Liona Penakluk Hati Tuan Es

Liona Penakluk Hati Tuan Es
Gagal Dinner


__ADS_3

Waktu hampir menunjukkan pukul tujuh malam, di kamarnya Lion sudah siap dengan dress hitamnya.


Wajahnya telah di poles dengan make up natural, tampilan Lion yang biasanya tanpa make up kini berubah drastis menjadi sangat cantik.


“Tuh kan cantik, tante bilang juga apa,” ucap Anggi yang sedari tadi sibuk mendandani Lion.


“Ini apa gak berlebihan, lagian dia cuma minta di temenin makan Tante,” ucap Lion.


“Enggak lah, kamu cantik kok. sering-sering dong kamu begini Tante seneng lihatnya.”


“Gak lah, ribet mau sekolah aja masa dandan dulu buang-buang waktu,” sahut Lion.


Tidak lama terdengar suara bel dari pintu rumah mereka.


“Tuh orangnya udah datang,” ucap Anggi.


Lion pun turun bersama dengan Anggi saat Lion menuruni anak tangga terlihat Bima tanpa berkedip memandang Lion begitu pula dengan Lion yang terpana saat melihat Bisa mengenakan  kemeja berwarna hitam dengan tatanan rambut rapi Bima juga bahkan melepas kaca matanya.


Wajah tampannya itu pun terlihat saat tanpa mengenakan kaca mata saat mereka berdua di sandingkan terlihat begitu cocok.


‘Ini Bima? Kok beda sih?’ batin Lion.


“Ayo kita berangkat,” ucap Bima.


Bima membukakan pintu mobil untuk Lion, mobil pun melaju menju suatu tempat yang Lion sendiri tidak mengetahuinya.


“Kita mau kemana sih kak?” tanya Lion.


“Panggil Bisa aja,” ucapnya.


“Gak sopan lah kan gua lebih muda,” ucap Lion.


“Umur kita cuma beda lima tahun jadi panggil Bima aja,” pintanya lagi.


“Ya udah lah terserah lu aja. Kita mau kemana sih?”


“Makan.”


‘Mau makan ribet banget sih, pakai acara nyuruh pakai dress begini segala,’ batin Lion.


Mobil pun berhenti di sebuah hotel bintang lima, di sana cukup banyak mobil terparkir serta karangan bunga bertuliskan happy wedding berjejer sangat panjang di depan hotel tersebut.


‘Buset jangan bilang maksud dia makan di kondangan,’ batin Lion.


Bima pun keluar mobil dan membukakan pintu untuk Lion, Bima berjalan menuju bagasi dan mengambil sebuah tas jinjing dengan tampilan mewah.


“Ayo kita masuk,” ucap Bima sembari memberi kode untuk Lion agar menggandeng tangannya.


Mereka berjalan beriringan dan menaiki lift, hingga sampai di sebuah ballroom yang sangan luas dengan hiasan ruangan yang megah.


Bima menghampiri meja penjaga tamu dan menuliskan namanya di buku tamu.


Saat masuk ke dalam, rupanya banyak yang mengenal Bima terutama para wanita.


“Bima!” sapa seorang wanita cantik bergaun merah muda.


“Wah bawa siapa nih? Cewek kamu ya? Ah apa dia adik kamu. Halo adik cantik aku Maria temen deketnya Bima,” ucap wanita itu.


“Anu saya-”


“Iya adik cantik ini pacarku kenapa memangnya?” ucap Bima yang memotong omongan Lion.

__ADS_1


“Lu gimana sih masa lu iyain aja,” ucap Lion.


Bima menaruh jari telunjuknya di depa  bibirnya “Ssstttttt!” 


“Ayo kita masuk,” ucap Bima sambil menggandeng tangan Lion.


“Anu Tante saya permisi dulu,” ucap Lion.


“Tante? Kamu manggil aku Tante?” teriaknya kepada Lion.


“Gua salah ya?” tanya Lion pada Bima.


“Gak kamu gak salah,” sahut Bima sambil tertawa.


Bima dan Lion berbaur dengan pengunjung  lainnya, banyak yang menuji kecocokan mereka berdua.


“Lu kenapa gak bilang sih kalau kita bakalan ke resepsi pernikahan,” ucap Lion.


“Kalau aku bilang pasti kamu gak mau,” sahutnya.


“Ya... iya juga sih.”


‘Gua kira bakalan makan malam di restoran atau dimana ternyata malah ke kondangan,’ batin Lion.


“Yang kawin siapa sih? Temen lu?” tanya Lion.


“Bukan. Anak dari rekan bisnisku gak enak kalau gak datang. Tapi kalau aku datang sendirian akan susah untuk menghindari dari wanita tadi dan yang lainnya,” ucapnya.


Tidak lama sekumpulan wanita sosialita menghampiri Bima dan Lion.


“Bima kamu kok hari ini beda banget sih,” ucap wanita itu.


“Oh iya mau kumpul sama kita gak?” ajak wanita berpakaian terbuka itu.


Lion merasa kesal karena ia tiba-tiba ditarik dan disingkirkan dari Bima.


Sedangkan Bima terlihat kesal dan menyanyikan alisnya karena wanita yang ia bawa malah di tarik dan di singkirkan oleh mereka.


“Siapa yang suruh kamu menariknya?” ucap Bima pada wanita begaun biru itu.


“Siapa? Dia?” tunjuk wanita itu pada Lion.


Bima pun mendorong wanita itu lalu kembali menarik tangan Lion dan menggenggamnya dengan erat.


“Kalau kalian berani melakukan itu lagi aku tidak segan-segan membuat perhitungan pada kalian!” ancam Bima.


“Liona sepertinya kita harus segera pulang aku tidak betah berada di sini,” ucap Bima.


“Ya udah kalau gitu,” sahut Lion.


Bima pun menggandeng Lion dan berjalan beriringan bersama Bima.


“Tante-tante cantik kami pulang dulu ya bye,” ucap Lion sembari melambaikan tangan.


Tidak hanya itu rupanya Lion meledek mereka dengan senyuman sinisnya. Hal itu membuat para wanita itu kesal hingga mengumpat dan mengentakkan kakinya di lantai.


Bima membuka pintu mobil untuk Lion, mobil pun melaju menuju rumah mereka.


Krrrruuukk! 


Suara perut itu terdengar jelas.

__ADS_1


‘Adh perut gua malu-maluin aja!’ batin Lion.


Lion menatap ke arah Bima, namun ia mengira sepertinya Bima tidak mendengar suara perut yang tengah protes akibat tidak diisi itu.


‘Syukur deh kayaknya dia gak dengar suara cacing di perut gua ini,’ batin Lion.


Mobil terus melaju membelah jalan yang saat hiruk-pikuk kendaraan dijalan.


Tiba-tiba Bima menepi di sebuah warung seafood sederhana yang ada di pinggir jalan yang depannya hanya bertutup kan spanduk besar.


“Ayo turun,” ucap Bima.


“Kita makan?” tanya Lion.


“Iya, kamu lapar ‘kan ayo kita pesta seafood hari ini. Di sini seafood nya fresh dan bumbunya juga enak,” ucap Bima.


“Asyik! Ayo lah gas!” ucap Lion yang langsung keluar mobil.


Bima tersenyum kecil ketika melihat Lion sangat bersemangat, namun ia sedikit kecewa karena tidak jadi mengajak Lion makan malam di restoran yang ada di hotel itu.


Sebelumnya Bima sebenarnya sudah melakukan  reservasi pada restoran itu. Namun karena kehadiran beberapa wanita tadi membuat Bima menjadi tidak ingin berada di sana dan membatalkan reservasinya.


“Tunggu dulu,” ucap Bima.


“Ada apa lagi? Katanya mau makan,” sahut Lion.


Bima kembali ke mobil dan mengambil jaket miliknya yang ada di kursi belakang lalu memakaikannya ke tubuh Lion.


“Di sini banyak nyamuk,” ucapnya.


Sebenarnya bukan itu alasannya, gaun yang dipakai oleh Lion tersebut memperlihatkan punggung mulusnya dan Bima tidak ingin orang lain melihat punggung cantik milik Lion itu.


Mereka pun masuk dan memilih tempat duduk, benar saja saat Lion dan Bima masuk semua mata tertuju pada mereka berdua.


“Kamu tunggu di sini sebentar,” ucap Bima.


Bima pergi dan memesan paket seafood lengkap lalu kembali ke mejanya.


“Maaf ya harusnya kita gak makan di sini,” ucap Bima.


“Gak apa, gua suka seafood kok,” sahut Lion.


“Oh iya ada yang ingin aku tanyakan, apa kamu dan Azlan punya hubungan spesial?” tanya Bima.


“Azlan itu teman se-kelasku gak lebih dari itu. Kenapa memangnya?” tanya Lion.


“Gak cuma mau tau aja.”


“Aku dengar kamu dipindahkan sekolah oleh papa kamu kenapa?” tanya Bima.


“Gua ngehajar anak orang, satunya sampe masuk rumah sakit, tapi itu karena mereka ganggu gua,” sahut Lion.


“Kamu bisa berkelahi?”


“Ya bisa lah, waktu SMP gua ikut karate bahkan cita-cita gua waktu SMP itu jadi atlet gulat tapi papa gak izinin karena tulang hidung gua sempat patah gara-gara ikut latihan gulat,” pungkas Lion sambil tertawa.


“Terus papa pernah nipu gua, bilangnya bakalan ikut kelas atlet gulat pas sampai di lokasi papa malah antar gua ke sanggar tari balet,” sbung Lion sambil terkekeh tertawa.


“Lalu kamu ikut les ballet?” 


“Ya enggak lah.”

__ADS_1


Lion terus bercerita tentang dirinya dan juga keseruannya bersama Wilman papanya, sedangkan Bima fokus mendengarkan setiap kata dan cerita yang terlontar dari bibir manis Lion itu.


__ADS_2