Lelaki Terbaikku

Lelaki Terbaikku
Sedingin Es


__ADS_3

Evan berjalan mondar mandir di depan rumahnya menunggu Zee yang tak kunjung pulang. Mobil Kevin memasuki halaman rumah Evan.


didalam mobil.


"Inget harus kuat, Inget saran aku tadi agak dingin aja sama dia." pinta Fanya.


"Iya makasih ya, sekarang aku udah agak lega." ucap Zee.


"Okay, kamu hati hati ya. Semangat!!" ucap Fanya mengepalkan tangannya.


Kemudian Zee keluar dari mobil Kevin. Evan yang melihat itu langsung menghampiri Zee.


"Zee, Akhirnya kamu pulang juga. kamu seharian dari mana aja si kamu itu baru sembuh." ucap Evan khawatir.


"Masih bisa kamu tanya kayak gitu ke aku Mas? setelah kejadian tadi siang." protes Zee meninggalkan Evan.


"Zee dengerin dulu penjelasan aku." Evan mengejar Zee masuk kedalam kamar.


Zee langsung masuk kedalam kamar mandi.


"Zee buka dong pintunya, jangan diem kayak gini." Evan menggedor pintu kamar mandi tapi tidak ada jawaban.


Di Rumah baru Kevin.


"Loh kok kita berhenti di sini si? ini dimana?" tanya Fanya.


"Kamu sadar gak sih, kamu udah lama gak ngunjungi Caca. dia nanyain kamu terus ke aku." protes Kevin.


"Ya kamu bener, aku juga kangen banget sama Caca. Tapi ini kan bukan apartemen kamu."Fanya merasa heran.


"Udah sekarang kamu ikut aja." Kevin mengajak Fanya memasuki rumah tersebut.


"Vin ini rumah siapa?" tanya Fanya.


"Caca....." panggil Kevin kemudian Caca datang bersama Ibu Iis.


"Wah kakak cantik ." Caca berlari memeluk Fanya.


"Caca kakak kangen banget sama kamu." ucap Fanya mencubit pipi Caca.


"Caca juga kangen kakak cantik. masuk yuk Kak kekamar baru Caca. " Caca menarik tangan Fanya masuk kedalam kamarnya dan Bu Iis.


"Kebetulan kamu disini Fanya, Ibu mau nanya menurut kamu perhiasan yang bagus yang mana ya?" tanya Ibu Iis.


"Semuanya bagus kok Bu." jawab Fanya.


"Ini semua perhiasan dari nenek moyang Kevin. Ibu simpen untuk istri Kevin nanti." ungkap Ibu Iis.


"Oh gitu ya Bu. Bagus." puji Fanya.


Saat Fanya dan Ibu Iis sedang berbincang Caca memasukkan cincin peninggalan keluarga Kevin di jari manis Fanya.


"Kakak cantik cocok pake ini." ungkap Caca.


"Wah iya nak." puji Ibu Iis.


"Ibu sama Caca bisa aja." ucap Fanya kemudian hendak melepaskan cincin tersebut. Tetapi cincin itu tidak dapat lepas.


"Bu, ini kayaknya cincinnya kekecilan deh." ucap Fanya menggigit bibirnya sendiri.


"Masak si Nak?" tanya Ibu Iis.

__ADS_1


"Aduh Ibu Maaf banget tolong bantu aku lepasin cincinnya." Fanya mulai khawatir karena Cincin itu berarti untuk keluarga Kevin.


Kemudian Ibu Iis membantu melepaskan cincin itu tapi tidak bisa juga.


"Sepertinya Cincin itu mengikat kamu dengan sendirinya deh Nak." ungkap Bu Iis.


"Hah? Emang bisa gitu. Ibu lucu deh." ungkap Fanya berusaha tenang.


Kevin masuk menyusul mereka, ia melihat Fanya tengah sibuk berusaha melepas cincin ditangannya.


"Kenapa si?" tanya Kevin.


"Ini lho Vin, Cincin warisan buat istri kamu nantinya dipakein Caca ke Fanya. terus gak bisa dilepas." Jawab Bu Iis.


"Sini coba biar aku yang lepas." Kevin menarik cincin dari jari Fanya.


"Aduh Vin sakit tau." teriak Fanya.


"Ayo kamu ikut aku." Kevin menarik Fanya kedapur.


"Kamu mau ngapain malah kedapur?" tanya Fanya.


"Kalau diambil sama pisau gimana?" tanya Kevin.


"Ih kamu gak waras ya, enak aja kamu mau potong tangan aku?" protes Fanya.


Kemudian Kevin mengambil sabun dan mencuci tangan Fanya.


"Kamu pikir aku bodoh ya mau potong tangan kamu." protes Kevin berusaha melepaskan Cincin dari jari Fanya.


"Aduh Vin kok masih gak bisa si." protes Fanya.


Di kamar Zee.


"Zee biarin aku ngomong sebentar dong. kamu marah ya sama aku, sampe cuekin aku gini." protes Evan.


"Udahlah Mas. Aku capek mau istirahat." Jawab Zee berpaling kemudian tidur menghadap arah yang berlawanan dengan suaminya.


"Zee Maafin aku dong. Tadi itu gak seperti yang kamu lihat." jelas Evan tetapi Zee masih terdiam.


"Dia yang peluk aku. aku juga gak tau." lanjut Evan.


"Zee, kamu dengerin aku gak si. Jawab dong." Evan akhirnya bangkit dari tidurnya. dan membalikkan tubuh Zee menghadap kearahnya.


"Yaampun pantesan diem terus. ternyata ketiduran." ucap Evan. Ia menarik selimut yang ada dibawah kemudian menyelimuti tubuh Zee yang nampak kelelahan.


Pagi telah tiba


Hari ini Zee benar benar berbeda. Tidak ada senyuman yang biasanya ia nampakkan untuk menyambut suaminya.


Evan merasa canggung akan hilangnya kebiasaan itu. Biasanya Zee akan membantu Evan memakaikan dasi tetapi untuk hari ini dia hanya menyiapkannya.


Saat berpamitan Zee bersikap dingin kepada Evan. Evan dengan sengaja meninggalkan map-nya agar Zee mau mengantarkan map miliknya.


di kantor.


pagi pagi sekali Evan tengah memakai dasinya. Kemudian Tina masuk tanpa mengetuk pintu.


"Tina kamu ngapain disini?" tanya Evan.


"Yaampun Evan sini biar aku pakein dasinya." ucap Tina.

__ADS_1


"Gak usah aku bisa sendiri." tolak Evan.


"Udahlah Van biar aku bantu. Lagian istri kamu itu bener bener gak becus deh." protes Tina hendak memasang Dasi untuk Evan.


"Klek." Zee membuka pintu ruangan Evan dan melihat Tina hendak memasang dasi dileher suaminya.


Zee datang dan menggeser posisi Tina menjauh dari Evan.


"Yaampun Mas, jas kamu kotor." ucap Zee mengusap usap Jas milik Evan.


"Tina? kenapa kamu pagi pagi udah ada disini?" tanya Zee.


"Aku kangen sama Evan emang kenapa? Lagian aku cuma mau bantu Evan buat Makai dasi kok." ungkap Tina.


"Gak usah kamu bantuin, kan ada aku istri kamu iya kan Mas?" tanya Zee menarik dasi dengan sangat kuat sehingga Evan terbatuk batuk.


"Kamu gimana si, Evan jadi batuk kan." protes Tina.


"Tina makasih kamu udah Dateng. Tapi aku saranin sama kamu lebih baik kamu jangan sering dateng kesini. karena kamu tau dong Mas Aku Evan udah punya istri?" tanya Zee.


"Terserah aku dong, Raga Evan emang milik kamu tapi hatinya milik aku." protes Tina.


"Tina lebih baik kamu pergi dari sini daripada aku panggil satpam." ucap Evan.


"Kamu usir aku beb?" tanya Tina marah kemudian berlari keluar ruangan.


"Aku kesini cuma mau kasih berkas kamu yang ketinggalan." Zee menyerahkan Map Merah pada Evan.


"Makasih ya. ternyata kamu gemes juga ya kalo cemburu." ledek Evan.


Zee berbalik hendak meninggalkan Evan tetapi Evan menarik lengan bajunya sehingga Zee hendak terjatuh. dengan spontan Zee menarik dasi milik suaminya.


"Brukkk"mereka berdua jatuh Evan menimpa Zee , Zee menutup matanya karena berfikir ia akan terbentur kelantai tetapi tangan Evan berhasil mengganjal kepala Zee.


"Mas, kamu ngapain si?" protes Zee melihat tangan Evan yang memar karena menahan benturan.


"Kalau tangan aku yang luka itu gak seberapa tapi kalau kepala kamu. itu bahaya." jawab Evan.


"Sini biar aku obati." pinta Zee kemudian meniup niup tangan Evan dan mencari obat kotak P3K


bersambung........


promosi guys


guys yuk mampir juga ke karya baru author.


bercerita tentang hamil diluar nikah, menghilang kemudian kembali dengan membawa dua anak kembar yang genius.


judul : Anak Genius: milikku milikmu


***********************************************


~ terimakasih banyak atas dukungan kalian 💕💕💕 yang telah bersedia membaca . memberikan like dan komen dan juga vote . ~


terimakasih untuk yang telah membaca 😊.


sertakan komentar untuk inspirasi author 😉.


jangan lupa like , dan vote agar author semangat menulis .


jangan lupa klik favorit agar tidak ketinggalan up terbaru 😁💕

__ADS_1


Lelaki terbaikku akan diusahakan up setiap hari ya guys, insyaallah tiap pukul 4 pagi. mohon dukungannya.😉😉😉


__ADS_2