Legenda Pendekar Rama Parvati

Legenda Pendekar Rama Parvati
Manusia Kalong


__ADS_3

Selalu ada keindahan dalam kesederhanaan. Begitu pula yang dirasakan Arya Wira dan Paman Jaka. Mereka sudah menyamar, berkeliling di antara penduduk Nala Pura. Mencari tahu keadaan rakyat dan mendengar keluh kesah mereka yang mungkin terhalang oleh dinding istana.


"Paman, dia sudah datang," Arya Wira berbisik pelan saat mereka akan memasuki kedai makan yang tak terlalu besar.


"Baik, Aden." Paman Jaka mengerti tugasnya. Segera, dia berjalan bersisian dengan tuannya.


Seseorang di dalam kedai berdiri dari tempat duduk. Memanggil pelayan, lantas membayarnya. Tepat saat Arya Wira masuk ke dalam kedai. Mereka bertemu di dekat meja kosong yang akan ditempati Arya Wira. Dalam gerakan sangat cepat, orang tersebut memberikan segulung rontal pada Paman Jaka saat bertemu. Paman Jaka segera memasukkannya ke balim baju saat beranjak duduk.


"Hendak pesan apa, Tuan?" seorang pelayan menghampiri.


Kali ini, Paman Jaka yang memesan. Aktivitas berikutnya berjalan dengan normal. Selesai makan, perjalanan dilanjutkan. Setelah memasuki pinggiran hutan, keduanya berhenti dan beristirahat. Saat itulah, barulah Paman Jaka menyerahkan gulungan rontal.


"Ada utusan dari istana, Paman. Sesuai dugaan saya selama ini. Hanya saja, dia terbunuh karena racun setelah keluar dari tempat Ki Gendra."


"Berarti, belum bisa diketahui siapa dalangnya, Gusti?"


Arya Wira mengangguk samar, "Tapi kita sekarang yakin, Paman. Meninggalnya mendiang Dinda Nirmala adalah kesengajaan oleh orang dalam."


Desa yang dilaporkan Paman Jalak dan Bibi Selasih memang sudah didatangi oleh Arya Wira. Dengan penyamaran, informasi penting didapat. Di desa tersebut, ada seorang lelaki tua dikenal dengan nama Ki Gendra yang pandai mengobati racun. Dalam arti lain, dia juga menguasai ilmu racun.


Beberapa hari berikutnya, Arya Wira mengetahui rahasia yang hanya diketahui oleh orang-orang tertentu. Rahasia bahwa dia tak hanya menguasai, tapi juga berbisnis dengan racun.


Untuk menyelidiki lebih jauh, Arya Wira memutuskan menggunakan seorang mata-mata. Hal itu karena dirinya tak bisa lebih lama berada di desa, karena harus memeriksa keadaan rakyat di tempat lain.


Mata-mata yang dipilih Arya Wira bukan mata-mata biasa. Dia adalah prajurit bayang yang mengabdi padanya sejak dia kecil. Prajurit khusus yang bertugas menjamin keselamatan Rama Wangi. Selain pandai bela diri, prajurit bayang juga mahir mengumpulkan informasi. Hanya dua orang yang mengetahui tugas utamanya, Sang Prabu dan Pangeran yang dijaganya. Mereka benar-benar bisa dipercaya.


Saat pemberontakan dulu, dia ikut menyelamatkan diri bersama rombongan. Namun harus menegak kesedihan saat tuannya tak pernah kembali. Hal sama seperti yang dialami prajurit bayang Ratri Parvati.


Mereka memutuskan menjadi prajurit biasa yang berjaga di ibu kota. Saat kembali bertemu di pemakaman Dewi Nirmala, Arya Wira segera mengenali prajurit bayang-nya. Sejak saat itu, Arya Wira mengembalikan tugas utamanya. Menjadi prajurit bayang untuk dirinya. Tentu saja Arya Wira memberitahukan jati dirinya. Sementara prajurit bayang Ratri Parvati belum beranjak dari posisi prajurit rendahan.


"Sekarang, apa yang akan kita lakukan, Gusti?"


"Kita ke desa di perbatasan barat Nala Pura, Paman. Akan ada yang tetap berusaha menyibak misteri ini."


"Daulat, Gusti."


"Dan ingat, bila ada orang lain, panggil saya dengan Aden. Bukan Prabu lagi."


"Daulat," Paman Jaka mengangguk.


Kuda kembali melaju. Menuju arah barat kerajaan Nala Pura.


Desa yang dimaksud Arya Wira terletak cukup jauh dari tempatnya berada. Perjalanan ke sana memerlukan waktu sekitar dua hari.


...\=\=\=\=\=\=~~~\=\=\=\=\=\=...


Siluet matahari senja menyambut Arya Wira saat memasuki gerbang desa. Tak ada penjaga di gerbang. Tak ada keramaian yang tampak. Beberapa orang memang berlalu-lalang, tapi tak ada keramaian. Beberapa pasang mata menatap curiga dua orang yang baru saja masuk ke desa.


"Permisi," sapa Arya Wira pada salah satu penduduk, setelah turun dari kuda. "Apakah ada kedai atau penginapan di desa ini?"


"Kalian pengembara?"


"Benar, Ki. Kami pengembara yang ingin beristirahat sejenak di desa ini."


"Kalian salah desa. Desa ini bukan tempat singgah dan bermalam. Jangankan penginapan, kedai pun tidak ada."


"Boleh kami bermalam di tempat Anda, Ki? Kami tetap akan membayar dengan harga pantas."


Penduduk tersebut menengok ke kanan dan kiri. Seperti takut pada sesuatu. Lantas berbisik pelan saat tak ada orang di dekat mereka,


"Baik. Tapi jangan sampai ketahuan oleh orang lain."


Arya Wira mengangguk meski dahinya berkerut. Ada sesuatu yang tak beres di desa ini. Setelah memberi tahu nama dan letak rumah, Dhana bergegas pergi.


"Sepertinya, ada yang aneh di desa ini, Den." Paman Jaka mengamati sekitar.


"Iya, Paman. Kita akan segera mengetahuinya sebentar lagi. Ayo!" Arya Wira menaiki kembali kudanya.


Matahari telah sempurna tenggelam saat Dhana pulang ke rumah. Arya Wira dan Paman Jaka sudah di dalam rumah, tengah berbincang dengan dua anak Dhana. Dari cerita Dhana dan kedua anaknya, Arya Wira mengetahui akar masalah desa ini.

__ADS_1


Manusia Kalong, makhluq menyeramkan yang meresahkan penduduk desa. Berbentuk layaknya manusia, tapi dengan sayap kalong dan gigi-gigi runcing. Di beberapa malam, dia datang untuk meminta makanan dan minuman dalam jumlah besar. Dia yang membuat takut para pengembara yang singgah. Hal ini membuat pendapatan desa menurun drastis. Tak ada lagi yang membuka kedai atau pun penginapan, rugi!!!


"Dia meneror warga?"


"Sebenarnya, tidak secara langsung, Paman," anak tertua menjawab lirih.


"Eh? Tidak langsung? Maksudnya?" kejar Arya Wira.


Dhana menarik nafas panjang, "Sebenarnya, dia tak pernah memaksa atau pun menakut-nakuti kami. Tapi, Den, siapa yang tak takut dengan makhluq seram seperti itu? Jadi, kami terpaksa memberinya apa yang dia minta. Kami takut dia melukai kami."


"Benar, Paman. Pernah kami berikan seekor sapi. Dalam waktu yang tak lama, sapi itu dilahapnya. Hingga tersisa tulang-belulang. Beberapa pendekar pernah mencoba menghentikannya, tapi selalu terbunuh," imbuh anak bungsu.


"Dia memakan para pendekar itu?"


"Tidak, Aden. Dia meninggalkan jasad mereka begitu saja."


Arya Wira menghela nafas. Itu berarti, dia bukan makhluq yang benar-benar memusuhi. Pasti ada hal yang tersembunyi pada diri manusia kalong.


"Apakah dia akan kemari malam ini?"


"Kami tidak tahu, Den. Dia bisa kapan pun datang. Karena itu, kami sudah menyiapkan makanan untuknya."


"Meski itu persediaan terakhir kami," lirih si sulung.


Sreekkkk


Suara berisik terdengar keras dari luar. Seperti kelepak kelelawar, tapi begitu kencang. Angin dingin berhembus kuat. Suasana di rumah Dhana menjadi sunyi. Dhana bahkan beringsut ke dinding. Dengan isyarat tangan, Dhana menyuruh dua tamu nya agar masuk ke dalam kamar. Meski enggan, Arya Wira memutuskan untuk menurut. Dia tahu apa yang sedang terjadi. Manusia kalong itu pasti datang.


Druakkk


Ketukan keras mengenai pintu. Disusul suara berat yang mengandung tenaga dalam.


"Keluarlah! Beri aku makanan!!!"


Dhana beringsut ke pintu. Satu karung makanan sudah dia siapkan di dekat pintu. Dengan penuh ketakutan, Dhana membuka pintu, hanya seukuran karung. Lantas, mendorong karung keluar.


"Maaf, tak ada lagi, Tuan. Kami tak bisa memberi lagi."


"Benarkah? Sudah habis?!" bentakan si manusia kalong sukses membuat Dhana menggigil ketakutan.


"Hei! Sudah diberi malah meminta lebih. Apa sebenarnya maumu?!" Arya Wira keluar dari kamar. Tak kuasa melihat kesengsaraan rakyatnya sendiri.


"Aden!" panggil dua anak Dhana, kaget sekaligus khawatir.


"Siapa kamu, anak muda? Mau apa?" desis Manusia Kalong sambil membuka paksa pintu rumah Dhana.


"Aku hanya orang yang tak suka kesewenanganmu! Apa sebenarnya kehendakmu?! Siapa kamu?!"


Di ujung kalimat, Arya Wira melompat ke arah pintu. Menyerbu Manusia Kalong.


"Apa maumu, siluman?!"


"Akan kujawab bila kamu bisa mengalahkanku," Manusia kalong langsung lompat ke belakang.


Pertarungan terjadi di jalan desa. Arya Wira melawan Manusia Kalong. Cukup sulit memang bagi Prabu Nala Pura, mengingat musuh memiliki sepasang sayap. Lebar dan kuat.


Jurus pedang sepuluh cahaya. Bagian lima.


Pedang di tangan Arya Wira bergerak cepat. Membentengi diri sendiri sekaligus menyerang. Tenaga dalam mengalir di bilah pedang. Suara pertarungan membuat beberapa penduduk memberanikan diri keluar dari rumah.


Craashhh


Bruakkk


Manusia kalong terhempas. Pedang Arya Wira menggoreskan luka yang cukup lebar di sayap kirinya. Tangannya juga terluka oleh tenaga dalam.


Manusia kalong meraung keras. Memekakkan telinga. Lantas, segera bangkit. Matanya menatap tajam musuh.


"Hei! Boleh kubantu?!"

__ADS_1


Seorang pendekar perempuan melompat ke arah Arya Wira. Di tangannya, tergenggam sebilah tongkat kayu. Dekat kedua ujung, tongkat dilapisi logam kuat.


"Dengan senang hati," Arya Wira sudah melompat menyerang.


Bersama, keduanya menyerang Manusia kalong. Meski memakai jurus yang berbeda, keduanya mampu bekerja sama. Saling melindungi dan melengkapi serangan.


"Akhhhhh"


Jeritan pilu menggema. Memecah kesunyian malam. Manusia kalong tersungkur. Dua sayapnya sudah putus oleh sabetan pedang Arya Wira. Kepalanya terluka oleh pukulan tongkat pendekar wanita.


Saat tetes darah pertama dari kepala menyentuh tanah, sesuatu terjadi. Cahaya terang benderang menyelimuti tubuhnya. Semua orang menutup mata karena silau.


"Terima kasih, Tuan. Nona," sebuah suara yang berwibawa mengagetkan semua orang.


Manusia kalong itu telah hilang. Berganti menjadi seorang lelaki tua yang tersenyum. Pakaian putih membalut tubuhnya, dengan bercak darah di beberapa tempat.


"Kamu?!"


Lelaki tua mengangguk. "Ya, sayalah manusia kalong itu. Nama saya Ki Sanur."


Sebenarnya, Ki Sanur adalah seorang petapa. Namun, pernah melakukan kesalahan yang membuatnya harus menjadi manusia kalong. Dia hanya bisa makan sesuatu yang diberikan orang lain. Itu pun harus di malam hari dan dalam jumlah banyak.


Kutukan akan hilang bila seorang pendekar mampu melukai kepala. Saat tetes darah dari luka tersebut menyentuh tanah, semua kutukan akan hilang.


"Boleh saya tahu, siapa nama Tuan dan Nona?"


"Saya Nandana, Ki," Arya Wira memberikan hormat sebagai seorang pendekar.


"Saya Laras, Ki," pendekar perempuan menyahut.


"Bisakah kalian membantu lagi? Pergilah ke gua yang menjorok ke bawah tanah di hutan sebelah timur. Ambil seluruh emas di sana, dan bagikan pada penduduk kampung ini."


Arya Wira dan Laras menganggukkan kepala.


"Terima kasih. Suatu hari nanti, saya akan membalasnya. Saya permisi,"


Sebelum Arya Wira dan Laras mengucapkan sesuatu, Ki Sanur sudah melompat. Pergi dengan menggunakan tenaga dalamnya. Sesaat kemudian, seluruh penduduk bersorak sorai. Malapetaka telah hilang. Bencana telah tercabut.


Malam itu pula, Arya Wira dan Laras melaksanakan permintaan terakhir Ki Sanur. Namun, pembagian akan dilakukan oleh kepala desa. Setelah selesai, mereka memutuskan untuk pergi. Tanpa meminta sedikitpun upah. Menolak dengan halus semua hadiah. Namun karena dipaksa, mereka akhirnya menerima sepasang belati dan lencana pengenal dari desa.


"Andai Tuan dan Nona adalah pemimpin Nala Pura ini. Sungguh, akan damai negri ini."


Arya Wira tak pernah lupa ucapan beberapa orang sebelum kepergiannya. Ucapan tulus dan penuh harapan. Ah, rupanya seorang Arya Wira belum mampu menerima kepercayaan dari seluruh rakyatnya.


"Bagaimana bisa kau ada di sana, Laras?" tanya Arya Wira saat mereka beristirahat.


"Sama sepertimu, Nandana. Aku pengembara yang kemalaman. Aku tiba di desa saat matahari hampir terbenam. Untunglah ada seorang nenek yang mau menerimaku di rumahnya. Darinya, aku mendengar kisah manusia kalong. Tak lama, aku mendengar pertarungan dirimu dengan manusia kalong."


Arya Wira mengangguk, "Dari mana asalmu?"


"Dari negeri seberang. Negri yang jauh dari sini. Aku memang suka mengembara. Kau sendiri?"


"Gunung Selatan," Arya Wira memutuskan menggunakan nama daerah padepokan Sedayu.


"Tuan! Nona! Saya bawa banyak ikan!" suara Paman Jaka mengalihkan perhatian.


...\=\=\=\=\=\=\=~~~\=\=\=\=\=\=\=...


"Bagaimana tugasmu, Putih?"


"Selesai, Puan. Terima kasih atas kepercayaan ini. Apa lagi yang harus saya lakukan?"


"Pulanglah sebentar. Lalu lihatlah keadaan Rama Wangi. Ingat, panggil dia Arya Wira."


"Daulat, Puan. Meski saya lebih suka nama Rama Wangi." Putih segera melompat. Terbang, untuk kembali ke tempat yang diperintahkan.


\=\=\=\=\=~~~\=\=\=\=\=\=


Jangan lupa untuk selalu dukung, ya...

__ADS_1


__ADS_2