Legenda Pendekar Rama Parvati

Legenda Pendekar Rama Parvati
Pertemuan Kedua


__ADS_3

Kesunyian hutan terpecah oleh denting pedang dan dentum pukulan. Di salah satu pedalaman hutan, pertarungan terjadi. Seorang gadis remaja berwajah ayu melawan empat pendekar bersenjata.



Sedangkan dua orang lelaki terduduk tak berdaya di bawah pohon, tak jauh dari mereka. Dua orang itu tampaknya tak bisa bergerak karena totokan.



Bukan pertarungan sengit. Si pendekar wanita tidak kesulitan mengimbangi permainan lawan. Bahkan, tampak bahwa dia hanya bermain-main.



"Bocah teng\*k!!!" Cerca seorang pendekar bertombak. "Kau hanya main-main! Ayo, lawan kami dengan benar!"



"Dengan bermain-main pun, kalian tak mampu mengalahkan saya," si pendekar wanita tersenyum mengejek.



"Bedeb\*\*!" Seru pendekar lain, lelaki muda bersenjata pedang. "Siapa namamu, bocah!! Agar kami tuliskan di nisanmu nanti!!"



"Saya tak keberatan nisan saya tak bertulis. Tapi, haruskah saya biarkan arwah kalian penasaran?!" Pancingnya.



"Kalau begitu, beritahu kami namamu, gadis ayu. Nanti, kita bisa puas bersenang-senang," tukas seorang pendekar tua bersenjatakan tongkat.



"Jangan berpikir dunia saat nyawamu akan melayang, kakek tua," ejek si pendekar wanita.



"Akh!! Ingin mati kau!" Pendekar pertama segera menyerbu lagi.



Pertempuran terjadi lagi. Satu pendekar wanita melawan empat pendekar.



"Dasar membosankan! Lebih baik aku selesaikan dengan cepat!!" Desis si pendekar wanita.



Segera, laju pertarungan berubah. Pendekar wanita kini membuat seluruh penyerangnya dalam posisi bertahan. Pedangnya bergerak indah. Serangan mematikan ke bagian fatal. Juga gerakan pukulan tenaga dalam yang cepat. Pedangnya seolah bergerak dengan nyawa sendiri.



Hanya setengah dari waktu pertempuran pertama, satu orang roboh. Pendekar bertombak gugur. Pedang si pendekar wanita berhasil menebas urat nadinya. Hanya sempat berteriak sekejap lalu roboh tanpa nyawa.



Pertempuran kembali terhenti. Tiga pendekar langsung menjaga jarak dari si pendekar wanita. Kaget. Pendekar muda itu tak bisa mereka remehkan.



"*Jurus sepuluh cahaya*..." Desis pendekar tua tak percaya.



"Syukurlah kamu tidak pikun, kakek. Kamu mengenalinya dengan benar, Kek"



Sontak, ucapan si pendekar wanita menyiutkan nyali mereka. Itu jurus legendaris yang mematikan. Saling melirik, lantas mereka berlari meninggalkan medan.



Si pendekar wanita mendekati dua lelaki yang terduduk di bawah pohon. Menotok beberapa titik sehingga mereka bisa bergerak lagi.



"Terima kasih, Nona. Sudah dua kali Nona membantu saya," salah satu dari mereka segera mengucap terima kasih.



"Kau masih mengenaliku, Tabib Hansa?" Si pendekar wanita tersenyum.



"Tentu, Nona. Nona bernama Loka Hita, bukan?!"



Si pendekar wanita, Loka Hita, mengangguk. "Kalau ingat, harusnya kau tak memanggilku seperti itu."


__ADS_1


Tabib Hansa menggaruk kepalanya, "Maaf, Nona...eh, Hita."



"Lalu, kau siapa, kisanak?" Loka Hita menoleh pada lelaki lain.



Pemuda bertubuh sedikit pendek dan agak gemuk. Warna tubuhnya gelap dengan luka di dahi.



"Dia Janu, orang yang sering membantu saya selama ini." Tabib Hansa memperkenalkan pelayan setianya.



"Kok, aku tak bertemu dengannya saat di kedai dulu?"



"Saat itu, kami sedang berpisah, Hita. Janu harus tinggal di desa lain," jelas Tabib Hansa.



Setelah memastikan kondisi mereka baik-baik saja, Loka Hita kembali ke tempat kudanya. Tabib Hansa dan Janu memilih mengikuti Loka Hita. Tak lupa, mereka membawa dua kuda mereka yang menjauh saat perkelahian terjadi. Begitu sampai, Janu langsung terkagum melihat Vayu.



"Dari mana Nini dapatkan burung ini? Ini burung yang sangat langka," Janu menatap Vayu.



"Itu hadiah, Janu. Kenapa tak kau pegang?"



"Nanti, bulu indahnya kotor kena tangan saya, Nini. *Lha wong* tangan saya sangat kotor, kok"



Loka Hita dan Tabib Hansa hanya tertawa. Janu sepertinya masih terlalu polos. Juga, asal ngomong saja.



"Oh ya, bagaimana bisa kau dijadikan rebutan oleh mereka? Padahal, kau seorang tabib dan bukannya seorang pendekar." Loka Hita duduk di atas batu pinggir sungai.



"Bukan saya yang dijadikan rebutan, Hita. Tapi benda yang saya bawa," Tabib Hansa mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya, lantas menyerahkannya pada Loka Hita.



Sebuah benda berbentuk oval dengan warna hijau kebiruan. Begitu indah. Dan memancarkan suatu aura yang memikat. Sebuah mustika hebat.



Loka Hita tertawa sebentar, "Pantas mereka ingin mendapatkanmu. Ini sebuah mustika, Tabib. Kau tak mengetahuinya?"



Tabib Hansa menggeleng. Dia tak tahu. "Beberapa hari yang lalu, saya mendapatkannya dari orang tua yang saya obati, Hita. Dia memberikannya sebagai hadiah dan berpesan agar saya menjaganya baik-baik."



Loka Hita mengembalikan mustika itu pada Tabib Hansa, " Dia pasti seorang pendekar. Itu *mustika daun langit*. Saat seseorang memiliki dan menguasainya, dia akan mampu mengenali beberapa jenis sihir yang dikuasai orang lain dan menangkalnya. Itu berarti, orang tersebut tak bisa terkena beberapa sihir. Sihir yang bisa dikenali adalah sihir yang bisa ditangkal."



"Hebat sekali, Ni!" Janu ikut bersuara, "padahal, bendanya sangat kecil."



Loka Hita tersenyum sambil melambaikan tangan, "Tapi kalian tidak bisa menggunakannya."



"Lhoh? Kenapa tidak bisa Ni?" Janu semakin penasaran. Dia memang banyak bicara.



Loka Hita menghembuskan nafas, "Mustika itu hanya bisa dikuasai menggunakan tenaga dalam. Kalau aku tak salah, kalian tak mempunyainya."



Tabib Hansa dan Janu saling memandang. Mereka memang bukan pendekar. Jangankan tenaga dalam, kemampuan bertarung dengan tenaga fisik pun sangat dangkal.



Tabib Hansa menyodorkan kembali mustika daun langit pada Loka Hita, "Berarti Nona yang berhak memilikinya."


__ADS_1


Loka Hita mendengus kesal, "Sudah kubilang, jangan panggil aku Nona! Kalau Janu, silahkan saja. Tapi aku tak suka kau memanggilku Nona!"



Tabib Hansa menggaruk kepala, "Tapi, itu kurang sopan. Nona telah menolong saya dua kali. Bahkan, kali ini, Nona...."



Tabib Hansa menelan ludah. Logam pedang Loka Hita yang dingin menempel di lehernya.



"Ayo, panggil Nona lagi!" Loka Hita mendesis.



"Walah, Nini!" Janu berseru risau, "jangan bunuh tuan saya, Ni..."



Loka Hita melambaikan tangan. Angin tenaga dalamnya membuat Janu terdorong ke belakang.



"Maafkan saya, Hita. Baik, takkan saya panggil lagi dengan Nona..." Tabib Hansa menatap jerih pedang Loka Hita.



Loka Hita menarik pedangnya, menatap mustika daun langit yang tetap tersodor padanya, "Aku tak bisa menerimanya, Tabib."



Tabib dan Janu saling memandang. Bingung.



"Pendekar itu menyerahkan mustika itu untukmu. Kau sendiri yang harus menjaganya baik-baik."



"Tapi, saya tak memiliki ilmu bela diri."



Tiba-tiba saja, Loka Hita memegang tangan Tabib Hansa yang mengulurkan mustika daun langit. Memeriksanya. Lantas, menatap tajam tubuh Tabib Hansa, seperti mencari sesuatu. Membuat Tabib Hansa dan Janu mengernyitkan dahi.



"Pantas saja!" Loka Hita melepas pegangannya, "Pendekar itu ingin kau mempelajari ilmu bela diri. Terutama olah kanuragan. Dia tahu, kau memiliki susunan tulang yang kuat. Juga pasti bisa melihat bakatmu. Apalagi, kau pasti menolongnya dengan tulus, iya kan?!"



Tabib Hansa mengangguk. Dia memang menolong lelaki tua itu dengan tulus. Tak mengharap balasan walau ucapan terima kasih.



"Dia ingin agar kau menjadi pendekar hebat yang membela kebenaran." Lanjut Loka Hita.



Tabib Hansa memperhatikan mustika di tangannya, "Kalau begitu, bolehkah saya belajar pada Nona, eh... Hita"



Loka Hita menggeleng, "Aku tak bisa mengajari seseorang dari bawah. Pandai melakukan sesuatu tak berarti pandai mengajarkannya."


"Tapi, saya bisa membawamu ke padepokan tempat saya belajar. Guru saya tak mungkin menolakmu. Bagaimana?!"



Tabib Hansa segera mengangguk, "Tentu saya mau, Hita. Saya ingin sekali bisa melindungi orang-orang yang saya sayangi. Agar kejadian pembantaian seperti dulu tak terjadi lagi."



"Kalau begitu, kau akan ikut saya ke Gunung Selatan. Cukup jauh memang."



"Saya tetap boleh ikut kan, Nini? Sejak Tuan Hansa menolong saya, saya selalu menyertainya." Janu tiba-tiba ikut berbicara.



Loka Hita mengangguk. Janu tertawa gembira. Tabib Hansa tersenyum bahagia.



"Sekali lagi, terima kasih Hita. Setelah menjadi pendekar, saya berjanji, akan berusaha menjaga orang-orang yang saya sayangi. Orang-orang yang saya cintai." Tabib Hansa mengepalkan tangannya.



Loka Hita hanya tersenyum tipis. Senyuman penuh arti, "Apakah aku termasuk orang yang kamu sayangi, Tabib. Akankah aku bisa menjadi orang yang kau cintai sepenuh hati? Sayang dan cinta melebihi sebagai teman. Melampui sebagai sahabat..." batin Loka Hita penuh harap.

__ADS_1



*Dan, bibit-bibit indah itu mulai bertunas*...


__ADS_2