang ibunda tak berkenan tinggal di padepokan. Nyai Alisha lebih memilih menjadi seorang penjahit sederhana.
Empu Dipta, Nyai Cempaka, dan penghuni padepokan sangat menerima Arya Wira dan Loka Hita. Saat datang pertama kali, mereka adalah anak-anak ramah dan pintar bergaul. Seiring waktu, terlihat bahwa mereka berbakat untuk menjadi pendekar. Apalagi, saat datang, mereka sudah memiliki banyak ilmu kanuragan dan tenaga dalam yang tinggi.
Kini, sudah bertahun-tahun sejak hari kedatangan mereka di padepokan. Arya Wira dan Loka Hita memiliki kemampuan setara pendekar hebat, meski belum dikenal di dunia persilatan. Apalagi menjadi pendekar yang diperhitungkan jagat persilatan. Mereka memang sering kali turun gunung, menemani Empu Dipta atau menunaikan tugas. Meski Arya Wira lebih sering melakukannya dari pada adiknya.
"Kakang, sepertinya ada tamu," Loka Hita menghentikan jalan. Mereka sudah tak jauh dari padepokan.
__ADS_1
"Mereka dari kerajaan jauh. Kerajaan Nala Pura," timpal Arya Wira.
Mereka bisa melihat empat kuda yang tampak baru saja berlati kencang. Dua remaja tersebut saling memandang. Saling bertanya melalui ekspresi, "ada apa?". Dan tanpa lama, mereka kembali berlari. Untuk mengetahui, hendaknya segera datang.
"Kalian baru tiba?" Sambut wanita berselendang hijau muda saat Arya Wira dan Loka Hita tiba di padepokan.
"Dhiajeng Pitaloka..." Arya Wira tersenyum ramah.
"Siapa yang datang?" Loka Hita segera bertanya.
Wanita berwajah tirus tersebut tersenyum. Ah, selalu saja begini. Dua saudara ini kadang berlainan sifat. Yunda Hita tidak suka basa-basi.
"Prajurit dan utusan dari Nala Pura. Entah ada urusan apa, mereka sedang menemui Paman Guru sekarang." Jelas Pitaloka.
"Sudahlah! Segera pergi ke pondok! Bibi Cempaka sudah menunggu." Lanjut Pitaloka. Dia mengibaskan pelan selendangnya.
Gadis itu bukan murid biasa. Dia keponakan tunggal Empu Dipta. Kedua orang tuanya sudah meninggal sejak usianya masih beberapa tahun. Sebagai paman dari arah ayah, Empu Dipta mengasuh Pitaloka. Karena tak juga mendapat keturunan, Empu Dipta dan Nyai Cempaka, sang istri, mengangkatnya menjadi putri mereka.
Pitaloka sangat berbakat dalam olah kanuragan. Karena ilmu dan kekerabatannya dengan Empu Dipta, dia disegani murid-murid lain. Hal ini membuatnya tak memiliki teman dekat.
Hingga Arya Wira dan Loka Hita datang. Dengan kemampuan dan adab yang luar biasa, Empu Dipta dan Nyai Cempaka mengangkat mereka menjadi putra dan putri. Menemani Pitaloka.
__ADS_1
Mereka pun dekat bagai saudara. Arya Wira menjadi sulung. Loka Hita si tengah, dan Pitaloka si bungsu. Sebenarnya, Loka Hita dan Pita Loka sebaya. Namun Loka Hita menjadi kakak karena ilmunya yang lebih tinggi dari Pitaloka.
Siapa sangka, kedatangan prajurit dari kerajaan Nala Pura akan merubah langkah hidup Arya Wira dan Loka Hita. Merubah perjalanan Rama Wangi dan Ratri Parvati. Juga Pitaloka....