
"Dinda Hita, ayo! Nanti kita terlambat!" Arya Wira meneriaki Loka Hita yang tertinggal cukup jauh di belakang.
"Dinda malas ke sana!" Loka Hita balas berteriak. Kini, malah menghentikan kudanya.
Arya Wira menarik nafas panjang. Adiknya ini benar-benar merepotkan. Kenapa pula harus ikut?! Arya Wira memutar balik. Mendekati Loka Hita. Sementara Paman Jaka menggaruk kepalanya, heran dengan dua kakak beradik yang berlainan sifat tapi kompak.
"Dinda, kalau begitu istirahat saja. Kakang bisa meneruskan..."
"Dinda tak mau melihat Caraka!" Desis Loka Hita, menukas ucapan kakaknya.
"Hsssttt!!!" Arya Wira mendesah panjang. Dia mengerti perasaan Loka Hita.
"Dinda, ayolah. Kakang mengerti. Tapi, kau tak bisa membenci orang yang belum tentu bersalah."
"Iya. Dinda mengerti. Tak ada bukti bahwa *dia* bersalah kan?! Malah, *dia* lah yang muncul sebagai pahlawan!" Loka Hita menekankan kata "*dia*". Sorot mata nya menggambarkan marah dan kecewa.
"Baiklah, tetap mau ikut atau tidak?! Setidaknya kalau ikut, kau bisa melihat kecantikan Dewi Nirmala. Atau, kau malah jatuh hati dengan Pangeran Angga Perak," goda Arya Wira
Loka Hita mendengus kesal meski hatinya menjadi lebih tenang. Kakang nya selalu bisa meredamkan kemarahannya.
"Ya sudah, ayo!" Loka Hita menggebah kudanya. "Dinda ingin lihat Kakang menangis karena kalah!" Ledeknya
Arya Wira menggelengkan kepalanya. Adiknya benar-benar merepotkan. Arya Wira segera mengikuti Loka Hita
"Ada apa, Nini? Apa kudanya mogok?" Paman Jaka bertanya saat Loka Hita sudah di sampingnya.
"Enggak, Paman," Loka Hita tersenyum, "hanya malas pergi ke sayembara"
"Eh, kenapa, Ni? Nini ndak suka Den Arya Wira jadi raja?" Paman Jaka menggaruk -*lagi*- kepalanya.
"Bukan gitu, Paman. Hita nggak mau malu kalau sampai Kakang Wira kalah."
"Emang, Den Arya Wira bisa kalah? Aden Arya Wira 'kan hebat?"
"Bisa aja, Paman. Kakang Wira sering kalah dari Hita." Loka Hita tersenyum penuh kemenangan.
"Beneran, Den?" Paman Jaka menoleh ke belakang.
Arya Wira hanya tertawa. Hatinya membenarkan ucapan Loka Hita. Jurus sepuluh cahaya dan jurus tiga tingkat sudah dikuasai dengan sempurna oleh adiknya. Sementara dirinya belum menguasai seutuhnya jurus tiga tingkat. Jangan tanya soal aji tiga belas daya. Dia baru menguasai separuhnya. Sementara Loka Hita hampir menyempurnakannya.
\=\=\=\=\=\=\=
Tanah lapang di dekat kompleks istana sudah ramai saat rombongan Arya Wira sampai. Penjagaan sangat ketat. Sebuah panggung berhiaskan kain indah dan bebunga berdiri di salah satu sisi tanah lapang. Panggung keluarga kerajaan dan para punggawa. Di depan panggung itu, hanya terpisah dua baris pasukan khusus, sebuah area pertarungan terbentang. Dibatasi oleh tonggak-tonggak kayu dan tali temali. Beberapa pasukan khusus berjaga di sudut-sudutnya. Di situlah area pertarungan akan dilaksanakan.
__ADS_1
Sementara itu, di seberang panggung keluarga kerajaan, berjarak oleh area pertarungan, panggung lain terpasang. Panggung yang lebih pendek dan sederhana. Tempat para pangeran dan beberapa pendekar peserta sayembara berada, *bila peserta menginginkannya*. Rombongan Arya Wira berbaur dengan para penonton. Berdiri di luar area. Beruntung, area pertarungan berada di tanah yang lebih cekung dari sekitar. Mereka lebih memilih melihat dari kerumunan penonton. Sama seperti beberapa pendekar lain. Mereka tak suka berada di panggung peserta.
Tak lama, rombongan keluarga kerajaan datang. Disusul panglima kerajaan dan para punggawa.
Prabu Caraka datang dengan pakaian kebesarannya, tampak gagah dan berwibawa. Ditemani Sang Pemaisuri yang anggun dan memakai pakaian indah. Saat mereka menaiki panggung, Loka Hita menatap tajam mereka. Tatapan itu berubah saat Pangeran Angga Perak menaiki panggung. Pemuda sebaya dengan Arya Wira. Gagah dan menawan dengan baju sederhana, baju khas seorang pendekar. Loka Hita menarik nafas. Gagah sekali pangeran itu.
Dan seluruh manusia terdiam saat Dewi Nirmala menaiki panggung. Dia datang dengan tandu bertirai tebal, membuatnya tak terlihat hingga saat turun. Rambut hitamnya tersanggul indah dengan untaian bunga. Wajahnya memang tertutup kain, tapi rona kecantikan tetap terpancar. Gaunnya sederhana meski anggun dan elok. Bahkan, Arya Wira harus menghela nafas.
Beberapa kata sambut diucap oleh Prabu Caraka dan panglima kerajaan. Lalu segera lah, sayembara itu dimulai.
Pertama, peserta harus bisa membuat *Sang Avri*, burung kerajaan Nala Pura, tenang dalam belaian. Sang Avri bukan burung biasa. Dia akan berkicau resah dan nyaring saat seseorang yang memiliki ilmu sihir berada di dekatnya.
Kedua, peserta harus mengalahkan panglima dan Pangeran Angga Perak. Terserah si peserta, siapa yang akan dia lawan terlebih dahulu. Meski sebenarnya, para punggawa ingin agar Pangeran Angga Perak-lah yang dilawan terlebih dahulu. Pangeran Angga Perak memiliki ilmu di bawah sang panglima, meski hanya berselisih sedikit.
Beberapa saat, ada sepuluh orang gagal dalam babak pertama. Mereka ternyata memiliki ilmu sihir, meski sangat sedikit. *Sang Avri* tak kan tenang. Ia bukan burung biasa.
Namun, hingga matahari sudah tergelincir. Hari sudah sangat petang, tak ada seorang pun yang mampu mengalahkan dua jagoan hebat kerajaan. Hanya ada tiga orang yang berhasil mengalahkan jagoan pertama yang mereka tantang. Meski kalah saat bertarung dengan jagoan kedua. Yang lain tak mampu mengalahkan jagoan pertama yang mereka tantang.
Sayembara diakhiri. Esok akan dilanjutkan. Terlalu banyak pangeran dan pendekar yang ingin memperistri Dewi Nirmala. Atau, menjadi raja di Nala Pura.
\=\=\=\=\=\=\=
"Ah!" Loka Hita melempar ranting ke api unggun.
"Ada apa, Ni?" Paman Jaka menatap bingung Loka Hita.
Selama bekerja pada Nyai Alisha, Paman Jaka memang jarang berinteraksi dengan dua putra-putri majikannya. Apalagi, tak ada pekerja yang bermalam di rumah Nyai Alisha. Dan saat kedua buah hatinya berada di rumah, sebagian besar pekerja diliburkan.
"Kesal, Paman. Sayembara itu tak langsung selesai," Loka Hita menjawab ketus.
"Namanya juga berhadiah putri cantik, Ni. Pasti banyak yang ikut,"
Loka Hita menghela nafas. Sebenarnya, bukan ini alasan kekesalan dirinya. Tapi sedari memandang Prabu Caraka, luka itu selalu terngiang. Kenangan bersama ayah kembali datang. Dan Loka Hita sangat kesal. Marah. Dan, sedih tak berperi.
Arya Wira mengetahui alasan kekesalan adiknya. Karena itulah, dia memilih diam tak bersuara. Biarlah, dia hanya perlu mengawasi. Jangan sampai Loka Hita kelepasan bicara, membuat Paman Jaka mengetahui semua.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Kakang Rama!!!!!" Seorang gadis kecil berlari riang, menghindari tangkapan bocah lelaki yang mengejarnya.
__ADS_1
"Ayah!" Si gadis berhambur kepada lelaki dewasa yang menunggunya. Lelaki itu segera memeluk gadis kecilnya.
"Kakang Rama nakal!" Lapornya
"Dinda Ratri yang mulai!!!" Sanggah si bocah laki-laki.
Si ayah tertawa melihat dua putranya bermain. Andai dia memiliki lebih banyak waktu. Sayang, waktunya telah tersita banyak untuk urusan lain.
"Rama! Ratri! Jangan ganggu ayah kalian!" Seseorang mendekat.
Wanita cantik berambut hitam legam yang sedikit tergulung. Beberapa bunga melati menghias kepala, membuat rambutnya semakin terlihat hitam. Senyum teduhnya terulas di bibir merah merona nya.
"Tidak, Dinda," si ayah menggelengkan kepala. "Mereka tak mengganggu. Lagi pula, sudah lama saya tak bermain dengan mereka."
Wanita itu tersenyum. Itu berarti, suaminya sedang memiliki banyak waktu untuk keluarga kecilnya. Andai, dia memiliki lebih banyak waktu....
Si wanita, Nyai Alisha, memilih duduk di dangau indah. Memperhatikan suaminya bermain dengan putra putri mereka. Aroma bebunga menyeruak.
Kicau burung merdu terdengar. Burung peliharaan si ayah.
Seekor elang terbang di angkasa. Memperhatikan keluarga kecil yang tengah berbahagia.
"Ratri, coba kau tunjukkan permainan pedangmu, sayang" pinta si ayah
Ratri Parvati kecil menganguk senang. Usianya masih kecil. Tapi kepandaian bela dirinya sangat memukau. Hampir menyamai kakak nya sendiri. Pedang yang dia gunakan adalah pedang kecil hadiah si ayah beberapa bulan silam. Si ayah tersenyum bangga melihat kemampuan putri kecilnya. Pastilah saat dewasa dia menjadi perempuan kuat. Tak salah dirinya memilih Alisha sebagai istri dan menyerahkan pengasuhan putra putri mereka padanya.
Andai si ayah mengetahui, dia tak pernah bisa melihat putrinya tumbuh dewasa. Bahkan, masa remaja putrinya takkan dia saksikan. Beberapa hari lagi, peristiwa itu akan tiba. Beberapa hari lagi, dia harus rela berpisah dengan orang-orang yang dicintainya. *Beberapa hari lagi*....
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Loka Hita menarik nafas panjang. Pandangannya teralih dari gemintang, ke arah api unggun. Paman Jaka sudah terlelap dengan dengkurannya. Arya Wira juga terlelap dengan bersandar pohon.
Kenangan masa kecil membuat Loka Hita tak bisa tidur. Dia sangat rindu ayahnya. Rindu canda tawa dengan ayah dan ibunda, meski sangat jarang. Ayahnya sangat sibuk. Meski tetap memperhatikan perkembangan dirinya dan kakaknya, Arya Wira.
Baiklah, lebih baik dia beristirahat. Esok sayembara akan dilanjutkan. Semoga, kakaknya mendapat yang terbaik.
Sungguh, Loka Hita sangat ingin kakak nya bahagia. Namun, dia pun belum mampu menjalin keluarga dengan Prabu Caraka. Orang yang selama ini dia yakini, termasuk orang-orang di balik meninggal nya sang ayah. Meski tak ada bukti yang didapatnya, Loka Hita selalu meyakininya.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Mohon Krisannya ya, saya masih belajar.
✓ jangan lupa vote dan like nyaaa
✓dukung saya terus ya:)
✓saya usahahkan up tiap hari
✓komen, terutama kritik dan saran, sangat saya nanti
__ADS_1
Terima kasih