Liona Penakluk Hati Tuan Es

Liona Penakluk Hati Tuan Es
Naik ke kelas 12


__ADS_3

Hari-hari Lion di sekolah berjalan lancar tanpa ada kendala lain seperti saat pertama ia masuk ke sekolah itu.


Mala pun juga sudah mulai ceria dan dapat berbaur dengan siswa lainnya, namun Mala terus menghindari Candra. Tapi bukan Candra namanya jika menyerah.


Candra terus mendekati Mala walau kadang Mala berusaha menghindar, sedangkan Azlan juga terus berusaha menjauhkan Lion dari Bima.


Azlan terus mengganggu kedekatan Lion dan Bima hingga membuat Bima kesal, tidak jarang Bima melempar tatapan membunuhnya itu kepada keponakannya itu.


Azlan dan Bima memiliki sikap yang sama, yaitu cuek dengan wanita yang berusaha mendekati mereka namun tidak dengan Lion.


Kepribadian Lion yang unik serta sikap yang apa adanya itu membuat mereka berdua tertarik.


Azlan terus mendekati Lion dan tidak memberikan celah sedikit pun pada siswa lain yang tertarik pada Lion, Azlan seakan membuat benteng pertahanan yang kuat lalu menyerang dari depan ketika ada yang berusaha mendekati Lion.


Saat hari kenaikan kelas, Lion mendapat peringkat ke tiga, dengan peringkat kedua adalah Azlan dan peringkat pertama Mala. Sedangkan Candra mendapat peringkat ke sembilan dari 30 orang siswa. 


Meski begitu, itu adalah peningkatan bagi Candra, karena biasanya ia malah mendapat peringkat paling bawah, karena ia bertekat agar tidak di cap bodoh oleh Mala.


Banyak ucapan selamat yang Lion dapatkan, kini mereka berempat kembali satu kelas di kelas 12. 


Hari-hari mereka lalui dengan penuh kebersamaan, dalam kelas 12 itu terlihat hubungan persahabatan yang hangat antara Lion dan Mala serta tatapan ketertarikan dari Azlan dan juga Candra pada masing-masing gadis itu.


Kini mereka menjadi murid yang banyak di kenal baik oleh setiap murid di sekolah itu, solidaritas yang di bumbui dengan percintaan itu lah yang membuat mereka terkenal di sekolah.


*** 


Saat asyik berkumpul di kantin onsel Lion bergetar, terlihat ada panggilan video dari seseorang dengan wajah semringah Lion mengangkat panggilan video itu.


“Daren!” pekik Lion dengan senyum lebarnya.

__ADS_1


“Kak Lion!” teriak seorang anak kecil dalam panggilan video itu.


“Juan! Wah Juan lagi sama Daren?” ucap Lion sambil menyandarkan ponselnya di depan kotak tissue yang ada di meja kantin.


“Iya dong. Daren sudah pulang, Kakak kapan pulang? Kenapa Juan di tinggal sih?” ucapnya dengan wajah cenberut.


“Liona itu sekolah bukannya jalan-jalan Juan,” ucap Daren.


“Lu lagi dimana?” tanya Daren.


“Lagi di kantin nih sama temen-temen gue,” ucap Lion sambil mengarahkan kamera depannya ke arah Mala, Azlan dan juga Candra.


Mereka saling menyapa dan memperkenalkan diri, Lion pun kembali menyandarkan ponselnya lagi.


“Oh iya, gue sana Juan nanti mau ke rumah tante Anggi,” ucap Daren.


“Kapan? Emang Juan gak sekolah?”


Percakapan lewat video call itu pun berakhir ketika terdengar suara bel, Lion dan yang lainnya pun bergegas masuk ke dalam kelas untuk kembali melanjutkan pelajaran.


Sementara itu, Bima tengah sibuk mengurus perusahaannya ada banyak pekerjaan yang harus ia tangani sendiri karena Sekretarisnya Mario juga memiliki pekerjaan yang tidak dapat ditinggalkan.


Saat Bima sibuk dengan banyaknya kertas HVS yang berserakan di mejanya, tiba-tiba seseorang masuk ke dalam ruangannya.


Seorang wanita berpakaian cukup minim, hingga bagian gunungnya sedikit terlihat. 


“Kenapa kamu gak ketuk pintu dulu sebelum masuk?” ucap Bima sambil terus fokus pada selembar kertas yang ia pegang.


“Untuk apa, toh nanti kita akan menjadi pemilik perusahaan ini bersama,” ucap Viola.

__ADS_1


“Oh iya, bagaimana sepulang kerja ini kamu temani aku memilih cincin pertunangan buat kita,” pinta Viola.


“Aku bahkan tidak pernah bilang ingin menikahi kamu, kenapa kamu terlalu percaya diri? Dan untuk apa kamu memakai baju kaya gitu? Mau menggoda aku? Aku gak tertarik dengan belahan murahan kamu itu,” ucap Bima sembari menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya itu.


“Bima! Jaga omongan kamu ya!” teriak Viola dengan kesal.


“Kamu itu aneh, kamu aja tidak menjaga tubuhmu lalu untuk apa aku menjaga omonganku sama kamu?” ucap Bima sambil menatap tajam ke arah Viola.


“Lagian kamu ke kantorku pakai pakaian kaya gitu, orang-orang bakalan mikir kalau kamu baru aja aku booking, apa kamu gak malu?” sambung Bima.


“Aku bakalan adukan ini ke papa aku! Dan ingat Bima pertunangan kita akan tetap berlangsung!” ucap Viola kesal.


“Memangnya kamu siapa? Pacar aku aja bukan. Kamu mau mengadu kepada Johan pun aku gak peduli sama sekali. Lagi pula wanita yang pantas bersanding dengan ku itu bukan kamu,” Bima melipat kedua tangannya sambil tersenyum sinis.


Viola pun pergi dari ruangan Bima dengan wajah yang kesal, Viola pun berjalan menuju pintu lift.


Saat lift terbuka, rupanya cukup banyak orang berada di dalamnya. Viola masuk ke dalam lift, semua mata tertuju pada Viola yang mengenakan pakaian sexy itu apa lagi di dalam lift tersebut mayoritas adalah laki-laki.


“Ehem ... mbak habis sama siapa?” tanya salah seorang yang ada di lift yang terus menatap ke arahnya.


“Ini security gimana sih kok bisa ada cewek pakai baju kaya gini masuk ke dalam kantor?” bisik seorang karyawan.


“Maksud kamu apa? Aku dengar ucapan kamu!” ucap Viola dengan sangat Marah.


“Ya ... maaf aja, soalnya ini kantor bukan bar seharusnya kamu punya etika ketika masuk ke suatu tempat,” sahut karyawan itu.


“Maksud kamu apa hah? Kamu pikir aku wanita murahan?”


“Kalau tidak ingin di cap murahan, maka jaga diri kamu biar orang lain gak mikir kamu murahan!”

__ADS_1


Ting! Pintu lift terbuka.


Semua karyawan yang ada di dalam lift pun keluar dan menuju divisinya masing-masing sedangkan Viola keluar kantor itu dengan perasaan marah serta kesal dan berniat untuk mengadukan hal itu kepada Johan.


__ADS_2