Legenda Pendekar Rama Parvati

Legenda Pendekar Rama Parvati
Dua Jurus Legenda


__ADS_3

Di sebelah timur dan timur laut kerajaan Nala Pura terdapat banyak hutan perawan. Hutan-hutan yang tak pernah dijamah manusia. Hutan yang sempat menjadi rumah bagi seorang wanita dan dua putra-putrinya. Nyai Alisha, Arya Wira, dan Loka Hita.


Di dalam kegelapan hutan, seorang lelaki berjenggot putih nan lebat tampak menunggu sesuatu. Tak berselang lama, seekor burung hitam terbang merendah. Saat jarak antara mereka semakin dekat, cahaya abu-abu menyelimuti tubuh burung. Dalam beberapa kedipan mata, sesosok lelaki berjubah hitam sudah berdiri tegap.


"Akhirnya, kamu tiba juga, Merpati Hitam?!"


"Saya menghadap, Ki Sayap Hitam" lelaki berjubah membungkukkan badannya.


"Kamu muridku, panggil saja aku guru. Jangan panggil aku dengan nama itu pagi! Kamu mengerti?!"


"Mengerti, Ki... Maksud saya, Guru."


Ki Sayap Hitam tertawa, melengking nan keras. "Baik, apa yang kamu dapatkan hari ini?"


"Ampun, Guru. Perempuan yang saya lukai sebelumnya sudah kembali sembuh. Tidak dengan Sang Avri, tapi dengan mustika daun langit. Dia juga memiliki empat teman yang cukup dekat. Seorang pendekar pemula, Janu. Dua pendekar muda, Giri Wasa dan Pitaloka. Dan satu tabib sekaligus seorang pendekar, Hansa Daya atau dulu dikenal luas dengan nama Tabib Hansa."


"Kamu berhasil melukai salah satu di antara musuh?"


"Maaf, Guru. Saya tidak berhasil menjalankan tugas ini," Merpati Hitam menunduk.


Ki Sayap Hitam melambaikan tangan sambil mendengus kasar, "Lupakan! Sekarang, lebih baik kamu berlatih. Aku akan memberikanmu tugas lain esok hari."


"Baik, Guru."


Ki Sayap Hitam mengelus jenggot putihnya, membayangkan kembali wajah gadis yang diceritakan Merpati Hitam.


"Aku sangat yakin, dialah keturunan Pendekar Mahabala dan Pendekar Gayatri. Hanya keturunan Pendekar Mahabala yang menguasai jurus sepuluh cahaya. Lalu, di mana ibunya? Setahuku, dua pendekar itu hanya memiliki satu putri"


Tak lama, seulas senyum licik mengembang. Dia sudah mengetahui rencana selanjutnya. Kali ini, Merpati Hitam tak perlu menyusup ke istana Nala Pura.


...\=\=\=\=\=\=\=\=~~\=\=\=\=\=\=\=...


Seulas senyum juga mengembang di bibir Selir Arum. Arya Wira dan Loka Hita mengunjungi tempatnya bertapa. Bukan hanya mereka. Turut pula Angga Perak, Panglima Mahanta, Dewi Nirmala, dan empat murid padepokan Sedayu. Tak lupa Paman Jaka pelayan setia Arya Wira.


Kedatangan mereka atas usul Paman Caraka. Mencari setitik cahaya terang tentang si penyusup.


"Sesuai ciri-ciri yang kalian ceritakan, dia sangat mirip dengan Ki Sayap Hitam. Musuh besar Nala Pura dan mendiang Gusti Garuda Rama. Apakah Tuan Caraka tak menyebutkan hal ini?"


"Sudah, Bibi. Namun, Ayahanda Caraka belum yakin. Beliau tidak sempat bertarung dengan Ki Sayap Hitam. Mendiang Panglima yang melawannya," jelas Arya Wira.


"Memang benar, Tuan Caraka tidak melawan Ki Sayap Hitam. Beliau melawan Patih Sanca saat perebutan istana belasan tahun silam. Panglima Mahanta, kau tak ingat Ki Sayap Hitam?"


"Maaf, Selir Arum. Saya benar-benar tidak berhadapan dengan dia. Saya juga tidak sempat mengawasi pertarungan mendiang Gusti Prabu Garuda Rama."

__ADS_1


"Apalagi, kau berkosentrasi menyelamatkanku," imbuh Selir Arum.


Pondok Selir Arum sepi. Ki Sayap Hitam, dialah yang menjadi otak pemberontakan bertahun silam. Yang menobatkan diri sebagai prabu setelah Prabu Garuda Rama melarikan diri. Dia selamat setelah membunuh panglima Nala Pura.


"Hanya Yunda Erina yang pernah menghadapi pendekar berilmu sihir tinggi itu," desah Selir Arum kemudian.


Arya Wira menunduk. Lok Hita menghela nafas. Saat pemberontakan, mereka hanya bisa melihat ayahanda dan ibunda melawan seorang laki-laki berjubah hitam. Masih terlalu kecil untuk mengingat pasti jurus-jurus si musuh. Ditambah, serangan dari pasukan pemberontak.


"Saya memiliki sebuah harapan untuk mengalahkan Ki Sayap Hitam. Tapi saya tak terlalu yakin."


Seluruh mata tertuju pada Selir Arum. Menanti penuh cemas ucapan petapa yang sangat mereka hormati.


"Saya pernah mendengar sebuah kabar dari Yunda Erina, juga dari banyak pendekar yang berkunjung di Nala Pura. Dulu, Ki Sayap Hitam pernah dikalahkan oleh sepasang pendekar berpedang yang tersohor. Gabungan ilmu keduanya mampu membuatnya terluka parah dan hampir mati. Semua orang mengira dia telah mati hingga pemberontakan meletus di Nala Pura. Sosok itu kembali."


Selir Arum menghela nafas, "Harapan saya adalah keturunan sepasang pendekar itu. Sepasang pendekar yang telah hilang tanpa kabar beberapa minggu setelah peristiwa itu."


"Sepasang pendekar berpedang yang hilang?!" Panglima Mahanta mencoba mengingat sesuatu. Lantas terbelalak, "Pendekar Mahabala dan Pendekar Gayatri?!"


Selir Arum mengangguk.


"Maaf, Gusti Selir," Angga Perak menyela, "bukankah jurus keduanya yang mengalahkan Ki Sayap Hitam? Mengapa harus keturunan mereka?!"


"Dalam dunia persilatan, ada beberapa ilmu dan jurus yang hanya bisa diturunkan kepada keturunan. Pemilik darah yang sama. Seperti itu juga jurus keduanya," papar Selir Arum


Selir Arum menutup mata sebentar, lantas menghela nafas, "Yunda Erina mengatakan, jurus Pendekar Mahabala adalah jurus pedang sepuluh cahaya. Sedangkan jurus Pendekar Gayatri adalah jurus pedang tiga tingkat."


Loka Hita dan Arya Wira terbelalak. Saling memandang dengan penuh keheranan dan kekagetan.


"Jurus pedang sepuluh cahaya?!" Janu dan Hansa Daya mengulang nama itu.


"Ada apa, Hansa, Janu?! Kalian mengenalinya?!" Panglima Mahanta menoleh keheranan.


"Maaf, Tuan Panglima. Kalau tidak salah, saat Putri Loka Hita menyelamatkan saya, salah satu musuh menyebut nama jurus itu. Jurus yang dipakai Putri Loka Hita."


Semua mata tertuju pada Loka Hita dan Arya Wira. Bahkan, Selir Arum menatap lekat dua kakak beradik yang masih saling menatap.


Keduanya menunduk, "Kami memang menguasai kedua jurus itu, Bibi. Terutama Dinda Loka Hita, dia sudah menyempurnakan keduanya." Arya Wira mencoba menjelaskan.


"Kenapa kalian tak mengatakan semuanya dari tadi?" Selir Arum bertanya lembut.


"Kami bahkan tak menyadarinya, Bibi. Yang kami mengerti, Ibunda memberi tahu ilmu kedua jurus tersebut. Kami diperintah menguasainya dengan baik. Tak pernah kami tahu sesuatu yang istimewa tentang keduanya. Baru kali ini kami mengetahuinya, Bibi." Loka Hita menjelaskan dengan rinci.


Sebuah harapan kembali bersinar. Orang yang mereka nanti sudah berada di tengah-tengah mereka. Arya Wira dan Loka Hita masih mencoba menerima kenyataan, mereka keturunan sepasang pendekar hebat dan tersohor. Tapi, kenapa ibunda harus merahasiakannya?!

__ADS_1


Loka Hita memperagakan beberapa gerakan dari kedua jurus. Menyakinkan Selir Arum dan Panglima Mahanta. Kedua jurus itu memang tak dikuasai oleh banyak orang. Namun sifat dan cirinya terkenal begitu luas.


"Nanda Prabu, Nanda Putri, tunggu!" Selir Arum menghentikan langkah seluruh rombongan. Arya Wira dan Loka Hita mendekat.


"Kau juga, Tabib!" Selir Arum kembali memanggil.


Meski bingung, Hansa Daya melangkah juga.


"Nanda Prabu, saya tahu, Nanda Prabu sangat menyanyangi Nanda Putri. Namun, tak hanya Nanda Prabu yang menyanyanginya. Ada baiknya, Nanda Prabu memberikan kesempatan pada orang tersebut untuk menjaga Nanda Putri," Selir Arum tersenyum arif.


Arya Wira mengernyitkan dahi. Loka Hita melirik Hansa Daya. Sedangkan yang dilirik hanya menunduk.


"Baiklah, saya faham, Bibi." Arya Wira akhirnya tertawa dan mengangguk. Loka Hita menunduk mendengar tawa kakaknya


"Nah, Tabib, Nanda Putri, kemarilah..."


Masih dengan menunduk, keduanya mendekat. Selir Arum memegang pundak keduanya,


"Berjanjilah untuk saling menjaga, mendukung, dan menyanyangi. Saling menolong dalam menegakkan keadilan dan memerangi keangkara murkaan. Berjanjilah, Nak..."


Hansa Daya mendongak dan tersenyum. Janji terucap lantang dari bibirnya, "Sang Kuasa, seluruh alam, dan seluruh orang yang berada di sini menjadi saksi."


Loka Hita mengucap janji tetap dengan menunduk. "Sang Kuasa, seluruh alam, Kakang Wira, dan seluruh orang di sini saksinya..."


Selir Arum tertawa lirih. Arya Wira menghela nafas lega. Kedua pendekar telah mengikrarkan diri menjadi sejoli.


Loka Hita tak menyangka, tabib yang pernah ditolongnya menaruh hati padanya. Di pikirannya, tabib tak kan mau dengan pendekar seperti dirinya.


Dan Hansa Daya benar-benar kaget. Pendekar yang menolongnya mau membuka hati untuknya. Padahal, ilmu Loka Hita jauh di atasnya.


Dan, begitulah cinta yang tulus. Merasa diri sendiri yang beruntung. Merasa pasangan lah yang terlampau baik untuknya.


Sementara Loka Hita dan Hansa Daya saling melirik penuh kebahagiaan. Ada beberapa pasang mata yang menahan luka. Menyembunyikan kekecewaan...


\=\=\=\=\=\=~\=\=\=\=\=


Jangan lupa dukung saya dengan like dan vote...


Kritik dan saran juga penilaian saya nanti di komentar


Terima kasih untuk yang menjadi inspirasi saya


Pendekar Elang Putih karya Mahesa Adi K

__ADS_1


Mampir juga ya...


__ADS_2