Legenda Pendekar Rama Parvati

Legenda Pendekar Rama Parvati
Sayembara


__ADS_3

Nala Pura. Kerajaan besar yang terletak di area strategis. Pegunungan kapur melindungi bagian tenggara hingga selatan. Danau besar nan dalam terhampar di bagian barat. Perbukitan dengan hutan-hutan perawan membentengi bagian timur dan timur laut. Kota raja berada di lembah bukit landai yang berada di tengah kerajaan, sedikit menjorok ke arah tenggara. Istana kerajaan berada di sudut kota raja yang menjorok ke puncak bukit.


Kerajaan itu kini dipimpin oleh Prabu Caraka dan didampingi para patih tanpa seorang maha patih. Kerajaan tempat singgahnya banyak pedagang dan pendekar.


Kerajaan itulah yang kini sedang mengadakan sayembara. Sayembara itu yang dibawa oleh empat prajurit kerajaan ke padepokan Sedayu.


Sayembara pemilihan calon suami untuk Dewi Nirmala, putri tunggal Prabu Caraka. Selain putri yang cantik, kedudukan Pangeran Angga Perak sebagai putra mahkota juga menjadi hadiah. Pangeran Angga Perak sendiri akan menjadi maha patih kerajaan. Dua hadiah besar! Menikah dengan putri seorang raja dan menjadi raja.


Sayembara itu berlaku bagi siapa saja. Baik pangeran maupun pendekar kelana. Sayembara itu sulit dan rumit. Sulit, karena harus mengalahkan dua jagoan kerajaan, sang pangeran sendiri dan panglima kerajaan, dalam sebuah arena. Rumit, karena juga harus bisa membuat seekor burung nyaman di belaiannya. Burung kerajaan Nala Pura, Sang Avri, burung istimewa yang hanya tenang dengan orang-orang tanpa sihir.


"Bagaimana menurut Dinda?" Arya Wira menatap adiknya


Loka Hita masih diam, menatap beberapa murid yang berlatih.


Empu Dipta menginginkan Arya Wira mengikutinya. Bukan karena hadiah itu. Tapi karena ini permintaan salah satu patih yang menjadi kawannya, mengirim peserta dari padepokannya. Pilihan Empu Dipta jatuh pada Arya Wira. Meski tetap mengizinkan murid yang lain untuk mengikutinya.


"Kita harus bertanya pada Ibunda, Kakang," Loka Hita akhirnya menjawab.


"Baiklah. Tapi, Dinda sendiri tak keberatan?"


"Entahlah, Kakang," Loka Hita menghela nafas panjang. Dia tak tahu. Membiarkan kakaknya kembali ke kerajaan Nala Pura? Tempat yang menyimpan ribuan kenangan. Ratusan kejadian. Bisakah?!


"Tapi bila Ibunda mengizinkan, saya tak keberatan, Kakang," lanjut Loka Hita.


"Baiklah, mari pergi ke pondok Ibunda. Secepatnya harus ke sana, kerajaan Nala Pura lumayan jauh." Arya Wira menepuk pundak Loka Hita.


Mereka beranjak dari bawah pohon dekat area latihan murid kelas menengah. Meninggalkan sepasang mata yang memperhatikan dari jauh. Sedari tadi, Arya Wira dan Loka Hita sudah mengetahui keberadaannya, tapi memilih diam. Pemilik sepasang mata itu bukan orang yang perlu diwaspadai.


"Raka, akankah Raka pergi? Menjemput bidadari Nala Pura itu? Ah, siapalah saya? Berharap pada orang sebaik dan sehebat Raka Wira," desahnya lirih.


Perlahan, dia kembali ke pondok tempatnya tinggal selama ini. Tak lain, dia adalah Pitaloka. Gadis itu, apa mau dikata, ternyata telah jatuh hati dengan orang yang dianggapnya kakak. Meski dia yakin, pemuda itu tak menganggapnya lebih dari seorang adik.


Seekor burung belibis hinggap tak jauh dari padepokan. Berteduh dari mentari yang kian meninggi

__ADS_1


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Pondok di dekat sungai itu masih seperti dulu. Sederhana dengan sepetak tanah ditumbuhi tanaman bumbu dapur dan sedikit tanaman obat. Pondok dengan dua pohon kelapa kembar di salah satu sudut halaman.


Ke sanalah Arya Wira dan Loka Hita berjalan. Sambil berjalan, mereka menyapa penduduk desa. Atau, menjawab sapaan mereka. Ah, siapa pula penduduk desa yang tak mengenal Arya Wira dan Loka Hita?


Putra putri hebat. Buah hati Nyai Alisha, seorang penjahit sederhana yang datang beberapa tahun silam. Mereka keluarga baik dan hebat. Ramah, suka menolong, dan tentu saja, tak sombong. Mereka orang hebat. Kedua remaja itu murid terhebat padepokan Sedayu. Sedang sang ibu pandai sekali memasak, menjahit, dan berwawasan luas. Mereka seakan keluarga bangsawan. Keluarga yang dihormati dan disayangi penduduk desa.


"Den Arya Wira dan Nini Loka Hita hendak menemui Puan?" Sambut lelaki dewasa di halaman pondok.


"Iya, Paman. Ke mana Ibunda?" Arya Wira bertanya balik.


"Ke kota, Den. Membeli beberapa kebutuhan dan mengirim pesanan. Mari, Aden. Mari, Nini"


"Paman Jaka!" Panggil Loka Hita, "Paman sedang ngapain? Biar Hita bantu!"


"Jangan, Ni! Paman sedang menyiangi rumput. Nanti tangan Nini kotor," tolak si lelaki sopan.


"Biarkan saja, Paman! Paling, Hita hanya sebentar membantu. Kulit putihnya tak kan betah di bawah matahari," ledek Arya Wira sambil menaiki tangga pondok.


Pondok itu memang berbentuk panggung, bentuk yang tak lumrah di desa ini.


"Enak saja!" Loka Hita melemparkan sebuah ranting kecil ke arah Arya Wira.


"Hup!" Arya Wira menangkap lemparan Loka Hita. Dia tertawa lebar.


Paman Jaka tersenyum melihat canda putra-putri puannya. Dia sudah lama bekerja di rumah ini. Sebulan sejak Nyai Alisha datang. Bukan hanya dia yang bekerja pada Nyai Alisha. Ada beberapa pemuda, lelaki dewasa, dan ibu-ibu lainnya. Kini, Nyai Alisha memang cukup kaya dengan usaha jahitannya yang terkenal hingga kota besar. Meski Nyai Alisha selalu hidup sederhana.


"Wira! Hita!" Tak lama, seruan khas terdengar.


Arya Wira dan Loka Hita menoleh. Seorang wanita paruh baya yang masih di atas kuda. Nyai Alisha, ibunda mereka!!!!


Arya Wira segera melompat ke bawah. Loka Hita ikut menyusul, setelah cuci tangan dahulu. Mereka menyongsong wanita yang paling mereka cintai.

__ADS_1


Keluarga kecil itu berpelukan. Melupakan beberapa orang yang berada di sekeliling. Lantas, berjalan bersama ke beranda rumah panggung.


Paman Jaka segera ke mencuci tangan. Lalu ikut membantu beberapa orang menurunkan barang dari kereta barang. Merekalah pekerja Nyai Alisha selain Paman Jaka.


"Ibunda selalu yakin, kalian pasti akan kembali ke sana," Nyai Alisha menatap dua buah hatinya. Mereka baru saja menjelaskan tentang sayembara kerajaan Nala Pura dan keinginan Empu Dipta.


"Ibunda takkan melarang kalian kembali ke sana. Asal kalian menepati janji kalian di hutan dahulu."


"Ibunda tak keberatan?" Loka Hita menatap tak percaya ibundanya.


Nyai Alisha menggeleng, "Ibunda tak keberatan kalian kembali, Hita. Ibunda hanya enggan untuk kembali, bukannya melarang kalian."


Nyai Alisha menatap halaman pondok, "Lagi pula, kalian bisa mengunjungi makam ayahanda kalian. Sampaikan salam ibunda padanya."


Loka Hita menyandarkan kepala ke pundak ibundanya.


"Wira," Nyai Alisha menatap putranya, "Tapi kau harus ingat! Kehidupan seorang raja berbeda dengan seorang pendekar. Raja harus mengutamakan rakyat dan negrinya. Tidak sebebas seorang pendekar. Kau tak bisa lagi berkelana sesuka hati. Kau siap?"


Arya Wira menganguk pasti, "Ananda sudah memikirkannya, Ibunda. Selama Ibunda merestui, ananda selalu yakin," jawabnya mantap.


"Maka, kembalilah ke Nala Pura. Tunaikan tugas kalian. Tapi, selalu ingat janji kalian. Ajian tiga belas daya!" Nyai Alisha mengelus lembut rambut hitam putrinya.


Arya Wira menganguk takzim. Loka Hita-dengan kepala tersandar, menganguk juga.


"Oh ya, ada baiknya kalian mengajak Paman Jaka. Dia akan sangat membantu di sana," usul Nyai Alisha.


"Paman Jaka?!" Ulang Loka Hita


"Iya, Hita. Paman Jaka. Itu pun bila dia bersedia," Nyai Alisha mengangkat alisnya.


Keputusan sudah diambil. Arya Wira dan Loka Hita akan pergi ke kerajaan Nala Pura. Kerajaan yang dulu pernah mereka tempati. Kerajaan tempat mereka kehilangan ayah kandung mereka. Kerajaan tempat mereka dilahirkan.


Paman Jaka?! Ah, lelaki itu (tentu saja) setuju. Dia sangat menghormati Nyai Alisha, juga Arya Wira dan Loka Hita. Dia-pun sudah tak memiliki keluarga maupun sanak saudara. Lagi pula, dia sudah lama tak bepergian jauh. Kerajaan Nala Pura?! Dia hanya mendengar kebesaran negara itu.

__ADS_1


__ADS_2