
Malam yang terang. Tak ada mendung. Membuat suasana begitu nyaman dan tenang. Di salah satu bangunan istana kerajaan Nala Pura, empat orang duduk saling berhadapan. Mengelilingi sebuah meja bundar berukiran indah. Empat orang paling penting kerajaan Nala Pura. Prabu Caraka, Pangeran Angga Perak, Panglima Mahanta, dan Pangeran mahkota Arya Wira.
"Putraku Wira, kini saatnya kau mengetahui sebuah rahasia." Prabu Caraka menatap Pangeran mahkota Arya Wira.
"Rahasia apakah itu, Ayahanda Prabu?" Pangeran mahkota Arya Wira bertanya penuh hormat.
"Kau pasti telah mengetahui tentang pemberontakan belasan tahun silam, bukan?! Juga, mengapa aku bisa menjadi seorang prabu di Nala Pura ini?!"
"Iya, Ayahanda Prabu. Paman panglima Mahanta yang menceritakan semua."
"Ya, memang begitulah. Pemberontakan belasan tahun silam adalah petaka besar bagi Nala Pura. Kesedihan paling mendalam yang pernah terjadi. Ketika seorang prabu yang sangat dicintai rakyat, gugur tanpa perlindungan berarti. Gugur tanpa bisa kami cegah. Bahkan, orang-orang yang seharusnya melindungi beliau, tak ada di tempat. Mereka terperangkap jebakan musuh. Dan semuanya karena kebodohanku...." Prabu Caraka menghela nafas berat.
"Aku terlalu bodoh, merasa paling benar. Memutuskan dengan terburu-buru. Tak mau mendengarkan pendapat Gusti Pemaisuri dan Pangeran Rama. Bahkan, aku tak tahu istana telah diserang, dan Prabu Garuda Rama terluka parah. Aku bahkan tak bisa menyelamatkan beliau..."
"Itu bukan murni kesalahan Gusti Prabu," Panglima Mahanta menukas, "kami semua juga bersalah, tak bisa menyelamatkan Prabu Garuda Rama. Bahkan, mendiang Putri Kartika Dewi harus gugur karena menolong kami."
"Benar, Ayahanda," Pangeran Angga Perak menyahut, "bukankah Gusti Selir Arum selalu mengatakan, semua memang kehendak Yang Kuasa?! Tak penting kita terlalu menyalahkan diri sendiri. Yang paling penting adalah memperbaiki semuanya."
Prabu Caraka menghela nafas berat. Juga Panglima Mahanta dan Pangeran Angga Perak. Sedangkan Pangeran mahkota Arya Wira hanya diam, menahan berbagai perasaan yang bergejolak di dadanya.
"Putraku Wira, aku menjadi raja karena permintaan Yang Mulia Selir Arum. Beliau satu-satunya keluarga kerajaan yang selamat. Seharusnya, beliau bisa menjadi Prabu Putri. Namun beliau memilih menjadi petapa dan menyerahkan kepemimpinan kerajaan padaku. Sedangkan Mahanta diangkat menjadi panglima, menggantikan panglima yang gugur saat merebut kembali istana."
"Putraku Wira, meski aku bergelar Prabu, aku bukanlah Prabu. Aku tetap menjadi maha patih. Karena itulah, tak ada jabatan maha patih di kerajaan ini. Dan dengan persetujuan Selir Arum, aku mengadakan sayembara ini."
"Aku sudah pernah berjanji, untuk tidak pernah menginginkan kedudukan seorang raja. Aku juga bersumpah untuk tidak menjadikan putra-putraku sebagai prabu di Nala Pura. Karena itu, kuperintahkan agar putra tertua pemaisuriku, Angga Perak, untuk menjadi maha patih. Dia tak boleh menduduki kursi seorang prabu. Kalau bukan karena kerajaan membutuhkan, aku tak pernah ingin menduduki tempat Prabu Garuda Rama." Jelas Prabu Caraka.
Pangeran mahkota Arya Wira mengangguk. Dia bisa memahami janji dan sumpah Prabu Caraka. Dadanya terasa sangat longgar. Setidaknya, sudah terbukti, paman Caraka tak rakus kekuasaan. Beliau memimpin karena kerajaan membutuhkan.
"Lalu, mengapa Ayahanda mengadakan sayembara? Kenapa tidak memilih salah satu dari putra para pejabat?" Pangeran mahkota Arya Wira tak bisa menahan penasarannya.
Prabu Caraka tersenyum, mengingat sekejap pembicaraan antara dirinya, Panglima Mahanta, dan Selir Arum beberapa bulan silam.
"Karena hanya laki-laki yang tak memiliki sihir sama sekali yang bisa menaklukkan Sang Avri. Hanya lelaki kuat dan cerdas yang bisa mengalahkan Panglima Mahanta dan putraku, Angga Perak. Juga hanya lelaki beradab yang tak kan mau menatap seorang putri tertua kerajaan, Dewi Nirmala sebelum menikah. Lelaki kuat, cerdas, tak memiliki sihir, dan beradab akan mampu memimpin kerajaan besar ini."
Pangeran mahkota Arya Wira terkejut. Pertanyaan Pangeran Angga Perak setelah kemenangannya, ternyata bagian dari sayembara.
"Dugaan Rayi benar." Pangeran Angga Perak memahami sebab kekagetan adik iparnya, "Pertanyaan saya saat itu adalah bagian akhir sayembara. Kalau saja Rayi mau melihat Dhiajeng Nirmala, Rayi akan dihukum karena melecehkan kehormatan seorang putri kerajaan."
Seekor burung hantu terbang di atas langit istana.
Sanyup-sanyup, terdengar jangkrik menderik pelan.
__ADS_1
"Nah, Putraku Wira," Prabu Caraka menatap menantunya yang menunduk hormat, "bersiaplah! Lusa, kau akan dinobatkan menjadi Prabu."
Pangeran mahkota Arya Wira mengangkat pandangannya. Kaget bukan kepalang. Secepat inikah? Lalu, bagaimana dengan Prabu Caraka sendiri?
Seakan mengetahui pertanyaan di benak Pangeran mahkota Arya Wira, Prabu Caraka melanjutkan, "Seluruh penasehat sudah setuju. Kau menguasai ilmu tata negara dengan cepat, seakan pernah mempelajarinya sebelum ini. Kau juga sudah mengenal seluruh wilayah Nala Pura, para punggawa, dan setiap sudut istana dengan baik. Panglima Mahanta juga memberitahuku, kau telah menguasai jurus-jurus yang beliau ajarkan. Kepandaianmu dalam mengatur strategi perang memang belum teruji, tapi aku yakin kau bisa menguasainya. Menguasai strategi perang memang sangat membutuhkan pengalaman. Bagaimana, Putraku, kau siap?"
"Tapi, bagaimana dengan Ayahanda?"
Prabu Caraka tersenyum arif, "Sudah saatnya aku mundur, Putraku. Aku akan tetap memantau kerajaan, tapi hanya sebagai mertua seorang prabu."
Pangeran Angga Perak menyentuh bahu adik iparnya, "Bantu Ayahanda agar terlepas dari rasa bersalah karena menjadi seorang prabu, Rayi."
Pangeran mahkota menutup mata. Teringat pesan ayahandanya, Prabu Garuda Rama, saat dia kecil dahulu. Pesan agar dia dan kedua adiknya bisa memakmurkan Nala Pura. Ini saat baginya menunaikan pesan mendiang Ayahanda.
Dan, Pangeran mahkota Arya Wira mengangguk.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Tiga kuda berlari, membelah udara pagi yang lembut. Menuju sebuah kompleks bangunan yang teratur dan terawat baik. Di depan, kuda gagah yang dikendarai wanita cantik dengan pedang di punggung, memimpin. Disusul kuda yang ditunggangi pemuda berpakaian biasa dengan beberapa buntalan. Dan terakhir, kuda yang ditumpangi lelaki bertubuh agak gemuk dan sedikit pendek.
Ketiga kuda berhenti di depan sebuah gerbang sederhana. Empat orang sudah menunggu di sana. Seorang lelaki dengan rambut yang sudah memutih. Seorang lelaki muda bertubuh kekar dengan pakaian seorang pendekar. Seorang lelaki muda dengan pakaian murid padepokan. Serta seorang gadis berwajah tirus yang tersenyum lebar.
"Salam, Guru," wanita penunggang kuda turun dan segera menghormat.
"Pitaloka, Danang," Loka Hita tersenyum. Pandangannya beralih ke pemuda berpakaian pendekar. Wajah yang tak begitu asing...
"Kau lupa padaku, Hita?!"
Loka Hita tersenyum lebih lebar, "Giri Wasa!"
"Akhirnya, kau mengingatku, Hita. Hampir saja kulempari batu agar ingat."
Loka Hita tertawa. Hingga teringat, dia datang bersama dua orang asing. Tabib Hansa dan Janu.
"Guru, ini teman Hita yang ingin belajar olah kanuragan di sini."
Empu Dipta mengangguk, "Ya sudah, biarkan mereka masuk. Danang, ajak mereka ke tempat pondok tamu. Saya akan ke sana sebentar lagi."
"Baik, Guru," pemuda dengan pakaian murid padepokan mengangguk hormat. "Mari, tuan-tuan," ajaknya.
Tabib Hansa dan Janu mengikuti Danang, masuk ke kompleks padepokan Sedayu. Sementara kuda mereka -juga kuda Loka Hita, sudah diambil alih oleh murid padepokan.
__ADS_1
"Ayo, Hita. Kita sudah ditunggu." Empu Dipta masuk. Diikuti ketiga pendekar muda.
Nyai Cempaka langsung memeluk Loka Hita saat Loka Hita tiba di pondok utama. Air mata haru tak bisa ditahan. Mungkin, orang asing akan mengira mereka benar-benar anak dan ibu.
"Eh, orang yang bersama Yunda tadi, siapa? Sepertinya, bukan pendekar atau pun pangeran." Pitaloka memulai pembicaraan.
Mereka baru saja menyantap hidangan yang disiapkan Nyai Cempaka. Kini, Loka Hita berada di beranda pondok bersama Nyai Cempaka dan Pitaloka. Empu Dipta sedang menemui Tabib Hansa. Sedangkan Giri Wasa pergi ke sungai untuk berlatih.
"Namanya Hansa Daya. Dia seorang tabib. Kami bertemu tak sengaja di hutan saat aku berkelana. Dia ingin berlatih olah kanuragan, jadi kubawa kemari," jelas Loka Hita.
"Dia benar-benar berpeluang besar, Hita" Nyai Cempaka ikut berbicara, "tadi suamiku sempat bilang, dia memiliki susunan tulang yang istimewa. Eh, sepertinya dia tampan. Kalian tak ingin berjodoh dengannya?"
"Ah, Bibi!"
"Guru!"
Pitaloka dan Loka Hita berwajah masam sekarang.
"Sejak kapan Giri Wasa kemari, Guru?" Loka Hita mengalihkan percakapan.
"Dua pekan setelah kepergianmu dan Wira ke Nala Pura. Sebetulnya, dia kemari karena ingin bertemu kalian bertiga," jawab Nyai Cempaka sambil sesekali mengawasi beberapa murid perempuan yang berlatih di depan pondok utama.
"Kangen katanya, Yunda" sahut Pitaloka sambil tersenyum geli, "saya ingat saat dia tahu kalian tak ada di padepokan."
"Apa yang dilakukannya?"
"Dia menggerutu. Katanya, enak saja Raka Wira pergi. Padahal, dia sudah berlatih lebih giat agar bisa mengalahkan Raka Wira. Dia bahkan sampai pergi ke rumah kalian, tapi hanya menemukan Nyai Alisha. Lalu, balik ke padepokan sambil bicara sendiri. Seperti orang kurang waras, Yunda." Pitaloka tersenyum membayangkan saat itu.
Loka Hita ikut tertawa lirih.
"Hssstttt!!!" Tukas Nyai Cempaka cepat. "Tak baik mengatai Wasa. Dia masih saudara kalian."
Loka Hita dan Pitaloka nyengir. Lantas memilih membicarakan sayembara. Juga petualangan Loka Hita setelahnya. Sesekali Pitaloka menyayangkan Loka Hita yang tak mau menghadiri pernikahan kakaknya.
"Kau tahu 'kan, aku tak suka pesta-pesta seperti itu. Lebih baik, berpetualang ke berbagai tempat."
Sedangkan itu, salah satu orang yang baru saja mereka bicarakan sedang memandang ke langit. Menghentikan latihannya di pinggir sungai.
Dia Giri Wasa. Putra sepupu Nyai Cempaka yang selama ini tinggal di padepokan lain. Dia rutin berkunjung ke padepokan Sedayu untuk mengunjungi ketiga anak angkat Nyai Cempaka. Dan selalu berduel dengan Arya Wira dengan hasil yang tak pernah berubah, dia kalah dari Arya Wira.
"Gadis itu semakin cantik dan menawan," desisnya pelan. Seulas senyum berjuta makna terlukis di bibirnya. "Dia juga semakin kuat. Apakah kau sudah membuka hatimu, bidadari?"
__ADS_1
Wajah seorang gadis terlukis indah di benaknya. Gadis yang telah membuatnya merasakan rindu tiada tara.