
Jangan menangis karena seseorang telah pergi. Tersenyumlah, karena dia pernah hadir.
Langit masih remang saat Laras terbangun. Tak didapatinya pria hebat itu di sekitarnya. Bahkan pelayannya pun tak ada. Hanya dirinya yang berada di dekat api unggun. Bergegas, dilangkahkannya kaki. Menuju sebuah aura yang dikenalinya.
"Kau sudah bangun, Laras?" Arya Wira melambai. Dirinya sedang berada di atas batu sungai. Paman Jaka berdiri di tepian sungai.
"Apa yang kau lakukan?"
"Berlatih. Selagi matahari belum memanas."
"Ditemani Paman Jaka?"
"Iya." Arya Wira menyarungkan kembali pedangnya. Lantas melompat menuju tempat Laras.
"Kita lanjutkan perjalanan. Tak jauh lagi, sepertinya ada kota. Kita bisa ke sana. Bagaimana?"
"Baiklah. Itu ide bagus, Nandana. Ayo!"
Arya Wira menyusul langkah Laras. Diikuti Paman Jaka. Arya Wira memang baru saja berlatih. Namun juga baru saja menerima kabar dari mata-mata khususnya dan mengirim perintah terbaru. Tak lupa, mengirim kabar pada Angga Perak tentang keadaannya.
Kabar dari prajurit bayang tidak main-main. Ki Grenda menghilang. Tepatnya, dibawa pergi oleh seseorang. Tepat di tengah malam, seseorang berjubah datang ke tempatnya. Dengan ilmu peringan tubuh yang tinggi, Ki Grenda dibawa pergi. Tanpa bisa dikejar oleh prajurit bayang Arya Wira.
Ki Sayap Hitam! Dari ciri-ciri yang dikabarkan oleh prajurit bayang, Arya Wira mencurigai orang itu. Maka, perintah berikutnya adalah kembali ke istana. Mengawasi keadaan sekitar.
"Jurus pedangmu sangat indah, Nandana. Dari mana kau mempelajarinya?"
"Dari ibu dan adikku. Kau sendiri mempelajari ilmu tongkat dari mana?"
"Dari paman sekaligus guruku. Kukira, kau belajar dari padepokan Sedayu." Laras dan Arya Wira memang sudah saling mengenal.
Obrolan tetap berlanjut hingga keduanya mendekati gerbang kota. Salah satu kota besar di Nala Pura. Arya Wira pernah beberapa kali kemari dalam kunjungan resmi.
"Kalian siapa?" salah satu penjaga menghadang.
"Kami hanya pengembara yang ingin beristirahat di sini," jawab Laras dengan senyuman.
"Pengembara?! Jangan masuk! Beristirahat saja di hutan!" sahut penjaga yang lain dengan ketus. Disambut gelak tawa oleh teman-temannya.
"Kenapa kami tak boleh masuk?" Arya Wira mengernyitkan dahi.
"Dari pakaian kalian, kalian terlihat sangat miskin! Hanya mengganggu pemandangan indah kota ini."
"Dan juga mengganggu Tuan Muda." sambung yang lain.
"Tuan Muda?" Laras menoleh pada Arya Wira.
"Kalian tidak tahu?! Dia putra adipati di sini. Semua orang harus patuh padanya. Dan pengembara seperti kalian, harus membayar upeti untuk kesempatan beristirahat dengan nyaman di kota ini."
Arya Wira mengerutkan dahi. Upeti untuk kenyamanan?! Ini pasti pemerasan. Pihak istana tak pernah sekali pun meminta upeti seperti itu. Hanya ada pajak bagi orang kaya dan para saudagar.
"Sudah! Pergi sana!" usir yang lain.
"Eh, tapi Nona yang cantik boleh kok masuk. Bayarnya dengan kepuasan pada Tuan Muda saja,"
"Dasar me***!" umpat Laras. Dia tahu maksud penjaga itu.
"Tidak perlu! Ini" Arya Wira melemparkan sekantong uang perak. "Cukup, bukan?!"
"Hehehe.. kalau segini, baru benar. Biarkan mereka!" seru penjaga pertama.
Arya Wira menggebah kuda, diikuti Paman Jaka dan Laras, meski Laras harus menahan kesal dan marah. Mereka memilih berhenti di sebuah kedai besar dan ramai.
"Kenapa kau malah membayar? Lebih baik kita beristirahat di hutan." sungut Laras saat mereka menunggu pesanan.
"Saya sangat ingin menikmati salah satu kota besar di Nala Pura ini, Laras. Juga sangat penasaran dengan si Tuan Muda itu."
Laras menghela nafas, kesal. "Terserah! Kalau sampai dia berani macam-macam denganku, awas saja!!"
Arya Wira tersenyum simpul melihat kekesalan Laras. Saat pelayan mengantarkan pesanan, Arya Wira menepuk telapak tangannya.
"Saya butuh informasi," bisiknya sambil mengeluarkan tiga koin emas.
"Tentu, Tuan," dengan gerakan halus, pelayan mengambil uang tersebut.
"Sejak kapan ada upeti untuk kenyamanan pengembara. Beritahukan apa pun yang kau tahu tentang Tuan Muda dan perilakunya."
__ADS_1
Pelayan mengangguk pelan. Lantas undur diri. Agak lama, pelayan lain datang membawa dua kendi legen (minuman manis). Sambil meletakkan dua kendi, tangannya menjatuhkan sesuatu ke pangkuan Arya Wira.
"Butuh tiga orang untuk menjawab semua keinginan Tuan," bisiknya halus.
Dalam gerakan cepat, Arya Wira meletakkan enam koin emas. Setelah pelayan pergi, Arya Wira membuka pesan. Wajahnya tetap datar meski hatinya marah besar.
Tuan Muda memang sudah lama melakukan semuanya. Memeras warga dan pengembara yang singgah. Memaksa banyak perempuan untuk kepuasannya. Menghukum orang yang berani menentang dan mengganggunya.
Ditakuti karena ada kekuasaan sang ayah di belakangnya. Juga pendekar yang dibayar. Sayangnya, semua tindakan Tuan Muda selalu ditutup-tutupi dari sang ayah. Sang Adipati memang tak begitu memperhatikan kelakuan anaknya. Dia terlalu sibuk dengan perdagangan dan urusan kota.
Di saat asyik menyantap makanan, perhatian mereka teralih. Seorang pemuda terlihat begitu mencolok dengan pakaian begitu mewah, memasuki kedai. Ada tiga orang berpakaian mahal bersamanya. Juga lima orang berpakaian pendekar. Mereka mengusir tiga orang yang sedang menyantap makanan.
"Tuan, itulah Tuan Muda," bisik seorang pelayan saat melewati meja Arya Wira.
Arya Wira mengangguk samar. Dia ingat gurat wajah pemuda itu. Meski tak pernah bertemu saat dulu berkunjung kemari, tapi gurat wajahnya yang benar-benar mirip dengan sang adipati.
"Permisi, Nini," salah satu kawan Tuan Muda mendekat.
Laras hanya melirik sebentar. Lantas kembali melanjutkan makannya.
"Tuan Muda ingin agar Nini makan semeja dengan beliau. Ini adalah sebuah kehormatan bagi Nini, makan bersama putra adipati."
Laras hanya menggerakkan bola matanya. Tak ingin membalas rayuan pemuda di depannya.
"Maaf, Tuan. Sepertinya kawan saya keberatan dengan hal itu," sela Arya Wira.
"Siapa yang memintamu menjawab?!" bentak kawan Tuan Muda.
Arya Wira hanya tersenyum dan mengangkat bahu. Sedangkan Laras malah berdecak kesal.
"Nini, mari saya..."
"Hei!!!" potong Laras, "kau tidak mendengar ucapan kawanku?! Aku tak mau makan di sana!"
"Nini menolak ajakan Tuan Muda? Ini hal yang gila, Nini."
"Dia yang gila! Saya tak mau makan dengan orang gila macam dia!!" Laras meludah ke samping.
"Kau berani sekali!"
Meja digebrak. Laras hanya melambaikan tangan. Arya Wira tersenyum simpul. Sementara Paman Jaka kaget tapi memilih diam saja.
"Kau akan menyesal!"
"Coba saja!" desis Laras. Matanya menatap tajam rombongan Tuan Muda.
"Hei! Gadis ini menyebut Tuan Muda sebagai orang gila!" teriakan menggema, menguasai seluruh pendengaran di dalam kedai.
Maka tanpa lama, pertarungan sengit terjadi di dalam kedai. Laras melawan lima pendekar bayaran. Arya Wira memilih diam di tempat. Malah asyik menikmati buah pisang. Paman Jaka juga menyaksikan di dekat Arya Wira. Hanya saja, dia tampak cemas dan gelisah.
"Paman tak perlu cemas. Laras pasti bisa menyelesaikan semuanya," Arya Wira menepuk pundak Paman Jaka.
"Saya tahu, Den. Nona Laras itu sangat hebat. Tapi, dia melawan lima orang."
Arya Wira tertawa sebentar. "Mereka semua hanya pendekar rendahan, Paman. Tenang saja."
Benar saja, belum juga Arya Wira menyelesaikan pisang ke tiga, Laras sudah berdiri angkuh sambil mengibaskan kedua tangan. Lima pendekar bayaran sudah tergeletak dengan luka yang cukup parah.
"Nah, ajak Laras keluar, Paman. Saya akan membayar semua kerusakan ini."
"Baik, Aden." Paman Jaka segera menghampiri Laras yang masih menatap kesal pada Tuan Muda.
Setelah kepergian Laras dan Paman Jaka, rombongan Tuan Muda ikut pergi. Menahan rasa marah dan malu luar biasa. Sementara Arya Wira mengganti semua kerusakan yang diakibatkan pertarungan Laras.
Dari kedai, ketiganya memilih mencari penginapan. Agar tubuh bisa beristirahat. Setelah selesai membayar uang sewa, Arya Wira memutuskan untuk pergi.
"Terima kasih, Vayu. Sekarang kau bisa pergi. Sampaikan pesanku untuk Dinda Hita," Arya Wira melepas Vayu. Burung bewarna coklat bersih itu pun terbang.
Loka Hita baru saja mengirim kabar. Bahwa dirinya sedang berada di kerajaan Parang Jaya. Dia bercerita tentang pertempuran Parang Jaya dengan kelompok Ular Hitam. Juga tentang Kobra Hitam dan Putih.
"Sejak kapan kau mengintip?" Arya Wira menatap tajam ke arah pepohonan yang rapat.
"Maaf, baru saja." Seorang wanita berpakaian putih keluar. Sebuah busur bewarna emas tergenggam di tangan kiri.
"Siapa kau?"
__ADS_1
"Aku yang ada dalam pesan adikmu."
"Putih?!" terka Arya Wira dengan tak yakin.
"Benar. Kau harusnya menebak dengan yakin, Rama Wangi. Seyakin Ratri Parvati saat memenggal kepala Kobra Hitam."
"Siapa kau?!" Arya Wira terbelalak kaget.
"Belum saatnya untukmu, Rama. Sekarang, urusan pentingmu adalah Paman Jaka."
"Paman Jaka?!" Ucapan Putih begitu mempesona. Seakan menguasai lawan. Membuat Arya Wira tertarik dengan pembicaraannya. Dan tak lagi menanyakan tentang dirinya.
"Saat aku kemari, kulihat dia dibawa serombongan orang. Kembalilah, Rama!"
Di akhir kalimat, Putih langsung melompat. Pergi tanpa bisa ditahan. Arya Wira bergegas kembali ke penginapan. Bukankah Paman Jaka bersama Laras?!
"Laras, ada apa?" tanya Arya Wira begitu melihat Laras di depan penginapan, bersama dua pelayan.
"Nandana, Paman Jaka!" Laras mengambil nafas. "Tadi aku pergi sebentar. Saat kembali, Paman Jaka tak ada di penginapan. Kata mereka, orang-orang suruhan Tuan Muda yang membawa Paman."
"Tuan Muda?"
Dua pelayan mengangguk takut-takut. Antara takut kepada Tuan Muda dan takut kepada dua tamu mereka. Apalagi, Arya Wira membawa sebilah pedang.
"Laras, kau tetap di sini. Aku yang akan mengurusnya."
"Biarkan aku ikut, Nandana!"
"Kali ini, kumohon penuhi permintaanku. Tetaplah di sini. Aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan."
Melihat kesungguhan Arya Wira, Laras memilih menurut. Dia membiarkan kawannya pergi sendirian.
Bangunan indah dan luas menjadi tujuan Arya Wira. Rumah Adipati. Dia benar-benar tahu apa yang harus diperbuat. Agak jauh dari bangunan tersebut, pakaiannya berganti. Dirinya memang menyimpan pakaian khusus itu dalam ruang pribadinya. Hanya dia yang bisa mengambilnya. Tak lupa sesuatu yang sangat penting. Lencana keluarga kerajaan dan tanda pengenal yang hanya dimiliki olehnya seorang.
"Maaf, siapa Tuan?" penjaga depan menahan kuda Arya Wira.
"Kalian tidak mengenaliku?" Arya Wira menatap tajam para penjaga.
"Maaf, Tuan siapa?"
Arya Wira mengeluarkan lencana keluarga kerajaan. Dan tanda pengenal khusus. Sontak, para penjaga bersimpuh dan menghormat. Mereka mengenali dua tanda itu.
"Ampuni kami, Gusti Prabu."
Arya Wira melambaikan tangan. "Kau!" tunjuknya pada salah satu prajurit, "panggilkan Adipati. Katakan, aku menunggunya!"
Selesai berucap, masuk ke kawasan rumah. Seorang pelayan segera mengambil alih kuda setelah Arya Wira turun. Dua pelayan lain segera mempersilahkan Arya Wira ke dalam bangunan. Adipati sedang tak ada di rumah, Arya Wira harus menunggu.
"Rumah ini hanya ditempati Adipati dan istrinya. Aku tahu, rumah ini adalah peninggalan orang tua Adipati. Sedangkan Putra tunggalnya tinggal di rumah lain. Aku ingin tahu, seperti apa rumah seorang Tuan Muda itu," gumam Arya Wira sambil melihat-lihat isi ruangan.
"Mbok!" Panggil Arya Wira pelan.
Seorang pelayan wanita yang cukup tua mendekat. "Apakah Adipati menghabiskan banyak biaya untuk Tuan Muda?"
"Ampun, Gusti Prabu. Saya tak mengetahui banyak. Hanya saja, Tuan Adipati selalu memberikan keinginan Tuan Muda selagi Tuan Adipati bisa."
"Apakah pernah permintaan Tuan Muda pernah tak dituruti?"
"Pernah, Gusti Prabu. Beberapa kali."
Arya Wira mengannguk.
"Ada masalah yang hanya bisa diselesaikan oleh seorang prabu. Ada pula masalah yang hanya bisa diselesaikan oleh selain seorang prabu. Karena pohon tak bisa ditebang dengan jarum. Dan kain tak bisa dijahit dengan kapak," gumamnya pelan.
"Ampun Gusti Prabu, Tuan Adipati telah tiba."
Baiklah. Kini, saatnya seorang raja menjalankan tugasnya.
\=\=\=\=\=\=~~~\=\=\=\=\=\=\=
Terima kasih untuk semua dukungan dan like ya...
Mampir juga di novel saya
My Love My Heart
__ADS_1