Legenda Pendekar Rama Parvati

Legenda Pendekar Rama Parvati
Mengunjungi Loka Hita


__ADS_3

Sehebat apapun manusia, nyatanya tetaplah lemah. Tak bisa menghindar dari semua bahaya. Karena seutuhnya kekuatan hanya milik Sang Kuasa. Tapi betapa bodoh manusia! Menganggap diri begitu berkuasa, padahal takkan bisa berbuat apa-pun kala maut menjemput.


Memang, kemalangan tak pernah peduli pada siapa dia hadir. Dan kemalangan pun menimpa Loka Hita. Meski memiliki ilmu tinggi dan kuat, dia kini terbaring di salah satu bangunan istana.


"Maaf, Gusti Prabu," tabib istana menunduk. Dia baru saja memeriksa Loka Hita.


"Ada apa, Tabib? Bagaimana keadaannya?!" Arya Wira tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.


"Kondisi Putri sangat parah, Gusti Prabu. Luka dalamnya sangat parah. Mungkin, Putri tak akan sadar dalam waktu dekat, Gusti Prabu."


Arya Wira mendesah pelan, ditatapnya adik tunggalnya. Baru dua hari yang lalu, dirinya sangat berbahagia menyambut Loka Hita. Kini, kesedihan menyayat hatinya.


"Usahakan yang terbaik, Tabib," pesan Arya Wira sebelum keluar dari bilik.


Di luar, Panglima Mahanta dan Angga Perak sudah menunggu. Mereka segera berdiri saat Arya Wira muncul dari bilik.


"Kondisinya terlalu parah, Paman, Raka. Saya tak tahu harus bagaimana."


"Tabib akan berusaha, Gusti Prabu. Saya sangat mengenal Tabib Cipta dengan baik, Gusti Prabu. Beliau pasti berusaha sekuat mungkin untuk menyembuhkan Putri Loka Hita," hibur Panglima Mahanta.


Arya Wira mengangguk samar. Tabib Cipta adalah tabib yang dahulu mengobati rombongan Prabu Garuda Rama saat pemberontakan dahulu. Itulah yang dikhawatirkan Arya Wira. Dia takut, Tabib Cipta akan mengenali Loka Hita.


"Rayi Prabu, Rayi akan tetap menemui Selir Arum?"


"Iya, Raka. Saya tetap akan menemui beliau." Arya Wira kembali menatap dua orang yang bersamanya, "Raka, Paman, kita harus mencari tahu lelaki berjubah hitam itu. Apa tujuannya mengintai kita."


"Daulat, Gusti Prabu."


"Baik, Rayi Prabu."


Seekor capung hinggap di lubang jendela.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=~~\=\=\=\=\=\=\=\=...


Seekor capung hinggap di ujung daun. Lantas kembali terbang saat seseorang melewatinya. Disusul dua orang lainnya. Mereka berhenti di pinggir sungai. Menatap seorang gadis berwajah tirus yang masih berlatih olah kanuragan. Bertiga, mereka menunggu dengan berdiri hingga sang gadis menyelesaikan latihannya.


"Raka Wasa, Tabib Hansa," gadis itu menoleh.


"Pitaloka," dua lelaki menjawab bersamaan.


"Yah mesti begini. Saya tak dianggap..." sungut seseorang.


"Bukan begitu, Janu," gadis itu, Pitaloka, tersenyum dan menahan tawa, "bukannya tak dianggap, Janu. Tapi, saya lupa hendak menyebutmu."


"Iya, orang seperti saya memang sering dilupakan," gerutunya


"Janu!" Hansa Daya (Tabib Hansa) menyenggol pundak pelayan setianya, "lupakan ucapannya, Pitaloka! Dia memang sering ngawur."


Pitaloka tertawa, "Kenapa Raka dan Tabib kemari?"


"Hanya ingin melihatmu berlatih, Pitaloka." Giri Wasa menjawab enteng.


Pitaloka memilih duduk di bawah pohon, lantas baru melanjutkan perbincangan. Hansa Daya dan Giri Wasa ikut duduk di dekat Pitaloka. Ah, iya, dengan Janu juga.


Memang dalam waktu singkat, mereka menjadi kawan dekat. Giri Wasa memang sudah memutuskan untuk tinggal di padepokan Sedayu. Hansa Daya juga memilih tinggal di padepokan. Selain belajar ilmu kanuragan, Hansa Daya juga meracik berbagai obat untuk persediaan padepokan.


"Kalian tidak ingin berkelana?" Pitaloka menoleh bergantian ke Giri Wasa dan Hansa Daya.

__ADS_1


"Saya ingin sekali berkelana, Pitaloka," jawab Giri Wasa jujur, "tapi apakah Empu Dipta akan mengizinkan? Bagaimana denganmu, Hansa?"


"Saya pun ingin kembali berkelana, Wasa. Dulu, saya sering berkelana bersama Janu sebagai seorang tabib. Kini, saya ingin berkelana sebagai seorang pendekar dan tabib."


"Memangnya, Nini Pitaloka mau ke mana?" Janu ikut berbicara.


"Ke mana saja, Janu. Melihat dunia yang luas. Dulu, saya pernah beberapa kali turun gunung. Tapi selalu bersama Paman Guru atau Yunda Hita. Saya juga ingin menjenguk Raka Wira dan Yunda Hita di Nala Pura."


"Tuan Arya Wira kakak Loka Hita?" Hansa Daya meyakinkan diri.


Pitaloka dan Giri Wasa mengangguk bersama, "Kamu juga ingin bertemu mereka, Hansa?"


Hansa Daya mengangguk, "Saya ingin bertemu Tuan Arya Wira. Dia pernah menolong saya saat di Nala Pura. Tapi, kalian mengetahui keberadaan mereka?"


Walau dekat, nyatanya Giri Wasa dan Pitaloka lupa tak memberi tahu tentang sayembara yang diikuti Arya Wira.


Giri Wasa dan Pitaloka tertawa, "Maaf, Hansa. Kami lupa memberi tahumu sesuatu," Giri Wasa menggaruk kepalanya, "kamu pernah mendengar sayembara di Nala Pura beberapa sasi yang lalu?"


"Tentu, Wasa. Sayembara pencarian suami Putri Dewi Nirmala, bukan?!"


"Lalu, kamu tahu siapa pemenangnya?"


Hansa Daya menggeleng, "Saya sudah pergi dari Nala Pura sebelum sayembara dimulai, Wasa."


"Pemenangnya orang yang kita bicarakan, Tabib. Dia Raka Wira. Bahkan, sekarang Raka Wira sudah menjadi seorang prabu di sana."


Hansa Daya membelalakkan mata karena kaget. Jadi, Loka Hita adalah seorang putri kerajaan? Adik seorang Prabu?!


"Ya sudah, besok kita ke sana. Saya yakin, Paman Guru akan mengizinkan," Pitaloka bangkit.


"Jangan panggil saya tabib lagi! Itu terlalu berlebihan. Kau juga tak mengizinkan saya memanggilmu Yunda atau Nona."


"Lalu, saya memanggilmu dengan Raka?"


"Jangan, Pitaloka. Nanti, kau menyamakan saya dengan Giri Wasa dan Tuan Arya Wira. Panggil saja Hansa. Seperti Giri Wasa memanggil saya."


"Baiklah, mulai sekarang saya akan memanggilmu Hansa," Pitaloka tersenyum. Hanya dia yang mengerti arti senyumannya.


"Ya sudah, ayo segera kembali. Kita harus segera meminta izin Empu Dipta." Giri Wasa kembali berjalan.


Tak perlu meminta izin, bahkan Empu Dipta meminta mereka segera ke Nala Pura. Menjenguk Loka Hita dan Arya Wira. Empu Dipta hanya mengatakan, ada baiknya mereka menjenguk kakak seperguruan mereka yang kini berada di istana Nala Pura. Tentu saja, hal ini menggembirakan empat murid padepokan Sedayu (Janu kadang ikut berlatih) meski mereka merasa janggal dengan alasan Empu Dipta.


Empu Dipta memang merasakan ada yang tidak beres dengan dua anak angkatnya. Terutama sepulang berkunjung dari rumah Nyai Alisha. Nyai Alisha berfirasat tidak baik tentang putri bungsunya. Dan semua menjadi lebih jelas beberapa saat yang lalu. Utusan Nyai Alisha memberikan surat yang dikirim oleh Arya Wira kepada ibundanya. Surat yang mengabarkan keadaan Loka Hita.


Hanya butuh beberapa waktu, keempat murid padepokan Sedayu sudah menggebah kuda. Pergi menuju kerajaan Nala Pura. Menemui Arya Wira dan Loka Hita tanpa mengetahui keadaan yang sebenarnya.


Sedangkan itu, jauh di Nala Pura, Arya Wira sedang menemani Dewi Nirmala yang menjenguk Loka Hita.


"Kanda, tubuhnya masih sangat dingin," Dewi Nirmala mengusap pipi iparnya.


"Iya, Dinda. Tabib Cipta sudah memberikan obat, tapi hanya membantu sedikit. Katanya, obat untuk Dinda Hita sangat sulit dicari."


"Kanda harus yakin dan kuat. Saya yakin, Dhiajeng Hita akan sembuh. Dia sangat kuat, Kanda."


"Terima kasih, Dinda," Arya Wira mencium kepala istrinya.


"Ampun, Gusti Prabu," seorang emban masuk dengan kepala menunduk.

__ADS_1


"Ada apa?" Arya Wira menoleh


"Gusti Selir Arum berada di luar kamar, Gusti Prabu."


"Selir Arum?!" Arya Wira bergegas keluar.


Di luar kamar, seorang wanita sedang berdiri, menunggu sesuatu. Pakaiannya yang putih bersih sangat kontras dengan rambutnya yang masih hitam legam. Tak ada satupun hiasan di tubuhnya, bahkan walau sekuntum bunga di rambut.


"Salam dari saya, Selir Arum. Semoga kesejahteraan bagi kita bersama," Arya Wira mengatupkan tangan di depan dada


"Salam, Gusti Prabu Arya Wira," perempuan itu tersenyum sambil mengangguk.


"Maafkan saya, Selir Arum. Seharusnya, saya yang berkunjung pada Selir."


Selir Arum menggeleng, "Bukan sebuah kesalahan, Gusti Prabu. Panggil saja saya Bibi. Bagaimana pun, kau menduduki kedudukan putra Yunda Erina. Saya ingin menganggapmu keponakan, Gusti Prabu. Maaf bila terlalu lancang,"


Arya Wira tersenyum, "Suatu kehormatan saya bisa memanggil Selir dengan Bibi. Bila Selir Arum adalah bibi, maka biarlah saya menjadi keponakan."


"Bahkan, sejatinya saya adalah putramu, Ibunda Arum," bisik hatinya pada diri sendiri.


"Terima kasih, Nanda Prabu. Bagaimana keadaan Putri Loka Hita?"


"Silahkan masuk, Bibi,"


Selir Arum tersenyum. Ada kesejukan saat dirinya dipanggil bibi oleh Arya Wira. Entah mengapa dan bagaimana, dia pun tak mengerti.


"Salam dari saya, Selir Arum," Dewi Nirmala bangkit dan mengatupkan tangan di depan dada.


"Salam, Ratu Dewi," Selir Arum tersenyum ramah. Lantas mendekat ke ranjang Loka Hita.


Selir Arum duduk di tepi ranjang, menatap wajah Loka Hita. Wajah itu! Wajah yang tak asing. Garis bibir yang sangat dikenali. Seperti seseorang yang sangat dia hormati. Andai gadis di depannya membuka mata... Selir Arum sangat ingin melihat mata gadis itu.


"Maaf, Nanda Prabu. Wajah Putri Loka Hita begitu cantik. Bahkan meski pucat karena sakit," puji Selir Arum.


"Terima kasih, Bibi..."


"Melihat wajahnya, saya jadi teringat orang yang sangat saya hormati," Selir Arum membelai rambut Loka Hita, "Seperti wajah Yunda Ayu Gantari,"


Arya Wira menahan nafas. "Maaf, Bibi. Ayu Gantari?" Arya Wira akhirnya bertanya setelah sesaat berfikir.


"Kau tak mengenalnya, Nanda Prabu. Ah, lupakan saja," Selir Arum menoleh dan tersenyum tipis.


"Saya sangat mengenalnya, Ibunda Arum. Sangat," bisik Arya Wira di hati.


Itu nama Ibundanya saat muda. Nama yang selalu disebut ayahnya. Ayahnya tak pernah memanggil ibundanya dengan nama Erina Maheswari, melainkan Ayu Gantari. Nama yang hanya diketahui oleh keluarga kerajaan.


Arya Wira menghela nafas pelan. Mungkinkah Selir Arum mengenali mereka?!


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=~~~\=\=\=\=\=\=\=...


Dukung saya terus ya


like, komen, share, dan vote 😘😘😘😘😘😘


Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak di novel saya


My Love My HeartπŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—

__ADS_1


__ADS_2