Legenda Pendekar Rama Parvati

Legenda Pendekar Rama Parvati
Ratri Parvati


__ADS_3

Mendung di Nala Pura kian mengelam. Semua teka-teki semakin merumit. Legenda Rama Parvati tengah berlangsung. Melukiskan berbagai cerita untuk menyelesaikan tugas dengan sempurna. Memperbaiki berbagai kesalahan dari masa lalu. Mengalahkan semua musuh dan lawan.


Loka Hita menghela nafas. Taman indah di istana Nala Pura takkan mengobati kesedihannya. Bahkan meski ada kepakan kupu-kupu beraneka warna. Kesedihan yang menimpa seluruh keluarga kerajaan. Juga penghuni istana dan penduduk Nala Pura.


Sepekan yang lalu dia tiba di kerajaan, setelah mendapat kabar dari Arya Wira tentang penyakit Dewi Nirmala. Saat dia tiba, kesedihan Nala Pura semakin pekat. Kondisi Dewi Nirmala semakin memburuk. Sebelum Hansa Daya sempat mengobati, Sang Ratu telah pergi.


Hansa Daya hanya sempat menjenguk dan memeriksa sekilas. Saat itu, racun telah menyebar di tubuh Dewi Nirmala. Tak hanya racun, ada sihir dalam tubuh. Sihir sama seperti sihir yang pernah melukai Loka Hita. Maka di akhir hari kedatangan Loka Hita, beliau wafat.


Arya Wira hanya diam mematung di samping jenazah sang istri. Tak ada air mata. Tak ada isakan. Kepedihan telah mengeringkan air mata. Kesedihan telah menghapus isakan.


Di sisi Arya Wira, Caraka menepuk lembut pundak menantunya. Dia mengerti perasaan kehilangan orang terkasih. Sangat mengerti.


Berbeda dengan Angga Perak. Sang Maha patih tak bisa menahan air mata. Mengalir meski tanpa isakan. Menetes walau tak deras.


Isakan paling keras. Air mata paling deras, berasal dari wanita yang melahirkan Dewi Nirmala. Pemaisuri dari Caraka. Begitulah seorang ibu yang menyanyangi anak. Tak ada yang bisa menggambarkan kesedihannya saat kehilangan putrinya.


Air mata juga mengalir di banyak pipi. Membasahi beberapa pipi. Tiga selir Caraka. Loka Hita. Selir Arum, yang belum sembuh. Pitaloka, yang masih terluka. Adik-adik Dewi Nirmala. Dan tentu saja, para rakyat dan penghuni istana Nala Pura.


Di hari pemakaman Dewi Nirmala, Nyai Alisha tiba. Tepat sebelum makam menantunya ditutup. Masih dengan topeng, dia mengikuti upacara dengan khidmat. Dan segera beristirahat selepas upacara karena kelelahan. Lelah, menempuh jarak jauh dengan tenaga dalam. Menggunakan peringan tubuh tanpa henti.


Setelah pemakaman, Arya Wira sering berjalan-jalan sendirian di taman. Teringat berbagai memori tentang istri dan cinta pertamanya. Sekaligus teman masa kecilnya. Satu-satunya orang yang mengetahui jati dirinya selain sang ibu dan adik. Ya, di akhir hidup Dewi Nirmala, Arya Wira memberitahukan kebenaran itu padanya.


"Dinda, maafkan Kanda yang harus menutupi semua ini. Firasat dan perasaan Dinda selama ini benar, Kanda adalah Rama Wangi. Putra sulung mendiang Prabu Garuda Rama," bisik Arya Wira lembut di telinga sang istri. Tak ada seorang lain pun di dalam kamar.


"Benarkah, Kanda?" Dewi Nirmala menatap lekat mata suaminya, "Apa buktinya?"


Arya Wira meletakkan jari di hidung istrinya, lantas berbisik pelan, "Hanya Rama Wangi yang memanggil Dinda dengan Runa sambil meletakkan jari di hidung."


Dewi Nirmala terbelalak. Runa. Benar, hanya Rama Wangi yang memotong nama itu, sambil meletakkan jari di hidungnya. Hanya Rama.


"Kanda tahu nama kecil Dinda?"


Arya Wira mengangguk sambil tersenyum, "Aruna. Karena terlahir saat cahaya fajar mengenai kamar Ibundamu. Itu nama dari ibunda Kanda, Ratu Erina Maheswari."


Dewi Nirmala tersenyum lebar. Bahagia sekaligus lega. Bahagia, karena telah bertemu teman terbaik di masa kecilnya. Lega, karena tahta Nala Pura kembali pada pemilik sah.


"Dinda sangat senang, Kanda kembali ke Nala Pura. Itu berarti, ibunda Alisha adalah Gusti Ratu Erina Maheswari?!"


Arya Wira mengangguk. "Jangan beritahu siapa pun tentang ini, Dinda. Ini pesan dan perintah Ibunda Alisha."


Dewi Nirmala menyanggupi pinta suaminya. Pasti ada alasan besar dan penting di balik perintah ibu mertuanya.

__ADS_1


Sehari setelah kabar itu, Dewi Nirmala pergi untuk selamanya.


...\=\=\=\=\=\=~~~\=\=\=\=\=\=...


Loka Hita menghentikan laju kudanya. Tepat di depan makam ayahandanya. Setelah mengikat kuda di tempat yang disediakan, dia memasuki area makam.


"Hita, kau ingin menziarahi makam mendiang Gusti Prabu Garuda Rama?" Hansa Daya menyejajarkan langkahnya dengan Loka Hita.


"Iya. Bagaimana pun, beliau seorang raja yang gugur demi kerajaan ini." Loka Hita tersenyum, "Nanti tinggalkan saya. Tidak perlu menemani saya ke makam beliau."


"Lho, kenapa Ni?" Janu menggaruk kepalanya.


"Saya ingin sendirian, Janu. Lagi pula, ini kebiasaan lama saya dan Kakang Wira. Kami sering kemari sendirian."


"Sudahlah, Janu. Turuti permintaan Hita." Giri Wasa menyahut.


Janu mengangguk meski heran. Dia, Giri Wasa, dan Hansa Daya memilih menuju makam yang lain. Di area makam ini, bukan hanya makam mendiang Prabu Garuda Rama. Ada makam mendiang Putri Kartika Dewi dan seorang selir. Makam mendiang Sang Prabu terpisah dari dua makam lain. Para penziarah hanya bisa memandang makam dari luar batas. Hanya orang tertentu yang berhak masuk ke dalam batas.


Loka Hita salah satu orang tertentu. Dia adik prabu Nala Pura sekarang. Bahkan, sebenarnya dia sangat berhak. Dia putri kandung mendiang Sang Prabu.


"Ayahanda..." desis Loka Hita lirih. Tangannya mengusap lembut tanah di depannya.


"Ayahanda, Kakang Wira sangat bersedih. Dewi Nirmala telah wafat, meninggalkan kami semua. Tahukah Ayahanda, pembunuh kakak ipar adalah pembunuh Ayahanda." Loka Hita mendongak, mencegah air mata turun.


Hari ini, Loka Hita memang memutuskan untuk kembali berkelana. Mencari sosok Ki Sayap Hitam dan muridnya. Bersama Hansa Daya, Janu, dan Giri Wasa. Pitaloka diminta Angga Perak untuk tetap di istana. Menjadi salah satu pendekar kerajaan yang melindungi Nala Pura. Selir Arum dan Tabib Cipta sudah sembuh.


Setelah dari makam sang ayah, Loka Hita menuju makam saudari seayahnya. Di sana, tiga temannya masih menunggu. Mereka tak mendapat izin untuk masuk ke area terbatas. Hanya Loka Hita yang diizinkan.


"Dhiajeng Kartika, saya rindu dirimu," desis Loka Hita. "Semoga saya bisa menyelesaikan tugas berat ini. Menemukan pembunuh Dhiajeng dan Ayahanda. Juga Ibunda Selir."


Saat kecil, Loka Hita memang sangat dekat dengan Kartika Dewi. Sementara Rama Wangi lebih dekat dengan Dewi Nirmala dan Angga Perak.


Setelah berdo'a dan keluar dari area terbatas, Loka Hita merasakan seseorang memandanginya. Instingnya sebagai pendekar memang tajam. Pandangannya menyapu sekilas sekitar. Dia menemukannya, meski tak begitu jelas.


"Kalian tunggu di dekat kuda. Saya akan segera menyusul."


Tanpa memberi kesempatan untuk jawaban, Loka Hita sudah melangkah cepat


"Walah, Nini main tinggal aja..." gerutu Janu.


"Ssstttt, Janu! Sudah, ayo keluar. Hita pasti punya urusan penting." Hansa Daya menarik tangan pelayannya. Giri Wasa hanya tertawa melihat kelakuan temannya.

__ADS_1


Loka Hita menepuk pundak seorang perempuan paruh baya yang sedang mengedarkan pandangannya. Perempuan baya itu refleks menoleh. Matanya terbelalak melihat orang yang menjumpainya,


"Putri Ratr... Hffttt"


Loka Hita sudah mendekap mulutnya sebelum namanya sempurna disebut. Matanya menatap tajam wanita di depannya, lantas meletakkan telunjuk di depan bibir. Setelah si wanita mengangguk, Loka Hita melepas dekapan tangannya. Lantas berjalan menjauh dari keramaian. Si wanita mengikuti dengan mata berkaca-kaca.


"Putri Ratri," lirih sekali nama itu disebut.


Loka Hita menoleh, menatap lembut si wanita, "Bibi Selasih,"


"Jadi, benar dugaan saya selama ini. Putri adalah..." Bibi Selasih tak meneruskan ucapannya.


Ratri Parvati mengangguk, "Iya, Bi. Saya Ratri. Prabu Arya Wira adalah Kakang Rama Wangi."


"Saya tak pernah menyangka akan bertemu Putri lagi. Saya pikir, Putri sudah.."


Ratri Parvati memutus ucapan Bibi Selasih dengan pelukan. Air matanya tak bisa ditahan. Dia sangat merindukan wanita ini. Bibi Selasih.


Bibi Selasih adalah ibu asuh para putri mendiang Prabu Garuda Rama. Dia lah yang membantu Ratu Erina merawat dua putri. Sedangkan pengasuhan Rama Wangi dibantu Paman Jalak, suami Bibi Selasih. Keduanya sangat dekat dengan putra-putri terbaik Nala Pura.


Saat pemberontakan, mereka selamat karena tak berada di istana. Mereka sedang menghadiri pemakaman salah satu kerabat di desa yang jauh.


"Bibi bisa mengenali saya?" Ratri Parvati melepas pelukan.


Bibi Selasih mengangguk, air matanya masih menetes, "Tentu, Putri. Saya sangat mengenal sifat Putri. Cara berjalan, berbicara, sorot mata, dan semuanya. Saya sangat kenal."


Mereka melepas rindu yang tercipta setelah bertahun-tahun tak pernah bertemu. Bibi Selasih dan Paman Jalak tak pernah kembali ke istana, mereka memilih tinggal di desa ini. Desa tempat junjungan dimakamkan. Rajin menziarahi makam putri asuh, Kartika Dewi.


"Apapun yang terjadi, Bibi tak boleh memberi tahu siapa pun. Hanya Paman Jalak saja. Ada banyak tugas yang harus kami selesaikan dengan nama baru kami."


Bibi Selasih mengangguk.


"Bibi, pergilah ke istana dan temui Kakang Rama. Dia pasti sangat bahagia. Kami sangat membutuhkan bantuan Paman dan Bibi di istana. Bibi berkenan membanty?"


"Baik, Putri. Apa pun perintah Putri, kami akan jalankan. Sebuah kebahagiaan dan kebanggaan bisa membantu Putri."


Ratri Parvati tersenyum. Mereka akan membantu banyak hal di sana. Bibi Selasih dan Paman Jalak sangat dikenali oleh keluarga Caraka. Juga Panglima Mahanta.


Pertemuan tak disangka ini memuluskan langkah awal rencana besar seorang Ratri Parvati. Dia tahu, akan banyak kejadian di istana setelah meninggalnya Dewi Nirmala.


Baiklah, saatnya kembali berkelana. Menyelesaikan tugas, mencari pembunuh kejam yang bersembunyi.

__ADS_1


\=\=\=\=\=~~~\=\=\=\=\=


Jangan lupa bantu saya dengan like dan komen. Ajak teman untuk meramaikan novel ini, ya...


__ADS_2