
Di jalan.
Kevin dan Caca kini tengah dalam perjalanan pulang, tetapi jalanan terlalu padat. Itu membuat Caca merasa bosan.
"Om, kenapa Kita gak sampai-sampai sih?" Tanya Caca.
"Sabar ya Caca, Jalannya macet, jadi gak bisa jalan deh mobilnya." Jawab Kevin berusaha menenangkan Caca.
Kevin membuka kaca mobilnya dan bertanya kepada seorang warga yang lewat.
"Maaf pak, Ini ada apa ya? kok macet. Inikan bukan jam kerja." Tanya Kevin.
"Ada Cewek kecelakaan Mas, ditabrak sama mobil." Jawab Bapak tersebut.
"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un." Ungkap Kevin.
"Kasian sekali Mas, sampai berlumuran darah. Polisi masih belum dateng." Ucap warga tersebut.
"Yaudah Pak, terimakasih." Ucap Kevin, kini jalanan mulai renggang karena korban telah dibawa ke tepi. Kevin melihat dengan seksama korban yang tengah dikerumuni oleh warga. Tiba-tiba mata Kevin tertuju kepada sepatu hak tinggi yang Ia kenali. Kevin pun menghentikan mobilnya.
"Kenapa Kita berhenti Om?" Tanya Caca.
"Sepatu itu, kayaknya Aku kenal." batin Kevin. Ia pun mengingat-ingat kejadian siang tadi di Mall.
*flashback*
Fanya, Kevin dan Caca baru saja selesai memilih pakaian yang akan Mereka pakai untuk acara peresmian EO ZeFa. Saat melewati toko sepatu Mereka pun memutuskan untuk membeli sepatu untuk Fanya.
"Kamu belum beli sepatu kan?" Tanya Kevin.
"Belum si, tapi Aku punya sepatu banyak kok dirumah." Jawab Fanya.
"Udah beli aja, inikan hari spesial Kamu. Sayang kalo udah lewat tapi gak beli." Kevin menarik tangan Fanya memasuki toko tersebut dengan menggendong Caca.
"Ihh Vin, gak usah." Bisik Fanya.
"Selamat siang, Mbak, Mas. Selamat datang di toko sepatu Kami, silahkan dipilih sepatunya." Ucap sang pelayan.
"Kamu pilih yang mana, tunjuk aja Aku yang bayar." Ucap Kevin.
"Aduh Kevin, kan Aku bilang gak usah." Bisik Fanya. Tiba-tiba mata Kevin terpesona melihat sepatu hak tinggi yang berkilau.
__ADS_1
"Mbak, Saya mau sepatu itu dong tolong ambilin." Ucap Kevin menunjuk sepatu yang dipajang.
"Benar-benar pilihan yang tepat Mas, sepatu itu memang keluaran terbaru dan limited edition." Ucap pelayan tersebut mengambilkan sepatu itu untuk Fanya.
"Silahkan dicoba Mbak." Ucap pelayan tersebut, Fanya pun menerima sepatu tersebut dan melihat harganya.
"Vin, gak usah lah, ini mahal banget lho." bisik Fanya.
"Udah, terima aja. Anggap ini hadiah dari Aku, karena akhirnya mimpi Kamu dan Zee terwujud." Ucap Kevin.
"Yaudah deh, makasih ya Kevin." Fanya berterima kasih.
*flashback end*
"Fanya." Ucap Kevin yang mengingat kejadian itu.
"Kakak Cantik kenapa Om?" Tanya Caca.
Kevin menepikan mobilnya, kemudian Ia memegang kedua pundak Caca.
"Caca, Kamu tunggu dimobil sebentar ya, Kakak harus mastiin kalo korban tabrak itu bukan Kakak cantik." Ucap Kevin.
"Iya Om." Jawab Caca.
"Fanyaaaa, Nya bangun Nya, sadar." Kevin mengguncang tubuh Fanya.
"Mas, jangan disentuh, biar polisi datang dulu." Ucap seorang warga.
"Kalian sengaja nunggu Dia kehabisan darah? Kalian gak lihat? Dia harus segera dibawa ke rumah sakit." Bentak Raka menggendong tubuh Fanya yang tak berdaya. Kevin bergegas membawa Fanya masuk kedalam mobilnya.
"Nya Kamu harus bertahan Nya, Aku gak akan biarin Kamu kenapa-napa." Ucap Kevin meletakkan Fanya di jok belakang mobilnya.
"Kakak cantik.... Om Kakak Cantik kenapa?" Tanya Caca yang menangis melihat keadaan Fanya.
"Kamu pegangan yang kuat ya Caca, nanti Om akan jelasin." Pinta Kevin kemudian melajukan mobilnya menuju Rumah sakit terdekat.
Di Rumah Sakit.
Evan, Zee dan Tina tengah menunggu antrian diluar ruangan dokter spesialis kandungan, banyak orang yang berbisik, Sepertinya Mereka tengah membicarakan Evan, Zee dan Tina.
"Panggilan kepada Ibu Tina." Ucap sang perawat.
__ADS_1
Waktu yang ditunggu pun tiba, Tina dipanggil untuk masuk. Evan dan Zee pun mengikutinya.
"Selamat datang, Jadi ini Ibu Tina yang mana ya?" Tanya sang Dokter yang bingung.
"Begini dok,em ini Suami Saya dan yang itu Madu Saya." Ucap Tina yang membuat Zee menjadi semakin panas.
"Oh begitu." Jawab Bu Dokter.
"Mereka ini ingin memastikan, apa Saya hamil atau nggak Dok, soalnya akhir-akhir ini saya mengalami gejala seperti orang hamil Dok." Terang Tina.
"Baiklah Ibu Tina, silahkan mari Saya periksa." Ucap Bu Dokter.
Tina pun melakukan pemeriksaan. Mereka kembali duduk. Dokter tersebut tersenyum dan memberikan selembar kertas kepada Kevin.
"Selamat ya, sebentar lagi Anda akan menjadi seorang Ayah." Dokter tersebut mengulurkan tangannya dan Kevin menjabat tangan Dokter tersebut dengan perasaan yang serba salah.
"Keadaan janin benar-benar sehat. Sekali lagi Selamat ya, ini ada Vitamin yang bisa ditebus di apotek." Ucap Bu Dokter.
"Terimakasih ya Dok, Kalian sekarang denger sendiri kan? Aku gak bohong. Aku bicara apa adanya." Bisik Tina.
Zee yang sudah tidak tahan pun memutuskan untuk keluar ruangan. Evan yang melihat itupun segera berpamitan kepada Dokter tersebut.
"Terimakasih Dok, Kita permisi." Ucap Evan mencoba mengejar langkah Zee.
"Zee, tunggu." Evan menahan tangan Zee.
"Lepasin tangan Aku Mas, sekarang semuanya udah jelas kan? Mulai hari ini Aku minta cerai. Aku minta cerai Mas, Aku gak mau punya Suami yang berbuat Zina sama orang lain. Kamu anggap apa Aku selama ini Mas?" Protes Zee yang tak mampu membendung amarahnya.
"Aku minta maaf Zee, ini diluar kesadaran Aku. Aku kan udah janji akan belajar menerima Kamu. Aku udah gak ada apa-apa sama Tina." Terang Evan.
"Aku udah gak percaya lagi sama Kamu Mas, lebih baik Kita pisah aja. Aku udah capek, Aku bener-bener Capek sama Kamu." Ucap Zee yang kini benar-benar kecewa.
"Aku gak akan ceraiin Kamu Zee, Kita lewati ini semua sama-sama ya." Evan masih berusaha membujuk Zee.
"Lewati sama-sama? Mas apa Kamu gak mikir, gimana masa depan Anak Kamu yang sekarang ada di kandungan Tina. Gimana nanti ketika Dia besar, Dia punya dua Ibu, gimana cacian orang-orang dan bagaimana nantinya mental Dia?" Protes Zee.
"Tapi Aku yakin, masih ada jalan lain selain perpisahan Zee." Ucap Evan.
"Perpisahan adalah jalan terbaik untuk Kita saat ini Mas, Aku menyerah. Dulu Kamu pengen banget kan Aku menyerah, dan sekarang Aku beneran menyerah." Ucap Zee melepaskan genggaman tangan Evan dan pergi meninggalkan Evan.
"Zee, tolong kasih Aku kesempatan satu kali lagi Zee." Ucap Evan yang menyesal dan kecewa dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
Tina yang melihat kekacauan itupun tersenyum penuh kemenangan.
"Pertunjukan yang benar-benar bagus, acara yang seharusnya spesial. Eh malah pemiliknya saling bertengkar. benar-benar pertunjukan yang memuaskan." Ucap Tina yang menjadi dalang dari kegaduhan malam itu.