Legenda Pendekar Rama Parvati

Legenda Pendekar Rama Parvati
Ke Makam Ayah


__ADS_3

Kerajaan Nala Pura


Tiga ekor kuda berhenti di depan sebuah kedai makan yang terletak di dekat gerbang kota raja. Tiga penunggangnya, dua lelaki dan seorang gadis, turun dan mengikat kuda. Menatap sebentar rumah makan yang akan mereka masuki.


Ada banyak kuda tertambat. Menjelaskan bahwa kedai itu lumayan ramai. Beberapa pengunjung keluar, mereka berpakaian pendekar. Mungkin, pendekar yang singgah. Atau, mungkin akan mengikuti sayembara yang akan dilaksanakan empat hari lagi. Beberapa prajurit dan pendekar kerajaan menjaga kedai. Pun, mereka terlihat berkeliling di jalanan. Penjagaan diketatkan menjelang sayembara. Selain prajurit, pendekar kerajaan juga dikerahkan.


Pendekar kerajaan adalah para pendekar yang mengabdi pada kerajaan Nala Pura tanpa terikat oleh keprajuritan. Mereka bisa lepas dari pengabdian kapan pun mereka mau. Mereka hanya menerima perintah dari Sang Prabu, panglima, dan maha patih. Mereka hanya menerima bayaran bila berhasil menuntaskan suatu tugas. Tanpa tugas, mereka tak mendapat gaji meski satu sen. Meski demikian, nyatanya banyak pendekar yang mengabdi di negara ini.


Tiga penunggang kuda yang tak lain adalah Arya Wira, Loka Hita, dan Paman Jaka, memasuki kedai makan. Arya Wira dan Loka Hita berpakaian layaknya pengembara, bukan pendekar. Sedangkan Paman Jaka berpakaian layaknya penduduk biasa. Ini usulan Nyai Alisha, agar tak menarik perhatian saingan mereka nanti.


"Selamat datang, Tuan, Nona. Maaf, meja yang tersisa tinggal dua. Silahkan dipilih," seorang gadis pelayan menyambut mereka di pintu kedai.


"Tak apa, Nona. Kami akan duduk di ujung sana," tunjuk Arya Wira ke sebuah meja di sudut kedai. Meja yang lumayan kecil.


"Pesan apa, Tuan? Nona?" Pelayan lain menghampiri setelah mereka duduk.


"Nasi putih, ayam bakar, dan emmm" Arya Wira menyebut beberapa menu lain setelah melihat sekilas meja-meja lain.


"Baik, Tuan. Kami segera hidangkan," pelayan itu beranjak pergi.


"Menyebalkan!!" Desis Loka Hita setelah pelayan itu pergi.


"Apa yang menyebalkan, Ni?" Paman Jaka menggaruk kepalanya.


"Pelayan kedai!" Dengus Loka Hita, "mereka tak berhenti menggoda Kakang Wira dengan kedipan mata dan suara mendayu. Murahan!"


Arya Wira tersenyum simpul, "Itu strategi penjualan, Dinda. Tak usah hiraukan."


Loka Hita mendengus kesal.


"Kau sudah cemburu melihat kakangmu dirayu, bagaimana bila kau punya kekasih?!" Goda Arya Wira


Obrolan mereka terputus oleh pelayan yang membawa pesanan. Paman Jaka tampak sangat lahap menikmati makanan. Beberapa saat, kedamaian kedai terpecah oleh keributan di salah satu meja. Itu meja lain yang kosong saat rombongan Arya Wira datang.


Seorang pemuda berpakaian biasa duduk di sana. Di atas meja sudah terhidang sedikit makanan. Di depan pemuda tadi, sekelompok orang tampak marah. Ah, masalah lama, mereka ingin menyerobot meja itu. Meski sudah ditahan beberapa pelayan, mereka tetap nekat.


"Kamu enyah dari sini, bocah! Kami ingin meja ini!" Salah satu dari kelompok itu membentak si pemuda.


"Maaf, Tuan. Tapi saya sudah menempatinya lebih dahulu," sanggah si pemuda tenang.


"Itu bukan urusan kami! Cepat pergi, bedeb**!" Umpat yang lain.

__ADS_1


"Izinkan saya makan sebentar, Tuan. Saya sudah sangat lapar."


"Alah!!! Kami ingin sekarang! Atau, kamu ingin kepalamu melayang?!" Bentak orang pertama sambil menggebrak meja.


Seluruh pengunjung kedai menatap mereka. Kedai menjadi senyap beberapa detik setelah gebrakan di meja.


"Maaf, Tuan-Tuan," sela seorang pelayan sopan, "lebih baik Tuan-Tuan menunggu sebentar."


"Jangan ikut campur, pelayan rendah!"


"Maaf, Tuan-Tuan. Bila Tuan-Tuan tetap membuat keributan, kami akan memanggil penjaga di luar," ancam pelayan lain.


Prajurit dan pendekar kerajaan memang hanya akan membantu bila diminta atau keadaan mendesak. Mereka tetap menjaga martabat pemilik kedai. Sekaligus memberikan kepercayaan pada pengunjung, bahwa pemilik dan pelayan kedai bisa menyelesaikan masalah.


"Tidak perlu," tukas si pemuda, "saya akan mencari kedai lain."


Pemuda itu segera bangkit dan berjalan menuju pintu kedai. Suasana kedai mulai ramai kembali. Ini masalah biasa.


"Maaf, Tuan!" Seru seorang pelayan, lalu menghampiri si pemuda, "Nona yang di sana meminta Tuan ikut makan di meja mereka," tunjuk si pelayan.


Pemuda itu tersenyum, sungkan menerima tawaran gadis yang ditunjuk si pelayan. Meski perutnya benar-benar lapar.


"Nona itu berpesan, jangan lah menolak permintaannya. Dia tak bermaksud buruk. Atau, Tuan merasa Nona itu tak pantas meminta hal ini pada Tuan?"


"Maaf, merepotkan, Tuan, Nona"


"Tak usah sungkan, Kisanak. Mari duduk," lelaki yang duduk di meja tersebut tersenyum hangat.


"Maaf bila kami tidak sopan," lanjutnya ramah dan sopan. Khas seorang bangsawan.


"Tidak apa, Kisanak. Malah saya yang merepotkan," si pemuda menganguk canggung.


"Pelayan! Tolong ambilkan hidangan untuknya seperti yang kami pesan," sang gadis di samping si lelaki melambai pada seorang pelayan yang lewat. Dialah yang meminta si pemuda ke meja tersebut melalui seorang pelayan.


"Maaf, bila boleh saya tahu, siapa Kisanak semua?" Akhirnya, si pemuda memberanikan diri untuk bertanya.


"Saya Arya Wira," jawab si lelaki disusul senyum ramah, "ini adik saya Loka Hita dan itu Paman Jaka. Kisanak?"


"Oh, saya Hansa Daya. Saya lebih dikenal sebagai Tabib Hansa,"


"Menjadi tabib di usia semuda ini?" Paman Jaka akhirnya bersuara.

__ADS_1


Arya Wira ber-hssst, sedangkan Tabib Hansa hanya tertawa ringan.


"Saya memang lahir dari keluarga tabib, Tuan. Saya mengenal obat dan pengobatan sejak kecil," jelas Tabib Hansa.


"Ke mana Tabib Hansa hendak pergi?" Loka Hita ikut mengobrol.


"Saya hanya berkelana, Nona,"


"Jangan panggil nona!" Tukas Loka Hita cepat, membuat Arya Wira tertawa lirih, "panggil saja Hita. Atau, Loka Hita"


"Maaf, Nona, eh, Loka Hita," Tabib Hansa tersenyum canggung, "saya hanya berkelana sejak kampung saya dihancurkan perampok. Semua harta dan para gadis dibawa lari. Rumah rumah dibakar. Hanya menyisakan orang-orang yang terluka. Saya sendiri terluka parah, tidak bisa membantu banyak." Tabib Hansa menghela nafas berat.


"Maaf, kalian sendiri hendak ke mana?" Tabib Hansa bertanya balik.


"Mengunjungi makam ayah kami, Tabib," jawab Loka Hita sebelum Paman Jaka menjawab.


Loka Hita memang tidak berbohong. Mereka akan pergi ke makam sang ayah, sebelum sayembara dimulai. Sesuai keinginan Nyai Alisha.


Inilah pertemuan pertama Arya Wira dan Loka Hita dengan Tabib Hansa. Setelah dari kedai, mereka memang berpisah. Meneruskan perjalanan masing masing. Kelak, taqdir akan mempertemukan mereka lagi.


Sesuai jawaban Loka Hita, mereka pergi mengunjungi makam sang ayah. Namun kali ini, tanpa Paman Jaka. Paman Jaka beristirahat di penginapan sederhana yang telah mereka sewa sebelum pergi ke kedai. Itu pun atas usul Arya Wira dan desakan Loka Hita. Mereka tak mungkin memberitahu siapa pun tentang ayah mereka. Cukup mereka yang mengetahuinya, ditambah Nyai Alisha.


Jati diri mereka akan terungkap bila sang ayah diketahui. Selama ini, mereka selalu mengatakan bahwa mereka anak seorang lelaki bernama Satya. Seorang pedagang di kota raja Nala Pura yang meninggal karena dibunuh oleh perampok saat mereka masih kecil. Sang ibunda, Nyai Alisha, kemudian membawa mereka berkelana. Hingga akhirnya memutuskan untuk tinggal di sebuah desa dekat padepokan Sedayu.


"Kakang, apakah kita akan dikenal di sana? Dinda khawatir," Loka Hita menatap makam ayahnya dari kejauhan.


"Tidak perlu khawatir, Dinda," Arya Wira berkata mantap, "kita hanya akan dikenali sebagai penziarah biasa. Asal kau tak menangis tersedu di sana." Arya Wira malah sempat-sempatnya meledek adiknya.


"Kakang!" Loka Hita mendengus kesal. Kalau bukan karena mereka masih di atas kuda, tentu Loka Hita sudah memukul kakaknya.


"Sudahlah, ayo! Kau tak rindu ayah?!" Arya Wira menngebah kudanya.


"Huh! Awas saja nanti!" Loka Hita ikut menggebah kudanya.


Menuju makam yang ramai. Makam yang berada di desa pinggir hutan. Makam itu memang bukan di kota raja, tapi tetap di dalam kawasan kerajaan Nala Pura.


Ah, sebenarnya, Arya Wira dan Loka Hita bukan anak pedagang. Ayah mereka adalah sosok yang sangat dikenal di seantero Nala Pura. Seorang tokoh berpengaruh di kerajaan besar ini, juga kerajaan sekitar. Karena itulah, mereka harus mengganti nama dan menyembunyikan kemampuan menguasai ajian tiga belas gaya dari pengetahuan dunia. Agar tak dikenal sebagai putra putri sang ayah


Sepanjang berada di area makam, Loka Hita hanya diam. Ini pertama kali dia menziarahi makam ayahnya. Seluruh luka kembali teringat. Peristiwa pembunuhan sang ayah kembali terngiang. Seluruh nostalgia bersama Satya, ayahnya, kembali terkenang. Maka, kesedihan itu kembali. Bersama kemarahan dan kekecewaan dalam.


Arya Wira tak banyak berkata. Dia mengerti perasaan adiknya. Pasti lah sang adik merasakan apa yang dirasakannya dulu. Dulu, saat dia pertama kali ke makam ini. Arya Wira memang sudah pernah ke sini beberapa kali. Sendiri, tanpa adiknya.

__ADS_1


Ah, baiklah. Mereka tak berlama-lama di makam. Segera kembali. Sebelum Paman Jaka menyusul, mencari mereka. Tak boleh ada yang mengetahui jati diri mereka. Bahwa mereka putra-putri orang hebat di kerajaan ini. Putra putri seorang........


__ADS_2