Liona Penakluk Hati Tuan Es

Liona Penakluk Hati Tuan Es
Mala Tersadar


__ADS_3

“Selamat datang di perusahaan kami pak Wilman,” ucap Bima mengulurkan tangannya.


Wilman pun menjabat tangan Bima, “Terima kasih, saya tidak menyangka kalau anda masih sangat muda.”


“Silahkan duduk.”


“Jadi ini proposal dari perusahaan saya. Semua produk yang kami ekspor memiliki nilai jual di pasaran,” ucap Bima seraya memberikan proposal perusahaannya.


Wilman pun membuka lembar demi lembar proposal tersebut sesekali ia mengangguk sambil tersenyum ketika melihat isi dari proposal tersebut.


“Tidak salah jika saya ingin berinvestasi di perusahaan ini,” ucap Wilman.


“Saya ingin menanam saham sebesar 25 persen bagaimana?”


“Anda serius?” tanya Bima.


“Iya saya serius.”


Bima merasa tidak percaya dengan apa yang ia dengar, dengan cepat ia menyuruh sekretarisnya untuk menyiapkan dokumen-dokumen yang ia butuhkan.


Bima dan Wilman pun berbincang masalah bisnis mereka cepat akrab karena pribadi Wilman yang humble dan ramah pada setiap orang.


Di sisi lain, Lion tengah duduk termenung menunggu Mala yang belum juga sadarkan diri. 


Sementara Azlan dan Candra pergi ke luar untuk membeli makanan.


Dengan sabar Lion menunggu Mala untuk bangun hingga Azlan dan Candra datang membawa banyak makanan untuk mereka makan.


“Wah banyak banget lu berdua beli apaan?” ucap Lion.

__ADS_1


“Banyak pokoknya, kita kan perlu asupan juga. Selagi menunggu Mala bangun mending kita makan aja nih ayo cepetan!” ucap Candra sambil membongkar bungkusan yang ia bawa.


Mereka pun duduk di lantai dan memakan makanan tersebut, beberapa saat kemudian ponsel Lion bergetar dan rupanya itu adalah panggilan masuk dari Wilman.


Lion pun mengangkat teleponnya. “Halo Pa?”


“Liona kamu dimana sekarang?” tanya Wilman dalam telepon.


“Lion di rumah sakit Pa.”


“Hah? Kenapa apa yang terjadi apa kamu kecelakaan? Atauada yang menganggu kamu lag” ucap Wilman.


“Enggak Pa, temen Lion lagi sakit dan kami sekarang lagi jagain dia.”


“Ya udah kamu kirim lokasinya ke papa.”


“Hah? Memang papa lagi di kota ini?”


Lion pun mematikan teleponnya dan mengirimkan lokasinya lewat chat.


“Siapa? Bokap lu?” tanya Candra.


“Iya bokap gua mau ke sini,” ucap Lion.


“Wah asik dong!” sahut Candra.


Tanpa mereka sadari Mala sedari tadi sudah tersadar dan memperhatikan mereka yang cukup berisik itu.


“Lion,” ucap Mala.

__ADS_1


Seketika Lion langsung menoleh ke arah Mala, Lion bergegas mendekat ke arah Mala.


“Mala lu sudah sadar, Can panggil dokter cepetan!” ucap Lion.


“Aku dimana?” tanya Mala.


“Lu di rumah sakit Mala, gua bersyukur banget lu akhirnya sadar,” ucap Lion.


Mala terkekeh tertawa, “Aku kira aku sudah mati dan berhayal melihat kalian tadi.”


“Mala lu kok ngomong gitu sih!”


Tidak lama dokter dan juga seorang perawat menghampiri Mala dan mencoba memeriksa keadaan Mala.


“Syukurlah, kondisinya berangsur membaik,” ucap Dokter itu.


Lion pun langsung menghela nafas lega karena sahabatnya itu sudah sadar dan membaik.


“La lu kenapa sih ngelakuin ini La.”


“Aku cuma merasa gak ada orang yang peduli dan aku merasa membuat malu keluargaku,” ucap Mala.


“Tapi lu gak salah Mala!” ucap Candra.


“Kamu enggak sendiri kok my princess, ada aku Azlan dan juga Lion,” ucap Candra.


Mala seakan memalingkan wajahnya dari Candra dan terlihat seperti mengalihkan pembicaraan.


“Lion Terima kasih ya,” ucap Mala.

__ADS_1


“Princess gimana perasaan kmau sekarang? Apa ada yang sakit?” tanya Candra.


“Lion apa kamu gak apa-apa menungguku di sini?” tanya Mala yang kembali mengalihkan pembicaraan dan seakan menghiraukan ucapan Candra.


__ADS_2