
...Banyak rahasia yang disimpan manusia. Lebih banyak rahasia tersimpan oleh alam. Dan begitu banyak rahasia Sang Pemilik Alam. Ada begitu banyak kejadian yang berkesinambung antara satu dengan yang lain. Hanya saja, banyak yang tak mengerti....
Nyai Alisha termenung di kamar. Menatap langit malam dengan pertanyaan menggema di pikiran. Surat dari Arya Wira beberapa hari yang lalu masih terngiang. Putri bungsunya terluka saat bertarung dengan penyusup. Lelaki berjubah hitam, berpedang hitam, yang bisa menjadi burung hitam. Benarkah penyusup itulah orang yang selama ini dicarinya?!
"Sang Kuasa, betapa Engkau memahami kebingungan ini. Siapakah orang yang telah melukai putri bungsu saya?! Benarkah dia Ki Sayap Hitam? Lelaki itukah orangnya? Atau, seseorang yang masih berhubungan dengannya?!"
Pertanyaan demi pertanyaan mengungkung benak Nyai Alisha. Bayangan masa lalu kembali terbayang. Bayangan yang selalu dihindarinya selama ini.
"Sang Kuasa, lindungi kedua buah hati saya. Izinkan kami bisa kembali berkumpul. Izinkan saya bisa kembali menatap kebahagiaan di mata mereka."
Harapan tulus dari seorang ibunda untuk putra-putrinya. Harapan yang menggetarkan semesta. Mengambil andil banyak dalam senarai legenda rama parvati.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=~~~~\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Jauh dari pondok tempat Nyai Alisha termenung, istana Nala Pura berbahagia. Loka Hita kembali bugar. Mustika Daun Langit telah membantu banyak. Sihir telah ditangkal meski harus menguras energi. Malam telah tiba saat Loka Hita selesai menyeleraskan hawa murninya dengan Mustika Daun Langit. Meski belum seutuhnya pulih, namun kekuatan fisik telah kembali.
"Terima kasih banyak, Raka Hansa. Berkat bantuan Raka, saya kembali sembuh,"
"Sudah menjadi kewajiban saya, Hita."
Hansa Daya dan Loka Hita sedang berbincang di kamar perawatan Loka Hita. Ditemani Janu dan Pitaloka.
"Pitaloka, apa yang akan kalian lakukan setelah ini? Kembali ke Sedayu atau berkelana lagi?"
"Kami ingin berkelana lagi, Yunda. Tapi, saya sendiri masih ingin membantu Yunda untuk mencari tahu lelaki berjubah hitam. Saya takut, dia pendekar sesat yang berilmu tinggi."
"Terima kasih, Pitaloka." Loka Hita tersenyum, "Mari, kita temui Kakang Wira dan Raka Wasa."
Giri Wasa dan Arya Wira sedang bersama Angga Perak saat ketiganya datang. Rupanya, mereka sedang membicarakan lelaki berjubah hitam. Perbincangan berlanjut meski Loka Hita merasakan ada yang mengawasi. Aura yang tidak asing bagi Loka Hita. Setelah memusatkan pikiran tanpa mencolok, Loka Hita menemukan sosok yang mengawasi mereka. Perlahan, Loka Hita menggenggam pisau pengupas buah.
Plashhhhh
Tiba-tiba saja, Loka Hita melemparkan pisau dengan sedikit aliran tenaga dalam. Mengenai semak-semak dekat mereka. Arya Wira dan lainnya terkejut. Dan semakin terkejut saat seekor burung keluar dari balik semak. Burung itu lagi!!
__ADS_1
"Jangan lari!" Loka Hita segera bangkit dan mengejar si burung.
Plashhhh
Brakkk
Pukulan tenaga dalam Loka Hita mengenai leher burung. Si burung terpelanting ke tanah. Kali ini, tak berubah menjadi lelaki. Sosoknya masih seekor burung hitam.
Plashhh....
Saat Loka Hita menjulurkan tangan hendak mengambil burung, mendadak ada serangan mengarah ke dadanya. Loka Hita lebih dari siap untuk menerima serangan. Tubuhnya bergerak ke kiri, menghindari pukulan tenaga dalam.
Cahaya abu-abu menyelimuti tubuh burung hitam. Dalam beberapa kedipan mata, seorang laki-laki dengan pedang hitam sudah berdiri. Tanpa bisa dicegah lagi, pertarungan kembali pecah. Kali ini, Loka Hita tak memakai pedang andalannya. Pedang itu tak dibawa, masih berada di dalam kamar.
Ritme pertarungan segera tampak. Lelaki berjubah mendominasi. Loka Hita harus lebih banyak bertahan. Meski tidak terdesak atau pun keteteran, Loka Hita belum bisa mendominasi pertarungan. Pertarungan ini sama seperti sebelumnya, tak membuka celah bagi seseorang untuk masuk.
Maka, Arya Wira dan Angga Perak benar-benar gelisah. Mereka menghunus pedang masing-masing.
Giri Wasa dan Pitaloka mendekat, berusaha mencari celah. Keduanya dalam posisi siap menyerang.
"Mustika Daun Langit, Hita!!" teriak Hansa Daya beberapa saat kemudian.
Mustika Daun Langit memang telah menjadi milik Loka Hita sejak digunakan untuk menyembuhkan dirinya. Hansa Daya tak mau mengambil kembali mustika yang sudah diselaraskan dengan hawa murni Loka Hita meski sudah dipaksa. Menurutnya, Loka Hita lebih mumpuni untuk menjaga mustika itu.
Wussshhhh
Giri Wasa memukulkan tenaga dalam yang cukup besar ke tanah. Membuat bumi sekitar bergoyang. Menjadikan lelaki berjubah berhenti melancarkan serangan. Sebentar memang, tapi cukup memberi waktu Loka Hita untuk mengeluarkan mustika.
Sinar hijau lembut menutup tubuh Loka Hita. Lelaki berjubah segera mengayunkan pedang. Berusaha menyelesaikan pertarungan dengan cepat. Namun, pedang hitamnya bergetar hebat saat menyentuh sinar hijau yang menutup tubuh lawan. Padahal, pedang itu belum menjangkau kulit.
Bruakkk
Lelaki berjubah tersuruk ke belakang. Tubuhnya menghantam tanah. Apa mau dikata, mustika Daun Langit ternyata mampu menangkal sihir pedang hitam. Menyadari sihirnya tertangkal, lelaki berjubah segera bangkit dan berencana lari. Sinar abu-abu mulai muncul dari bawah telapak kakinya.
__ADS_1
"Mau ke mana?!"
Ayunan pedang deras menuju kepala, membuat lelaki berjubah menghindar dan memilih membatalkan niatnya. Cahaya abu-abu segera lenyap. Tanpa lama, pertarungan terjadi lagi. Kali ini bukan Loka Hita. Melainkan Arya Wira yang meladeni lelaki berjubah. Pertarungan sangat alot. Meski kemudian, Arya Wira harus terjajar ke belakang saat adu pedang yang teraliri tenaga dalam.
Cahaya abu-abu kembali muncul. Kali ini, tanpa bisa dicegah lagi, tubuh lelaki abu-abu berselimutkan cahaya abu-abu. Kembali menjelma menjadi burung hitam. Terbang menjauh.
"Hei!!!" Serentak, hendak mengejar, kecuali Loka Hita dan Arya Wira.
"Jangan!! Biarkan saja!!" Loka Hita menahan keinginan mereka.
"Kenapa dibiarkan, Nini?!" Janu protes, menatap kesal ke arah burung yang semakin menjauh.
"Kamu melihat cahaya abu-abu yang masih menutup tubuh burung itu, Janu?" Arya Wira menyahut dengan pertanyaan.
Janu mengangguk, "Iya, Gusti Prabu."
"Itu berarti dia masih menggunakan sihir. Dia bisa berubah sekejap menjadi manusia lagi dan menyerang kita dengan tiba-tiba dan tak terduga. Itu terlalu berbahaya," jelas Arya Wira
Loka Hita mengangguk membenarkan. Dia teringat kejadian beberapa waktu silam. Saat dia terluka parah karena serangan mendadak oleh lelaki berjubah. Saat itu, cahaya abu-abu belum lenyap dari tubuh burung jelmaan.
"Raka Angga, segera perketat penjagaan. Saya yakin, lelaki itu akan kembali," titah Arya Wira.
"Baik, Rayi Prabu."
"Kakang Wira, kita harus segera memberi tahu Paman Panglima Mahanta. Lelaki berjubah itu sangat berbahaya." usul Loka Hita.
"Iya, Dinda Hita. Besok Kakang akan menemui Paman Mahanta." Arya Wira mengangguk. "Jika perlu, Kakang juga akan meminta nasehat pada Ayahanda Caraka."
Di atas mereka, bintang berkelip. Menerangi langit malam. Menjadi saksi berbagai kejadian dalam perjalanan dua saudara kandung yang akan melegenda.
......\=\=\=\=\=\=\=~\=\=\=\=\=\=\=\=......
maaf, beberapa hari ini, saya terlalu sibuk dengan berbagai kegiatan. Jadi, jadwal up tidak bisa pagi hari. Tapi tetap saya usahakan untuk up tiap hari.
__ADS_1
Dukung saya dengan Like, komen, vote, dan terys menyimak. Terima kasih... Hatur Nuwun....