Legenda Pendekar Rama Parvati

Legenda Pendekar Rama Parvati
Tabib Hansa


__ADS_3

"Ibunda...." Teriakan penuh kegembiraan mengagetkan seluruh orang yang berada di halaman sebuah pondok.


"Nini Loka Hita sudah pulang?" sambut seorang perempuan.


"Iya, Bi. Ibunda di mana?" Loka Hita turun dari kudanya.


"Nyai Alisha sedang pergi ke telaga, Ni. Nini akan menunggu atau menyusul?"


"Saya akan menyusul," jawab Loka Hita. "Paman! Saya titip kuda, ya!"


Seorang lelaki tergesa mendekat, lalu meraih kekang kuda Loka Hita.


"Nini tidak berkuda saja? Telaga lumayan jauh lho, Ni,"


"Dekat, Paman. Saya sedang tak ingin berkuda. Saya pergi, Paman!"


Di ujung kalimat, Loka Hita sudah melenting ke atas. Pergi dengan peringan tubuh yang tinggi. Ukuran jarak memang relatif, apalagi Loka Hita adalah seorang pendekar.


"Enak, ya, jadi pendekar. Bisa pergi tanpa capek," seloroh salah satu pekerja di rumah Nyai Alisha.


"Hussst! Cuma enaknya yang kamu lihat. Jadi pendekar itu susah. Setahuku, di permulaan, mereka harus latihan keras setiap hari," tukas temannya.


"Iya! Lagi pula, mereka punya banyak tanggung jawab yang tak ringan. Mending seperti kita, sederhana. Apa adanya!" dukung pekerja lain.


Sedangkan itu, orang yang mereka bicarakan baru saja berhenti. Loka Hita sudah sampai di telaga. Namun, ibundanya tak terlihat di sekitar tempatnya berdiri sekarang.


"Ibunda!" Loka Hita memanggil dengan cukup keras.


Panggilannya dijawab oleh ringkik kuda di balik semak. Loka Hita segera menuju ke sana. Di bawah pohon yang rindang, seorang wanita bertopeng duduk bersandar. Loka Hita menatap heran, topeng?!


"Hita putriku..." suara lembut menyambut.


"Ibunda!" Loka Hita segera memeluk wanita bertopeng.


"Kenapa Ibunda memakai topeng? Kalau Ibunda tak memanggil Hita, Hita takkan mengenali Ibunda..." rajuk Loka Hita yang masih dalam dekapan Nyai Alisha.


"Ada banyak hal yang kau lewatkan, Hita," Nyai Alisha membelai lembut rambut putrinya. "Ibunda tak ingin dikenal oleh keluarga besan, Hita. Terutama Paman Caraka dan Paman Mahanta."


"Tapi, Ibunda, bagaimana mereka menerima topeng Ibunda?"


"Ibunda memiliki alasan yang bisa mereka terima, Hita. Lihatlah," Nyai Alisha melepaskan dekapannya. Lantas, membuka topeng.


Loka Hita mengusap bekas luka di wajah Ibundanya, "Ibunda sengaja melakukan ini?"


Nyai Alisha mengangguk, "Tak apa, Hita. Ini luka biasa. Hanya merusak sedikit wajah Ibunda."


Loka Hita kembali memeluk Nyai Alisha, "Tapi Ibunda tetap cantik. Mereka tak mengenali Ibunda?"


"Tidak, Hita. Paman Mahanta sempat melihat wajah Ibunda, tapi tak mengenalinya."


"Paman Caraka?"


"Paman Caraka tak melihat wajah Ibunda. Hita, kau belum mengunjungi kakangmu, Wira?"


Loka Hita menggeleng. Dia belum ingin mengunjungi kakangnya. Lebih tepatnya, belum ingin bertemu Paman Caraka. Orang yang selalu dianggap Loka Hita sebagai salah satu dalang gugurnya Prabu Garuda Rama.


"Kemarin Wira mengirimi Ibunda surat. Dia sudah dilantik menjadi Prabu di Nala Pura. Paman Caraka memilih undur diri dan menjadi penasehat. Hita, tak baik membenci seseorang yang tak bersalah," Nyai Alisha tersenyum lembut. Dia tahu perasaan putrinya.

__ADS_1


"Paman Caraka tak mungkin berniat membunuh ayahandamu, Hita. Dia sangat menghormati ayahandamu. Hanya saja, saat itu keadaan memaksanya tak hadir saat istana diserang. Kau sendiri mengetahui, Paman Caraka langsung mencari ayahandamu setelah berhasil menguasai istana. Dia juga selalu berusaha mencari kita, bukan?!"


"Lalu, kenapa dia menjadi prabu?"


"Karena Nala Pura membutuhkan seorang Prabu, putriku. Ibunda yakin, pasti Dhiajeng Arum yang memintanya. Paman Caraka pasti memikirkan masa depan kerajaan kita, putriku."


Loka Hita diam. Semua penjelasan ibundanya sangat masuk akal. Tapi, hati Loka Hita terlanjur menyakini semua dugaan buruk. Akan butuh waktu lebih lama untuk membuatnya menghilangkan dugaan buruk -selain bukti yang lebih kuat.


"Ibunda, mengapa dulu kita harus pergi dari Nala Pura? Mengapa harus menutupi jati diri? Tapi saat besar, Ibunda mengizinkan Kakang Wira untuk mengikuti sayembara itu?"


Nyai Alisha tertawa. Putrinya memang tidak suka basa-basi, tapi terkadang menjadi sangat cerewet.


"Bukankah Ibunda pernah bilang, Ibunda tak ingin kembali ke Nala Pura tanpa ayahanda kalian, Kakang Satya..." Nyai Alisha menghela nafas berat, "sangat menyakitkan menjalani hidup di istana tanpa Kakang Satya, putriku."


Loka Hita menunduk, Nyai Alisha bahkan kini menyebut Kakang Satya.


"Ibunda tak ingin kembali. Biarlah mereka menyakini, keluarga Kakang Satya telah tiada. Ibunda mengizinkan Wira mengikuti sayembara. Itu sudah pesan Kakang Satya, ayahanda kalian. Suatu hari, kau akan mengerti lebih banyak alasan Ibunda, Hita."


Loka Hita mendengus pelan. Ah, selalu saja begini. Ibundanya tak mau menjelaskan semua hal. Malah menyuruhnya mencari tahu sendiri.


Nyai Alisha tertawa melihat wajah masam putrinya. Dia bangkit, diikuti Loka Hita. Saatnya kembali ke rumah.


"Kapan kau mengunjungi kakangmu, Hita. Sudah lebih dari dua bulan kau pergi. Kakangmu pasti merindukanmu, Hita." Nyai Alisha menuntun kudanya.


"Tapi, Hita masih harus menemani seseorang di padepokan, Ibunda."


"Giri Wasa? Dia dulu sempat ke rumah, mencari kalian."


Loka Hita menggeleng, "Bukan hanya Kakang Wasa, Ibunda. Tapi juga Tabib Hansa."


Nyai Alisha menatap putrinya yang berjalan di sampingnya. Loka Hita -dengan senang hati, menceritakan semua.


Dalam perjalanan pulang itulah, Loka Hita akhirnya berniat mengunjungi Arya Wira. Juga istana tempatnya tumbuh dan menghabiskan masa kecil.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Lepas beberapa hari, Loka Hita kembali ke padepokan untuk menemui Tabib Hansa. Saat tiba, Tabib Hansa sedang berlatih dengan Empu Dipta sendiri. Perkembangan pemuda itu sangat mempesona. Begitu cepat menguasai dasar ilmu bela diri. Juga tak hanya mampu meningkatkan tenaga dalam, tapi juga sudah bisa mengendalikan tenaga dalam. Meski, permainan pedang dan senjatanya tak begitu berkembang pesat.


Empu Dipta menyadari Loka Hita yang menyaksikan latihan dari jauh. Dengan senyuman dan bahasa tubuh, Empu mempersilahkan Loka Hita menguji kemampuan Tabib Hansa.


Loka Hita segera masuk ke arena, menyerang langsung Tabib Hansa dengan jurus tangan kosong. Keduanya terlibat dalam pertempuran. Meski Tabib Hansa sempat kewalahan, dia mampu mengimbangi jurus dan gerakan Loka Hita.


"Hebat, Tabib. Sekarang, aku ingin kau mencabut pedangmu!"


Belum sempat Tabib Hansa mengucapkan apa-pun, Loka Hita sudah mencabut pedangnya. Menyerang dengan jurus-jurus dasar pemula. Tabib Hansa mampu mengimbangi, meski cukup keteteran. Dia hanya bertahan tanpa bisa membalas meski Loka Hita sengaja membuat banyak celah.


"Jurus pedangmu masih sangat lemah, Tabib," ucap Loka Hita di antara serangannya.


"Maaf, Hita. Saya memang belum pandai menggunakan pedang."


Loka Hita memilih menghentikan serangannya. Tabib Hansa mengusap peluh di dahi. Benar-benar kelelahan. Empu Dipta mendekat.


"Ada apa, Hita? Kenapa kau mengunjungi padepokan ini lagi?"


Loka Hita menoleh ke arah gurunya, "Saya ingin kembali berpamitan, Guru. Saya ingin mengunjungi Kakang Wira."


Empu Dipta mengangguk-angguk, "Ya sudah, sepertinya kau ingin berpamitan pada Hansa. Aku akan kembali ke pondok utama." Empu Dipta tersenyum lalu beranjak pergi.

__ADS_1


Tabib Hansa menoleh ke Loka Hita, "Kau akan ke mana, Hita?"


"Ke Nala Pura. Kakakku ada di sana. Sudah lebih dari dua bulan aku tak bertemu dengannya."


"Kau akan pergi sendirian?"


Loka Hita mengangguk. "Meski, aku ingin bersamamu, Tabib..." hati berkata lain.


"Apakah kita akan bertemu lagi?"


"Semoga, Tabib. Tabib harus belajar di sini terlebih dahulu. Nanti, Tabib boleh menemui saya di Nala Pura."


"Baik, Hita. Tapi, bagaimana saya bisa menemukanmu?"


"Bila Sang Kuasa menghendaki, Dia pasti berikan jalan, Tabib. Baiklah, saya harus pergi sekarang." Loka Hita berbalik. Dia harus menemui Pitaloka dan Giri Wasa sebelum pergi ke Nala Pura.


"Hita! Tunggu!" Tabib Hansa berseru. Lantas, terdiam sejenak.


"Ayolah, kamu harus mengatakannya!" hati Tabib Hansa menguatkan diri sendiri.


Loka Hita menoleh, menunggu kelanjutan ucapan Tabib Hansa.


"Ehm..." Tabib Hansa menggaruk kepala, "Kau sangat cantik."


Tabib Hansa merutuk dalam hati. Kenapa malah mengatakan hal konyol itu.


Loka Hita menunduk. Menyembunyikan semburat merah muda di pipi cerahnya.


"Terima kasih, Tabib..."


"Jangan panggil tabib, Hita," tukas Tabib Hansa


Loka Hita menaikkan alisnya. Lantas?!


"Saya tak boleh memanggilmu Nona, jadi jangan panggil saya Tabib," jelas Tabib Hansa.


"Lalu, bolehkah saya memanggilmu Kakang?" Loka Hita kembali menunduk.


Tabib Hansa tersenyum cerah, "Iya, Hita. Kamu boleh memanggil saya Kakang."


"Terima kasih, Kakang Hansa. Kakang Hansa juga sangat gagah," lepas mengucapkan kata-kata itu, Loka Hita semakin menunduk.


"Dan kamu wanita tercantik yang pernah saya temui." Entah dari mana, Tabib Hansa mendapat keberanian untuk mengucapkan kata-kata itu.


"Terima kasih, Kakang. Saya permisi," Loka Hita langsung berlari meninggalkan Tabib Hansa. Pipinya semakin memerah. Senyumnya tak bisa ditahan lagi.


Tak jauh beda dengan Loka Hita, Tabib Hansa juga tersenyum. Lega dan bahagia.


"Wealah...." suara khas itu membuat Tabib Hansa menoleh. "Jika suka, mbok yo cepetan dilamar jadi kekasih. Keburu jadi telat."


"Janu! Sudah, ayo ke kamar saja!"


"Tapi, Tuan memang suka sama Nini Loka Hita, kan? Sepertinya, Nini Loka Hita juga suka..." Janu tak menggubris, malah semakin asyik berkata-kata.


Tabib Hansa segera meninggalkan Janu. Meski hatinya membenarkan ucapan pelayan setia-nya. Dirinya tak bisa membohongi hati sendiri.


Tapi, siapalah dia?! Loka Hita adalah pendekar pilih tanding yang sangat kuat. Sedangkan dirinya hanya tabib. Bisakah Loka Hita menerimanya? Maukah?

__ADS_1


Senarai kisah dalam legenda ini mulai bercerita....


__ADS_2