Liona Penakluk Hati Tuan Es

Liona Penakluk Hati Tuan Es
Kehadiran Sasa


__ADS_3

Suara dari jarum jam klasik di ruang tamu itu terdengar jelas, suasana di luar rumah juga sudah sangat sepi bahkan jika mendengar dengan seksama suara angin pun bisa terdengar saking sepinya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 02:00, Bima yang tengah berada di ruang tamu itu sedang sibuk menatap layar laptopnya. Sesekali ia membenari kaca matanya sambil terus fokus dengan laptopnya.


Beberapa kali Bima menyenyitkan alisnya entah apa yang sedang ia pikirkan.


Tiba-tiba ponselnya berdering, terlihat dari nama kontaknya itu adalah panggilan dari Mario.


“Bagaimana?” tanya Bima langsung saat mengangkat telepon.


“Semua sudah selesai, besok pagi kita bisa mengadakan pertemuan. Saya juga sudah menghubunginya dan dia bilang dia masih berada di kota ini,” sahut Mario.


“Ya sudah kalau begitu.”


Bima mematikan ponselnya lalu menyandarkan kepalanya di sofa.


‘Ini benar-benar sulit, seandainya dulu papa tidak bekerja sama dengan Johan hal ini tidak akan terjadi,’ batin Bima.


Tidak lama ponsel Bima kembali berdering dengan cepat Bima mengangkatnya.


“Ada apa?” tanya Bima.


“Bos, saya baru ingat jika ada berkas yang harus bos lihat besok. Ini mengenai Johan,” ucap Mario.


“Ya sudah siapkan besok,” sahut Bima.


“Baik Bos. Saya mendapatkan beberapa bukti kecurangan dari Johan. Tapi ini belum cukup kita harus mengumpulkan lebih banyak lagi,” sahut Mario.


“Aku juga sedang berusaha mencari celah. Kalau begitu sampai jumpa besok di kantor,” ucap Bima sambil menutup teleponnya.


*** 


Pagi hari, Bima sudah siap dengan mobilnya di depan pagar rumah Anggi tante Lion.

__ADS_1


Ia mengambil ponselnya dan menghubungi Lion jika dirinya sudah berada di depan pagar.


Lion pun bergegas ke luar, “Lu mau ngantar gue? Tumben banget,” ucap Lion sambil memasang tas ranselnya.


“Iya, kenapa kamu gak suka?” tanya Bima.


“Bukannya gitu sih, ya gak biasanya aja,” sahut Lion.


Tiba-tiba dari depan rumah Azlan berlari menuju mobil Bima dan langsung masuk ke kursi bagian depan.


“Kamu ngapain?” tanya Bima pada Azlan.


“Ya nebeng lah. Ayo cepetan hari ini kami  ulangan!” ucap Azlan.


“Astaga! Iya gue lupa, Ayo Bima cepetan,” ucap Lion sambil bergegas masuk ke bagian kursi belakang.


“Tapi kan-”


“Ah sudahlah!” ucap Bima kesal dan langsung masuk ke dalam mobil.


“Kenapa kamu gak bawa mobil sendiri?” ucap Bima ketus.


“Gak sempat! Gue lupa naruh kuncinya,” sahut Azlan.


Bima pun mendengus kesal dan menambah laju mobilnya hingga mereka dengan cepat sampai ke sekolah.


Lion dan Azlan pun turun dari mobil.


“Liona, nanti aku jemput ya,” ucap Bima.


“Tapi pulang sekolah gue mau ke rumah sakit, ngasih soal ulangan ke Mala,” ucap Lion.


“Ya sudah kita ke sana sama-sama,” sahut Bima.

__ADS_1


“Ya udah deh kalo gitu gue masuk dulu ya,” ucap Lion sambil melambaikan tangannya.


“Azlan sialan, sempat-sempatnya dia mengganggu!” gumam Bima yang masih merasa kesal.


Lion dan Azlan pun berjalan masuk menuju kelas, rupanya Candra sudah berada di dalam kelas lebih awal.


“Wah tumben lu udah di kelas,” ucap Azlan sambil menaruh tasnya di bangku.


“gue tahu hari ini ulangan makanya gue pagi-pagi berangkat,” sahut Candra sambil sibuk menulis sesuatu.


“Lu nulis apaan sih?” Lion menoleh ke arah meja Candra.


“Astaga! Lu bikin contekan?” sambung Lion.


“Iya itu sebabnya gue pagi-pagi berangkat,” sahut Candra.


Satu per satu mutid di kelas itu berdatangan, dan kali ini ada seseorang yang membuat seluruh murid menjadi heboh.


Kedatangan Sasa membuar para murid heboh, Sasa datang dengan wajah yang datar bahkan ia seperti tidak memedulikan sekitarnya.


Kali ini Sasa duduk sendirian, karena Mia memilih untuk menghindari Sasa.


Terdengar beberapa siswi berbisik tentang Sasa dan Mia.


“Eh lihat tuh si Sasa, gak di temenin lagi sama si Mia. Dasar, giliran ada masalah gak berani dekat dia.”


“Iya padahal mereka berdua itu kan sama,” sahut yang lain.


“Ssssttt! Jangan keras-keras!”


“Tapi si Sasa keterlaluan sih ketahuan banget irinya.”


“Gak kebayang rasa malunya gimana. Dia ngaku-ngaku tas itu punya dia eh ternyata bukan,” sahut siswi lain sambil tertawa kecil.

__ADS_1


‘Dasar cewek, kenapa suka banget gosipin orang,’ gumam Candra.


Bel pun berbunyi, seorang guru mulai masuk ke ruangan dan langsung membagikan kertas soal. Suasana kelas menjadi hening, semua fokus untuk menjawab soal yang di berikan. 


__ADS_2