
Malam Sebelumnya.....
Mendung bergelayut di langit. Titik gerimis mengguyur pondok Selir Arum. Malam yang cukup tenang. Selir Arum sedang di belakang pondok, menikmati titik-titik kecil air hujan. Dua muridnya dan Pitaloka sedang membaca kitab berisi petuah hidup di dalam pondok.
Ketenangan itu berubah saat tiga panah melesat cepat. Selir Arum bisa menghindar dengan mudah, dia memang memiliki kemampuan kanuragan. Sebentar kemudian, lima anak panah kembali datang. Begitu kaki Selir Arum mendarat, tiga sosok berpenutup wajah muncul. Di antara mereka, tak ada aura prajurit bayang Sang Prabu. Hal yang sangat aneh.
"Siapa kalian?" Selir Arum tetap tenang meski ketiga sosok sudah menghunus berbagai senjata.
"Masih bertanya saat nyawa akan melayang. Sambut saja kematianmu!" Sosok bersenjatakan tombak panjang menyerang.
Selir Arum sudah lebih dari siap untuk menghindari serangan. Melihat serangan kawan bisa dihalangi, sosok lain menyerang dengan kapaknya. Sebelum kapak mendekati sasaran, sebuah tongkat menahannya.
"Dasar pengecut, beraninya menyerang dari belakang!" Cecar Pitaloka yang sudah berada di arena. Aura pertarungan bisa dirasakannya dari dalam rumah.
"Biar saya hadapi mereka, Gusti Selir," Pitaloka segera menyambut serangan sosok bertombak.
Selir Arum memilih mundur, dua muridnya segera melindungi. Sementara tiga penyerang dihadapi Pitaloka sendirian. Kemampuan anak angkat Empu Dipta memang patut diperhitungkan. Gerakan tongkat (ingat, dia bukan pendekar berpedang) sangat serasi dengan pukulan tenaga dalam dan kelincahan tubuh. Tak butuh waktu lama, tiga penyerang sudah terjajar ke belakang dengan luka yang lumayan parah. Dalam sebuah kesempatan, salah satu penyerang menyebarkan bubuk hijau ke udara. Asap hijau pekat segera memenuhi udara.
"Awas, Pitaloka! Racun!" Seru Selir Arum.
"Dasar pengecut! Jangan lari!" Saat asap hijau mulai menipis, para penyerang sudah tak terlihat. Pitaloka segera melompat dan mengejar mereka.
Beberapa waktu menunggu, Selir Arum merasakan sebuah aura yang dia kenali beberapa waktu terakhir, mendekat. Aura itu berhenti di balik rerimbun pohon hutan.
"Kalian masuklah, ada urusan yang harus aku lakukan. Teruskan bacaan kalian!"
"Baik, Guru," kedua murid segera memberikan hormat dan masuk kembali ke rumah.
"Keluarlah! Mereka sudah masuk!" seru Selir Arum.
"Salam dan hormat saya, Gusti Selir. Semoga kesejahteraan meliputi kita semua."
"Salam, prajurit bayang. Ada apa?"
"Dalam perjalanan kemari, saya merasakan aura Pitaloka menjauhi tempat ini. Mengapa Pitaloka pergi dari sini, Gusti Selir?"
"Ada tiga orang menyerang baru saja. Pitaloka sedang mengejar mereka. Mereka bukan orang suruhanmu?"
"Ampun, Gusti Selir. Mereka bukan orang suruhan hamba."
"Semakin lama, Pitaloka semakin mencurigakan. Setelah bertemu seseorang di malam hari, beberapa kali dia pergi dan tidak mengejarmu. Kau juga melaporkan dia sering pergi ke dalam hutan lebat," Selir Arum memejamkan matanya sejenak. "Kemarilah!"
Prajurit bayang mendekati Selir Arum. Selir Arum menarik nafas panjang, lalu menyalurkan hawa murni ke tubuh prajurit bayang di depannya. "Selama beberapa waktu, kamu bisa menutupi auramu dengan auraku. Kamu bisa menggunakannya untuk menyelidiki Pitaloka. Sekarang, cepat ikuti dia!"
"Daulat, Gusti Selir." Prajurit bayang segera pergi mengikuti arah Pitaloka.
Malam itu pula, Selir Arum mengirim pesan pada Arya Wira. Kali ini, Selir Arum sangat yakin, Pitaloka akan pergi lama untuk berpura-pura mengejar penyerang. Seperti sebelum-sebelumnya.
Esok hari, prajurit bayang mengirim pesan pada Arya Wira. Dia mengetahui ke mana Pitaloka pergi setelah bisa mengikuti dengan bantuan aura Selir Arum. Pitaloka akan kembali ke istana dan menemui si ahli racun, Ki Grenda.
Setelah mendapat kabar dari Selir Arum dan prajurit bayangnya, Arya Wira segera menuju wisma tamu. Sementara Loka Hita dan tiga murid Sedayu tak percaya meski tetap mengikuti Arya Wira. Maha patih Angga Perak, Panglima Mahanta, Nyi Sannaha, Ki Braja Nanda, dan Paman Jaka juga mengikuti Prabu Nala Pura tersebut.
Suasana wisma tamu tetap tenang seperti biasa. Para pelayan dan pekerja istana tetap melakukan tugas seperti biasa. Beberapa petinggi kerajaan yang sedang menginap di sana (karena ada urusan), juga terlihat tenang. Pun bangunan tempat Pitaloka menginap selama ini, tetap tenang seperti biasa.
"Sebentar," ucap Arya Wira tiba-tiba. Menghentikan langkah semua orang yang mengikutinya. Mereka berada tepat di depan bangunan tempat Pitaloka menginap.
"Saya akan menemui seseorang." Tanpa menunggu jawaban, Arya Wira sudah melenting ke samping bangunan.
"Ada yang masuk kemari, Paman? Bibi?"
"Ada, Gusti Prabu," Paman Jalak dan Bibi Selasih menjawab bersamaan. Ya, mereka lah yang ditemui Arya Wira.
__ADS_1
"Dua prajurit meminta seorang dayang untuk membuka pintu kamar Nona Pitaloka menjelang terbitnya matahari."
"Terima kasih, Paman, Bibi. Silahkan kembali bekerja."
Arya Wira segera kembali ke depan bangunan. Angga Perak dan Panglima Mahanta sama-sama menduga, Sang Prabu baru saja bertemu mata-mata pembawa kabar.
"Kita masuk, sekarang," komando Arya Wira.
Di depan kamar Pitaloka, rombongan berhenti sejenak. Arya Wira dan Loka Hita memejamkan mata. Meraba udara dengan insting dan tenaga dalamnya. Mencari jejak aura tenaga dalam yang tertinggal.
"Dia benar-benar datang, Kakang," Loka Hita lebih dahulu membuka mata.
"Benar. Dia masuk ke dalam." Arya Wira segera membuka pintu dengan hati-hati.
Kosong. Seluruh sudut kamar Pitaloka kosong. Tanpa diperintah, mereka semua memeriksa seluruh ruangan, selain Nyi Sannaha dan Ki Braja Nanda.
"Guru, adakah petunjuk?" Loka Hita akhirnya memilih bertanya setelah memeriksa beberapa sudut.
"Kegelapan sangat membantu untuk menutupi banyak hal." Nyi Sannaha hanya mengucapkan sebaris kalimat itu sambil tersenyum tipis.
"Kegelapan? Bagian kamar yang manakah yang tak disentuh cahaya, Kakang?"
Arya Wira mencoba mengingat bagian-bagian kamar. Tak lama, Arya Wira mengetukkan kaki ke beberapa sudut lantai. Seulas senyum tersungging di wajah Arya Wira beberapa saat kemudian. Tangan kanannya bergerak, membentuk bola tenaga dalam.
Blaaarrrr
Sebelum Arya Wira menghantamkan bola tenaga dalamnya, lantai di dekat jendela sudah meledak. Dalam waktu yang begitu cepat, tiga bayangan keluar dari dalam lantai. Sebelum ada yang menghentikan, ketiganya sudah melompat ke jendela. Tak mau kehilangan jejak, semua rombongan Arya Wira segera mengikuti.
Plashhhhhh
Sreekkk
Pukulan tenaga dalam yang keras mengejar tiga bayangan. Demi melindungi diri, ketiganya berhenti dan menapak tanah kembali.
"Aku masih tak yakin dengan semua ini, Dhiajeng," Di samping Loka Hita, Arya Wira berdiri sambil menggelengkan kepala. "Bersekutu dengan musuh untuk membunuh istriku."
Pitaloka tersenyum, senyum yang tak pernah dilihat oleh Arya Wira maupun Loka Hita. Di kanannya ada seorang lelaki berambut gondrong, Ki Grenda si ahli racun. Di kirinya ada seorang pria bertopeng, Merpati Hitam.
"Kau orang yang disebut sebagai murid Ki Sayap Hitam, benar bukan?" Loka Hita menatap tajam Merpati Hitam. Teringat pertarungan mereka saat di hutan perawan. Juga ucapan salah satu pendekar yang mengatakan bahwa dia adalah murid Ki Sayap Hitam.
"Ingatanmu sangat kuat, Nona," Merpati Hitam tersenyum di balik topengnya.
"Kamu jahat sekali, Pitaloka," Loka Hita menoleh lagi pada Pitaloka.
"Jahat? Kamu tak mengerti sama sekali, Loka Hita. Kamu dan Arya Wira lah yang jahat. Mengambil semuanya dariku!"
"Jika kami mengambil sesuatu darimu, kenapa malah membunuh istriku, Dhiajeng?" Arya Wira menyahut.
"Dhiajeng? Hentikan ucapan itu, Wira! Aku bukan lagi adikmu." Di ujung kalimat, Pitaloka langsung menyerang Arya Wira dengan tongkatnya.
Sedetik kemudian, Merpati Hitam menyerang Loka Hita. Sedangkan Ki Grenda memilih diam di sudut arena, juga yang lain.
"Kemampuanmu sangat meningkat, Nona," ucap Merpati Hitam di tengah-tengah pertarungan.
"Sayangnya, kemampuanmu semakin menurun. Selain kemampuan yang meningkat, aku juga sudah mengetahui caramu bertarung, penyihir!"
Dalam hatinya, Merpati Hitam membenarkan ucapan Loka Hita. Dia berhasil melukai Loka Hita hanya di awal pertarungan. Di pertarungan kedua dan selanjutnya, dia memang selalu kalah. Bahkan terluka parah.
Duarrrrr
Ledakan akibat benturan dua tenaga dalam menggelegar. Loka Hita dan Merpati Hitam mundur dan menatap kawan masing-masing. Pitaloka dan Arya Wira sama-sama terjajar ke belakang. Hanya saja, Pitaloka terjatuh dan mengeluarkan darah.
__ADS_1
"Menyerahlah, Dhiajeng," Arya Wira berusaha menghentikan pertarungan. Bagaimana pun, rasa sayang sebagai kakak tetap ada.
"Kemampuanmu benar-benar luar biasa, Arya Wira. Tapi, kamu benar-benar bo doh!" ejek Pitaloka sambil berdiri. "Kamu baru saja bisa mengetahui aku ada di balik kematian Dewi Nirmala. Tapi, sudahkah kamu tahu selainku?" Pitaloka tertawa getir.
"Angga Perak, kamu terlalu polos untuk mengatakan bahwa hanya aku yang terlibat. Tidakkah kamu mencurigai keluargamu sendiri?"
"Apa maksudmu?" Angga Perak maju beberapa langkah serta mencabut pedangnya.
"Hahahaha," Pitaloka tertawa keras, "Kamu benar-benar polos, Angga Perak. Tentu saja, bukan hanya aku yang menginginkan kematian adikmu itu! Selain aku, ada anggota keluargamu yang memudahkan semua rencana ini,"
Suasana menjadi sepi. Tak ada yang tahu, jujurkah ucapan Pitaloka? Adakah penghuni istana yang terlibat pembunuhan Dewi Nirmala? Atau, ini adalah hanyalah strategi adu domba?
"Selamat tinggal!" Merpati Hitam tiba-tiba melompat, diikuti Pitaloka yang menyambar Ki Grenda. Lari dari area istana kerajaan.
Arya Wira dan Loka Hita langsung mengejar, diikuti yang lain. Dengan cepat, Arya Wira dan Loka Hita berhasil mencegat ketiga musuh. Tanpa bisa dihindari, mereka kembali saling berhadapan di atas tanah. Tak begitu jauh dari istana.
"Kalian benar-benar pengecut!" seru Loka Hita.
"Tidak, Yunda sayang," Pitaloka tersenyum meremehkan, "kami hanya tak ingin bertarung di istana. Kalian bisa saja menyerang dengan bantuan para prajurit. Di sini, kita bisa bertarung dengan lebih leluasa."
Selesai berkata, Pitaloka langsung menyerang Arya Wira. Sedangkan Merpati Hitam diserang oleh Panglima Mahanta. Loka Hita memilih menyerang Ki Grenda. Belum juga Loka Hita mendekat, tiga pendekar datang dan memotong serangannya. Mereka-lah yang menyerang Selir Arum semalam.
"Dasar pengecut! Kalian beraninya keroyokan!" umpat Angga Perak dan segera membantu Loka Hita, diikuti Giri Wasa.
Arya Wira dan Loka Hita menggunakan satu jurus pedang yang sama. Jurus pedang sepuluh cahaya. Hanya saja, Arya Wira menggunakan bagian ke empat. Sedangkan Loka Hita menggunakan bagian ke dua. Selain itu, mereka memilih mengalirkan tenaga dalam ke bilah pedang. Membuat musuh keduanya segera terdesak.
"Kau benar-benar menyebalkan, Arya Wira. Harusnya, aku juga membunuhmu!" Pitaloka meningkatkan serangan tongkatnya.
"Kenapa kau berubah, Dhiajeng?"
"Kau yang membuatku berubah, Arya Wira!"
Saat semua masih bertarung, Ki Grenda melemparkan segenggam serbuk racun ke arah orang-orang yang tak terlibat pertarungan.
"Awas, racun!" seru Nyi Sannaha cepat.
"Tutup mata!" imbuh Ki Braja Nanda segera.
Secepatnya, Ki Grenda juga melempar sebotol kecil racun ke arah Pitaloka dan Merpati Hitam. Mereka menangkapnya sambil melompat ke belakang, membuat jarak dengan lawan masing-masing. Dalam gerakan cepat, mereka membuka penutup botol dan melemparkannya ke arah lawan. Tangannya mengibas cepat, membuat angin mendorong racun yang dilemparkan.
Arya Wira memilih menutup mata dan mundur. Panglima Mahanta juga memilih menghindari racun. Saat itulah, Pitaloka dan Merpati Hitam menyambar lengan Ki Grenda. Lalu melompat untuk lari.
Plashhhhh
Serangan tenaga dalam yang kuat menghentikan pelarian Pitaloka dan Merpati Hitam. Mereka terpaksa kembali mendaratkan kaki ke tanah untuk menghindari serangan. Lewat sedetik, tiupan angin yang terbentuk oleh tenaga dalam, menyapu seluruh area. Menerbangkan racun buatan Ki Grenda.
"Benar-benar pengecut! Menyerang dengan racun dan meninggalkan pertarungan!"
Suara yang penuh wibawa terdengar. Menghentikan semua pertarungan dan gerakan. Membuat wajah-wajah saling memandang. Siapa yang akan datang?
"Hei, tampakkan dirimu! Hanya berucap tapi dirimu juga pengecut yang bersembunyi!" Pitaloka berucap lantang.
Srekkk
"Aku di sini, Nona." Sebuah bayangan melesat dan berhenti di dekat area pertarungan. Seorang pemuda berwajah bersih dengan mata tajam yang indah. Pakaian seorang pendekar membalut tubuhnya. Wajah dan suaranya menunjukkan bahwa umurnya jauh di bawah Arya Wira. Juga di bawah Loka Hita.
"Siapa kamu, bocah? Beraninya ikut campur urusanku!" bentak Pitaloka.
"Salam, Nona. Nama saya Chandra Maitra," pemuda itu tersenyum ramah. "Saya tidak mencampuri urusan Nona. Saya hanya membantu Raka Wira dan Yunda Hita. Maafkan saya jika sekarang saya menjadi musuh Nona."
Arya Wira dan Loka Hita saling menatap, "Raka Wira? Yunda Hita?" desis mereka bersamaan.
__ADS_1
"Siapa pemuda belia ini?" Itulah pertanyaan yang memenuhi benak Loka Hita dan Arya Wira.