Legenda Pendekar Rama Parvati

Legenda Pendekar Rama Parvati
Lelaki Berjubah Hitam


__ADS_3

Rembulan masih bersinar indah di angkasa. Jutaan bintang berpendar menawan di sekelilingnya. Bagai lukisan raksasa tertuang di atas kanvas. Begitu menawan ciptaan Sang Kuasa. Tapi, jarang sekali manusia memikirkannya.


Pertarungan di gerbang istana langsung terhenti saat Arya Wira datang. Keterkejutan mengungkung semua orang yang berada di sana saat gadis pembuat onar dipeluk oleh Sang Prabu. Apalagi, saat sang Prabu sendiri memanggilnya "Dinda".


Benarlah kata gadis itu. Dia adik Prabu Arya Wira.


Panglima Mahanta bangkit dan segera menghaturkan hormat pada junjungannya. Diikuti para Nayaka, seluruh prajurit dan pendekar kerajaan. Sedangkan Angga Perak hanya tersenyum tipis.


"Maafkan kami, Gusti Prabu," ucap Panglima Mahanta penuh hormat, "kami telah lancang menyerang adik Gusti Prabu."


"Sudahlah, Paman." Arya Wira melepas pelukannya, "Ini semua bukan salah Paman dan yang lainnya. Ini hanya kesalah fahaman. Paman dan yang lain hanya sedang berusaha menunaikan tugas dengan baik."


"Maafkan adik saya, Panglima," lanjut Arya Wira


"Tidak apa, Gusti Prabu. Ini juga bukan salah beliau. Maafkan kami yang tak mengenali Putri,"


Loka Hita hanya mengangguk sekilas. Lantas menatap tajam Arya Wira, "Bukankah Hita sudah mengirim pesan pada Kakang?!"


"Kakang kira, masih esok hari Dinda sampai di istana," kilah Arya Wira lantas tersenyum, "Jangan marah, Dinda. Lebih baik, kita masuk ke dalam."


Loka Hita mendengus kesal, tapi tak mengatakan apa-pun.


"Mari, Paman, kita masuk. Saya akan memperkenalkan adik saya pada kalian semua."


"Daulat, Gusti Prabu."


Arya Wira melangkahkan kaki ke dalam kompleks istana. Loka Hita berjalan di samping kakaknya. Diikuti empat pendekar kerajaan, tiga Nayaka, Panglima Mahanta, dan Angga Perak. Tak lupa, Panglima Mahanta sudah mengalirkan hawa murninya ke seluruh tubuh. Terutama area yang terkena hantaman tenaga dalam Loka Hita.


"Dinda Loka Hita adik saya satu-satunya. Dia memang lebih suka berkelana dari pada tinggal di istana," jelas Arya Wira


Semua orang mengangguk. Mereka mengerti pilihan Loka Hita, terutama para pendekar.


"Kami sangat mengerti pilihan seperti itu, Gusti Prabu. Berkelana memang menjadi bagian dari kehidupan seorang pendekar," sahut salah satu pendekar kerajaan.


"Maaf, Gusti Prabu. Saya sangat kagum dengan kemampuan Putri Loka Hita. Begitu mudah mengalahkan saya," timpal Panglima Mahanta.


"Panglima terlalu memuji," Loka Hita merendah.


"Tidak, Putri. Saya benar-benar kagum. Putri begitu hebat di usia yang masih muda," sanggah Panglima Mahanta.


"Benar, Putri. Putri benar-benar hebat. Saya yakin, Putri pun bisa mengalahkan saya dengan mudah," tambah Angga Perak.


"Maha patih juga terlalu membesarkan. Panglima pastilah tidak menggunakan seluruh kekuatan Panglima,"

__ADS_1


Percakapan hangat pun bergulir. Loka Hita lebih banyak merendah. Semua orang -tak terkecuali Arya Wira, selalu memuji kemampuannya. Bahkan, Angga Perak dan Panglima Mahanta menyatakan keinginan untuk berduel dengan Loka Hita. Loka Hita menyetujui setelah didesak oleh Arya Wira.


Percakapan selesai saat malam kian larut. Loka Hita diantar oleh Arya Wira ke area keputren. Dia akan menginap di sana selama yang diinginkan. Loka Hita memang akan kembali berkelana. Dia belum mau tinggal di lingkungan istana.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Seekor burung terbang di angkasa. Mengarungi luasnya alam ciptaan Sang Kuasa.


Di bawah langit membiru. Di dalam kompleks istana, seorang perempuan memainkan pedang dengan begitu lincah. Permainan yang indah yang sulit ditebak. Berpadu sempurna dengan gerakan memukul dan menendang. Sulit dipercaya, permainan yang rumit itu digerakkan oleh seorang gadis belia.


Tak jauh dari gadis tersebut, tiga lelaki memperhatikan dengan seksama.


"Hebat sekali, Dinda Hita!" seru Arya Wira setelah sang gadis menyelesaikan latihannya.


"Terima kasih, Kakang," Loka Hita tersenyum, lantas menyarungkan pedangnya.


"Gerakan yang sangat menawan, Putri. Saya belum pernah melihat gerakan sehebat itu," Panglima Mahanta memuji dengan tulus.


"Saya juga baru melihat gerakan serumit itu, Putri," dukung Angga Perak


"Paman dan Maha patih terlalu berlebihan."


"Kakang, Dinda mendengar, Kakang akan menemui Selir Arum. Bolehkah Dinda ikut serta?"


Loka Hita tiba-tiba memungut ranting di dekat tempatnya berdiri. Membuat heran yang lain. Dengan seulas senyum tipis, Loka Hita melemparkan ranting itu ke belakang.


Kwakkk


Seekor burung bewarna hitam terbang meninggalkan pohon tempatnya bertengger. Loka Hita segera melompat, mengejar si burung dengan cepat. Arya Wira, Panglima Mahanta, dan Angga Perak menyusul. Mereka memahami satu hal, burung itu bukan burung biasa.


Plashhhh


Dalam posisi masih di udara, Loka Hita menyerang si burung dengan tenaga dalam. Serangan yang bisa dihindari si burung. Sayang, itu hanya keberuntungan. Karena sekejap kemudian, serangan tenaga dalam kembali meluncur. Kali ini, burung hitam itu tak bisa mengelak.


Kwakkk


Si burung meluncur ke bawah. Loka Hita terus mengikutinya. Saat bulu pertama burung itu menyentuh tanah, kemilau cahaya abu-abu melingkupi tubuhnya. Dalam beberapa kedipan mata, burung itu sudah berubah wujud.


Seorang lelaki bertopeng dengan jubah hitam. Membawa sebilah pedang besar bewarna hitam pekat. Tanpa menunggu lama, lelaki itu menyerang Loka Hita yang belum sempurna mendarat di tanah. Beruntung, Loka Hita bisa menghindarinya.


"Siapa kau?! Berani memata-matai istana Nala Pura ini!"


Tak ada jawaban, lelaki berjubah langsung menyerang Loka Hita dengan pedangnya. Loka Hita mencabut pedang dari wrangka, dan meladeni serangan musuhnya.

__ADS_1


Arya Wira memperhatikan pertarungan sambil bersiap siaga. Juga Panglima Mahanta dan Angga Perak. Karena masih di lingkup istana, para prajurit segera mengepung arena bertarung.


Pertarungan berjalan begitu alot. Loka Hita dan lelaki berjubah seimbang. Mereka saling menyerang dan bertahan. Belum ada yang terdesak.


"Sial! Tak ada celah untuk masuk ke pertarungan!" umpat Panglima Mahanta resah.


"Lebih baik kita tetap siaga. Saya merasa, lelaki itu memiliki ilmu tinggi," Angga Perak mencabut pedang yang dibawanya.


"Benar, Raka. Paman. Kita harus berjaga," Arya Wira juga mencabut pedang yang sengaja dibawanya. Pasangan pedang yang digunakan Loka Hita.


Bagian pertama jurus tiga tingkat.


Loka Hita memutuskan memakai jurus dari Ibundanya.


Pedang Loka Hita bergerak bergantian dengan pukulan dan tendangan, Loka Hita belum memakai tenaga dalam. Gerakan yang membentengi Loka Hita dari setiap serangan lelaki berjubah. Lelaki berjubah semakin gencar menyerang. Dia kini mulai mengalirkan tenaga dalam ke bilah pedang hitamnya. Membuat kehitaman pedangnya semakin pekat. Loka Hita yang menyadari hal itu, segera mengikuti. Perlahan, tenaga dalam mengalir di bilah pedang Loka Hita.


"Sial! Siapa lelaki ini! Dia seperti bukan manusia!" Loka Hita tak juga bisa menggoreskan pedangnya.


Lelaki berjubah melompat, bersamaan dengan cahaya abu-abu yang melingkupi tubuhnya. Tak disangka, lelaki itu kembali berubah menjadi burung dan kembali terbang. Cahaya abu-abu masih melingkupinya.


"Hei!!" Spontan, Loka Hita melompat, mengejar burung itu


Plashhhh


Bruakkk


Loka Hita terjatuh ke tanah dengan keras. Sekejap mata, burung itu berubah kembali menjadi lelaki, dan langsung menyerang Loka Hita. Serangan tiba-tiba dan tak disangka sama sekali membuat Loka Hita tak bisa mengelak. Apalagi, dia dalam keadaan tak siap menerima serangan.


Lelaki itu kembali berubah setelah melepas pukulan. Cahaya abu-abu menghilang, dan burung hitam jelmaan itu sudah terbang jauh. Tak ada yang sempat mengejar. Seluruh perhatian sedang terarah pada Loka Hita yang terjatuh di tanah.


"Dinda Hita!" Arya Wira berlari


"Putri!" Panglima Mahanta dan Angga Perak menyusul.


Loka Hita mencoba duduk, tubuhnya terasa begitu dingin. Seluruh sendinya seperti terbungkus es. Kulitnya seperti membeku. Sempat menatap burung yang menjauh, sebelum kemudian jatuh tak sadarkan diri.....


... \=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Hai readers! mampir juga di novel terbaru saya,


my love my heart


tinggalkan jejak di sana ya!

__ADS_1


terima kasih;)


__ADS_2