Lelaki Terbaikku

Lelaki Terbaikku
Aku, Kau dan Dia.


__ADS_3

Di Perjalanan Pulang


Evan membawa koper keluar dari kamar Resortnya. Sedangkan Zee menggendong Eji di pelukannya.


"Gimana? udah semua kan?" tanya Evan memasukkan koper ke bagasi mobil.


"Iya mas, tadi udah aku cek kok." jawab Zee masih fokus dengan kucing kesayangannya itu.


kemudian Evan membukakan pintu untuk Zee.


Zee tersenyum menatap Evan.


Evan memasuki mobilnya kemudian ia melihat Zee yang berada duduk di sampingnya sedang menghibur Eji.


"Ye... Eji mau pulang kerumah ya sayang ya. Eji udah gak sabar ya. Iya ya." ucap Zee sambil menimang Eji.


Seketika Evan membayangkan ia mengasuh anak bersama Zee.


( di bayangan Evan )


"Eh adek udah mandi ya, Iya adek ganteng banget ya." ucap Zee kepada bayinya yang sedang ia pakaikan baju.


"Ganteng banget anak Daddy. persis kayak Daddy-nya." ucap Evan yang baru saja datang.


"Iya mas, mirip kamu." jawab Zee tersenyum dan menatap Evan. mata mereka saling menangkap.


"Sini biar Daddy yang pakaiin bedaknya." Evan memakaikan bedak pada bayinya.


"Wah Daddy ternyata ahli juga ya." puji Zee.


"Iya dong, Emang Mommy doang yang bisa." jawab Evan menyombongkan diri.


kemudian Evan menggendong bayi tersebut dan dipeluk oleh Zee.


( kembali ke kenyataan.)


Evan tersenyum membayangkan itu semua.


Zee yang melihat Evan tersenyum sendiri pun memanggilnya.


"Mas, kamu kenapa mas?" tanya Zee.


"Eh iya apa Zee." jawab Evan gelagapan.


"Kamu kenapa Mas? kok gak jalan malah senyum senyum sendiri." tanya Zee.


"Astaga!!! bisa bisanya aku ngebayangin itu." batin Evan yang tersadar.

__ADS_1


"Oh nggak aku nggak sabar pulang aja, gimana kamu udah siap kan?" tanya Evan.


"Iya mas, aku udah siap kok." jawab Zee.


Tiba tiba Evan mendekatkan wajahnya ke tubuh Zee.


"Ke kenapa si Mas? " tanya Zee resah.


Evan semakin mendekat bahkan nafasnya terdengar jelas di telinga Zee. Zee menutup matanya.


Evan menarik sabuk pengaman yang ada disamping Zee kemudian memakaikannya pada tubuh Zee.


"Buka aja mata kamu, Aku gak akan apa apain kamu kok. aku cuma mau bantu pakein sabuk pengaman aja. " ucap Evan kemudian memakai sabuk pengaman miliknya.


Wajah Zee memerah, detak jantungnya juga berdegup sangat kencang. Ia malu dengan perkataan Evan.


Di Kamar Kevin.


Seperti biasanya Fanya telah tiba di apartemen Kevin. Hari ini adalah weekend tetapi Fanya berencana mengajak Kevin untuk menyambut sahabatnya yang baru pulang dari honeymoon.


"Bu Kevinnya ada?" tanya Fanya pada Bu Iis.


"Ada di kamar nak, kayaknya lagi siap siap deh. Kamu samperin aja nak." Ucap Bu Iis.


"Yaudah Bu, Permisi ya." Fanya meminta izin kemudian melangkah menuju kamar Kevin.


"Vin, yuk berangkat yuk." ajak Fanya dari Luar.


kemudian Kevin Keluar dari kamarnya.


"Ngapain kamu kesini?" Tanya Kevin cuek.


"Aku tu kesini mau ajak kamu kerumahnya Evan." Ucap Fanya to the point.


"Kenapa gak pergi sama Mas Boy kamu aja?" Tanya Kevin.


"ih apaan sih, kok tiba-tiba Boy. Atau jangan jangan kamu cemburu ya." ledek Fanya tertawa lepas.


"Apasi gak jelas. Mana mungkin aku cemburu sama cewek bawel kaya kamu." ucap Kevin kemudian menutup pintu dengan keras.


"Lho kok malah balik lagi si? ayo dong Vin buka." pinta Fanya berusaha membuka pintu kamar.tapi nihil pintunya terkunci. Fanya berusaha dengan sekuat tenaga mendorong pintu tersebut.


Sedangkan di dalam kamar, Kevin sedang mengganti kaosnya dengan kemeja.


Saat ia membuka kunci pintu kamarnya, tiba tiba terdengar suara sesuatu yang terjatuh.


"Bruakkkk" Fanya yang mendorong pintu agar terbuka akhirnya jatuh karena Kevin membuka pintunya.

__ADS_1


"Aaaaa" jerit Fanya menutup matanya karena ia berfikir ia akan terjatuh dan terbentus lantai.


Kevin yang tertindih oleh Fanya pun segera menyadarkan Fanya.


"Heh, ngapain kamu tutup mata gitu. kamu itu berat tau nggak." protes Kevin yang menjadi kasur untuk Fanya.


Fanya pun membuka matanya. ia tersadar ia sedang terjatuh di atas tubuh Kevin.


"Aaaaaaaaaaaa" teriak Fanya spontan berdiri kemudian menggosok nggosok tubuhnya dengan tangannya.


"kamu pasti modus kan?" ledek Kevin.


"Enak aja, kamu tu modus. Iuuuuuu" teriak Fanya menunjuk wajah Kevin.


"Yang dorong pintunya siapa?" tanya Kevin menantang.


"Aku." jawab Fanya polos.


"Berarti yang salah siapa?" tanya Kevin.


"Kamu dong, kamu buka pintu gak bilang bilang." protes Fanya.


"Lha ini pintu siapa?" tanya Kevin.


"Kamu." jawab Fanya mulai emosi.


"Berarti terserah aku dong, jadi ini semua salah kamu."ucap Kevin penuh kemenangan.


"Au ah, ngomong sama kamu emang susah." protes Fanya kemudian ia berjalan dengan sengaja menginjak kaki Kevin. ia bergegas meninggalkan Kevin.


"Aduh diinjak terus lagi.Dasar emang cewek bawel. Gak mau disalahin lagi."umpat Kevin berteriak.


Fanya yang masih mendengar itupun membalikkan badannya kemudian menjulurkan lidahnya penuh kemenangan.


"Makan tuh injekan kaki aku." ledek Fanya kemudian kembali melanjutkan langkahnya.


"Heh, tunggu Nya. Dasar emang udah bawel galak lagi." umpat Kevin berusaha mengejar langkah Fanya.


***********************************************


~ terimakasih banyak atas dukungan kalian 💕💕💕 yang telah bersedia membaca . memberikan like dan komen dan juga vote . ~


terimakasih untuk yang telah membaca 😊.


sertakan komentar untuk inspirasi author 😉.


jangan lupa like , dan vote agar author semangat menulis .

__ADS_1


jangan lupa klik favorit agar tidak ketinggalan up terbaru 😁💕


__ADS_2