
"Kenapa berhenti di sini, Ni?" Janu menambatkan kuda di sebuah pohon. "Kenapa tidak beristirahat di desa saja. Lihat, desa itu sudah sangat dekat."
"Saya lebih suka di alam bebas, Janu." Loka Hita sudah melompat ke atas dahan.
"Kebiasaan pendekar memang aneh, ya.." Janu tetap saja bersungut.
"Bermalam di alam tidak aneh, Janu," Giri Wasa menimpali. "Seorang pendekar bisa berlatih dengan leluasa tanpa mengganggu manusia lain. Juga agar tidak merusak benda milik orang lain saat melatih tenaga dalam."
"Ooo, seperti itu tho, Tuan. Saya ndak tahu, lha wong saya ini belum lama jadi pendekar."
"Pendekar?!" Hansa Daya tertawa. "Bagaimana kamu akan disebut pendekar, Janu?! Jurus-jurus tangan kosongmu masih ndak jelas. Pedang juga sering jatuh dari pegangan. Apalagi tenaga dalam, kamu tidak punya sama sekali."
"Hahaha! Ucapan Tuanmu benar, Janu. Dengan pendekar kelas teri saja kamu bisa kalah!" Giri Wasa ikut tertawa.
"Lho... mbok Tuan jangan menghina saya. Saya sudah belajar di padepokan Sedayu lho..." Janu merenggut.
"Sudah belajar tapi belum lulus, Janu!" Loka Hita menyahut dari atas dahan. Dia tak absen untuk tertawa.
"Nini ini lho, kok ikut menghina saya."
"Maaf, Janu." Loka Hita berusaha menahan tawanya. "Kamu memang belum bisa mengalahkan pendekar. Tapi, kalau hanya dengan beberapa prajurit biasa, saya yakin kamu bisa menang."
"Sudahlah, saya akan berburu." Hansa Daya menghentikan tawanya.
"Tunggu, Hansa! Saya akan ikut!" Giri Wasa mengikuti.
"Nah, Janu. Ayo, buat api unggun. Sebentar lagi malam datang. Kita juga harus mengambil air." Loka Hita melompat turun.
"Baik, Nini."
Malam datang. Suasana menjadi lebih gelap. Saat mulai larut, seluruh rombongan mulai berbaring di tanah kecuali Loka Hita. Dia bersandar pohon, paling dekat dari api unggun.
Ketenangan malam pecah saat Vayu melengking keras. Seperti terganggu oleh sesuatu. Loka Hita segera menaiki pohon. Menuju dahan tempat Vayu hinggap.
"Ada apa, Hita?"
"Ada yang mendekat kemari. Mereka berkelompok, tapi sepertinya tidak lebih dari sepuluh kuda. Sepertinya, mereka bukan orang baik-baik, Kakang."
"Apa mungkin mereka perampok?" Hansa Daya mencoba menerka.
"Kenapa hanya diam, Tuan?! Keluarlah!" Loka Hita tak melantangkan suara. Dia yakin, orang yang dimaksud bisa mendengar.
"Nona sangat peka," seseorang melompat turun dari sebuah pohon di belakang rombongan.
Loka Hita melambaikan tangan, lantas melompat turun. "Saya tak suka basa-basi. Katakan siapa dirimu dan tujuanmu!"
Pria yang baru saja datang, menghormat dengan cara seorang pendekar. "Saya Agni Putih, seorang pendekar dari kota raja. Saya kemari karena mendengar sepak terjang kelompok Ular Hitam."
"Kota raja? Kelompok Ular Hitam?!" Giri Wasa menggelengkan kepala.
"Mereka yang Paman cari?" Loka Hita menatap pria yang seusia Caraka.
"Benar, Nona. Kelompok Ular Hitam yang meresahkan kerajaan Parang Jaya ini. Akhirnya, telik sandi kerajaan bisa memperoleh informasi pergerakan mereka."
Ular Hitam. Kelompok perampok yang sering mengacau berbagai kerajaan. Salah satunya adalah Kerajaan Parang Jaya, tempat rombongan Loka Hita bermalam sekarang. Mereka memiliki reputasi yang menakutkan. Tak hanya menjarah harta korban, mereka juga menculik para perempuan muda dan anak kecil. Menurut kabar, korban penculikan akan dijadikan tumbal untuk kejayaan mereka.
Jumlah mereka memang cukup sedikit. Hanya sekitar tiga puluhan. Namun, prajurit biasa bukan tandingan mereka. Kelompok mereka terdiri dari para pendekar berilmu tinggi. Tak hanya menggunakan kanuragan dan ilmu bela diri, mereka juga menggunakan ilmu racun dan sihir.
Bahkan beredar kabar bahwa Kobra Hitam, pemimpin kelompok, bahkan menguasai ilmu cambuk iblis. Ilmu yang dilarang oleh pendekar berbagai aliran. Tak terkecuali para tokoh ilmu sihir.
"Anda sendirian, Paman?" Loka Hita menatap sekitar.
Agni Putih mengangguk, "Saya lebih dulu sampai untuk mengawasi gerak mereka. Teman saya akan menyusul esok hari."
__ADS_1
"Berarti mereka takkan menyerang malam ini?" Hansa Daya ikut mengeluarkan suara.
Agni Putih menggeleng, "Ini bukan malam tanggal lima. Biasanya, mereka akan menyerang di malam tanggal lima. Sepuluh hari menjelang purnama."
"Berarti, esok malam-lah mereka akan menyerang." Giri Wasa memandang bulan.
"Benar. Beruntung sekali kami karena mereka tiba di sini sebelum tanggal lima. Biasanya, mereka datang dan langsung menyerang."
Malam itu, Agni Putih sangat beruntung. Dia memperoleh sekutu baru yang kuat. Meski belum mengetahui banyak, Agni Putih percaya akan kemampuan Loka Hita dan temannya. Kepekaan insting Loka Hita menunjukkan kemampuannya.
...\=\=\=\=\=\=~~~\=\=\=\=\=\=...
Matahari sudah condong ke barat. Suara binatang malam mulai terdengar. Angin menjadi semakin dingin. Menerpa sekelompok orang yang duduk melingkar di sebuah bangunan dekat gerbang desa. Di antara mereka, duduklah Loka Hita, Hansa Daya, dan Giri Wasa. Agni Putih memperkenalkan ketiganya pada rombongan dari kota raja.
Ancaman kelompok Ular Hitam tak bisa dianggap remeh. Dalam rombongan, terdapat panglima tertinggi kerajaan, dua Nayaka, lima komandan (pimpinan prajurit di bawah Nayaka), dan tiga pendekar. Juga pasukan prajurit pilihan. Padahal, jumlah perampok diperkirakan sekitar sepuluh hingga dua belas orang.
"Menurut saya, para prajurit tak perlu maju. Mereka cukup menjaga para penduduk dan pintu masuk desa. Hanya para panglima dan pendekar yang menghadapi para perampok." usul Loka Hita.
Sejenak, suasana terasa sepi yang berbeda. Seorang perempuan yang baru saja dikenal, mengeluarkan usul yang sangat berbeda dengan panglima kerajaan. Panglima memang merencanakan sebaliknya. Para prajurit pilihan akan menghadapi musuh, dan para pimpinan akan membantu bila terdesak.
"Apa maksudmu, Nona? Mengapa malah membalik rencana Panglima?!" seru seorang Nayaka marah.
Loka Hita hanya tersenyum sinis. "Bukankah itu lebih baik?! Kalau pun ada korban, tak kan sebanyak rencana awal. Kalau pun kita terdesak, para prajurit bisa segera menyelamatkan penduduk."
"Maksud Nona, kami lah yang akan dikorbankan?!"
"Bukankah itu tugas seorang prajurit kerajaan? Atau Tuan takut mati dan memilih mengorbankan lebih banyak nyawa?!"
"Kamu pikir saya pengecut?!"
Panglima melambaikan tangan, meminta Nayaka agar diam.
Suasana sepi. Dua Nayaka dan komandan memandang penuh amarah pada Loka Hita. Sementara tiga pendekar menatap sinis Loka Hita.
"Benar, Tuan Panglima."
"Apa kamu pikir, prajurit Parang Jaya selemah itu?!" teriak seorang komandan.
"Oh, maaf," Loka Hita tersenyum tipis, matanya menatap tajam. "Berarti kabar yang saya dengar dari Paman Agni Putih adalah bohong."
"Nona! Jangan hina Tuan Agni Putih!" seorang pendekar beranjak berdiri.
"Tenanglah!" Agni Putih melambaikan tangan. "Saya rasa, usul Nona Loka Hita benar."
Seluruh perhatian tertuju pada Agni Putih.
"Saya mengabarkan, kekuatan kelompok Ular Hitam bukanlah tandingan prajurit biasa. Itu berarti, kecil kemungkinan prajurit kita memenangkan pertarungan meski mereka prajurit pilihan. Kalau pun menang, akan banyak korban yang jatuh. Saya rasa, Panglima bisa mengukur kemampuan para prajurit khusus tersebut," papar Agni Putih.
Setelah perdebatan yang cukup alot, Panglima memutuskan menggunakan usul Loka Hita. Pertarungan kali ini bukan peperangan para prajurit. Namun peperangan antar pendekar. Musuh mereka adalah pendekar, maka yang melawan haruslah pendekar pula.
Tepat saat matahari sempurna tenggelam, persiapan selesai. Para prajurit berjaga di tempat para penduduk berkumpul. Kuda dan kereta siap mengangkut mereka bila keadaan memburuk. Sementara para pimpinan sudah siap di depan gerbang desa. Dua baris pasukan khusus berjaga di belakang, dengan senjata teracung sempurna.
Tak lama, pertempuran meletus dengan sengit. Dua belas anggota Ular Hitam melawan dua belas orang pilihan Parang Jaya, dibantu tiga pendekar dari Sedayu.
Giri Wasa dan Hansa Daya melawan seorang penyerang. Dua komandan meladeni satu musuh. Dua komandan lain menghalangi satu lawan.
Loka Hita, Panglima, Agni Putih, satu pendekar, Giri Wasa dan Hansa Daya berhasil membuat lawan dalam keadaan bertahan. Di sisi lain, pihak Parang Jaya terdesak.
"Ahhhh"
Dua teriakan terdengar bersamaan. Satu komandan yang bertarung sendirian, mengalami luka di bahu. Belati musuh berhasil menancap. Giri Wasa segera meninggalkan Hansa Daya dan mengambil alih musuh komandan tersebut. Dua prajurit khusus segera menyelamatkan komandan. Membawanya dari medan pertarungan.
"Mereka benar-benar kuat. Aku harus menyelesaikan dengan cepat. Entah kenapa, aku merasa ada kekuatan besar yang mendekat." Loka Hita segera memusatkan pikiran.
__ADS_1
Jurus pedang sepuluh cahaya. Bagian tujuh dan delapan. Dua bagian yang tak bisa dipisahkan.
Pedang di tangan Loka Hita meliuk indah. Mengikuti arahan penggenggam. Gerakan yang begitu mempesona. Cepat dan begitu halus, bagai sebuah tali. Menyibukkan penyerang dengan serangan yang tak dibaca. Mengecoh berkali-kali si penyerang.
Diikuti bagian ke delapan. Serangan mendadak. Pedang membelok dengan cepat dalam gerakan tangan yang sangat mendadak. Untuk kemudian, kembali ke posisi sebelum serangan. Kembali ke jurus bagian tujuh.
Lawan Loka Hita begitu keteteran. Tanpa bisa menyerang balik, nyawanya melayang dengan mudah. Teriakan keras yang membahana. Mengagetkan seluruh kawan dan lawan.
Loka Hita menyerbu lawan Hansa Daya. Dua musuh lain melompat ke belakang, menjauh dari arena dan meninggalkan lawan masing-masing. Mereka melakukan gerakan tangan yang sangat cepat. Sebuah mantra dirapal. Dalam sekejap, tubuh mereka diselimuti asap abu-abu.
"Sihir!" teriak Agni Putih.
Teriakan yang membuat pasukan Parang Jaya kaget. Namun, mereka kembali fokus dengan lawan masing-masing.
"Hita, mustika!" desis Hansa Daya pada kekasih yang berada di sampingnya.
Loka Hita melompat ke belakang. Mustika Daun Langit. Semoga, itu bisa menangkal sihir mereka. Tubuh Loka Hita diselimuti cahaya hijau lembut. Sesaat setelahnya, Loka Hita kembali masuk ke pertarungan.
Plashhhh
Serangan tenaga dalam dengan sihir menuju Panglima. Di saat yang sama, Panglima sedang kerepotan dengan musuhnya.
Duarrrrr
Ledakan terjadi di udara. Beberapa langkah dari Panglima. Loka Hita berhasil menggagalkan kecurangan. Belum juga asap dari ledakan menghilang, Loka Hita sudah maju. Menyerang dua orang yang berselimutkan asap abu-abu.
Jurus sepuluh cahaya. Bagian tujuh dan delapan. Dengan aliran tenaga dalam yang cukup besar. Juga energi tambahan dari Mustika Daun Langit.
Pertarungan ketiganya berjalan dengan cepat. Jurus yang digunakan Loka Hita bukan tandingan dua anggota Ular Hitam. Ditambah aliran tenaga dalam dan energi dari Mustika Daun Langit...
"Ahhhhhhhh"
Lolongan kesakitan menggema
"Bruakkk"
Diikuti jatuhnya dua tubuh. Satu orang sempat melolong karena pedang Loka Hita menembus dada. Sedangkan yang satu tak sempat mengucap apapun. Seluruh tubuhnya gosong mendapat pukulan tenaga dalam dan energi mustika yang luar biasa.
Malam menjadi sepi. Seluruh perhatian tertuju pada Loka Hita yang berdiri dengan menggenggam pedang berlumuran darah. Sembilan anggota Ular Hitam tak menyangka, musuh mereka ternyata sangat kuat. Belum juga mereka memutuskan perbuatan selanjutanya, Loka Hita sudah berbalik dan menyerang satu musuh. Kali ini, hanya sekejap mata karena musuhnya tak siap.
"Huh! Cuma segini kemampuan Ular Hitam. Seperempat dari kalian sudah terbunuh di tanganku. Bukan tidak mungkin, kalian akan tewas di tangan kami malam ini."
"Sayangnya, tidak, gadis kecil!"
Loka Hita berbalik.
Seorang laki-laki bertopeng hitam dengan ukiran ular kobra. Sebuah kalung melingkar di lehernya, kalung berbentuk ular kobra. Tangan kanannya memegang tongkat keemasan dengan ujung berbentuk kepala kobra. Rambutnya hitam karena pewarna.
"Tuan!" Delapan anggota Ular Hitam bersimpuh. "Tuan datang!"
"Kobra Hitam?!" desis Loka Hita.
"Kau benar, gadis ayu. Kemampuanmu memang hebat. Tapi, mampukah kamu mengalahkan jurus cambuk iblis milikku?!"
\=\=\=\=\=\=~~~\=\=\=\=\=
Jangan lupa untuk selalu dukung saya ya....
Like, Komen, dan ajak kawan untuk mampir di sini.
Vote juga kalau mampu.
Terima kasih...
__ADS_1