Legenda Pendekar Rama Parvati

Legenda Pendekar Rama Parvati
Pangeran Mahkota Nala Pura


__ADS_3

Nyai Alisha tersenyum, mengusap lembut kepala putranya. Buah hatinya datang membawa kabar kemenangan.



"Wira, adikmu sedang berkelana. Dia belum siap menjadi bagian dari keluarga kerajaan. Biarkan lah, suatu hari nanti dia pasti pulang. Menjengukmu."



"Dinda Hita?!" Arya Wira memandang heran ibundanya.



Nyai Alisha mengeluarkan sebuah surat dari balik jubahnya. Arya Wira membacanya, lantas mengangguk-angguk. Surat dari Loka Hita, pastilah adiknya mengirimnya melalui burung pengantar pesan yang memang selalu dibawa oleh nya.



Dalam suratnya, Loka Hita menyampaikan kemenangan kakaknya. Lalu berpamitan akan berkelana seorang diri. Dia belum siap menjadi bagian dari kerajaan Nala Pura. Dia masih ingin bebas, menjelajah banyak tempat. Suatu saat, dia *pasti* akan menjenguk keluarganya.



"Nah, sekarang tenanglah. Kemampuan adikmu lebih dari cukup untuk berkelana seorang diri," hibur Nyai Alisha sambil memasukkan kembali suratnya.



"Ibunda, bolehkah Wira bertanya sesuatu?"



Nyai Alisha mengangguk.



"Mengapa Ibunda memakai topeng? Bagaimana bila Panglima Mahanta bertanya?"



Nyai Alisha memang memakai topeng separuh wajah. Menutupi sekitar mata dan hidung. Sedangkan bagian bawah wajah tetap terbuka. Perlahan, Nyai Alisha membuka topengnya.



Arya Wira tercenung. Ada bekas luka cukup besar. Melintang di dahi kiri, atas mata, hingga bawah mata, sejajar dengan hidung. Bekas luka itu tertutup sempurna dengan topeng.



"Bekas luka saat Ibunda melawan perampok beberapa hari yang lalu," Nyai Alisha mendekatkan wajahnya ke telinga Arya Wira,


"Sengaja Ibunda keluar di saat-saat mereka bekerja. Juga sengaja membiarkan mereka menggoreskan luka cukup dalam di wajah Ibunda. Luka ini bisa menjadi alasan Ibunda memakai topeng. Menyembunyikan wajah dari orang-orang yang mungkin mengenal Ibunda," bisiknya pelan.



Arya Wira terbelalak. Sebesar itukah kesungguhan Ibunda untuk pergi dari *kehidupannya terdahulu*?! Hingga rela melukai wajahnya sendiri.



"Tak perlu risau, luka ini sudah diobati tabib desa. Ibunda tahu, luka ini tak separah tampangnya," Nyai Alisha menepuk pundak anaknya.



Arya Wira mengangguk. Berharap agar Panglima Mahanta dan rombongan tak mengenali ibundanya nanti. Saat Ibundanya masuk ke dalam pondok untuk menemui beberapa pekerja, Arya Wira menatap langit. Benaknya mengingat hari kemenangan dirinya dalam sayembara.


\=\=\=\=\=\=\=


Hari itu, setelah menerima ucapan selamat dari Prabu Caraka dan para punggawa, Arya Wira mencari wajah Loka Hita. Namun, tak ditemukannya wajah ayu adiknya di dekat Paman Jaka. Arya Wira sangat ingat, saat dia masuk arena, Loka Hita masih menonton di samping Paman Jaka. Kini, hanya terlihat Paman Jaka yang bersorak bahagia. Di mana adiknya?!



"Arya Wira," panggilan dari Panglima Mahanta membuatnya menoleh. "Upacara pernikahan akan dilaksanakan secepatnya. Kau yang akan mengabari keluargamu? Atau, kami yang akan mengirim utusan?"



"Izinkan saya menyampaikan kabar ini pada keluarga saya, Panglima." Arya Wira menganguk hormat.



"Baiklah. Tapi biarkan beberapa prajurit dan utusan istana mengawalmu," Panglima Mahanta memberi usul.



"Daulat, Panglima," Arya Wira memberikan hormat seorang pendekar.



Panglima Mahanta tersenyum. Sebentar lagi, dia lah yang harus memberikan hormat pada pemuda di hadapannya. Dia akan menjadi menantu Sang Prabu. Apalah lagi bila pemuda ini menjadi Rajanya. Menjadi seorang Prabu di Nala Pura.


__ADS_1


"Izinkan saya menemui keluarga saya yang ikut serta, Panglima," pinta Arya Wira.



"Kau boleh menemui mereka setelah keluarga Sang Prabu kembali ke istana," Panglima Mahanta menunjuk keluarga kerajaan yang mulai meninggalkan panggung. Namun, Pangeran Angga Perak mendekati Arya Wira dan Panglima Mahanta.



"Arya Wira, kau tak ingin melihat wajah adikku Dewi Nirmala?"



Arya Wira menggeleng pelan, "Biarlah saya menatapnya setelah kami menjadi suami istri, Pangeran. Sekarang, saya hanyalah rakyat biasa yang tak berhak menatap wajah Tuan Putri," jelas Arya Wira.



Pangeran Angga Perak tersenyum bangga. Calon suami adiknya benar-benar istimewa. Tak hanya kuat, dia pun sangat beradab.



Selepas kepulangan keluarga istana, Arya Wira menemui Paman Jaka dengan dikawal beberapa prajurit dan pendekar khusus. Juga ditemani Panglima Mahanta dan Pangeran Angga Perak. Paman Jaka menyambut dengan senyuman bahagia. Hingga hampir lupa tidak memberikan hormat pada Panglima dan Pangeran.



"Di mana Dinda Hita, Paman?"



"Maaf, Den. Saya tak menjumpai Nini Loka Hita. Kudanya bahkan sudah tak ada. Hanya saja, ada ini di bawah pelana kuda Aden," Paman Jaka memberikan beberapa lembar daun yang tergores.



Itu bentuk surat yang sering dibuatnya bersama Loka Hita saat masih di hutan. Surat pendek.



"*Maaf, Kakang. Hita pergi dulu. Hita akan sampaikan ini pada Ibunda. Salam, Hita*."



Arya Wira menarik nafas sambil menggelengkan kepala. Pasti Loka Hita pergi. Loka Hita tak mungkin mendahuluinya pulang. Entahlah, Arya Wira tak bisa menebak suasana adiknya saat dia memenangkan sayembara tadi.




Setengah hari sebelum rombongan tiba di perbatasan desa, Arya Wira menemui Panglima Mahanta. Meminta izin untuk menemui ibundanya terlebih dahulu, sebelum rombongan. Panglima Mahanta mengizinkan.



Arya Wira segera melompat. Dia memilih menggunakan peringan tubuh dari pada berkuda. Peringan tubuh memang lebih efisien untuk menempuh jarak yang dekat.



"Benar-benar tinggi ilmu pemuda itu. Pantas dia bisa mengalahkan ku saat sayembara," benak Panglima Mahanta sesaat setelah Arya Wira pergi.


\=\=\=\=\=\=\=


Seminggu setelah kunjungan Panglima Mahanta, upacara pernikahan dilaksanakan. Sekaligus upacara penobatan Arya Wira sebagai putra mahkota.



Arya Wira begitu gagah dan tampan dalam balutan pakaian istana. Apalagi, mahkota seorang pangeran berkilat di kepalanya. Begitu menawan. Hal ini sangat serasi dengan Dewi Nirmala. Wajah ayunya begitu manawan dalam balutan pakaian pernikahan.



Arya Wira sendiri sangat terpesona menatap wajah Dewi Nirmala. Bagai rembulan yang bersinar. Bagai seorang bidadari turun dari kahyangan.



Nyai Alisha hadir dalam upacara. Memakai topeng hadiah Panglima Mahanta. Topeng berukiran menawan dangan lapisan emas yang berkilau. Keluarga kerajaan dan para punggawa menerima alasan Nyai Alisha. Mereka sudah mengetahuinya dari Panglima Mahanta -*yang tak mengenali Nyai Alisha saat Nyai Alisha membuka topengnya di pertemuan terdahulu*. Lepas upacara, Nyai Alisha memutuskan pulang ke desa.



"Maaf, Gusti Prabu," hormat Nyai Alisha saat berpamitan, "Hamba lebih nyaman tinggal di desa. Desa tempat hamba membesarkan putra-putri hamba. Mohon sudilah ampuni hamba, Gusti Prabu."



Tak ada yang bisa mencegah Nyai Alisha. Maka, ibunda Arya Wira-pun kembali ke desa bersama beberapa penduduk desa lainnya. Hanya Paman Jaka yang tinggal bersama Arya Wira di istana. Itu pun atas permintaan Arya Wira sendiri.



"Jaga diri dan istrimu dengan baik, Wira," Nyai Alisha memeluk putranya sebelum kembali.


"*Dan tetap jaga rahasia besar kita*," bisiknya samar di telinga Arya Wira. Bisikan yang tak bisa didengar oleh siapa pun kecuali Arya Wira.

__ADS_1



Pesan paling penting dari seorang Ibunda. Pesan yang akan menjadi pendirian Arya Wira. Pesan yang tak pernah dilupakan oleh putra mahkota, Pangeran Arya Wira.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Langit malam indah dengan gemintang di langit. Sebulan semenjak Nala Pura memiliki putra mahkota yang baru. Putra mahkota yang kini menatap kerlip gemintang indah. Memikirkan banyak hal.



"Kanda Wira," suara lembut memanggilnya dari belakang. Suara yang sudah sangat familiar.



Arya Wira menoleh, istrinya berjalan mendekat. Dewi Nirmala tak memakai hiasan apa pun di kepalanya kecuali beberapa kuntum bunga bewarna putih. Bebunga yang membuat rambut indahnya semakin terlihat indah. Perempuan cantik itu pun hanya memakai baju kerajaan sederhana.



"Ada apa, Kanda?" Dewi Nirmala memeluk Arya Wira dari belakang.



"Dinda Nirmala belum tidur?" Arya Wira malah bertanya balik.



"Bagaimana saya tidur, Kanda? Sedangkan Kanda sedang gelisah di sini. Ada apa, Kanda?" Dewi Nirmala meletakkan kepalanya di atas pundak suaminya.



"Kanda hanya memikirkan adik, Dinda," Arya Wira menatap gemintang.


"Sebulan lebih dia mengembara dan belum berkunjung kemari. Di mana dia sekarang?"



Arya Wira melepaskan pelukan Dewi Nirmala, lantas memutar tubuhnya. Menjadikannya menghadap Dewi Nirmala. Membelai lembut kepala perempuan yang sudah menempati hatinya sejak mereka bertatap muka. Mungkin, itulah cinta pada pandangan pertama. *Meski sebenarnya, mereka sudah saling mengenal jauh sebelum hari sayembara*.



"Kanda sangat merindukan adik Kanda, kah?" Dewi Nirmala membenamkan kepalanya ke dada bidang suaminya.



"Tentu, Dinda," Arya Wira tetap membelai rambut Dewi Nirmala, "meski Kanda yakin, dia baik-baik saja di sana."


"Dia sangat kuat. Lebih hebat dari Kanda sendiri. Pastilah mampu melewati rintangan dalam pengembaraannya."



Sunyi beberapa saat. Dewi Nirmala memilih diam, hanya mendengarkan tanpa menanggapi. Dia sering mendengar suaminya bercerita tentang adiknya. Loka Hita. Gadis ceria yang sangat kuat. Lebih kuat dari dirinya.



"Mari masuk, Dinda. Kita harus segera tidur. Lagi pula, esok Kanda harus kembali menemui Panglima Mahanta," Arya Wira melonggarkan pelukannya.



Setelah menikah, Arya Wira dididik oleh para punggawa tentang ilmu tata negara. Dan Arya Wira menguasainya dengan cepat. Dia juga harus berkeliling istana, mengenal tiap sudut istana yang akan dipimpinnya. Lalu, mengenal tiap pemimpin daerah yang menjadi wakilnya. Tak lupa, mengenal daerah-daerah kerajaan. Untuk hal ini, kemampuan Arya Wira lebih dari cukup. Dia sudah sering mengembara dan menjelajah pelosok kerajaan luas ini.



Terakhir, Arya Wira belajar ilmu peperangan pada Panglima Mahanta. Hal ini lumayan sulit bagi Arya Wira. Pertarungan sebagai pemimpin prajurit tak sama dengan bertarung sebagai pendekar. Ada banyak hal yang diperhitungkan dan dipikirkan. Selain belajar hal itu, Panglima Mahanta berkenan mengajari Arya Wira beberapa ilmu bela diri.



"Saya selalu merasa, Pangeran sangat mirip dengan putra junjungan saya dahulu. Saya selalu yakin untuk menurunkan jurus-jurus ini pada Pangeran," ucap Panglima Mahanta saat mengemukakan alasannya mengajari Arya Wira.



Panglima Mahanta mengajarkan hampir seluruh ilmunya. Padahal, pada Angga Perak-pun, Panglima Mahanta tak mengajarinya banyak jurus. Hati Panglima Mahanta lebih cenderung pada Arya Wira. Dan Angga Perak tak pernah iri atau pun cemburu.



"Maaf, tapi saya selalu merasa Adik Pangeran sebagai pengganti sahabat saya yang telah lama meninggal. Saya sangat menyayanginya." Itu ucapan Angga Perak beberapa hari silam.



Sementara Arya Wira tidur, seseorang yang dipikirkannya masih terjaga di sana. Jauh, di dalam hutan. Terjaga, mengingat masa lalu yang suram. Dia lah Loka Hita alias Ratri Parvati. Putri kebanggaan ayah dan ibundanya. Putri kerajaan Nala Pura yang telah lama menghilang. Bersamaan dengan kakak dan ibundanya. *Pangeran Rama Wangi dan Ratu Erina Maheswari*.....


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Kira-kira, seperti apa masa lalu Loka Hita dan Arya Wira???


Dukung saya terus dengan vote, like, dan komen yaaa

__ADS_1


__ADS_2