Liona Penakluk Hati Tuan Es

Liona Penakluk Hati Tuan Es
Masuk Sekolah


__ADS_3

“Gak kok tante cuma ada masalah sedikit, kalau begitu saya pulang dulu ya tante,” ucap Bima.


“Ya sudah, nanti biar tante yang ngomong,” sahut Anggi.


Anggi pun masuk ke dalam rumah, dan melihat Lion langsung masuk ke dalam kamar.


Anggi pun berinisiatif menyusul Lion ke kamarnya, terlihat pintu kamar Lion masih terbuka Anggi pun masuk dan duduk di sebelah Lion.


Anggi menatap Lion, hingga membuat Lion binggung.


“Kenapa kok Tante natapnya begitu banget, apa ada yang salah?” tanya Lion.


“Kalian berantem?” tanya Anggi.


“Enggak kok Tante,” sahut Lion.


“Ah masa sih, jangan bohong,” ucap Anggi.


Lion mendengus, “Lion Cuma kesel aja sama Bima.”


“Loh kesel kenapa?”


“Lion gak suka di kasih-kasih kaya gini. Seakan-akan Bima itu mengatur apa yang harus Lion pakai ketika jalan sama dia.”


“Liona sayang, kamu mikirnya jagan seperti itu. Cara orang dalam menyampaikan perasaan itu berbeda-beda. Ada yang langsung bilang terus terang ada juga dengan perlakuannya terhadap kita,” jelas Anggi.


“Mungkin ini kali pertama kamu di perhatikan laki-laki. Tapi Tante tahu betul Bima itu tidak seperti apa yang kamu pikirkan,” sambung Anggi.


“Aaah ... gak tahu Lion pusing!” pekik Lion sembari menutup kepalanya dengan bantal.


“Huh ... dasar kenapa kamu bisa sepolos ini padahal kamu tinggal di ibu kota. Makanya belajar dong sama Tante. Tante itu ya sering di kejar-kejar tahu,” sahut Anggi. 


“Di kejar-kejar cowok?”


“Satpol PP, soalnya dulu sering mangkal. Hahaha,” ucapnya bercanda hingga tertawa terbahak.


“Mangkal? Tante dulu tukang ojek?”


“Ah kamu gak seru ah! Kenapa bisa kamu sepolos ini sih?” ucap Anggi.


Anggi pun beranjak dari kasur Lion dan pergi begitu saja.


‘Tante kenapa sih? Emang salah aku dimana?’ Lion bermonolog.

__ADS_1


*** 


Pagi hari, seperti biasa Lion berangkat ke sekolah namun kali ini tidak bersama Azlan karena ia membawa motor sendiri.


Hari ini Mala belum bisa masuk sekolah karena masih di rawat di rumah sakit, beberapa murid bertanya kepada Lion ada apa dengan mereka berempat.


“Lion kalian kenapa kok bolos berjamaah kemarin?” tanya Rima teman sekelas Lion yang duduk di barisan paling depan.


‘Apa bu Sarah gak bilang kalau Mala di rumah sakit?’ batin Lion.


“Kemarin, kami semua menunggu Mala di rumah sakit,” sahut Lion.


“Hah? Mala kenapa? Dia sakit apa?” tanya Riema.


“Sesuatu terjadi sama Mala, jadi dia harus di larikan ke rumah sakit.”


“Kasihan Mala, sudah jatuh tertimpa tangga pula,” sahutnya dengan peribahasa.


“Oh iya apa lu sudah dengar kalau Mega si penyebar video itu?”


“Iya gua sudah tahu. Syukurlah setidaknya Mala bisa bernafas lega,” sahut Lion.


“Gua turut prihatin, gua juga gak nyangka kalau Mega bisa se tega itu. Padahal Mega itu suka baik sama Mala.”


“Yah, hati manusia siapa yang tahu,” sahut Lion.


“Cie akrab banger lu berdua,” ucap Lion.


“Apaan sih, si Azlan tuh minta jemput gua katanya bannya bocor,” sahut Candra.


“Lah kenapa lu gak nebeng gua sih?” tanya Lion pada Azlan.


“Lu udah duluan, tadinya gua ke rumah tante Anggi tapi lu gak ada ya udah gua hubungi aja si temen lu ini,” ucap Azlan.


“Loh Lion sama Azlan rumahnya deketan?” tanya Rima yang masih berada di samping Lion.


“Bukan deketan lagi, gua tetanggan sama dia,” sahut Lion.


“Oh pantes lu berdua sering bareng. Anak-anak ngira lu berdua pacaran tau,” jelas Rima.


“Lah mana ada, yang ada tuh si Candra lagi bucin sama si Mala,” sahut Lion.


“Loh bukannya si Mala yang suka deketin Candra?”

__ADS_1


“Mana ada, Mala aja pemalu begitu orangnya. Yang ada tuh di Candra mepetin Mala terus.”


“Lgian lu dapat gosip dari mana sih?” tanya Candra.


“Si Sandra sana Dewi yang bilang.”


“Halah ... lu tahu sendiri mereka itu mulutnya manipulasi!” sahut Candra kesal.


Bel pun berbunyi, semua murid bergegas masuk ke dalam kelas.


“Eh nanti kita sambung lagi gosipnya, gua ada info menarik soalnya.”


Rima bergegas berlari menuju mejanya dan menyiapkan buku-buku pelajaran di atas meja.


Walau pun Lion tidak terlalu akrab dengan Rima, ia merasa penasaran dengan info yang Rima maksud.


Pelajaran pun dimulai, semua murid pun fokus mendengarkan penjelasan dari guru.


Hingga guru bahasa inggis itu berkata sesuatu yang membuat semua murid menjadi heboh.


“Hari ini kita ulangan, simpan buku-buku kalian!”


“Yah Pak, belum juga belajar udah ulangan aja,” eluh Rima.


“Bukannya saya tadi sudah meberikan pebjelasan, seharusnya itu tidak masalah,” ucap guru itu.


“Tapi kan, bapak kalau kasih soal selau di luar konteks,” ucap Rima tegas.


“Kamu kalau tidak ingin mengikuti ulangan silahkan keluar!”


Rima pun seketika terdiam, lembaran kertas berisi soal bahasa inggris pun di bagikan mereka juga di beikan selembar kertas untuk menjawab soal tersebut.


“Sial! Kenapa semua soalnya esai semua! Mana gua gak ngerti lagi ini isinya apaan,” eluh Candra dengan pelan.


“Makanya lu kalau jam pelajaran jangan tidur di pojokkan kelas,” bisik Azlan.


Seluruh kelas seketika hening karena sibuk mengerjakan soal esai tersebut, bagi Lion ini sangat mudah karena di sekolah sebelumnya pelajaran bahasa lebih di utamakan bahkan banyak murid yang berbicara dengan bahasa inggris.


“Lion! Lion!” panggil Candra sambil menusukkan ujung belakang pulpen ke punggung Lion.


“Apaan sih Can?”


“Bagi contekan dong,” pinta Candra.

__ADS_1


“Iya bentar nanggung gua,” sahut Lion.


“Asiik!” seru Candra.


__ADS_2