Legenda Pendekar Rama Parvati

Legenda Pendekar Rama Parvati
Pertempuran di Gerbang Istana


__ADS_3

Malam cerah tanpa mendung. Kicau *Sang Avri* membelah derik serangga malam. Arya Wira -Sang Prabu di usia begitu muda- membelai lembut bulu-bulu burung ajaib itu.



"Semenjak Rayi Prabu kemari, *Sang Avri* semakin merdu berkicau. Tak pernah kami mendengar kicau seindah ini." Angga Perak tersenyum.


"Apakah Rayi Prabu sudah memiliki waktu untuk mengunjungi Selir Arum?"



Arya Wira menggeleng, "Rasanya, belum ada, Raka Angga. Atau, haruskah saya menunda beberapa tugas kerajaan?"



"Jangan, Rayi Prabu. Saya rasa, Selir Arum tak akan keberatan bila belum juga bertemu prabu baru Nala Pura."



Di tengah-tengah pembicaraan, *Sang Avri* terbang tinggi ke udara. Melihat hal yang tak biasa itu, Arya Wira dan Angga Perak melompat ke udara. Lantas mengikuti *Sang Avri* hingga gerbang terluar istana. *Sang Avri* hinggap di dahan pohon terdekat dari pos penjagaan.



Seluruh prajurit memberikan hormat saat Arya Wira dan Angga Perak, sang prabu dan maha patih, berhenti. Seekor burung terbang berputar di atas. Warna bulunya yang coklat bersih dan segaris putih di bagian perut membuat Arya Wira terhenyak. Itu Vayu, burung pengantar pesan milik Loka Hita.



Burung itu terbang merendah. *Sang Avri* juga terbang ke arah Arya Wira. *Sang Avri* hinggap di bahu Prabu kerajaan Nala Pura. Sedangkan Vayu masih mengepakkan sayapnya, terbang rendah tapi tak hinggap.


*Hup*!


Arya Wira mengambil pesan yang dibawa Vayu. Setelah merasakan bahwa benda yang dibawa sudah diambil, Vayu kembali terbang tinggi.



"Burung pengantar pesan, Rayi Prabu?" Angga Perak menatap Vayu yang semakin menjauh.



"Iya, Raka. Burung milik adik saya. Mari, kita kembali ke dalam."



"Baik, Rayi Prabu." Angga Perak mengikuti langkah junjungannya.



"Rupanya, adik saya dalam perjalanan kemari. Dia ingin mengunjungi saya dan bertemu keluarga baru saya," Arya Wira menyerahkan pesan itu pada Angga Perak.



Angga Perak membacanya sekilas. Lantas mengangguk. Mereka sudah kembali masuk ke kompleks istana, ke area tempat tinggal Sang Prabu.



"Kapan dia akan sampai, Rayi Prabu?"



"Mungkin, esok hari atau lusa. Sepertinya, surat itu baru saja dibuat, Raka." Arya Wira bangkit.



Angga Perak hanya tersenyum. Dia memang sangat penasaran dengan sosok adik tunggal seorang Prabu. Apalagi, Arya Wira sering mengatakan, oalah kanuragan dan ilmu adiknya lebih hebat.



Saat mereka masih berbincang-bincang, gadis yang menjadi bahan pembicaraan sudah mendekati istana. Loka Hita sudah tiba di Nala Pura. Bahkan, sudah hampir mencapai gerbang utama istana.



Seorang gadis datang dengan berkuda di malam hari. Pedang tersampir di punggungnya. Tentu saja, prajurit jaga memandang penuh curiga Loka Hita yang mendekat. Mata mereka menatap awas tiap gerakan Loka Hita. Lantas menghentikannya di depa gerbang terluar kompleks istana.



"Maaf, Nini siapa? Mengapa datang ke istana di larut malam?" Seorang prajurit menanyai gadis yang mereka curigai.



"Saya Loka Hita, adik Prabu Arya Wira. Saya ingin menemui Kakak saya," Loka Hita menjawab apa adanya tanpa turun dari kuda.



"Maaf, Nini. Bicaralah dengan sopan. Turunlah dari kuda!" tegas prajurit lain.



Loka Hita turun dari kudanya. Mendesah kesal. "Izinkan saya masuk, saya ingin bertemu Kakang Arya Wira!"


__ADS_1


"Maaf, Nini. Ini sudah terlalu larut untuk bertemu dengan Gusti Prabu. Beliau pasti sedang beristirahat, Nini. Sebaiknya Nini menunggu besok pagi saja." tolak prajurit pertama. Tampaknya, dia memiliki pangkat lebih tinggi dari yang lain.



Perseteruan kata terjadi. Loka Hita bersikeras hendak menemui Arya Wira saat itu juga.



"Kami tidak yakin, Nini adik Gusti Prabu Arya Wira. Saat pernikahan, hanya Ibunda beliau yang hadir. Kami tak pernah mendengar Gusti Prabu memiliki adik."



"Tak pernah mendengar bukan berarti tidak ada! Sudahlah, sampaikan saja kehadiran saya pada Kakang Arya Wira! Saya pasti diizinkan masuk!" Loka Hita menajamkan kata-katanya. Dia tetap bersikeras masuk.



Pertempuran kecil terjadi saat Loka Hita melangkah. Memaksa masuk ke istana. Perbuatan yang menyulut amarah para prajurit jaga. Mereka menyerang Loka Hita.



"Ah! Menyebalkan!" desis Loka Hita.



Dia menghindari sebuah pedang yang terayun ke kepalanya. Mau tidak mau, Loka Hita harus meladeni serangan para prajurit jaga.



Sebenarnya, bukan hal yang sulit bagi Loka Hita untuk keluar sebagai pemenang. Namun, Loka Hita tak ingin melukai para prajurit. Dia memilih hanya menghindar. Bahkan pedangnya tak tercabut dari wrangka.



Tak lama, Panglima Mahanta datang. Dia sedang memeriksa pos-pos penjagaan bersama empat pendekar kerajaan dan tiga *Nayaka* (pimpinan sekelompok pasukan kerajaan). Melihat pertempuran kecil di gerbang utama, Panglima Mahanta segera mendekat. Diikuti tujuh orang yang bersamanya.



"Ada apa ini?" suara tegas Panglima Mahanta menghentikan gerakan.



Seluruh prajurit jaga memberikan hormat. Sedangkan Loka Hita menatap Panglima Mahanta, tatapan penuh berbagai rasa. Panglima Mahanta, orang yang berusaha sekuat mungkin menyelamatkan ayahandanya. Pendekar yang setia menemani keluarganya saat menyelamatkan diri.



"Perempuan ini memaksa masuk, Tuan Panglima. Dia ingin bertemu Gusti Prabu Arya Wira dan mengaku sebagai adik beliau. Kami sudah mengatakan agar menemui beliau besok pagi. Tidak malam ini, tapi dia memaksa," lapor salah satu prajurit jaga.




"Benar, Tuan. Saya adik Kakang Arya Wira. Saya ingin menjumpainya sekarang."



"Adik Gusti Prabu?" Panglima mengulang kata-kata Loka Hita.



"Atau, kamu hanya mengada-ada?! Kamu membual?! Mengatakan sebagai adik Gusti Prabu padahal kamu musuh kami?!" salah satu pendekar kerajaan berseru keras.



"Aku tidak membual! Aku memang adik Kakang Arya Wira!" Loka Hita tak kalah berseru. "Aku sudah mengirim surat pada Kakang bahwa saya akan tiba."



"Maaf, Nona. Tapi tak ada berita dari Gusti Prabu. Gusti Prabu juga tak menunggu Nona," Panglima Mahanta berusaha menahan emosinya. Gadis di hadapannya benar-benar keras kepala.



Loka Hita mendengus kesal. Dia tak ingin kembali, dia harus masuk dan menemui Arya Wira. Loka Hita bukan gadis yang mudah menyerah. Apalagi, sampai mundur saat kebenaran ada padanya. Sifat seorang pendekar pilih tanding.



"Sudah pasti kamu hanya pembual! Mata-mata musuh!"



Bersamaan dengan akhir kalimat, seorang pendekar menarik pedang. Tanpa menggubris apa pun lagi, dia menyerang Loka Hita.



Loka Hita segera menghindar. Lantas melenting ke belakang. Mencari medan yang lebih luas. Melihat lawannya bisa menghindar dengan mudah, pendekar tadi semakin geram. Mereka segera terlibat dalam duel. Beberapa saat, posisi yang tak seimbang segera terlihat. Loka Hita mampu membuat lawannya dalam posisi bertahan total. Loka Hita memakai jurus ketiga dari sepuluh cahaya.



Melihat kawan terdesak, tiga pendekar kerajaan lain menyerang Loka Hita. Terjadilah pertempuran berat sebelah. Seorang pendekar wanita melawan empat pendekar kerajaan. Nyatanya, Loka Hita tak kesulitan melawan mereka. Dengan segera, permainan pedangnya mampu mengimbangi jurus-jurus empat lawan.


__ADS_1


Pedang Loka Hita bergerak lincah penuh kekuatan. Kadang mengincar beberapa titik fatal. Sesaat kemudian serangan pedangnya menipu. Gerakan pedang yang mengalir bagai air, tapi kokoh dan tergenggam erat di tangan bagai gunung.



Panglima Mahanta terkesima selama menatap pertarungan. Memuji dalam hati akan kehebatan permainan pedang Loka Hita. Panglima memutuskan untuk tak menyerang. Keraguan menyusup di benaknya, benarkah perempuan itu adalah musuh?! Tapi, permainan pedangnya hanya sekedar melawan. Bukan menyerang.



Bruakkk



Di sela permainan pedang, Loka Hita sempat menendang salah satu pendekar. Serangan telak yang mengenai dada membuat lawan Loka Hita harus puas terbanting ke tanah.



Kini, Loka Hita semakin kesal. Ritme gerakan pedangnya semakin kuat. Loka Hita mulai menyerang. Membuat keempat pendekar pontang panting menghindari ujung pedang lawan mereka.



Melihat keadaan yang semakin genting, Panglima Mahanta akhirnya memutuskan masuk ke arena. Mengambil alih pertarungan empat pendekar kerajaan, memberi perintah agar keempatnya mundur.



Loka Hita menatap tajam Panglima Mahanta. Dia benar-benar kesal sekarang. Tak lagi peduli tujuan utamanya yang hanya ingin menemui Arya Wira. Kali ini, Loka Hita sempurna ingin mengalahkan lawan-lawannya. Sorot mata Loka Hita memancarkan kemarahan.



"Kalian benar-benar menyebalkan! Baik, akan kulayani juga dirimu!" Loka Hita menggeram kesal.



Panglima Mahanta hanya tersenyum kecut. Baiklah, pendekar wanita itu sudah mengatakan keinginannya. Segera, mereka terlibat pertarungan. Kali ini, sangat berimbang. Tak ada yang seutuhnya menyerang atau bertahan total.



Di sisi lain istana, Arya Wira dan Angga Perak masih berbincang. Hingga Arya Wira terdiam tiba-tiba. Dia menajamkan seluruh inderanya.



"Raka, sepertinya ada pertempuran di gerbang istana."



Angga Perak terkesiap, "Pertempuran, Rayi Prabu?!"



"Mari, Raka. Kita lihat." Arya Wira segera melompat ke udara. Disusul Angga Perak, mereka segera pergi menuju gerbang istana.



"Benar-benar luar biasa! Siapa wanita ini?!" Panglima Mahanta membenak di sela pertempuran.



Loka Hita yang semakin kesal, meningkatkan serangannya. Jurus keempat sepuluh cahaya-pun digunakan. Serangan pedang yang semakin cepat. Kali ini, tenaga dalam beberapa kali mengaliri pedang Loka Hita. Penggunaan tenaga dalam yang tiba-tiba dan tak diduga membuat Panglima Mahanta kewalahan. Puncaknya, saat pedang Loka Hita terayun ke pundak kiri sang Panglima. Panglima Mahanta mampu menahan pedang Loka Hita. Tapi tidak dengan tenaga dalam yang dikeluarkan pendekar perempuan tersebut.



**Brakkk**



Panglima Mahanta harus menahan sakit di tubuhnya. Dada Panglima terasa sangat sesak. Darah mulai menetes dari hidungnya.



Loka Hita mengangkat tangannya. Bersiap memukul Panglima Mahanta yang terdesak. Sayangnya, pukulan itu tak terlaksana. Seseorang sudah menampik tangan Loka Hita yang masih terangkat. Refleks, Loka Hita menyerang orang tersebut dengan pedangnya.



"Dinda Hita! Hentikan, Dinda! Ini aku! Dinda juga ingin membunuhku?!"



Loka Hita menghentikan gerakan pedangnya. Menatap tajam lawannya yang baru.



"Ini aku, Dinda." Orang itu kembali mengucapkan kalimat yang sama.



Loka Hita mendengus kesal lantas menyarungkan pedangnya. Meski cemberut, Loka Hita memeluk orang itu...



Seluruh mata terbelalak melihat orang yang dipeluk Loka Hita tak melawan. Malah, membalas pelukan perempuan pembuat onar barusan.

__ADS_1



"***Gusti Prabu?!" Desis semua orang tak percaya. "Berarti, gadis ini***...."


__ADS_2