Liona Penakluk Hati Tuan Es

Liona Penakluk Hati Tuan Es
Janji Liona


__ADS_3

“Gue udah menduga kalau lu itu anak orang kaya,” ucap Lion.


“Kenapa kamu gak pernah cerita sama kita?” tanya Candra.


“Aku takut kalau ada yang tahu nanti papaku akan datang dan menyeretku ke tempat yang lebih jauh lagi,” sahut Mala.


“Bokap tiri lu maksudnya,” ucap Azlan.


“Iya, Papa kandungku meninggal karena kecelakaan saat aku berumur 8 tahun. Lalu Mama menikah lagi dua tahun setelahnya dengan papa tiriku. Awalnya Oma menentang karena papa hanyalah karyawan biasa sedangkan Mama adalah penerus perusahaan Oma,” tutur Mala.


“Hanya ada dua orang yang mengetahui masalah ini, Desi dan Rima,” sahut Mala.


“Desi? Pantas aja lu selalu takut kalau ketemu dia,” ucap Azlan.


“Terus kenapa bisa lu tinggal di rumah itu?” tanya Lion.


“Yang punya rumah itu pak Wisnu, mantan tukang kebun papa pak Wisnu di pecat setelah berusaha membantuku pulang ke rumah tapi sayangnya ketahuan sama papa, lalu pak Wisnu mengajakku untuk tinggal di rumahnya dan membiayai sekolahku. Sebenarnya aku pernah melihat beberapa orang datang dan mencari keberadaanku, tapi aku selalu meminta untuk tidak memberi tahu siapa pun tentang keberadaanku.”


“Sekarang lu bisa tinggal di sini lagi Mala, walalupun jaraknya sangat jauh dari tempat kita,” ucap Lion.


“Tenang aja gue bakalan jaga My princess Mala setiap saat,” ucap Candra.


“Makasih ya Chandra kamu selalu ada di dekat aku selama ini,” ucap Mala.


“Ciee ... udah ada lampu hijau aja nih dari Mala,” ucap Lion.


“Lalu lampu hijau buat gue kapan?” sahut Azlan.


“Entar kalau lu bisa menemukan gue,” sahut Lion.


“Gue heran sama cewek, kenapa mesti ribet sih padahal Cuma jawab Ya atau Gak doang,” eluh Chandra yang juga susah untuk mendapatkan jawaban dari Mala.


“Emang kalau jawabannya ‘Enggak’ lu bakalan berhenti?” tanya Lion pada Chandra.


“Ya enggak lah, gue bakalan berusaha biar jawabannya berubah jadi Iya,” sahut Chandra.


“Kalau gue, gak di jawab juga gak apa, tapi kalau kita berjodoh mau bagaimana pun pasti akan di pertemukan itu sebabnya gue terima tantangan Lion,” ucap Azlan.


“Lah bisa juga lu ngomongin jodoh,” ledek Chandra.


“Terus nasib Bima gimana?” tanya Chandra pada Lion.


“Gue cuma anggap Bima layaknya kakak gue, waktu kejadian di video itu gue marah bukan karena cemburu tapi marah karena dia gak tegas. Dia Cuma diam saat gue dipermalukan ya gue marahlah,” ucap Lion.


“Lagian Daren gak akan biarin gue jadian sama Bima, karena Bima itu musuh terbesarnya dalam dunia bisnis,” sambung Lion.

__ADS_1


“Kenapa? Apa mereka bertengkar?” tanya Mala.


“Dalam bisnis sudah bisa memakan atau dimakan, dulu mereka berdua bersaing mereka sama-sama masih muda, pintar dan juga licik tapi sayangnya Daren kalah cepat jadi sampai sekarang Daren dendam sama Bima, karena waktu itu pikiran Daren terbagi antara bisnis dan juga kuliah,” sahut Lion.


“Mau gimana lagi, dunia bisnis itu memang kejam kan,” ucap Chandra.


***


Beberapa hari berlalu, Lukman ayah tiri Mala kini telah di usir dari kediamannya, perusahaan yang Lukman tangani kini sudah diambil alih oleh Marta.


Sedangkan Mala kini kembali di kediaman lamanya, Mala pun di jaga ketat karena Marta takut jika Lukman akan kembali menyakiti Mala.


Mala pun mendaftar di sebuah fakultas seni rupa karena Mala sangat menyukai seni sedangkan Chandra tentu saja selamu mengekor pada Mala kemana pun Mala pergi walau pun sebenarnya Chandra sangat tertarik dengan bisnis.


Sedangkan Azlan mendaftar di fakultas bisnis ternama, dia ingin meneruskan perusahan orang tuanya yang sudah lama gulung tikar itu, Bima menjamin seluruh biasa kuliah Azlan karena walau bagaimana pun juga Bima memiliki tanggung jawab menjaga keponakannya itu.


Hari itu, Lion bersiap untuk pergi ke bandara bersama Daren, Juan dan juga Wilman.


“Tante, makasih ya selama ini mau terima Lion di sini, Mbak Narti juga terima kasih ya sudah masak yang enak-enak buat Lion,” ucapnya.


“Nanti Nak Lion akan ke sini lagi kan?” tanya mbak Narti.


“Iya pasti, Lion gak akan lupain Mbak narti dan juga Tante Anggi.”


“Kamu baik-baik disana ya, nanti kapan-kapan Tante sama Mbak Narti bakalan ke sana sekalian ajak Mbak Narti liburan ke luar negeri,” ucap Anggi.


“Anggi, kami pamit dulu terima kasih sudah menjaga anakku yang bandel ini,” ucap Wilman.


“Tante kami pergi ya, nanti jangan lupa kirim undangannya buat kami, kami pasti bakalan hadir,” ledek Daren.


“Undangan? Undangan apaan?” tanya Lion.


“Undangan ulang tahun,” sahut Anggi sambil tertawa.


Mereka semua pun masuk ke dalam mobil dan melaju menuju bandara. 


Sementara itu Azlan terlambat datang dan akhirnya mengejar mobil yang di tumpangi Lion menggunakan motor matiknya.


Hingga sampai Bandara akhirnya Azlan dapat menemukan Lion yang saat itu tengah berdiri di samping kopernya.


“Lion!” ucap Azlan berlari ke arah Lion.


Dengan terengah-engah Azlan menghampiri dan langsung memeluk Lion dengan erat.


“Ingat, janji lu bakalan gue pegang,” ucapnya.

__ADS_1


Lion pun tersenyum dan menepuk lembut punggung Azlan.


“Gue gak akan ingkar janji,” sahut Lion.


“Belum apa-apa udah main janji-janjian aja nih,” ucap Daren sambil memegang dua botol minuman dingin.


“Nih minum dulu, kasihan lu capek kan lari-lari ngejar preman pasar ini,” sambung Daren sambil menyodorkan sebotol minuman dingin.


Azlan pun mengambil botol itu dan langsung meminumnya hingga tersisa setengah.


“Enak aja lu ngatain gue preman pasar!” ucap Lion sambil memukul lengan Daren.


Tidak lama terdengar pemberitahuan jika pesawat yang akan mereka tumpangi akan berangkat, saat itu juga Chandra dan juga Mala berlari ke arah Lion.


“Lion!” teriak Chandra.


“Inchan, Mala,” ucap Lion.


Mala langsung memeluk Liona, begitu pula dengan Chandra dan di susul oleh Azlan.


“Kita pelukan kaya gini udah kaya serial animasi anak-anak tau gak,” ucap Chandra.


“Apaan?” tanya Lion.


“Itu yang kalo ketemu bilang gini ... berpelukan!”


Seketika mereka pun tertawa terbahak bersama, melihat tingkah Chandra memperagakan gerakan tersebut.


“Liona hati-hati ya, semoga selamat sampai tujuan. Dan kembali lagi ke sini dalam keadaan sukses” ucap Mala.


“Iya, terima kasih Mala aku bakalan kangen berat sama kalian,” ucap Lion.


“Kalian jaga kesehatan dan tetap bahagia seperti ini,” sambung Lion.


Lion dan keluarganya pun masuk ke ruang pemberangkatan, hingga pesawat yang Lion tumpangi pun terbang.


“Sepi dong gak ada Lion,” ucap Mala.


“Kan masih ada aku, yang harusnya bilang kesepian itu bukan kamu tapi Azlan,” ucap Chandra.


“Udah ayo kita pulang,” ajak Azlan.


“Cie ngambek nih ceritanya,” olok Chandra.


“Berisik! Ayo kita balik!”

__ADS_1


“Ah gak seru kalau langsung balik, kita makan-makan aja dulu gimana.”


Azlan pun menyetujui usul dari Chandra, mereka pun pergi bersama ke sebuah tempat makan favorit mereka dan mengenang masa-masa sekolah walaupun sebenarnya mereka baru lulus dua minggu yang lalu.


__ADS_2