Legenda Pendekar Rama Parvati

Legenda Pendekar Rama Parvati
Latihan


__ADS_3

Malam semakin kelam. Burung hantu terbang bebas di angkasa, mencari mangsa untuk melanjutkan hidup. Di bawah, suara serangga malam memenuhi udara. Di atas, bintang berkerlipan, menghiasi langit dan menjadi penunjuk jalan para pengembara.


Di antara lebatnya hutan belantara, sebuah batu datar teronggok. Di sekelilingnya, semak-semak rimbun tumbuh dengan subur. Sebagian bunga-bunga semak menguncup. Sebagian kecil bunga-bunga semak merekah di kegelapan malam. Di atas batu itulah, dua pria duduk menatap langit.


"Rama Wangi, aku tahu kamu mencari siapa pun yang berkaitan dengan kematian istrimu, Dewi Nirmala, di antara penghuni istana. Sekaligus mencari pembunuhnya. Dugaanmu benar, ada orang istana yang ikut andil dalam hal ini." Ki Bajra Nanda menarik nafas berat.


"Sedangkan adikmu mencari Ki Sayap Hitam, orang yang berada di balik kematian Ayahmu. Kau juga tahu, keduanya memiliki kaitan yang erat. Sekarang, tugasku adalah untuk melatihmu. Ilmu dan kemampuanmu masih sangat lemah untuk bisa mengalahkan musuh-musuhmu dan musuh Nala Pura."


Rama Wangi hanya diam. Dia sendiri masih bingung dengan semua keadaan ini. Kematian istri yang menurutnya masih diliputi rahasia, meski seluruh anggota istana lain menyakini bahwa Ki Sayap Hitam-lah yang membunuh Dewi Nirmala. Sementara itu, perebutan posisi istri seorang prabu sangat terasa di lingkup istana. Bisa dikatakan, ada perang dingin di antara putri penghuni istana.


Di sisi lain, rakyat sangat membutuhkan perhatian prabu mereka. Apalagi, Nala Pura termasuk negara luas. Tak hanya rakyat, para pendatang juga harus diperhatikan karena Nala Pura menjadi persinggahan para pedagang kecil, saudagar kaya, pengembara, pendekar, hingga utusan kerajaan tetangga.


Ancaman perampok dan penyamun (apa bedanya ya?! Hehehe) juga sangat menyita perhatian. Jalur persinggahan para saudagar memang selalu mengundang minat orang-orang jahat. Jangan lupakan ancaman pendekar aliran hitam (mereka lebih suka menyebut diri sendiri sebagai aliran sihir). Mereka sering memburu para pendekar aliran putih (yang mereka sebut sebagai aliran rendah oleh aliran sihir) ke kerajaan ini.


"Penyelesaian semua masalah itu sangat membutuhkan kekuatan dan kecerdasan." Kata-kata Caraka kembali bergaung di benak Rama Wangi.


"Kakek, mengapa Kakek tidak menyelesaikan banyak masalah? Padahal, Kakek mengetahui banyak hal di dunia ini?"


Ki Braja Nanda tersenyum, begitu teduh. "Tak ada yang sempurna di dunia ini, Rama," Dia memulai penjelasan.


Dia dan Nyi Sannaha memang bisa mengerti kabar dari tiupan angin. Cerita dari gemericik air. Kisah dari kicau burung dan dengung lebah. Itu disebut kemampuan alam. Juga memiliki kekuatan fisik dan ilmu kanuragan yang kata orang, sangat hebat.


Hanya saja, dua kemampuan itu tak akan bisa bersatu dalam satu tubuh. Seperti malam dan siang yang tak bisa bersatu di satu tempat. Saat seseorang bisa mengerti alam seperti mereka, kekuatan fisik sebesar apa pun tak akan bisa dia gunakan untuk hal-hal yang dia ketahui.


Ki Braja Nanda dan Nyi Sannaha tak akan bisa menumpas pembunuh Dewi Nirmala atau membunuh para pengkhianat di Nala Pura. Itu karena mereka sudah mengetahui semuanya dari alam. Mereka hanya bisa membantu orang lain, seperti sekarang. Bisakah mereka memberitahu orang lain secara langsung, hal-hal yang dia ketahui dari alam? Bisa, hanya saja tak pernah ada yang melakukannya karena kemampuan alam akan berkurang. Mereka hanya akan memberikan tanda-tanda


"Semua memang seimbang, Rama. Jika orang yang memiliki kemampuan alam besar juga bisa menggunakan kemampuan fisiknya yang luar biasa, apa bedanya dia dengan Sang Penguasa? Apa yang akan terjadi dengan alam dunia ini?!" Ki Braja Nanda menyelesaikan penjelasan.


"Apakah itu pula yang menjadi sebab Kakek dan Nyi Sannaha mengasingkan diri?"


"Benar sekali, Rama. Kami akan dikejar orang-orang yang serakah." Ki Braja Nanda bangkit, "Nah, sekarang saatnya kamu berlatih. Aku akan mengajarimu untuk menyempurnakan jurus pedang tiga tingkat."


"Kakek bisa?" Rama Wangi membelalakkan matanya. Setahunya, hanya keturunan Pendekar Mahabala dan Gayatri yang bisa menguasainya.


Ku Braja Nanda terkekeh, "Tentu saja tidak, Rama. Aku pernah bertemu Mahabala dan Gayatri saat mereka menggunakan jurus pedang mereka. Kemampuan alam membuatku bisa memahami jurus itu tanpa harus menguasai.


Kadang, pengetahuan tentang sebuah kemampuan lebih berharga daripada memiliki kemampuan itu sendiri. Bukankah banyak, orang yang bisa melakukan sesuatu dengan baik, tapi tak bisa mengajarkannya? Bukankah banyak juga, pendekar yang menang karena mengetahui kelemahan jurus lawan tanpa harus memilikinya?"


"Tunggu, Kek! Bagaimana dengan Paman Jaka dan Nala Pura sekarang?"


Ki Braja Nanda berhenti. Menatap ke arah Rama Wangi, lalu terkekeh pelan. "Kamu masih saja khawatir. Nyi Sannaha sudah memerintahkan Paman Jaka untuk menunggu di tempat yang aman. Nenek itu juga mengirim surat bertanda dirimu pada Angga Perak agar mengambil alih banyak urusan. Prajurit bayangmu-pun sudah dia minta agar meneruskan penyelidikan tentang pembunuhan istrimu. Jangan khawatir, Rama."


"Huh!" Ki Braja Nanda menghembuskan nafas kasar, "malam ini kamu membuatku sangat cerewet seperti perempuan! Sudah, ayo berlatih!"


Maka, larut malam itulah Rama memulai latihan keras. Di bawah bimbingan pendekar kuat yang pernah melegenda, kemampuannya harus meningkat. Banyak masalah telah menunggu untuk dia selesaikan.

__ADS_1


Jangan menyangka, latihan dengan Ki Braja Nanda alias pendekar edan akan sangat tenang dan menyenangkan. Seperti diajari oleh orang yang "agak". Dia malah bermain-main dengan tongkatnya ketika Rama Wangi berlatih. Tak peduli meski muridnya bertanya beberapa hal tentang jurusnya. Namun, dia sangat keras dalam mendidik. Saat Rama Wangi salah melakukan gerakan, sebuah pukulan atau lemparan ranting akan mengenai tubuhnya. Tak jarang, tongkatnya mengenai punggung muridnya.


Ketika menjelang terbitnya matahari, Ki Braja Nanda tiba-tiba merebahkan tubuhnya di atas batu. Rama Wangi tetap berlatih, hingga akhirnya didengarnya suara aneh dari atas batu. Rupanya, Ki Braja Nanda tidur dengan "mengorok". Haduh!!!


Rama Wangi akhirnya berhenti dari latihannya. Duduk di atas tanah sambil menggaruk kepalanya. Bingung dan lelah menjadi satu.


Beberapa bunga semak-semak di sekitar batu, merekah indah. Seperti menyambut terbitnya matahari. Burung-burung mulai berkicau. Kicauan yang terdengar begitu merdu, sangat kontras dengan suara dari atas batu.


\=\=\=\=\=\=~~~\=\=\=\=\=\=


"Sang Pencipta, apa yang harus aku lakukan?" Selir Arum membenak sambil menatap ufuk timur. Sejak melihat kejadian malam tadi, dirinya tak lagi tenang. Akhirnya, dia memutuskan menenangkan diri di bawah sebuah pohon.


Matahari mulai menyinari pucuk pepohonan. Sinar lembutnya menghangatkan bumi. Suara kicauan burung terdengar riuh, menjadi lagu indah di pagi hari. Beberapa bunga mulai merekah, bunga-bunga pagi hari. Ujung dedaunan dan rumput terlihat berkilau, embun pagi memantulkan cahaya pagi.


Selir Arum bangkit dari duduknya. Sambil memejamkan mata, dihirupnya udara pagi yang sangat sejuk. Kejadian tadi malam kembali mampir di benak ibu tiri Rama Wangi itu


"Kau bawa kabar apa?" suara Pitaloka tadi malam kembali terngiang.


"Kabar penting, kawan," jawab pemuda bertopeng.


"Katakan! Aku tak punya banyak waktu! Selir Arum akan segera kembali."


"Ki Grenda sudah aman. Dia kubawa ke tempat yang aman. Arya Wira baru saja berkelana dengan seorang perempuan bernama Laras. Sedangkan Loka Hita dan Hansa Daya sekarang berada di kerajaan Parang Jaya."


"Bagaimana dengan Raka Wasa?"


"Bagus! Segera pergi ke Desa Seribu. Cari perempuan bernama Kemuning cucu Kakek Wal. Berikan ini padanya," Pitaloka memberikan sebuah bambu kecil.


"Tak bisakah aku kembali ke istana dulu?"


"Dasar bo***!" umpat Pitaloka, "Kamu ingin waktu kita terbuang?! Kalau saja aku tidak ditugaskan menjaga Selir Arum, sudah pasti akan kukerjakan sendiri!"


"Baiklah. Selamat malam."


Hanya itu. Pitaloka dan pemuda bertopeng kemudian berpisah. Setelah aura mereka hilang, Selir Arum bisa bernafas lega.


"Sang Pencipta dan Penguasa alam, apa sebenarnya arti semua ini? Mata Pitaloka malam itu penuh amarah dan dendam. Pada siapa? Nanda Prabu Arya Wira? Nanda Putri Loka Hita? Tabib Hansa Daya?"


Seekor burung hinggap di dahan, berkicau merdu. Tak lama, seekor burung datang. Ikut berkicau di dahan tak jauh dari burung pertama. Hanya sesaat, lalu burung kedua pergi, meninggalkan dahannya.


Selir Arum tersenyum, dia mengerti kelakuan dua burung itu. Burung pertama adalah pejantan, sedangkan yang kedua adalah betina. Selir Arum menatap langit dan merasakan udara, ini musim beberapa jenis burung untuk kawin. Termasuk dua burung itu, burung yang sering diburu karena memiliki penawar racun di tulangnya.


Penawar racun?! Saat itulah, sebuah pemikiran datang di benak Selir Arum. Pitaloka, Arya Wira, Hansa Daya, Giri Wasa, Loka Hita, dan Ki Grenda. Ada hal yang tak beres, Ki Grenda adalah ahli pengobatan racun.


Selir Arum memasang sikap waspada. Dia merasakan sebuah aura mendekat. Tak lama, seorang lelaki muncul.

__ADS_1


"Salam, Gusti Selir Arum," lelaki itu menghaturkan hormatnya.


"Siapa dirimu? Kalau tak salah, kamu orang yang menyerang kediamanku?"


"Benar, Gusti Selir. Hamba adalah prajurit pilihan Gusti Prabu Arya Wira yang diminta untuk mengganggu kediaman Gusti Selir." Lelaki itu mengeluarkan sebuah lencana yang langsung dikenali oleh Selir Arum.


"Lalu kenapa kamu kemari?"


"Ada hal yang harus saya beritahukan pada Gusti Selir terkait Nona Pitaloka."


Selir Arum mendengarkan dengan seksama penjelasan prajurit didepannya, yang tak lain adalah prajurit bayang Rama Wangi. Meski terkejut, kini dia tak lagi penasaran. Rupanya, Arya Wira meduga Pitaloka sangat berkaitan dengan kematian Dewi Nirmala.


"Aku merasakan ada yang mendekat. Kamu bisa mengenali aura ini?"


Prajurit bayang mengangguk, "Maaf, Gusti Selir. Izinkan saya melakukan tugas saya."


"Silahkan."


Selesai ucapan Selir Arum, sebuah benturan tenaga dalam terjadi. Membuat beberapa burung terbang karena kaget. Beberapa ranting pohon patah terkena sabetan pedang dan pukulan tenaga dalam.


"Gusti Selir!" teriakan terdengar dari belakang Selir Arum. Disusul pusaran tenaga dalam yang menerjang prajurit bayang. Prajurit bayang segera melompat, menghindari serangan.


Tringggg


Denting dua pedang yang beradu terdengar di antara kicau burung. Pertarungan tak bisa lagi dihindari, antara prajurit bayang dan Pitaloka. Seperti sebelumnya, prajurit bayang segera melarikan diri saat ada kesempatan. Dia tak bertugas melukai Pitaloka, juga tak ingin kedoknya terbongkar.


"Gusti Selir," Pitaloka memilih menghampiri Selir Arum dari pada mengejar musuh.


"Terima kasih, Pitaloka. Kamu kembali menolongku."


"Sudah kewajiban saya, Gusti Selir." Pitaloka mengangguk hormat.


"Guru!" dua murid Selir Arum muncul.


"Gusti Selir, izinkan saya mengejar penyerang tadi. Saya khawatir dia akan kembali dengan kekuatan lebih," pinta Pitaloka.


"Baiklah, hati-hati, Pitaloka."


Pitaloka mengangguk, lantas melompat ke udara. Saatnya pergi dan menyelesaikan urusannya. Seulas senyum terukir di bibirnya saat tubuhnya sudah menjauh dari tempat Selir Arum. Dia memang akan menyelesaikan urusannya, bukan urusan Selir Arum.


Di antara lebatnya pohon hutan, sepasang mata menatap Pitaloka. "Akhirnya, kamu pergi juga, Pitaloka. Aku tahu, prajurit bayang Rama Wangi tak akan bisa mengikutimu tanpa peringan tubuh. Tapi bila dia menggunakan peringan tubuh, kedoknya akan terbuka. Sekarang, aku yang akan mengikutimu. Aku Putih, dan akan selalu membantu keluarga Puanku."


"Aku merasakan ada yang mengikutiku. Tapi, kenapa aku tak bisa merasakan aura seorang manusia? Apakah makhluq lain yang mengikutiku?!" Pitaloka menghentikan gerakannya. Matanya menatap tajam seluruh penjuru mata angin.


"Sial! Auranya menghilang! Atau, hanya pikiranku? Arghhhh!!!" Pitaloka mengacak rambutnya sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

__ADS_1


"Fufufu..." Putih bersenandung lirih, "Kau lumayan peka, Pitaloka. Tapi, kenapa kau malah menjadi jahat?!"


__ADS_2