
“Saya gak beli Pak saya di kasih,” ucap Mala.
Sementara Lion yang saat itu berada di depan pintu ruang guru bersama Azlan dan Candra mendengar ucapan dari Sasa.
“Gila itu bocah ngaku-ngaku!” ucap Lion.
Lion pun masuk ke dalam ruang guru dan memberi tahu kepada pak guru itu kalau tas yang di kenakan Mala adalah pemberian darinya.
“Permisi pak, maaf saya lancang tapi tas itu bukan milik Sasa dan tas itu memang milik Mala,” sahut Lion.
“Eh kamu anak baru jangan sok jadi pahlawan kesiangan deh!” ucap Sasa.
“Apa kamu punya bukti?”
“Tentu Pak, kan saya yang beli dan ngasih ke Mala, nih struknya aja masih ada. Tas saya juga sama merknya dengan punya Mala,” ucap Lion memperlihatkan foto struk pembelian yang ada di ponselnya.
Kebetulan saat itu Lion mengambil gambar seluruh struk belanjaanya untuk di berikan kepada Wilman sebagai laporan berapa uang yang sudah ia habiskan.
“Dan Bapak bisa lihat ini chat saya bersama Mala,” ucap Lion memberitahukan chatnya bersama Mala yang mengucapkan Terima kasih karena telah memberinya tas itu.
Akibat dari ulahnya itu gosip langsung menyebar tentang Sasa karena di depan pintu bukan hanya ada Lion, Azlan dan Candra saja melainkan beberapa murid yang tidak sengaja lewat dan penasaran karena melihat mereka bertiga berkerumun di depan pintu.
Akibatnya poin Sasa menjadi bertambah, dan kepala sekolah memutuskan untuk memanggil orang tua Sasa.
Sasa juga mendapat sanksi di liburkan selama tiga hari.
Mereka semua pun masuk ke dalam kelas, beberapa siswi mulai mendekati Mala karena merasa kasihan telah di fitnah oleh Sasa.
Akibat sikapnya itu Sasa menjadi bahan gunjingan di kelasnya. Mia yang saat itu dekat dengan Sasa pun mulai menjauh dan berpindah tempat duduk karena tidak ingin terlihat dekat dengan Sasa.
Selama pelajaran berlangsung Sasa menjadi diam, Mala pun menjadi merasa tidak enak hati dan kasihan melihat Sasa.
Saat jam istirahat kedua, banyak siswa yang mendekati Lion karena mengetahui jika Lion anak orang kaya namun Lion tidak terlalu memedulikan merekan dan lebih memilih berteman dengan Mala siswi yang tulus serta pendiam itu.
__ADS_1
Denting bel berbunyi, pelajaran terakhir pun telah berakhir, Lion bersiap untuk pulang ke rumah.
Lagi-lagi Mala duduk manis tanpa membenahi buku-bukunya di atas meja.
“Lu gak pulang?” tanya Lion.
“Nanti aja, kamu duluan aja,” sahu Mala.
“Oh iya aku lupa kamu ada janji kan sama anak kelas lain, ya udah aku duluan ya,” ucap Lion sembari memakai tasnya lalu bangkit dari tempat duduknya.
“Ayo bareng,” ucap Azlan tiba-tiba.
“Lah, lu belum balik? Bukannya lu udah keluar kelas tadi,” tanya Lion.
“Motor gua mogok, gua mau nebeng,” ucap Azlan.
“Ya udah, Mala gua duluan ya.”
Beberapa menit kemudian, ruang kelas serta lorong sekolah mulai kosong hanya ada beberapa murid yang masih berada di sekolah, Mala pun membereskan buku yang masih di atas meja dan berjalan keluar.
Mala berjalan melawan arah, ia ternyata tidak ke pintu gerbang sekolah melainkan ke area belakang sekolah.
Rupanya di sana tiga siswi yang bertemu dengan Mala saat di kantin itu ada di sana.
“Nah tuh orangnya datang,” ucapnya.
“Eh Mala, beraninya lu deket-deket sama Candra maksud lu apa?” ucap siswi bertubuh tinggi dan berkulit gelap itu.
“Aku gak ngapa-ngapain Des, aku cuma diajak sama mereka,” sahut Mala.
“Lu lupa ya, video lu itu masih ada di tangan gua! Ingat ya kalo lu deket-deket sama Candra lagi gua bakal sebar video lu,” ancam siswi yang bernama Desi itu.
“Udah ah Des, laper nih. Lagian dia gak mungkin bisa saingan sama lu Des,” ucap Mega teman sekelas Mala.
__ADS_1
“Jelas lah gua kaya, cantik dan pintar. Gak kaya si cupu ini! Cuma gua kesel aja liat dia duduk di samping Candra mana duduknya deket banget lagi waktu di kantin,” jelas Desi.
“Iya nih, lu kenapa sih Mega gak seneng ya kalau si cupu ini kita kasih pelajaran? Lu mau berkhianat ya sama kita?” ucap Sandra teman sekelas dari Desi.
“Mulai deh si Sandra, jangan negatif thinking dong,” sahut Mega.
“Udah udah! Sandra lu pegangin dia!”
“Kamu mau ngapain Des?” ucap Mala.
Desi membuka kerudung yang di kenakan Mala secara paksa lalu mengambil gunting dari dalam tasnya.
“Des mau ngapain?” tanya Mega.
“Udah lu diam!”
“Pegangin dia kuat-kuat gua mau kasih pelajaran sama si cupu ini!”
Desi melepas ikat rambut yang dikenakan Mala lalu memotong rambut panjang Mala dengan asal-asalan.
Mala menangis sejadi-jadinya, suaranya terdengar lirih dan berulang kali memohon kepada Desi.
Rambut Mala berserakan di tanah, Sandra pun melepas pegangannya.
“Ayo balik!” ajak Desi.
“Rasain lu!” ucap Sandra.
Sedangkan Mega hanya terdiam tanpa membela Mala sama sekali dan memilih pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Sambil menangis sesenggukan Mala memasang kembali kerudungnya dan berlajan menuju gerbang sekolah.
Kali ini Mala pulang berjalan kaki karena sebelumnya ban sepeda miliknya bocor dan belum sempat diperbaiki.
__ADS_1