
Begitu banyak abu-abu dalam kehidupan ini. Tak jelas hitam dan putih. Meski sebenarnya, kebenaran itu tetaplah ada. Sayangnya, kebanyakan manusia rabun tentangnya.
Arya Wira menghela nafas berat. Kakinya mondar-mandir di lantai. Beberapa kali matanya menatap jendela. Pikirannya sedang dipenuhi berbagai pertanyaan. Kelebat beberapa kejadian akhir-akhir ini.
Begitu menarik kah kursi singgasana?! Apa yang indah dari kedudukan seorang ratu?! Apa yang membuat banyak wanita memimpikan mahkota itu?! Sebuah aib-kah, raja tanpa ratu?!
Bukan tanpa sebab Arya Wira berpikir seperti itu. Akhir-akhir ini, ada banyak orang yang memintanya agar menikah lagi. Ada yang meminta dengan halus, ada pula yang terang-terangan. Tak hanya itu, banyak perempuan mulai mendekati dan mencoba menarik perhatian. Para keluarga mereka tak absen membantu. Arya Wira bukan orang bodoh. Dia lebih dari cukup untuk memahami perilaku orang-orang di sekitarnya.
"Nanda Prabu tak ingin mencari pengganti mendiang Ratu?"
"Lihatlah, beberapa saudari mendiang Ratu Dewi Nirmala! Mereka sangat mirip dengan beliau, bukan?!"
Dua kalimat yang sering didengar dari kedua selir Caraka. Hanya selir tertua yang tak pernah menunjukkan keinginan seperti mereka. Meski dia juga memiliki putri.
Putri beberapa pejabat-pun sering muncul dalam berbagai kesempatan. Mencoba menarik perhatian Sang Prabu yang menduda dalam usia muda
.
"Rayi Prabu," panggilan dari pintu ruangan memutus semua kenangan.
"Silahkan masuk, Raka Angga."
"Sepertinya, Rayi Prabu sedang memikirkan sesuatu. Bolehkah saya mengetahuinya?"
Arya Wira mengangguk, "Tentang pengganti mendiang Dinda Nirmala, Raka. Haruskah saya mencarinya? Atau saya biarkan kursi pemaisuri kosong? Saya masih sangat mencintai Dinda Nirmala."
"Saya yakin, Rayi Prabu sangat mencintai mendiang adik saya. Namun, adanya seorang istri akan menambah wibawa seorang raja. Rayi Prabu bisa mengangkat selir terlebih dahulu. Bila nanti ada yang mampu membantu untuk memimpin kerajaan, Rayi Prabu bisa mengangkatnya menjadi pemaisuri."
Arya Wira masih diam beberapa saat, barulah menjawab. "Nasehat Raka memang benar dan baik. Tapi begitu berat bagi saya mencari satu perempuan yang bisa menggantikan Dinda Nirmala."
"Rayi Prabu bisa memilih beberapa wanita yang pantas sebagai selir."
Arya Wira menggeleng, "Sampai kapan pun, saya tak ingin memiliki lebih dari satu istri dalam satu waktu. Karena itulah, saya tidak mengangkat seorang selir pun saat Dinda Nirmala masih bersama saya."
Angga Perak mengernyitkan dahi. Sudah menjadi kebiasaan bahwa seorang raja memiliki banyak selir. "Mengapa, Rayi Prabu?"
"Saya takut, urusan wanita terlalu menyibukkan saya hingga melalaikan para rakyat."
Angga Perak tercenung. Betapa bahagianya dia, Nala Pura memiliki seorang raja yang begitu memperhatikan rakyat. Sekaligus lega, pemenang sayembara benar-benar seorang ksatria yang tak egois.
__ADS_1
"Raka Angga. Mengapa Raka Angga belum juga menikah? Umur kita sepantaran, bukan?!"
Angga Perak terkejut mendengar pertanyaan Arya Wira. "Eng.. Saya sebenarnya ingin mencari seorang istri, Rayi Prabu. Namun, wafatnya Dewi Nirmala menghentikan semua."
"Lalu, kenapa kini tidak melanjutkan? Mendiang Dinda Nirmala sudah tenang, Raka,"
Angga Perak tersenyum tipis, "Saya akan menikah setelah Rayi Prabu mendapatkan pemaisuri."
Arya Wira tersenyum, kakak iparnya sangat baik. "Mungkin saya akan menemui Ayahanda dan Bibi Arum terlebih dahulu."
"Baiklah, Rayi Prabu. Apakah saya boleh menemani?"
Arya Wira mengangguk. "Silahkan, Raka. Ajak Paman Mahanta juga."
Angga Perak mengangguk, lantas berpamitan.
"Salam dan hormat saya, Gusti Prabu," seseorang datang setelah kepergian Angga Perak.
"Paman Jaka, mari Paman." Arya Wira menyambut pelayan setianya. "Ada apa, Paman?"
"Paman Jalak dan Bibi Selasih berada di balik dinding istana, Gusti Prabu. Di dekat aliran sungai,"
Terkejutlah Arya Wira melihat siapa yang datang. Paman Jalak dan Bibi Selasih, pengasuhnya saat kecil. Saat mereka bertemu secara pribadi, tanpa ada orang lain, barulah Bibi Selasih menceritakan pertemuannya dengan Loka Hita. Juga permintaan Loka Hita agar mereka kembali ke istana.
Sejak saat itu, keduanya kembali menjadi salah satu pelayan di istana. Sekaligus orang kepercayaan Arya Wira dalam mengawasi seluruh istana. Menjadi mata-mata rahasia Sang Prabu.
...\=\=\=\=\=~~~\=\=\=\=\=...
Tempat Selir (petapa) Arum tak banyak berubah saat Arya Wira kembali ke sana. Pondok sederhana di tengah kesahajaan alam. Penuh ketentraman dan keindahan. Tak jauh dari pondok, sebuah sungai dalam mengalir deras. Suara aliran air terdengar hingga pondok. Berpadu dengan kicau burung dan kepakan kupu-kupu.
Selir Arum sedang kembali dari sungai saat Arya Wira tiba. Setelah saling menyapa, Selir Arum mempersilahkan para tamu untuk masuk ke dalam pondok. Dua gadis muda menyiapkan jamuan. Mereka murid pertama Selir Arum, petapa muda.
Arya Wira tak sungkan menceritakan masalahnya. Meski bertopeng seorang Arya Wira, nyatanya dia tetaplah Rama Wangi. Putra tiri Selir Arum. Ikatan yang terbangun di masa lampau tetap meninggalkan bekas, kedekatan di antara keduanya.
"Memang sebaiknya Nanda Prabu menikah lagi. Tak baik seorang prabu muda menduda tanpa seorang pun istri. Kalau pilihan untuk hanya memiliki satu istri di satu waktu, itu pilihan Nanda Prabu. Saya rasa, tak ada masalah. Bukankah Tuan Caraka juga menyatakan hal yang sama?"
Arya Wira mengangguk, dia sudah menemui kedua mertuanya sebelum bertemu Selir Arum. Nasehat Selir Arum menyakinkan Arya Wira untuk menikah lagi.
"Bagaimana dengan Maha patih Angga Perak sendiri? Mengapa belum juga menikah? Juga Panglima Mahanta, mengapa belum beristri?"
__ADS_1
Angga Perak dan Panglima Mahanta tertawa bersama. Tawa yang berbeda arti.
"Saya akan menikah setelah Rayi Prabu menikah."
Panglima Mahanta menghela nafas masygul, "Saya sudah tua, Gusti Selir. Mana ada wanita yang mau dengan saya?!"
Selir Arum tersenyum penuh arti, "Panglima terlalu merendah. Usia Panglima masih jauh dibawah Tuan Caraka. Tentu saja, banyak wanita yang berkenan dengan seorang panglima dan pendekar hebat."
Panglima Mahanta tertawa getir. Dia tak pernah percaya diri.
"Panglima tak pernah memperhatikan wanita di sekitar Panglima sendiri. Bahkan sejak menjadi pendekar kerajaan di masa mendiang Kanda Garuda, ada beberapa wanita yang menaruh hati. Cobalah Panglima ingat lagi."
Panglima Mahanta mengerutkan dahi. Benarkah? Selama ini, ada wanita yang menaruh hati padanya? Bagaimana bisa dia tidak tahu? Malah, Selir Arum yang mengetahuinya.
Angga Perak dan Arya Wira tak bisa menahan tawa melihat raut wajah Panglima Mahanta. Sepertinya, dia benar-benar ingin menikah. Hingga berusaha keras mengingat perempuan yang pernah dia kenal.
"Kalau Panglima belum bisa mengingat, saya bisa membantu." Selir Arum menahan tawa dengan senyumnya.
"Eh, tidak perlu, Gusti Selir." Panglima Mahanta segera mengendalikan diri.
Pondok Selir Arum terasa begitu menyenangkan. Tawa memenuhi ruang utama pondok, tempat Selir Arum menjamu para tamunya.
Arya Wira sudah mempunyai pilihan. Dia akan mencari perempuan yang mampu mendampinginya dalam memimpin Nala Pura. Bukan dengan sayembara. Mungkin, dengan berkeliling dan berkelana.
Setelah pulang dari tempat Selir Arum, Arya Wira mengutarakan keinginannya pada Angga Perak dan Panglima Mahanta. Berkeliling kerajaannya dengan penyamaran sebagai seorang pendekar. Melihat secara langsung keadaan rakyat jelata, terutama berbagai tempat terpencil.
Awalnya, Angga Perak merasa keberatan dengan keinginan Arya Wira. Namun, setelah Arya Wira menyetujui untuk selalu mengirim kabar. Juga untuk tetap membawa lencana khusus keluarga kerajaan.
Selama kepergian Arya Wira, Nala Pura akan dipimpin oleh Angga Perak. Dibantu Panglima Mahanta dan Caraka. Sementara istana akan berada dalam pengawasan Pitaloka dan Nyai Dian, pemaisuri Caraka. Paman Jalak dan Bibi Selasih tetap menjadi mata-mata rahasia untuk Arya Wira. Sementara Paman Jaka akan menemani Arya Wira, dia pelayan yang sangat setia.
Yang tak diketahui kecuali oleh tiga orang, Arya Wira sengaja menyamar untuk pergi ke suatu daerah. Tempat yang disampaikan oleh Paman Jalak dan Bibi Selasih, sebagai salah satu kunci untuk mengungkap wafatnya Dewi Nirmala. Arya Wira tak yakin, perginya sang istri hanya karena sihir Ki Sayap Hitam. Pasti ada hal lain. Meski tak dipungkiri, sihir Ki Sayap Hitam memang ada dalam tubuh Dewi Nirmala. Mustika Daun Langit tak bisa membantu karena hanya bisa digunakan orang bertenaga dalam. Sedangkan Dewi Nirmala tak memilikinya sama sekali...
\=\=\=\=\=\=~~~~\=\=\=\=\=\=\=
Maaf sekali, mungkin saya tak bisa up tiap hari karena kesibukan saya. Tetap dukung saya, ya... Jangan lupa ajak teman untuk membaca novel ini.
Mampir juga di novel saya yang lain,
My Love My Heart...
__ADS_1