Lelaki Terbaikku

Lelaki Terbaikku
Kekacauan


__ADS_3

Tina melihat hasil dari testpack yang telah Ia gunakan. Nampak dua garis merah yang membuat Tina terkejut dan menjatuhkan testpack tersebut.


"Dua garis? itu berarti Aku positif hamil." Ucap Tina tak percaya.


"Gimana mungkin Aku hamil, sedangkan Aku belum menikah. Aku harus gimana?" Tina memukul-mukul perutnya yang masih rata.


"Tapi bagus kalo Aku hamil, dengan begitu Aku bisa hancurkan rumah tangga Evan dan Zee. Aku akan jadikan kehamilanku ini senjata untuk Evan." Ucap Tina yang merencanakan niat jahat untuk menghancurkan pernikahan Evan.


"Aku harus ke kantor Evan sekarang dan meminta pertanggungjawaban Dia." Ucap Tina yang kemudian bersiap-siap untuk pergi ke kantor Evan.


Di kantor Evan


Evan dan Zee baru saja kembali dari makan siang, Zee berpamitan kepada Evan karena Dia harus bersiap untuk acara peresmian EO ZeFa.


Tina yang hendak bertemu dengan Evan pun melihat dari kejauhan dan menguping pembicaraan Evan dan Zee.


"Yaudah Mas, selamat kembali bekerja ya. Aku mau pamit sama Kamu, mau ke salon." Pamit Zee.


"Kamu beneran gak mau Aku anter?" Tanya Evan.


"Gak usah Mas, Oh iya jangan lupa. Jangan pulang terlambat, karena nanti Kita harus pergi ke acara peresmian EO ZeFa lho." Ucap Zee.


"Mana mungkin Aku lupa. Aku janji akan pulang cepet." Jawab Evan menenangkan Zee.


"Yaudah, Assalamualaikum." Zee mencium tangan Evan kemudian masuk ke mobil yang telah menunggunya.


Tina yang mendengar itupun mendapatkan sebuah rencana.


"Oh jadi mereka mau adain pesta, Aku jadi punya ide buat rusak acara mereka." Ucap Tina tersenyum licik.


"Pertunjukan akan segera dimulai." Ucap Tina yang memilih untuk kembali ke apartemen miliknya.


Di Kantor ZEFA


Kevin, Caca dan Fanya baru saja menyelesaikan makan siang. Fanya pun meminta agar OB membersihkan tempat makan Mereka.


"Gimana Caca udah kenyang?" Tanya Fanya.


"Udah Kakak." Jawab Caca tersenyum manis.


"Ihh gemes banget deh sama Caca." Ucap Fanya mencubit pipi Caca.

__ADS_1


"Kakak cantik, Kita jalan-jalan yuk, Ommmm ayo dong ajak Kakak Cantik jalan-jalan." Caca menarik-narik tangan Kevin.


Kevin menatap Fanya, Ia gengsi untuk mengajak Fanya pergi.


"Sayang, Om udah ikutin kemauan Kamu ketemu sama Kak Fanya. Sekarang malah minta aneh-aneh lagi. Kak Fanya itu harus kerja." Jawab Kevin mencari alibi.


"Yah, Kakak cantik gak bisa ya." Sesal Caca.


"Kata siapa Kakak gak bisa? Kakak mau kok. Gimana kalo Kita pergi ke mall sekalian Kita beli baju baru untuk acara Kakak nanti malam." Tawar Fanya.


"Emangnya nanti malam Kakak mau ke pesta ya Kak?" Tanya Caca.


"Iya, dan Kamu harus dateng. Kalo gak dateng nanti Kakak marah." Ucap Fanya.


"Horeeee Ayo Kak." Caca menarik tangan Fanya dan mengajaknya keluar, Kevin ditinggal di ruangan tersebut.


"Caca, ini emang Om ditinggal ni." Protes Kevin, tetapi Caca tidak mempedulikannya.


"Dasar Caca, kalo udah sama Fanya. Lupa sama Aku." Kevin bergegas menyusul langkah Caca dan Fanya.


Malam yang ditunggu akhirnya tiba. Di sebuah gedung mewah, tempat peresmian EO ZeFa Evan datang bersama Zee dan menyambut para tamu. Tak berapa lama, Fanya datang bersama Kevin yang menggendong Caca. Mereka bertiga mengenakan pakaian yang seragam.


"Zeee, Aku seneng banget. Akhirnya mimpi Kita bisa tercapai." Ucap Fanya memeluk sahabatnya itu.


"Kalian udah cocok banget jadi keluarga kecil." Ucap Evan.


"Kalian tu ngomong apa si?" Protes Zee.


"Tau, mana mungkin Aku mau menikah sama cewek kayak Fanya." Umpat Kevin.


"Apa? hey sorry ya, Kamu fikir Aku mau punya Suami kayak Kamu. Ih amit-amit, bisa-bisa Aku tiap hari makan hati." balas Fanya.


"Kalian jangan berantem dong, malu sama Caca tu." Ucap Zee.


"Eh yaudah Kita langsung cari tempat duduk yuk. Acaranya udah mau dimulai tu." Ajak Fanya.


Mereka akhirnya pun memulai acara, acara berlangsung dengan baik. Hingga saat istirahat, Seorang Wanita naik keatas panggung.Wanita tersebut adalah Tina.


"Itukan Tina, ngapain Dia bisa ada di acara Ini?" Tanya Fanya pada Kevin.


"Aku juga gak tau, tapi Aku rasa dia mau mengacaukan acara ini." Jawab Kevin.

__ADS_1


"Perhatian semuanya, disini Saya mau memberikan sebuah kejutan untuk Zee. Kejutan yang sangat menarik." Ucap Tina diatas panggung.


"Dia mau ngapain si Mas?" tanya Zee.


"Aku juga gak tau." Jawab Evan.


"Aku disini, Tina, ingin meminta pertanggungjawaban atas apa yang telah dilakukan oleh Evan, Suami dari Kamu Zee." Ucap Tina.


"Tina, ini ada apa ya? tolong jangan membuat kacau acara ini." Zee menghampiri Tina diatas panggung.


"Aku berdiri disini, untuk meminta pertanggungjawaban Suami Kamu, karna saat ini Aku tengah mengandung Anak dari Evan." Jawab Tina.


Seketika suasana di gedung tersebut menjadi riuh. Evan yang terkejut pun ikut naik ke atas panggung.


"Jangan ngomong sembarangan Kamu ya Tina, jangan memfitnah." Ucap Evan tidak terima.


"Apa Kamu lupa, malam itu Kita menghabiskan malam bersama untuk melepas rindu, apa Kamu lupa?" Tanya Tina.


Evan terdiam karena mengingat kejadian dimana Ia tidak sadarkan diri dan saat itu Dia memang satu kamar dengan Tina, tetapi Ia tidak ingat apakah Ia melakukan yang dituduhkan kepadanya atau tidak.


"Kamu diam kan? Kamu ingat Kan?" Tanya Tina.


"Mas, kenapa Kamu cuma diem aja Mas, bilang sama Aku, kalo apa yang Dia katakan itu bohong Mas." Pinta Zee kepada Evan, tetapi Evan masih terdiam.


"Kalo Kamu gak percaya, Kamu boleh tanya sama sahabat baik Kamu itu, Dia melihat dan tahu kalo Kita menghabiskan malam bersama." Tina menunjuk ke arah Fanya.


"Fanya, Apa bener apa yang diomongin sama Dia?" Tanya Zee.


"Zee, Kamu tenang dulu ya. Jangan emosi dulu." Ucap Fanya menenangkan Zee.


"Tenang Kamu bilang? gimana Aku bisa tenang kalo ternyata orang yang selama ini Aku anggap sahabat ternyata menyimpan rahasia yang begitu besar." Zee tak sanggup lagi menahan emosinya.


"Zee, Maafin Aku. Aku gak bermaksud untuk menutupi semua ini dari Kamu. Aku cuma" Belum Fanya menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba sebuah tamparan mendarat di pipinya.


"Kamu tahu gimana hancurnya perasaan Aku? dikhianati sama Orang yang Aku anggap Sahabat sendiri? kenapa Nya? kenapa Kamu gak kasih tahu Aku?" Maki Zee kemudian pergi meninggalkan pesta. Evan yang melihat itupun mencoba mengejar langkah Zee.


Fanya memegang pipinya yang merah karena tamparan dari Zee. Ia tak sanggup lagi menahan air mata yang sedari tadi coba Ia bendung. Kevin yang melihat itupun segera memeluk Fanya dan mendekapnya.


"Kakak cantik jangan nangis." Ucap Caca.


"Aku emang salah Vin, Aku salah." Ucap Fanya sesenggukan.

__ADS_1


"Kamu gak salah Fanya." Ucap Kevin mengelus pelan rambut Fanya.


__ADS_2