Legenda Pendekar Rama Parvati

Legenda Pendekar Rama Parvati
Kobra Hitam dan Putih


__ADS_3

Pertarungan tak dapat dihindari. Loka Hita melawan Kobra Hitam. Pertarungan yang cukup alot. Ilmu cambuk iblis melawan jurus pedang tiga tingkat, bagian ketiga.


Tongkat yang digunakan Kobra Hitam adalah senjata mematikan. Mampu meliuk, lentur bagai cambuk. Di saat yang lain, bisa mengeras menjadi tongkat. Ukiran kepala kobra di ujung tongkat menyimpan racun mematikan.


Gerakan Kobra Hitam sangat cepat dan berkekuatan penuh. Tenaga dalam menyertai pukulan dan permainan tongkatnya. Serangan racun juga tak bisa dianggap remeh. Tak luput sihir yang sangat merepotkan, membuat banyak ilusi.


Kemampuan Loka Hita patut diacungi jempol. Dia bisa mengimbangi gerakan lawan dengan jurus legenda. Jurus pedang tiga tingkat bagian ketiga. Pedang di tangan Loka Hita bagai memiliki nyawa sendiri. Meliuk tajam, bergerak cepat. Tak ada gerakan tipuan memang. Bagian ketiga jurus legenda itu benar-benar rumit. Tak ada tipuan. Hanya mengandalkan kecepatan, tapi lebih menakutkan dari pada gerakan tipuan.


Tenaga dalam yang cukup kuat mengalir di bilah pedang. Juga menyertai tiap sabetan dan pukulan pedang. Ditambah energi mustika yang tak bisa diabaikan. Berbagai sihir mampu ditangkal, juga racun yang mematikan.


Namun, seiring waktu, Loka Hita terdesak. Tenaganya mulai melemah. Dia sudah menghadapi beberapa musuh sebelumnya. Apalagi, Kobra Hitam memiliki ilmu hitam terlarang. Cambuk Iblis. Ilmu itu membuatnya memiliki tenaga yang luar biasa.


"Hehehe... Kamu takkan menang, gadis ayu."


Loka Hita hanya mendengus kasar. Tangannya mulai berkeringat, membasahi gagang pedang yang digenggam. Sementara hatinya mengumpat kasar.


"Sial! Tenaga kakek ini benar-benar besar. Dia sama sekali tak nampak lelah."


Plasshhh


Loka Hita mundur jauh ke belakang. Menghindari serangan tenaga dalam yang mengandung racun.


Kobra Hitam tertawa melihat Loka Hita yang mulai kelelahan. Loka Hita menatap penasaran musuhnya. Bagaimana mungkin, lelaki setua Kobra Hitam tak terlihat lelah sama sekali.


Aji Tiga Belas Daya! Ajian itu harus dia gunakan. Itu cara paling tepat. Tapi, jati diri sebagai Ratri Parvati bisa terungkap. Diantara orang-orang yang ada, pastilah ada yang mengenali ajian tiga belas daya.


"Jangan bengong, Cah ayu!" Kobra Hitam sudah muncul di depan Loka Hita.


Plashhhh


Loka Hita menjatuhkan diri, lantas berguling cepat ke samping. Menghindari serangan dadakan. Lalu segera melompat dan menyerang. Kali ini, bilah pedang sudah dialiri ajian tiga belas daya, tingkat pertama.


Cukup berpengaruh. Loka Hita mampu mengimbangi gerakan musuh. Kobra Hitam mendengus kasar. Ini pertarungan terlama yang dilakukannya saat memakai ilmu cambuk iblis.


"Siapa gadis ini? Jurus legenda pedang tiga tingkat mampu dia kuasai dengan sempurna."


"Jangan melamun, Kakek Tua!" bentak Loka Hita, mengangetkan Kobra Hitam.


Kekagetan itu digunakan Loka Hita untuk melancarkan pukulan tenaga dalam.


"Ukh!!"


Kobra Hitam terjajar ke belakang beberapa tindak. Pukulan Loka Hita mengenai bahu kanannya.


Loka Hita sendiri mundur ke belakang. Tenaganya semakin melemah. Perpaduan jurus pedang legenda dengan ajian dari ayah, mengambil banyak kekuatannya.


Kobra Hitam merapal mantra. Tongkatnya berselimutkan asap hitam pekat. Dia meningkatkan ilmu cambuk iblis. Membuat seluruh orang dari pihak Parang Jaya menelan ludah. Itu sangat kuat.


Loka Hita menghela nafas kasar. Dia bisa saja menggunakan ajian tiga belas daya tingkat kedua atau ketiga. Tapi akan lebih sulit disembunyikan dari pada tingkat pertama yang sebelumnya digunakan. Lagi pula, tenaganya sudah terkuras habis. Tubuhnya mulai gemetar karena kelelahan.


Wwwuuuuussshhhh


Serangan dahsyat meluncur cepat. Menuju Loka Hita yang belum seutuhnya siap. Tak ada waktu untuk menghindar.


Duarrr

__ADS_1


Ledakan sangat dahsyat meletus di udara antara Loka Hita dan Kobra Hitam. Membuat keduanya melompat mundur. Sebuah pukulan tenaga dalam membentur serangan Kobra Hitam. Itu bukan serangan Loka Hita. Dia belum sempat mengeluarkan pukulan tenaga dalam untuk menangkis. Itu bukan darinya.


Sreettt


Sebuah anak panah meluncur ke arah Kobra Hitam. Kobra Hitam menangkis dengan pukulan tenaga dalam. Meski berhasil lolos dari anak panah, dia harus terjajar beberapa tindak. Anak panah itu membawa serangan tenaga dalam cukup kuat.


Tap...


Seorang wanita berpakaian putih mendarat di depan Loka Hita. Tanpa mengucapkan apa pun, dia menarik busur. Satu anak panah meluncur cepat. Disusul anak panah yang lain. Diikuti anak panah ketiga. Semua mengarah ke Kobra Hitam.


Kobra Hitam memutar tongkatnya. Menciptakan pusaran angin tenaga dalam yang sangat kuat. Hanya anak panah pertama yang hancur. Dua anak panah lain menggoreskan luka di kedua bahu Kobra Hitam.


Wanita berpakaian putih sudah melompat. Dari atas, tiga anak panah dia lepaskan secara beruntun. Saat kembali ke tanah, pukulan tenaga dalam dilepaskan. Pukulan yang membentuk bayangan anak panah dengan sepasang sayap bewarna keemasan yang indah. Meluncur cepat hingga nyaris tak terlihat. Kobra Hitam yang tengah menghindari tiga anak panah dari udara, hanya mampu memutar tongkat. Menciptakan tameng tenaga dalam yang seadanya.


Duaarrrr


Tameng hancur lebur. Tongkat Kobra Hitam patah menjadi tiga bagian. Asap hitam pekat menyembur dari tiap patahan. Kobra Hitam sendiri terpelanting lumayan jauh ke belakang. Gumpalan darah hitam keluar dari hidung, telinga, dan mulutnya. Topengnya retak, tapi masih menempel di wajah. Kalungnya terputus menjadi dua bagian.


Kondisi itu membuat delapan anggota Ular Hitam, memutuskan untuk lari. Hanya saja, mereka tak mampu melakukannya. Musuh mereka dari pihak Parang Jaya segera meringkus. Mental yang turun membuat tak bisa menang.


Wanita berbaju putih membalikkan badan. Menatap lekat Loka Hita yang masih kelelahan. Tangan kanannya yang tak memegang busur bergerak cepat. Sebuah gelembung dengan sinar keemasan muncul di udara. Tangan itu kemudian mengibas, membuat gelembung melayang cepat menuju Loka Hita.


Loka Hita menahan nafas saat gelembung mengenai tubuhnya. Gelembung itu tidak pecah. Malah, membungkus tubuh Loka Hita.


"Bunuh dia, Loka Hita!" Wanita berbaju putih berdesis pelan.


Loka Hita menatap kaget wanita di depannya. Juga seluruh orang dari Parang Jaya.


"Tapi, Nona! Dia harus diserahkan pada pengadilan!" seru seorang Nayaka.


Wanita berbaju putih mengabaikan. Matanya menatap lekat Loka Hita.


"Bunuh dia, Loka Hita. Penggal kepalanya!"


Suaranya begitu tajam dan dingin. Penuh pesona yang tak bisa ditolak.


"Pisahkan kepala dan badannya, Loka Hita. Jangan biarkan keduanya saling bersentuhan lagi. Lakukan, Loka Hita. Sekarang!"


Tepat di ujung kalimat, Loka Hita mengangguk.


Tubuhnya melompat ke udara. Dengan peringan tubuh, Loka Hita sampai di samping tubuh Kobra Hitam yang terluka parah. Tanpa menunggu apa pun, tanpa menghiraukan larangan Panglima, Loka Hita menyabetkan pedangnya. Lantas, mengambil kepala musuh dan segera melompat, kembali ke depan gerbang desa.


Wanita berbaju putih tersenyum. Lantas menggerakkan tangan kanannya. Gelembung keemasan yang membungkus Loka Hita, langsung pecah. Kepala Kobra Hitam terjatuh ke tanah.


"Siapa Anda, Nona?" Loka Hita mewakili rasa penasaran kawan-kawannya.


"Karena musuh dikenal Kobra Hitam, panggil saja saya Putih."


"Putih?!" ulang semua orang.


Putih mengangguk. Senyumnya mengembang. Senyuman yang begitu menawan. Sekarang, barulah seluruh perhatian tertuju pada Putih.


Dia wanita berwajah cantik dalam balutan pakaian putih bersih. Tanpa noda sama sekali. Begitu cemerlang.


Sebuah hiasan bewarna keemasan menghiasi kepala. Menutupi rambut bagian atas dan dahi. Rambutnya bewarna hitam pekat, sangat kontras dengan baju dan kulitnya. Dua tali keemasan yang lebar dan panjang, menghias sela-sela rambut.

__ADS_1


Putih hanya membawa senjata busur dan tabung anak panah di punggung. Busur bewarna keemasan yang sangat memukau. Ukiran rumit menghiasi busur dan tabung anak panah.


"Kenapa Nini datang dan menyerang Kobra Hitam? Dan, kenapa tak membunuhnya?"


"Aku tidak menyerang Kobra Hitam, Loka Hita. Tapi, aku hanya membantumu. Itu tugasku. Aku tak membunuhnya karena aku tak bisa. Kau-lah yang bisa."


Loka Hita menggeleng. Dia tak mengerti.


"Sekarang, kau mungkin belum mengerti. Tapi, suatu hari nanti kau akan mengerti. Aku memang ditugaskan membantumu, tapi tak di setiap kesempatan. Sebenarnya, kita sangat dekat. Hanya saja, kau tak pernah menyadarinya." jelas Putih.


Loka Hita hanya menarik nafas. Itu artinya, ada banyak rahasia yang harus dia ungkap.


"Kau pasti akan menemukanku kembali, Loka Hita. Selama itu belum terjadi, aku akan selalu sabar menantimu."


Putih menatap langit, malam kian pekat. "Baiklah, lebih baik aku jelaskan tentang Kobra Hitam dan perintahku untuk membunuhnya,"


Kobra Hitam adalah sosok penuh sihir dan racun. Hanya senjata khusus di tangan orang tertentu,nyang bisa mengalahkannya. Termasuk anak panah yang dilepas dari busur emas di tangan Putih. Karena itulah, dia bisa dikalahkan dengan mudah.


Hanya saja, Putih takkan bisa membunuh Kobra Hitam. Karena dia hanya mempunyai kemampuan mengalahkan. Bukan membunuh. Harus orang lain yang membunuhnya. Itu sebabnya, Putih meminta Loka Hita agar melaksanakan tugas itu.


Gelembung keemasan yang diciptakan Putih, akan melindungi Loka Hita dari sihir dan racun. Tak semua sihir Kobra Hitam bisa ditangkal mustika Daun Langit.


Satu kemampuan cambuk iblis yang mengerikan adalah, membangkitkan makhluk jahat di tubuh Kobra Hitam saat dirinya di ujung kematian. Makhluk itu lah yang akan membantu Kobra Hitam untuk kembali bangkit. Hanya satu cara menghentikannya, yaitu dengan memisahkan kepala dan badan Kobra Hitam. Makhluk itu takkan bisa hidup di badan tanpa kepala, mau pun sebaliknya.


"Bukalah topengnya di hadapan Sang Prabu kerajaan ini. Kalian akan terkejut melihat wajahnya," Putih menyelesaikan penjelasan.


Panglima dan seluruh orang Parang Jaya mengangguk. Kini, mereka mengerti alasan Putih meminta Loka Hita membunuh Kobra Hitam. Tanpa harus melalui persidangan.


"Baiklah, waktuku sudah habis. Sampai jumpa, Loka Hita!"


Putih melompat tinggi ke udara. Sekejap, sepasang sayap indah teebentang di belakang tubuh Putih. Seperti tenaga dalam, tapi tampak nyata sekali. Sayap putih keemasan pun mengepak. Dan tubuh Putih menjauh. Hilang dari pandangan.


"Siapa sebenarnya perempuan itu, Nini?" Panglima memberanikan diri untuk bertanya.


Loka Hita menggeleng, "Saya pun tak mengenalnya. Dia seperti bukan manusia. Pakaiannya sama sekali tak bernoda."


"Saya yakin, ilmunya sangat tinggi. Namun, saya tak pernah mendengar kabar tentang pendekar wanita dengan ciri-ciri seperti Putih," Agni Putih menyahut.


"Sudahlah." Loka Hita melambaikan tangan. "Sekarang, kita sampaikan kabar gembira ini pada penduduk."


"Benar, Nona. Berkenankah Nona ikut kami ke kota raja?" tawar Panglima


"Untuk apa?"


"Bertemu Gusti Prabu. Beliau pasti gembira karena bertemu penyelamat kerajaan ini."


"Akan saya pikirkan."


Loka Hita memberikan hormatnya pada Panglima. Lantas melambai pada Hansa Daya dan Giri Wasa. Mereka masuk ke desa, mendahului pemimpin pasukan Parang Jaya.


"Sombong sekali! Mengapa tak langsung mengiyakan permintaan Panglima?!" gerutu salah satu komandan.


"Husstt!" Panglima melambaikan tangan. "Bagaimana pun, dia yang menyelamatkan kerajaan ini. Menumpas kepala kelompok Ular Hitam. Memang Putih yang mengalahkan Kobra Hitam, tapi itu karena adanya Nona Loka Hita di antara kita."


Sementara, Putih masih memandang mereka dari kejauhan. Dalam sosok yang dikenali Loka Hita.

__ADS_1


__ADS_2