
Evan berusaha mengejar langkah Zee, tetapi Zee semakin mempercepat langkahnya. Ia terus melangkah dengan perasaannya yang terluka, malu, merasa dikhianati dan dibohongi. Hatinya benar-benar hancur saat ini. Evan mempercepat langkahnya dan berhasil meraih tangan Zee.
"Zee tunggu Zee, tolong dengerin penjelasan Aku dulu." Ucap Evan.
"Dengerin apa lagi Mas? Kamu beneran nglakuin itu atau nggak?" Tanya Zee sekali lagi.
"Aku gak tau Zee, Aku gak tau karena saat itu Aku gak sadarkan diri." Jawab Evan.
"Kamu gak tau? mana mungkin Kamu gak tau Mas." Protes Zee.
"Aku bener-bener gak tahu, Aku mohon percaya sama Aku." Pinta Evan menggenggam kedua tangan Zee.
"Percaya sama Kamu? Kamu suruh Aku percaya apa Mas? percaya kalo Kamu udah menghabiskan malam sama wanita itu?" Zee mengungkapkan kekesalannya.
"Semua itu belum tentu bener kan?" sanggah Evan.
"Tapi Dia sendiri yang bilang kalo saat ini Dia mengandung Anak Kamu." Tuduh Zee.
"Kalo begitu Kita buktikan ke rumah sakit, Dia emang beneran hamil atau ini cuma akal-akalan Dia untuk misahin Kita." Pinta Evan.
"Aku memang langsung percaya sama Tina, sehari Aku cari tahu kebenarannya dulu. Tapi kalo emang Tina benar-benar hamil, Aku gak tau Aku harus berbuat apa." Batin Zee.
"Oke, Kita buktikan yang berbohong Tina atau Kamu, tapi lepasin dulu tangan Aku." Ucap Zee akhirnya mengalah, Mereka pun memilih untuk kembali ke Pesta menemui Tina.
Fanya merasa bersalah atas kejadian yang terjadi pada sahabatnya, Ia tersadar bahwa Caca tengah melihatnya dengan mata yang berkaca-kaca. Fanya pun melepaskan pelukan Kevin.
"Udah Vin, lepasin Aku." Fanya melepas pelukannya.
"Kamu mau kemana Nya?" Tanya Kevin menahan tangan Fanya.
"Aku mohon Vin, kasih waktu Aku sendiri." Pinta Fanya, Wajahnya benar-benar menggambarkan kesedihan. Belum pernah Kevin melihat Fanya seperti itu. Kevin pun melepaskan genggamannya. Fanya pun pergi meninggalkan gedung tersebut, Kevin tau Fanya pasti sangat terluka.
"Om, Kakak cantik kenapa nangis? Caca gak mau Kakak cantik nangis." Ucap Caca.
"Kakak cantik gak papa kok, Kakak cantik cuma capek aja." Jawab Kevin.
"Om, Caca mau pulang aja." Pinta Caca yang mulai bosan.
__ADS_1
"Ya udah Kita pulang aja ya." Kevin akhirnya membawa Caca pulang karena keadaan di pesta tengah genting, banyak tamu yang memilih pulang.
Di Jalan.
Fanya berjalan sambil menangis sepanjang jalan, Ia memang tidak membawa kendaraan karena Ia pergi ke pesta bersama Kevin.
"Seharusnya Aku jujur dari awal sama Kamu Zee, sekarang Kamu terlanjur marah sama Aku." Batin Fanya.
Segerombolan Pria melihat Fanya yang berjalan sendirian dengan langkah yang lemah, membuat salah satu dari Mereka berniat jahat kepada Fanya.
"Eh, eh guys, lihat tu. Ada cewek cantik jalan sendirian." Ucap seorang yang berambut panjang.
"Wah santapan lezat, sikat gak?" Jawab Pria yang rambutnya diwarnai putih.
"Sikat dong." Jawab Pria berambut panjang.
Mereka pun datang menghampiri Fanya.
"Hay cantik, sendirian malam-malam mau kemana?" Tanya Pria berambut putih.
"Aduh gawat, kayaknya Aku dalam bahaya." Batin Fanya meneruskan langkahnya dan berpura-pura tidak melihat kedua Pria tersebut.
Tanpa berfikir panjang, Fanya pun menendang Pria tersebut, Ia berlari untuk menghindari dua Pria yang tengah mengejarnya, Lari Fanya semakin Cepat. Ia tak tahu arah harus kemana. Ia pun berlari menyebrang jalan, naasnya dari seberang jalan mobil melintas begitu cepat.
"Brakkkkkkk." Fanya tenpelanting Jatuh ke tepi jalan. Dua Pria tersebut pun terkejut dan menghentikan langkahnya.
"Waduh gawat, Dia ketabrak." Ucap Pria berambut panjang.
"Ayo Kita kabur aja, nanti malah Kita kena masalah. Ayo." Jawab Pria berambut putih, Mereka pun akhirnya melarikan diri, sedangkan Fanya yang kini terkapar di tepi jalan, dengan berlumuran darah. Para pengendara pun menepi dan mengerumuni Fanya.
Di Gedung.
Zee dan Evan kembali masuk ke gedung dan menghampiri Tina yang tengah duduk menunggu Evan.
"Bagus Kalian udah balik, Aku tunggu kesadaran Kamu Evan, untuk bertanggung jawab atas apa yang udah Kamu lakuin ke Aku." Ucap Tina berdiri dari tempat duduknya.
"Apa maksud Kamu?" Tanya Zee.
__ADS_1
"Ya, Kamu siap-siap aja untuk dimadu, karena mungkin sebentar lagi. Aku akan jadi madu Kamu." bisik Tina.
"Aku gak akan pernah mau dimadu, Kalo emang Kamu hamil Anak Mas Evan. Aku lebih baik bercerai sama Mas Evan." Ucap Zee.
"Plok, plok,plok" Tina bertepuk tangan mengitari Zee.
"Bagus kalo Kamu sadar diri, emang seharusnya dari awal Kamu pisah sama Evan kan? lihat, Evan cintanya itu sama Aku. Buktinya adalah buah cinta Kita yang saat ini ada di perut Aku." Ungkap Tina dengan angkuhnya.
"Tina, jangan sembarangan ngomong. Mungkin aja ini akal-akalan Kamu supaya Aku dan Zee bertengkar." Evan membela diri.
"Akal-akalan? mana mungkin hal sebesar ini cuma bohongan Evan." Jawab Tina.
"Kalo gitu, sekarang juga Kamu ikut Kita." Tantang Zee.
"Ikut kemana?" Tanya Tina.
"Kita harus periksa ke dokter kandungan langsung, supaya Kita percaya bahwa Kamu beneran hamil." Jawab Zee dengan menahan amarahnya.
"Kamu berani jamin apa?" Tina balik menantang Zee.
"Kalo Kamu beneran hamil, dan itu Anak Mas Evan. Aku akan minta cerai sama Mas Evan." Jawab Zee.
"Zee, Kamu ngomong apa si? jangan ngomong gitu." Evan terkejut dengan pernyataan Zee.
"Kenapa Mas? daripada Aku harus diduakan sama Dia, lebih baik Kita pisah aja. Kamu juga selama ini gak pernah mencintai Aku kan? Apa yang Dia katakan itu benar. Mungkin sampai saat ini, Kamu masih menyimpan perasaan sama Dia." Jawab Zee.
"Aku udah gak ada apa-apa sama Dia Zee, Istri Aku itu Kamu." Jawab Evan.
"Bagus, pertarungan akhirnya dimulai. sebentar lagi, Evan akan jadi milik Aku." Batin Tina.
"Mas udah, cukup, coba Kamu hitung berapa kali Kamu udah nyakitin Aku? berapa kali Aku harus mencoba bersabar atas sikap Kamu? Aku selalu bertahan Mas." Ucap Zee.
"Tolong jangan berfikir untuk ninggalin Aku." Evan menggenggam tangan Zee, tetapi Zee menepisnya.
"Kamu lihat sendiri kan Zee? Evan bahkan takut kalo sampai Aku beneran hamil. Itu artinya Kita emang..upss maaf nggak jadi ngomong deh, nanti Kamu sakit hati lagi." Tina membuat suasana menjadi semakin panas.
"Tolong jangan sentuh Aku Mas, Apa yang dibilang Tina itu bener, kenapa seolah-olah Kamu takut kehilangan Aku. Itu artinya bahkan Kamu takut kalo ternyata Tina memang mengandung Anak Kamu. Itu artinya Kalian emang udah bermain dibelakang Aku." Ungkap Zee.
__ADS_1
"Mas, selama ini Aku selalu maafin kesalahan Kamu, tapi untuk kali ini. Aku udah capek Mas, Aku capek terus bersabar. Kalau Tina Samapi bener hamil Anak Kamu. Lebih baik Kita berpisah aja." Ucap Zee yang meninggalkan Tina dan Evan. Zee memasuki mobil yang akan membawa Mereka ke rumah sakit.