
Dari isi chat tersebut Sandra terus mengolok-olok Mala namun Mala tidak pernah membalas chat tersebut.
Namun Lion dan yang lainnya belum bisa langsung menuduh Sandra begitu saja tanpa ada bukti yang pasti.
Serta juga beberapa chat dari teman sekelas lain yang juga mempertanyakan masalah video tersebut.
hingga siang hari mereka semua masih setia menunggu hasil pemeriksaan yang belum keluar itu di kursi tunggu.
“Kita tunggu info dari Bima, sebentar lagi pasti akan kelihatan hasilnya,” ucap Azlan.
“Kok lu bisa yakin kaya gitu?” tanya Candra.
“Bima itu bukan orang sembarangan.”
“Memang dia siapa?”
“Nanti juga lu bakalan tau,” sahut Azlan.
Selang beberapa menit ponsel Lion bergetar karena ada panggilan masuk.
“Bima nelpon gua,” ucap Lion.
Dengan cepat Lion mengangkat telpon itu.
“Halo Bima,” ucap Lion sembari mengangkat telepon.
“Aku sudah temukan mereka satu persatu, jadi kamu harus bersiap-siap malam ini untuk dinner sama aku,” ucapnya.
“Hah sudah ketemu?”
__ADS_1
“Pelakunya teman sekelasmu, lalu pria-pria yang ada di dalam video sudah aku laporkan ke pihak ber wajib,” sahutnya.
“Lalu bagaimana bisa gua membuktikannya kalau orang itu yang menyebarkannya video Mala?” tanya Lion.
“Itu sih gampang, tapi aku butuh reward tambahan,” ucap Bima.
“Maksud lu, lu mau nambah makanan di restoran?” tanya Lion.
“Bukan, nanti aku kasih tahu. Kamu cukup duduk manis biarkan akun yang tangani.”
“Halo Bima? Bima!” ucap Lion.
Telepon pun terputus, Lion sedikit tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh Bima.
“Bima bilang apa?” tanya Azlan.
“Kata dia pelakunya satu kelas dengan kita, terus gua di suruh duduk manis dan gak usah mikirin masalah ini gitu katanya,” sahut Lion.
Disisi lain Bima yang ternyata sudah berada di depan gerbang sekolah itu pun langsung masuk ke area sekolah.
Kebetulan saat itu sedang jam istirahat, Bima berjalan di temani oleh seseorang.
Saat Bima masuk dan melewati lorong-lotong kelas semua siswi histeris melihat Bima.
“Itu dia orangnya,” ucap Bima yang melihat seorang siswi tengah duduk di kursi yang ada di lorong kelas.
“Permisi, boleh tau ruang kepala sekolah dimana?” tanya Bima.
“I-itu di sebelah kanan melewati dia kelas,” sahutnya.
__ADS_1
“Kalau begitu Terima kasih.”
“Bos apa ini gak berlebihan? Kenapa harus terlibat dengan masalah anak SMA sih,” ucap seseorang yang bersama Bima.
“Nanti juga kamu bakalan tau,” sahut Bima.
Mereka pun sampai di depan ruangan kepala sekolah, Bima lantas mengetuk pintu ruangan itu.
“Masuk!” terdengar seseorang menyuruh Bima masuk.
“Selamat siang Pak Firman, lama tidak bertemu,” ucap Bima.
“Bima? Ayo silahkan duduk,” ucap kepala sekolah itu.
“Ada apa ini? Apa yang membawa kamu sampai datang menemuiku?” tanya kepala sekolah.
Bima menyandarkan punggungnya di sofa itu, “Saya kemari karena ada sedikit masalah.”
“Masalah apa itu, sepertinya serius sekali,” sahut kepala sekolah.
“Yah ... karena masalah ini salah satu siswi anda jadi mencoba bunuh diri,” ucap Bima.
“Apa? Siapa?”
“Saya langsung pada intinya saja, saya ingin bapak memanggil anak ini,” ucap Bima sembari memperlihatkan foto yang ada di ponselnya.
“Loh ini kan Mega anak pak Rizal, ada apa dengannya?” tanya kepala sekolah.
“Bapak panggil saja anak itu sekarang, sekalian dengan orang tuanya. Pak Rizal guru Bahasa Indonesia kan,” ucap Bima.
__ADS_1
Dengan cepat kepala sekolah itu mengambil gagang teleponnya dan menekan beberapa nomor.
“Tolong suruh Mega dan pak Rizal ke ruangan saya sekarang,” ucap kepala sekolah dengan tegas.